My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 44 - Mimpi Buruk (1)


__ADS_3

Micheline dan Hansel berpamitan pada Kakek J bersaudara, juga pada Charlie dan Keily. Meski dalam hatinya tidak tenang, Micheline mengembangkan senyuman selebar mungkin agar terlihat baik-baik saja dihadapan semua orang.


Micheline dan Hansel akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka sudah berjalan hampir sampai di parkiran. Sesampainya di parkiran, Micheline dan Hansel langsung masuk ke dalam mobil bersama-sama. Hansel duduk di bangku kemudi. Hansel meminta Micheline untuk tidak mengemudi karena khawatir. Micheline yang memang sedang gusar, mengiyakan permintaan Hansel tanpa banyak bicara lagi.


Mobil melaju perlahan meninggalkan parkiran gedung rumah sakit. Hansel mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.


*****


Di rumah sakit, Charlie dan Jesslyn sedang duduk berdua di ruang tunggu. Mereka meninggalkan Kakek, Jason dan Keily di dalam ruang rawat.


"Kenapa tidak pergi bersama Micheline?" tanya Jesslyn.


"Siapa? aku?" tanya Charlie balik.


"Iya, kau. Siapa lagi," jawab Jesslyn.


"Ah, itu. Aku masih ingin menemanimu. Apa tidak boleh?" tanya Charlie menatap Jesslyn.


"Kenapa tidak? tentu boleh. Aku senang kau mau masih mau tinggal untuk menemaniku. Tapi... aku merasa Micheline sedang ada sesuatu. Apakah dia ada masalah?" lagi-lagi Jesslyn penasaran dan bertanya.


"Entahlah. Kenapa kau berpikir dia ada sesuatu?" tanya Hansel bingung.


"Hanya firasatku saja," jawab Jesslyn.


"Sebenarnya aku juga merasa sedikit aneh. Senyumnya terkesan dipaksakan. Aku tidak tahu kenapa seperti itu. Apa mungkin Hansel membuatnya kesal? atau ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Hansel," kata Charlie menerka-nerka.


"Kau terlalu jauh berpikir. Kalau menurutku bukan Hansel penyebannya. Kau tidak lihat, Hansel begitu peduli padanya? kalaupun Hansel yang menganggunya, Micheline pasti akan menghindari Hansel, kan? Lalu, mengapa mereka justru pulang bersaama," jelas Jesslyn menafsirkan.

__ADS_1


"Hm..." gumam Charlie, "Kau ada benarnya juga. Meski Micheline selalu bersikap profesional dia tidak bisa membohongi hati," jawab Charlie.


"Kau tanya saja langsung pada Micheline. Mungkin juga dia ingin meminta tolong padamu, tetapi tidak enak hati karena kau sibuk mengurusku, Jason dan Kakek."


"Ya, nanti aku akan coba tanya. Oh, apa kau merasa lebih baik sekarang? perlu kit periksa lagi kakimu?" Charlie menawari Jesslyn untuk diperiksa ulang.


Jesslyn menggelengkan kepala perlahan, "Tidak. Aku tidak apa-apa. Kakiku sudah lebih baik," jawab Jesslyn.


"Apa Adikku bersikap baik padamu? mungkin dia terlihat berlebihan saat bicara atau bercerita. Begitulah, dia selalu bersemangat saat menceritakan sesuatu."


Jesslyn tersenyum, "Adikmu sangat baik. Sampai-sampai menggodaku dan memanggilku Kakak ipar. Aku senang, aku juga menyukai Adikmu. Sifatnya sepertinya bertolak belakang denganmu, ya?"


Charlie mengernyitkan dahi, "Memangnya sifatku seperti apa? apa bedanya aku dan Keily," sahut Charlie tidak terima dengan pernyatan Jesslyn.


"Kau itu pemarah dan emosional, persis seeprti Adikku, Jason. Sedangkan Keily, dia orang yang ramah dan lembut. Saat bersamanya, aku seperti sedang memiliki seorang adik perempuan."


"Kau tidak menyukai sifatku, ya? kau membencinya?" tanya Charlie lagi.


Charlie terkejut, hatinya langsung seperti tertusuk sesuatu yang membuat hatinya sedikit sakit. Namun, ia tidak bisa marah dan tersinggung dengan ucapan Jesslyn. Ia merasa, Jesslyn seakan menamparnya secara tidak langsung.


*****


Micheline yang terlelap tidur dalam perjalanan kembali ke rumah, sedang mengalami mimpi buruk. Micheline kembali melihat kejadian yang tidak pernah ingin dilihatnya lagi.


Micheline melihat kejadian pembunuhan berantai yang dilakukan Alfonzo. Saat itu, Micheline sedang bersembunyi di dalam lemari. Ia mendengar jeritan Mamanya, lalu mendengar suara tawa keras Alfonzo. Micheline tidak berani keluar dari lemari, ia takut melihat apa yang terjadi di luar lemari. Micheline menangis, namun ia tetap harus tenang agar tidak ketahuan. Saat itu tubuh Micheline gemetar, rasa takut menyelimutinya.


Micheline mendengar, Alfonzo berbincang dengan seseorang. Dengan jelas ia mendengar jika Alfonzo mencarinya. Mata Micheline melebar, perasaan takutnya meningkat. Micheline bingung, gelisah dan khawatir. Dalam hati ia terus berdoa agar tidak ditemukan oleh Pamannya.

__ADS_1


Berjam-jam Micheline mengurung diri di dalam lamari. Ia tidak berani keluar dari dalam. lemari karena perasaan takutnya yang terus menghantuinya. Perutnya terasa perih karena lapar. Namun, ia memilih tetap bertahan di dalam lemari. Pengap dan panas, itu yang ia rasakan selama bertahan di dalam lemari.


Pada akhirnya, Micheline tidak bisa bertahan. Ia merasa lemas dan tidak kuat lagi untuk bertahan. Micheline memberanikan diri membuka sedikit pintu lemari, diintipnya dengan satu mata cela lemari. Ia tidak melihat siapa-siapa di ruangan itu. Ia membuka perlahan sedikit demi sedikit agar tidak menimbulkan bunyi. Pintu lemari sepenuhnya terbuka, Micheline melangkah keluar dan akhirnya bernapas lega menghirup udara segar.


Matanya melebar melihat bercak darah berceceran di lantai. Ia mengikuti bercak darah itu sampai ia keliar dari kamar. Saat ia mengikuti akhir bercak, ia langsung membekap mulutnya dengan dua tangan. Ia melihat kedua orangtuanya dan Kakeknya meninggal dan mayatnya dibiarkan tergelatak di lantai dekat pintu kamar Kakeknya. Micheline kembali menangis, namun ia tidak bisa menimbulkan suara karena takut. Saat itu, usia Micheline masih sekitar 15 tahun. Ia tidak menyangka jika Pamannya tega membunuh keluarganya sendiri.


Micheline melihat kiri kanan, ia tidak menemukan siapa-siapa. Ia ingat jika di rumahnya itu ada kamar istimewa yang memiliki pintu rahasia untuk keluar dari rumah. Hanya Kakeknya dan Micheline yang tahu. Segera Micheline pergi ke ruangan itu, ruanan itu ada di dalam ruang kerja Kakeknya.


Perlahan-lahan Micheline berjalan, ia waspada melihat kiri kanan. Pintu ruang kerja Kakeknya terlihat. Micheline membuka pintu dan mengintip, ruangan Kakeknya sudah berantakan. Memastikan ruangan aman, Micheline masuk dan kembali menutup pintu. Ia tidak mempedulikan barang-barang yang berserakan. Yang terpenting baginya adalah keluar dari rumah dan meminta perlindungan juga pertolongan pada seseorang.


Micheline mendorong rak buku yang berada di ruang kerja Kakeknya itu. Segera Micheline memasukan kunci yang yang ternyata adalah liontin kalungnya ke dalam lubang kunci pintu. Tanganya gemetar, ia terus berdoa agar ia bisa lolos tanpa tertangkap. Pintu berhasil dibuka, Micheline segera melepas kunci dan kembali mengenkan kalungnya. Ia membuka pintu dan masuk, segera ia menyalakan lampu untuk menerangi jalan yang seperti terowongan. Ia berlari cepat tanpa rasa takut.


"Cepat... cepat..." batin Micheline terus berlari.


Micheline sampai di ujung, ia segera membuka engsel pintu keluar, dengan susah payah Micheline membukanya sampai akhirnya pintu terbuka dan ia bisa bebas keluar. Micheline berlari mencari bantuan, ia lega karena jalan rahasia itu langsung membawanya keluar dari rumah dan langsung ke luar rumah.


"Tunggu Eline, Kakek, Papa, Mama. Eline akan cari bantuan, " gumam Micheline berlari.


Micheline bingung, ia ingin menemui siapa, ia ingin pergi ke mana dan harus bagaimana? ia berdiri seperti orang linglung. Saat itu Micheline teringat akan teman Kakeknya, yang rumahnya pun diingatnya. Micheline berlari sekuat tenaga. Ia tidak bisa naik kendaraan umum karena tidak memiliki uang. Michelinr terjatuh, lututnya berdarah. Seseorang menolongnya dan menawarkan bantuan.


Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahunan, perempuan itu menolong Micheline berdiri dan bertanya pada Micheline hendak ke mana. Karena takut Micheline hanya diam dan menggeleng. Seseorang itu menawarkan diri mengantar Micheline pulang, namun Micheline semakin gemetar ketakutan. Micheline terus menggeleng menolak.


"Kau baik-baik saja, Nak?" tanyanya.


Micheline menggeleng, "A-a... a... aku takut," jawabnya terbata-bata dengan tubuh gemetar.


Seseorang itu melihat sekeliling, "Kau ketakutan, ya? begini saja. Ayo ikut aku dulu masuk ke mobilku. Aku bukan orang jahat, dan aku tidak akan melukaimu. Ok," kata seseorang itu.

__ADS_1


Mendengar penjelasan perempuan asing di hadapannya, Micheline mengangguk. Seseorang itu langsung melepas jaketnya dan mengenakannya pada Micheline. Ia mengandeng tangan Micheline untuk segera membawanya masuk dalam mobil.


*****


__ADS_2