
Setelah dari rumah Micheline, Charlie dan Jesslyn pergi ke rumah sakit. Jesslyn senang sekali saat melihat Micheline yang sudah terlihat membaik.
"Aku sabgat merindukanmu, Nona." kata Jesslyn memeluk Micheline.
"Aku juga, Jesslyn." jawab Micheline membalas pelukan Jesslyn.
Jesslyn melepas pelukan, "Lekaslah membaik. Jangan terus-terusan tidur di rumah sakit," kata Jesslyn lagi.
"Ya, Bu dokter. Senang sekali kau perhatian seperti ini. Baguslah," sahut Micheline tersenyum cantik.
"Ehemm..." dehem Charlie.
"Oh, hai Charlie." sapa Micheline.
"Maaf, tapi tolong. Jangan terlalu bersemangat dengan kekasih orang." kata Charlie menatap Micheline. Melihat Micheline yang menggenggam erat tangan Jesslyn.
Jesslyn dan Micheline bertatapan lalu tertawa bersamaan. Micheline semakin erat memegang tangan Jesslyn, sengaja membuat Charlie panas hati. Melihat Micheline tak kunjung melepaskan kekasihnya, Charlie buru-buru memisahkan tangan Micheline dari dari Jesslyn.
"Nona, peganglah tangan kekasih anda sendiri. Tangan kekasih saya, biarkan saya yang memgangnya." kata Charlie menekankan kata-katanya.
"Hei, kau ini apa-apaan. Nona kan perempuan, dia bukan laki-laki." kata Jesslyn.
"Tetap saja. Kau tidak pernah memegang tanganku se-intens itu. Kenapa dengan Micheline berbeda," sahut Charlie.
"Hohoho... Kepala sekretarisku mulai posesif, ya. Inilah keajaiban cinta. Bisa membuat orang yang dingin dan tidak peduli pada apapun menjadi sensitif juga agresif. Jadi, kau cemburu padaku, begitu?" sindir Micheline.
"Tidak. Aku tidak akan berani cemburu padamu." kata Charlie.
Micheline tersenyum, "Aku takjub. Semakin hari perubahakn sikapmu semakin menonjol, Charlie. Selamat, Jesslyn. Kau berhasil menahklukkan beruang madu yang liar menjadi sejinak ini." kata Micheline lagi menggoda Charlie.
Jesslyn tersenyum, "Dia hanya akan menjadi beruang⁰ pada orang lain saja. Padaku, dia akan menjadi kucing imut yang penurut. Bukan begitu, sayang? tanya Jesslyn menatap Charlie.
Charlie membuang muka, "Ya. Terserah kau saja," jawab Charlie malu-malu. Jesslyn tersenyum, ponsel Jesslyn berdering Jesslyn meminta izin untuk keluar dari ruangan menerima panggilan.
Micheline tersenyum lagi, "Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menggodamu lagi. Jadi, bagaimana di kantor? kau menemui kesulitan?" tanya Micheline pada Charlie. "Hansel mengatakan segala sesuatunya kau yang mengurus. Maaf sudah merepotkanmu beberapa hari ini. Dan, terima kasih untuk kerja kerasmu. Aku pasti akan mengingat ini." imbuh Micheline.
"Tidak ada maaf ataupun terima kasih di antara kita. Kau sudah menganggapku keluargamu. Begitu juga aku. Jika begitu, bukankah sudah seharusnya aku membantumu? jamgan terlalu pikirkan soal perusahaan. Fokuslah pada pemulihan kesehatanmu dulu saat ini." kata Charlie.
"Kau sungguh bukan Charlie yang aku kenal. Aku sampai tidak percaya, kau sungguh berbeda. Namun, apapun itu. Aku senang, kau berpikir demikian Charlie." jawab Micheline. Tidak beberapa lama, Jesslyn terlihat masuk dalam ruangan dan kembali berdiri di samling Charlie.
"Oh, ya. Hans, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Ini mengenai Luky," kata Charlie menatap Hansel yang duduk diam di samping Micheline.
"Katakan, ada apa?" jawab Hansel.
Charlie menatap jesslyn. Jesslyn mengangguk dan tersenyum pada Charlie. Charlie pun ikut tersenyum, ia kembali menatap Hansel dan bercerita.
"Begini, kami menceritakan kejadian itu pada mereka. Ertha mencari-cari Micheline. Awalnya aku hanya diam, tetapi Jesslyn tidak snegaja buka suara dan bercerita. Lalu ia cerita kepadaku, aku tidak tahu harus bicara apa. Tetapi tadi, sebelum kami datang ke sini, Luky mengajukan permohonan. Dia ingin bertemu denganku untuk bicara secara pribadi. Aku jawab saja, aku tidak punya hak memutuskan bisa tidaknya itu terjadi. Aku hanya bisa memintanya menunggu, karena aku akan menyampaikannya padamu." jelas Charlie.
__ADS_1
Hansel menatap Micheline, "Bagaimana?" tanya Hansel pada Micheline.
Micheline memegang tangan Hansel dan tersenyum, "Segala sesuatunya ku saja yang tentukan. Keputusan itu ada di tanganmu. Bukankah kau yang memintanya? memintaku untuk diam dan hanya melihat? ini saatnya, Hans. Lakukan apa yang menurutmu benar, jangan lakukan jika kau merasa terbebani. Kau bukan aku, begitu juga sebaliknya. Sejak awal, pemikiran kita memang berbeda. Aku mungkin terlalu keras dan terlalu berharap kau seperti aku. Namun, kenyataanya berbeda. Dan aku memahami itu," jawab Micheline menjelaskan.
"Terima kasih, El. Kau sudah mau memahami perasaanku," kata Hansel senang.
Hansel menatap Charlie, "Charlie... maaf, apa boleh Jesslyn di sini dulu menemani Micheline? aku harus pergi," kata Hansel meminta persetujuan Charlie.
"Kau bertanya padaku? kenapa tidak langsung padanya?" jawab Charlie.
"Karena kau kekasihnya. Jesslyn pun pasti akan meminta izin darimu jika aku bertanya padanya. Akan lebih baik langsung bertanya padamu, kan?" jawab Hansel.
"Oh, begitu. Aku tidak masalah. Ucapanku tadi hanya gurauan. Bukan hal serius," jawab Charlie menyinggung soal kecemburuannya saat melihat Jesslyn dan Micheline dekat. "Apa aku perlu hubungi Keily juga?" tawar Charlie.
"Itu ide bagus. Biar aku yang menghubunginya. Pasti Jason sedang bersama Keily saat ini," kata Jesslyn.
"Baiklah, aku pergi ke kantor dulu. Pulang kantor aku akan bawakan semua laporan, agar kau bisa periksa sedikit demi sedikit. Karena aku juga tahu, kau pasti akan bosan. Aku tidak akan khawatir kau memeriksanya sampai lupa waktu. Karena ada Hansel yang mengawasimu." kata Charlie.
"Ya, hati-hati." jawab Micheline, yang dijawab anggukan Charlie.
"Hati-hati sayang," kata Jesslyn.
"Kau juga. Jika memang tidak banyak pekerjaan di klinik. Kau di sini saja. Tidak perlu mengirimku makan siang. Aku yang akan belikan nanti, ok." kata Charlie menatap Jesslyn.
Jesslyn tersenyum dan mengangguk tanda mengerti. Charlie pun pergi meninggalkan Micheline, Jesslyn dan Hansel. Sekitar sepuluh menit kepergian Charlie. Hansel pun berpamitan pada Micheline dan menitipkan Micheline pada Jesslyn.
"Hati-hati, ya." kata Micheline.
"Pasti, dan selalu. Kau harus banyak istirahat. Jesslyn, tolong bantu aku jaga Eline, ya. Terima kasih," kata Hansel.
Jesslyn menganggukkan kepala, "Ya. Pergilah. Hati-hati di jalan. Jangan khawatir, aku akan menjaga Nona dengan baik."
Hansel tersenyum, ia lalu memeluk Micheline. Hansel memejamkan matanya merasakan kehangatan suhu tubuh Micheline. Rasanya memang ia tidak ingin berpisah dari Micheline. Namun, ia juga harus mengakhiri semuanya. Tidak mau lagi mengulur-ulur waktu.
"Semoga keputusanku tidak membuatmu kecewa, Eline. Maafkan aku yang tidak bisa memenuhi harapanmu, menjadi laki-laki yang kuat. Aku tidak bisa," batin Hansel.
"Aku mencintaimu," bisik Hansel lembut di telinga Micheline.
Micheline tersenyum, "Ya. Aku tahu itu. Lekaslah kembali karena aku menunggumu," bisik Micheline juga.
Hansel melepaskan pelukannya. Ia mengusap wajah Micheline dengan kedua tangan. Dikecupnya kening Micheline lembut olehnya. Ia pun segera pergi meninggalkan Micheline dan Jesslyn untuk menyelesaikan permasalahnnya dengan Ergy.
Sesaat setelah Hansel menutup pintu. Jesslyn duduk di samping Micheline dan menanyakan hal yang tidak terduga. Dengan terbuka dan terus terang, Jesslyn bertanya mengenai perasaan Micheline sesungguhnya pada Hansel.
"Nona, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Jesslyn.
"Ya, tanyakan saja. Ada apa?" tanya balik Micheline pada Jesslyn.
__ADS_1
"Maaf ini mungkin menyinggung hal pribadi. Tapi kalau boleh jujur. Aku sangat penasaran pada hubungan Nona dan Hansel. Bagaimana sesungguhnya perasaanya Nona padanya, apakah Nona menyukai Hans?" tanya Jesslyn.
Micheline diam sesaat lalu menjawabnya, "Aku... entahlah, Jesslyn. Awalnya aku sungguh tidak punya perasaan apa-apa padanya. Aku hanya ingin dia menjadi laki-laki yang kuat dan tangguh karena melihat dulunya ia hidup seperti apa. Tidak dipungkiri, Hansel memanglah laki-laki yang baik dan pengertian. Dia juga hangat, sangat peduli padaku. Hubunganku dengannya, yang kurasa hanya sekedar hubungan antara laki-laki dewasa dan perempuan dewasa, tidak tahu kenapa sekarang rasannya sedikit berbeda. Aku selalu merasa senang sekaligus sedih, saat ia berulang kali mengungkapkan cinta. Senang karena aku tahu, cintanya tidaklah main-main. Sedih, tidak ingin dia terseret dalam duniaku yang kelam. Dia pasti akan kesulitan kedepannya, tetapi aku juga enggan untuk melepaskannya. Itulah yang aku rasakan Jesslyn. Terlebih, setelah aku mendenagr permintaanya. Aku menjadi semakin yakin, Hansel memang bukan laki-laki egois yang hanya mementingkan perasaannya sendiri. Dia seseorang yang berbeda denganku. Kami bertolak belakang," jawab Micheline menjelaskan.
Jesslyn memegang tangan Micheline, "Sama sepertiku. Aku juga awalnya ragu pada Charlie. Aku bahkan sudah mendengar hal buruk tetangnya dari Keily lebih dulu, sebelum aku benar-benar dekat dengannya. Namun, pikiranku hanya satu. Aku ingin merubah sikapnya yang liar menjadi jinak. Mungkin karekternya yang tempramen dan emosian tidak bisa hilang, tetapi aku berusaha membuatnya bisa mengontrol itu semua. Jika bisa terkendali, seliar apapun tidak akan mengigit." kata Jesslyn.
"Wah, kau sungguh liar biasa Jesslyn. Jujur saja, aku tidak percaya ini semua. Charlie yang seperti itu perlahan berubah. Dan kaulah penyebanya," kata Micheline.
"Bukan hanya aku, dia pun juga punya kemauan dan berusaha. Kau tahu, saat kau terluka, ia sangat marah pada orang yang mencelakaimu. Dengan jujur ia mengatakan, jika saja dia tidak bisa mengontrol diri, mungkin orang itu sudah dihabisinya. Ia berdalih, jika melakukannya bukanlah haknya. Dan ia hanya menghukumnya dengan hukuman yang ringan," jelas Jesslyn.
"Apa ini nyata? Charlie yang terkenal tanpa ampun menoleransi seseorang yang membuatnya kesal? jika dia tidak mengenal Jesslyn, seseorang itu pasti sudah tinggal nama. Meski aku tidak mengeluarkan perintah sekalipun. Charlie tahu apa yang harus ia lakukan. Namun, kali ini memang dia benar-benar menahan dirinya." batin Micheline.
"Nona..." panggil Jesslyn. Ia melihat Micheline tiba-tiba diam melamun.
Micheline kaget, "Ah, iya? maaf Jesslyn aku melamun. Pikiranku memikirkan hal lain." kata Micheline.
"Tidak apa-apa. Jadi, bagaimana?" tanya Jesslyn.
"Bagaimana apa?" jawab Micheline.
"Kita kembali ke pembahasan kita. Antara Nona dan Hansel. Intinya Nona mulai menyukainya, kan? suka, kan?" desak Jesslyn tidak sabaran.
Micheline tersenyum, "Ya, suka. Aku sangat menyukainya." jawab Micheline. "Aku juga mencintainya, sepertinya. Meski belum sebesar cintanya padaku," imbuh Micheline.
"Semangat, Nona. Pasti akan ada hari di mana hati Nona tersentuh, dan Nona akan sepenuhnya jatuh cinta pada Hansel. Aku yakin itu," kata Jesslyn dengan penuh percaya diri.
Micheline hanya tersenyum menanggapi ucapan Jesslyn, "Aku menantikan saat itu tiba," batin Micheline.
...*****...
**Yuk, follow ig author
ig: dea_anggie
Jangan lupa like setiap episodenya ya..
Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..
Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..
Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..
Terima kasih semuanya...
Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..
Salam hangat dari author~~🙂**
__ADS_1