
Micheline ingat akan luka Hansel. Ia membawa Hasel menemui perawat, agar bisa dipanggilkan dokter. Micheline ingin memeriksakan tangan Hansel yang terluka karena meninju cermin.
"Apa ada masalah serius, dok?" tanya Micheline.
"Untungnya tidak ada. Hanya luka ringan saja. Tetapi tetap perlu untuk diperhatikan dalam perawatannya. Terutama perbannya," jawab dokter.
"Oh, syukurlah. Tidak ada masalah serius," gumam Micheline.
"Sudah selesai diperban. Kedepannya, jika ada keluhan atau maerasakan sakit yang tidak wajar. Silakan anda datang ke rumah sakit. Untuk sehari-harinya, istri anda bisa menggati perbannya, Tuan." kata dokter menjelaskan.
"Hah?" kaget Hansel. "Maksud anda, dok?"
Micheline melebarkan mata, "Apa dokter ini salah paham akan hubunganku dengan Hansel? ahh... dijelaskan pun juga percuma," batin Micheline.
"Ya, dok. terima kasih. Sebagai istri saya akan lebih memperhatikan kesehatan suami saya," jawab Micheline mengikuti alur pemikiran dokter.
Hansel mengernyitkan dahi menatap Micheline, "Aku merasa sepertinya akan ada hujan badai disertai petir," batin Hansel.
Usai mendapat perawatan, dokter dan perawat berpamitan. Mereka meninggalkan Hansel dan Micheline berduaan di ruang perawatan. Hansel diam, ia tidak merasa apa-apa, hanya merasa sedikit takut dan khawatir kalau-kalau di marahi Micheline.
"Bagaimana? apa ini sakit?" tanya Micheline mengusap lembut tangan Hansel yang terluka.
Hansel menggelengkan kepalanya perlan, "Tidak sama sekali," jawabnya.
"Kau tahu? apa alasanku datang ke sini, kan? semua aku lakukan demi dirimu. Kau sudah menjadi tanggung jawabku, dan aku akan bertanggung jawab sampai akhir," kata Micheline menerangkan.
"Aku tahu, tetapi ini kan berbahaya. Hampir saja jantungku berhenti berdetak karena suara tembakan itu." kata Hansel.
"Aku pasti akan baik-baik saja, Hans. Kau harus percaya padaku sepenuhnya. Hari ini memang hari s*al buatku. Bukannya memberi pelajaran, aku justru melakukan hal gila seperti ini." keluh Micheline.
"Ini bukan hal gila. Inilah sisi lembutmu, El. Hatimu tergerak untuk menolong dan menyelamatkannya. Bukankah perasaanmu jadi kacau? hasratmu ingin menyiksanya bercampur rasa iba dari kenyataan dia adalah seorang ibu hamil, bervampur menjadi satu dan membuatmu dilema. Aku tidak sangka, kau lebih mementingkan menolong daripada membiarkan pasangan itu." jelas Hansel.
"Ya. Kau benar sekali, Hans. Jika saja Matteo tidak membuka suara dan mengatakan Bella hamil. Aku apsti sudah menjadi orang jahat yang menyakiti calon bayi tidak berdosa. Bagiku, anak di dalam kandungan Bella tidak bersalah. Meski kedua orangtuanya adalah orang yang br*ngs*k dan kotor. Untung saja emosiku tekendali. Aku bersyukur aku tidak melakukan hal lebih berat lagi tadi. Menyedihkan, bukan." jelas Micheline juga.
Hansel mengusap tangan Micheline, "Bagaimana perasaanmu sekarang? ayo minum kopi bersamaku juga Charlie," ajak Hansel. "Agar pikiranmu sedikit tenang," imbuhnya.
"Baiklah. Ayo..." sahut Micheline, "Setelah itu aku harus menemui Matteo dan Bella untuk bicara." kata Micheline.
Hansel menganggukkan kepalanya, "Ya," jawabnya.
Micheline dan Hansel keluar dari ruang perawatan. Keduanya menemui Charlie yang menunggu di luar ruangan. Mereka lalu bersama-sama pergi ke luar dari gedung rumah sakit untuk pergi minum kopi bersama. Sebelum pergi, Micheline sempat berpamitan pada perawat dan meminta menghibunginya jika Matteo dan Bella sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
__ADS_1
*****
Di kedai kopi. Micheline memesan cokelat panas. Sedangkan Hansel dan Charlie sama-sama memesan ice americano. Charlie menatap Hansel, Hansel berbalil menatap Charlie. Keduanya saling bertatapan. Charlie mendekat pada Hansel dan bertanya sesuatu dengan cara berbisik.
"Hei, ada apa dengannya?" bisik Charlie.
"Jangan ganggu dia. Dia sedang dilema," bisik Hansel.
"Dilema?" gumam Charlie, "Apakah dilema harus memilihmu atau membuangmu?" bisik Charlie menggoda Hansel. Charlie sengaja membuat Hansel kesal.
"Apa kau bilang?" sentak Hansel, membuat Micheline mantap tajam arah Hansel dan Charlie.
"Ada apa?" tanya Micheline.
Hansel tersenyum, "Tidak ada. Haha... hanya sedang bergurau saja dengan orang licik di sebelahku ini," jawab Hansel mengejak Charlie.
"Orang licik?" ulang Charlie tersenyum masam, "Kaulah yang licik. Dasar rubah jantan," kata Charlie membalas ucapan Hansel.
Kedunya saling memandang dan melebarkan mata. Melihat Antara Hansel dan Charlie yang ada percikan api, membuat Micheline semakin kesal. Ia menyesal mengiyakan ajakan Hansel, untuk minum kopi bersama. Bukan ketenangan pikiran dan hati yang ia dapat. Justru menyulut emosinya dan membuatnya naik darah.
"Bagus, ya. Lanjutkan saja. Aku akan menambah hukuman kalian nanti. Lihat saja, aku buat kalian menangis darah!" kata Micheline tersenyum.
"Tidak," kata Charlie dan Hansel bersamaan. Keduanya juga bersamaan menatap Micheline.
"Tidak. Jangan memberiku hukuman. Itu maksudku," jawab Hansel memelas.
"Aku mengkhawatirkanmu, Michel. Tidak bisakah kau memaafkanku?" mohon Charlie memelas.
"Lihat, kedua laki-laki bertubuh besar dan gagah ini sekarang seperti anak kucing yang memohon untuk dibawa pulang dari pinggir jalan. Ah... bisa-bisanya mereka," batin Micheline.
Michelin diam saja. Ia mengangkat cangkir cokelat panasnya lalu meminumnya sedikit demi sedikit. Ia benar-benar menikmati rasa dari cokelat panas itu. Sesaat ia bisa melupakan kejadian sebelumnya, dan merasa terhibur dengan tingkah kekananan Hansel juga Charlie. Sedetik kemudian, ia teringat jika ia harus bicara pada Matteo dan Bella. Rencananya tidak boleh gagal.
"Cokelatku sudah habis. Jika kalian bosan di rumah sakit, kalian bisa tunggu aku di sini. Aku masih harus bertemu Matteo dan Bella. Juga bertemu Faello," kata Micheline.
"Kopiku juga sudah habis. Aku ikut ke rumah sakit," sahut Charlie.
"Aku juga," kata Hansel.
"Baiklah. Ayo..." ajak Micheline.
Setelah sekitar dua jam mereka duduk dan menikmati kopi juga makanan manis. Mereka akhirnya kembali ke rumah sakit. Micheline masih harus menyelesaikan urusannya dengan Matteo dan Bella.
__ADS_1
*****
Micheline bicara bertemu Matteo dab Bella. Matteo sudah bisa duduk bersandar, sedangkan Bella masih terbaring. Micheline tidak mengucapkan kata maaf, tetapi ia mendoakan calom anak Bella agar selalu tumbuh sehat dan kuat.
"Ayo akhiri ini," kata Micheline.
Matteo dan Bella saling memandang tidak mengerti. Matteo lalu memberanikan diri bertanya. Apa maksud dari ucapan Micheline.
"Akhiri?" gumam Matteo.
Micheline mengusap tengkuk lehernya, "Maksudku. Kita akhiri persoalan kita tadi. Aku tidak akan minta maaf pada kalian. Tetapi aku juga tidak akan mencelakai kalian. Aku akan bebaskan kalian sepenuhnya, jika kalian bisa lakukan satu hal dariku. Bukan kalian, maksudku Matteo. Bella, kau harus tetap ada di rumah sakit dan istirahat. Jika aku emndengar kau tidak patuh pada ucapanku. Aku akan mengeluarkan paksa bayimu. Kau paham?" ancam Micheline. Ia berharap Bella tidak lagi membahayakan keselamatannya juga calon anak yang di kandungnya.
Bella menganggukkan kepala, "Aku mengerti maksudmu, Micheline. Terima kasih," jawabnya.
"Apa yang harus ku lakukan?" tanya Matteo.
"Bawa Ergy padaku. Kau juga harus membatalkan penawaran dari Ergy. Aku tahu ini bertentangan dengan prinsipmu, tetapi ini demi hidup istri juga calon anakmu juga. Mulai sekarang kau akan bekerja di bawah kendaliku." kata Micheline.
Matteo terkejut, "Apa? bekerja dibawah kendalimu?" ulang Matteo.
Micheline mengangguk, "Aku tahu selama ini kau kesulitan, kan? meski kau bisa dapatkan semuanya, tetapi kau selalu bertaruh nyawa pada setiap misimu. Ini tawaran baik dariku, Matteo. Kau bisa pikirkan, bisa nenerima juga bisa menolaknya. Ingat ini baik-baik. Bersamaku, aku akan jamin keselamatanmu juga Istri dan anakmu. Menolakku aku tidak akan ikut cmpir tangan lagi soal kehidupanmu dan lain sebagainya setelah kau membawa Ergy padaku. Dengan kata lain. Kita anggap ini pertemuan kita pertama dan terlahir, aku juga tidak akan peduli pada nasibmu kedepannya seperti apa. Aku seperti ini, bukan karena ada maksud atau tujuan tertentu pada kalian. Jika aku bisa, aku bisa saja menyeret kalian masuj dalam sel tahanan atau langsung membunuh kalian. Tetapi aku juga manusia yang punya perasaan dan hati. Aku bisa merasakan, sangat tahu apa itu rasa sakit dan sulitnya bertahan hidup." jelas Micheline panjang lebar.
Matteo menatap Bella. Bella mengangguk dan tersenyum pads Matteo. Seakan menyetujui jika Matteo berkenan menerima penawaran yang Micheline ajukan.
"Penawaranku hanya berlaku satu kali saja. Pikirkan baik-baik dalam waktu tiga hari," kata Micheline lagi.
"Tidak perlu menunggu tiga hari lagi, Nona. Saya, Matteo Zeox berserta istri saya, Bella Zeox. Akan menjadi orang anda mulai dari sekarang. Kami menerima tawaran yang anda berikan." jawab Matteo tanpa ragu.
Micheline mengehela napas lega, "Syukurlah. Inilah yang kuharapkan, Matteo. Aku akan melindungi kalian, karena kalian sudah menjadi bagaian dari 'keluarga besarku'. Baiklah, untuk saat ini kalian istirahat saja dulu. Aku akan berikan perintah lagi saat keadaan dan kondisimu mulai membaik Matteo. Jika ada apa-apa, hubungi aku. Aku harus kembali sekarang." kata Micheline berpamitan.
"Ya, Nona." jawab Matteo.
"Jangan terlalu formal jika kita berada diaituasi seperti ini. Kalian bisa bucara santai padaku. Jaga diri dan kesehatan kalian. Aku pergi dulu, ya." kata Micheline. Micheline menatap Bella, "Sekarang aku bisa lebih mengawasimu, Bella. Jaga calon anakmu baik-baik, ok."
"Ya. Terima kasih banyak, Michel." jawab Bella.
"Terima kasih kembali. Karena kau mau menerima tawaranmu. Aku tidak akan mengecewakanmu, dan akan memegang janjiku." kata Micheline lagi menegaskan.
Selesai bicara pada Matteo dan Bella. Micheline pun pergi meninggalkan keduanya di dalam ruangan. Di luar, Micheline bertemu Faello. Ia juga berbicara dengan Faello sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.
Sebagai ganti permintaan maaf, Faello memberikan penawaran. Ia meminta Micheline meminta seuatu darinya. Micheline meminta dua hal dari Faello. Mwngawasi Ergy dan membantu mengawasi Matteo. Mengawasi Matteo dalam arti yang berbeda, seperti membantu apa yang diperlukan Matteo juga Bella. Dengan ini Micheline berharap hubungan Kakak beradik yang retak bisa sedikit demi sedikit pulih.
__ADS_1
...*****...