My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 50 - Kecupan Permintaan Maaf


__ADS_3

Di dapur, Hansel sibuk membuat sarapan dan menghangatkan susu. Meski hatinya sempat sedih dan kecewa atas sikap Micheline yang kaku padanya. Hansel tidak bisa mengabaikan Micheline begitu saja. Rasa sayang dan cintanya pada Micheline, tidak akan sirna hanya karena perkataan pedas.


"Aku selalu tidak bisa menahan diri," batin Hansel.


"Apa Micheline sangat marah, ya?" gumam Hansel.


Susu yang dihangatkan sudah mendidih, Hansel mematikan pematik kompor lalu menuang susu ke dalam gelas. Hansel melanjutkan membuat sarapan.


*****


Micheline memeriksa sebagian berkas dokumen yang sudah dikerjakan Hansel. Ia tersenyum puas. Baginya, Hansel memang tidak diragukan lagi kemampuannya.


"Dia sangat kompeten dalam pekerjaanya," gumam Micheline.


Segera dirapikannya ebrkas-berkas dokumen yang ia baca. Ia segera menumpuknya di atas meja, Micheline pun langsung pergi meninggalkan ruang kerjanya untuk pergi ke dapur menemui Hansel yang sedang memasak sarapan.


Micheline sampai di dapur. Hansel memberikan segelas susu pada Micheline. Micheline menerima gelas berisi susu dari Hansel dengam kedua tangannya. Digenggamnya erat gelas susu, Micheline bisa merasakan telapak tangannya hangat.


"Terima kasih, Hans."


"Ya," jawab Hans.


Hansel berbalik dan berjalan membambil sarapan yang sudah siap dibuatnya. Hansel kembali, melatakan piring berisi roti isi spesial degan toping keju yang menggunung.


"Kau suka keju, kan?" tanya Hansel.


Micheline mengangguk, "Ya. Aku suka sekali, keju dan susu. Terima kasih, Hans."


Hansel tersenyum, "Sama-sama. Senang jika melihatmu semangat seperti ini. Makan pelan-pelan dan habiskan. Aku akan buatkan lagi jika kau ingin tambah," kata Hansel.


Micheline meletakan gelas di meja, ia segera berdiri dan melangkah mendekati Hansel. Micheline berjinjit langsung mengecup bibir Hansel tiba-tiba. Hansel kaget, wajahnya langsung merona merah seperti kepiting rebus.


"Terima kasih dan maaf, Hans. Aku tau ini sulit, tetapi bersabarlah jika kau memang sungguh-sungguh dengan psrasaanmu. Aku tidak ingin terburu-buru," ucap Micheline meyakinkan Hansel.


Hansel tersenyum, "Ya. Aku mengerti. Maaf jika aku tadi terkesan memaksamu. Aku memang tidak bisa selalu menahan diri di hadapanmu," ungkap Hansel berterus terang.


"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mau mengerti dan memahami situasiku."


"Makanlah, jika dingin tidak akan enak lagi. Ayo pindah ke meja makan," ajak Hansel yang langsung mengangkat piring berisi roti isi dan gelas susu, lalu berjalan menuju meja makan yang berada tidak jauh.


Micheline mengikuti di belakang Hansel. Dilihatnya punggung lebar Hansel, dan tubuh tinggi Hansel yang berjalan mendahulinya. Micheline meeasa, bukan Hansel lah yang tidak cocok dengannya. Melainkan dirinya yang tidak layak untuk orang sebaik Hansel. Micheline bukanlah orang sebaik Hansel, ia bisa saja menghabisi nyawa seseorang sesuka hatinya jika ia mau. Bisa dikatakan, ia adalah seorang pembunuh. Siapa yang akan tahan hidup bersama seorang pembunuh? tidak ada, dan tidak mungkin ada. Itulah jawaban yang tertanam dalam benak Micheline.

__ADS_1


Hansel menarik kursi, "Silakan duduk Tuan Putri," kata Hansel mempersilakan Micheline duduk seperti layaknya pelayan pada zaman kerajaan.


"Terima kasih, Tuan. Dengan senang hati," jawab Micheline menanggapi Hansel.


Hansel menarik kursi lain dan duduk di samping Micheline. Ia menatapi Micheline yang sedang lahap makan menikmati masakannya. Melihat Hansel yang terus menatapnya, Micheline merasa tidak enak. Micheline bertanya sarapan Hansel ada di mana dan kenapa hanya ia seorang diri yang sarapan.


"Apa ada sesuatu? di mana sarapanmu?" tanya Micheline.


"Aku tidak ingin makan karena meeasa masih kenyang. Aku ingin melihatmu makan saja. Apa tidak boleh?" tanya balik Hansel.


Micheline memotong roti isiny dan menusuknya dengan garpu. Lalu ia menyodorkan garpunya ke depan mulut Hansel. Meminta Hansel membuka mulut dan memakan roti isi yang ia bagi.


"Buka mulutmu," pinta Micheline.


Hansel menggeleng, "Tidak perlu. Aku tidak ingin makan. Kau saja," tolak Hansel.


Micheline mengela napas kasar, melihat Micheline yang akan tumbuh tanduk. Hansel segera membuka mulut dan memakan roti isi yang disuap oleh Micheline. Hansel tidak ingin Micheline kesal padanya, apalagi sampai mengacuhkannya hanya karena tidak mau makan.


"Jadi aku harus mendengus dulu. Baru kau meeasa tidak enak hati?" sindir Micheline.


"Bu-bukan seperti itu. Aku hanya merasa tidak lapar saja," jawab Hansel.


Micheline memang suka seenak hatinya. Ia tidak pernah tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Apa perintahnya selalu dikerjakan atau di laksanakan semua bawahannya tanpa penolakan. Tidak ada yang berani membantah, sekalipun itu Charlie.


"Kau mengerjakan tugas hukumanmu dengan baik. Kedepannya, kau harus lebih banyak belajar lagi. Jika kau menemui kesulitan, kau bisa tanya dan bicara padaku secara langsung. Atau bertanya pada Charlie," jelas Micheline.


Hansel mengangguk, "Ya. Aku mengerti," jawab Hansel.


"Baguslah," sahut Micheline memuji, "Ingin berangkat ke kantor bersama? aku akan minta Charlie membawakan pakaian ganti untukmu," kata Micheline.


"Apa tidak merepotkan? Aku bisa pulang," jawab Hansel.


"Apa kau takut pada Charlie?" tanya Micheline melirik pada Hansel.


"Aku hanya tidak ingin merepotkan siapa-siapa. Aku terbiasa tanpa bantuan siapapun," jawab Hansel.


"Oh, Hans..." panggil Micheline.


"Ya?" jawab Hansel.


"Nanti malam, ikut denganku ke pesta. Nanti setelah pulang kerja kita ke Boutique, aku akan membawamu ke pesta besar."

__ADS_1


"Aku?"


"Iya, kau. Kau tidak mau? ini termasuk pelatihan. Ini juga bukan pesta sembarangan," kata Micheline.


"Tunggu-tunggu. Aku tidak mengerti maksudmu, Eline. Bukan pesta sembarangan itu seperti apa? apa pesta kostum? pesta yang memiliki tema khusus atau apa?"


"Ini pesta yang akan mempertemukan Paman dan keponakannya. Bukankah akan seru jika kau ikut?" jawab Micheline.


Hansel kaget, "Apa?"


"Kau sekaget itu?" sahut Micheline.


"Apa kau tidak apa-apa? pesta apa? kenapa aku tidak tahu apa-apa sebagai Asisten pribadimu?" tanya Hansel.


"Undangan ini istimewa, Hans. Tidak diberikan secara formal seperti undangan pesta yang lain. Oleh karena itu, bersiaplah. Charlie tidak bisa ikut kita datang karena dia aku tugasnya menyelidiki sesuatu," Jelas Micheline.


Micheline tersenyum dingin, "Sepertinya akan da pertunjukan menarik," batin Micheline.


"Apa-apaan, ini? kenapa Alfonzo dan Luiso tidak memberiku informasi apa-apa? biasanya mereka tidak pernah terlewat," batin Hansel berpikir.


Kesalahpahaman terjadi. Hansel mengira pertemuan yang dimaksud Micheline adalah pertemuan Micheline dengan Alfonzo. Yang sebenarnya adalah pertemuan yang lain. Yang memang mempertemukan Paman dan keponakannya. Micheline ingin, misi pembalasan Hansel bisa segera terlaksa. Pembalasan atas perlakuan dan penghinaan yang didapat Hansel sejak Hansel kehilangan kedua orangtuanya.


Micheline sudah merencanakan sesuatu yang besar untuk Hansel. Micheline yakin, Hansel tidak akan mengecewakannya. Hansel yang ia kenal selama lebih dari enam bulan lamanya, tidak bisa diinjak-injak dan direndahkan begitu saja. Sebagai atasan, tugas Micheline adalah memberikan dukungan dan semangat kepada Hansel.


"Apa kau yakin akan baik-baik saja bertemu Pamanmu, Eline?" tanya Hansel menyakinkan pikirannya.


Micheline melabarkan mata, "Ah... dia salah mengartikan ternyata. Benar juga, aku kan bicara sesuatu yang tidak pasti padanya. Paman dan keponakan, yang dia pikirkan aku dan Pak tua itu saja. Ia benar- benar tidak berpikir jika dialah yang aku maksudkan. Biarlah, anggap saja hadiah kejutan dariku. Kau pasto bisa melawannya, Hans. Harus," batin Micheline.


"Apa harus ada apa-apa? tidak, kan? tidak perlu ada yang dicemaskan. Di pesta juga ada banyak orang. Bukan hamya kita," jawab Micheline.


"Benar juga, tetapi aku khawatir. Aku takut kau akan disakiti," kata Hansel masih ragu-ragu.


"Menyakitiku? aku akan langsung menebas tangan orang yang berani melukaiku, Hans. Kau tidak perlu khawatir. Kau juga harus sepertiku, ya. Jika ada yang menyinggungmu, jangan beri ampun. Kau bukan Hansel yang dulu lagi. Hansel Feliks yang sekarang bersamaku, adalah laki-laki kuat dan tangguh. Bukan begitu?" jelas Micheline manatap lakat mata Hansel.


Hansel melabarkan mata, "Kau terlalu memuji. Aku masih lemah dan harus banyak belajar lagi. Jangan menggodaku," jawab Hansel merasa malu.


Micheline tersenyum, "Aku percaya kau pasti bisa," kata Micheline memberi dukungan pada Hansel.


Hansel hanya mengangguk dan tersenyum. Besar harapan Micheline agar Hansel tidak mengecewakannya. Micheline ingin Hansel menjadi seseorang yang lebih berani dan bisa membuang semua keraguan juga rasa khawatir karena masa lalu. Dulu memanglah Hansel seorang yang lemah dan tidak berdaya, tetapi sekarang Hansel sudah banyak berlatih dan belajar. Terlebih, ada kekuatan penuh yang ada di belakang Hansel, yaitu Micheline.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2