My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 64 - Pergerakan Micheline (4)


__ADS_3

Ergy pulang dalam keadaan mabuk. Ia memanggil-manggil Ertha istrinya. Biasanya, setiap Ergy pulang Ertha selalu menyambutnya. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, malam itu ia tidak melihat batang hidung istrinya.


"Ertha..." panggil Ergy.


"Ertha, di mana kau?" panggil Ergy lagi.


"Ertha, aku pulang. Kau tidak menyambutku? apa kau sudah tidur?" kata Ergy berjalan terhuyung ke kamar tidurnya.


Saat pintu kamar dibuka, ia tidak mendapati Ertha. Ergy pun langsung ke kamar mandi. Di sana Ertha juga tidak ditemukan. Ergy mengeryitkan dahi, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ponsel istrinya.


Beberapa detik kemudian, ia mendengar suara dering ponsel, yang tak lain adalah ponsel milik Ertha. Ponsel itu tergeletak di nakas samping tempat tidur. Ergy berjalan mendekati nakas, ia mengbil ponsel istrinya.


"Ponselnya ada. Di mana Ertha?" gumam Ergy.


Ergy meletakan lembali ponsel Ertha di nakas. Ia segera keluar dari kamar tidur menuju belakang rumah. Ia berpikir mungkin saja Ertha sedang berjalan-jalan atau melakukan sesuatu di belakang rumah sehingga tidak dengar saat di panggil. Di sana, Ertha juga tidak ada. Ergy mulai cemas, ia langsung mencari di seluh rumah. Termasuk lantai dua rumahnya. Setelah lama berkeliling mencari, Ergy tidak menemukan keberadaan Ertha.


"Apa dia pergi? tidak, tidak. Ertha tidak mungkin pergi tanpa mengabariku. Aku tahu pasti sifatnya. Sekeras apapun aku padanya, ia tidak akan pernah tidak bicara padaku. Di mana, ya? coba aku tanya Luky. Dia juga tidak ada di rumah. Apa masih di luar?" gumam Ergy. Ergy segera menghubungi nomor ponsel Luky. Namun, ponsel Luky tidak aktif.


"Tidak aktif. Di mana mereka berdua. Ahh... s*al!" kesal Ergy.


Ergy kembali menghubungi Luky. Panggilan Ergy tidak tersambung karena ponsel Luky tidak aktif. Ergy kembali mencari Ertha di luar rumah. Sampai Ergy berkeliling di sekitaran rumahnya. Dengan panik Ergy mencari, entah mengapa ada perasaan takut menyelimuti hatinya.


*****


Tepat dini hari, Marco beserta dua rekan, juga Ertah dan Luky sampai di rumah Micheline. Micheline dan Hansel sudah menunggu kedatangan mereka semua. Marco keluar dari dalam mobil lalu menghadap pada Micheline.


"Nona, kami sudah membawa keduanya." kata Marco.


Micheline menatap Hansel, "Kau tidak keberatan kan jika aku meminta Marco membawa mereka ke kamar kosong di belakang rumah?" tanya Micheline ragu-ragu.


"Ya. Bawa saja," jawab Hansel.


Micheline menatap Marco, "Bawa ke mereka dan masukan dalam kamar kosong." perintah Micheline.


Marco menganggukkan kepala, "Baik, Nona." jawabnya. Marco segera berjalan mendekati mobil, ia meminta dua orang rekannya membawa Ertha dan Luky masuk.


Micheline merangkul pengan Hansel, "Apa kau ingin melihat mereka?" tanya Micheline menawari.


"Kau mau ikut bersamaku?" tanya balik Hansel.

__ADS_1


Micheline mengangguk, "Ya. Boleh saja." jawab Micheline.


Keduanya lalu berjalan bersama menuju tempat keberadaan Ertha dan Luky. Hansel meminta Marco melepas penutup kepala dan tetap membiarkan keduanya dalam keadaan terikat. Ada rasa puas dalam hati Hansel meski hanya sesaat. Ia memikirkan, di tempat lain Pamannya pasti kebingungan mencari Bibinya juga Anak kesayangannya.


"Ada apa?" bisik Micheline.


Hansel tersenyum, "Tidak ada. Hanya sedikit penasaran saja. Bagaimana reaksi paman saat mendengar istri dan anak kesayangannya ada bersama kita. Apa kau tahu? Bibiku adalah orang yang sangat mencintai pamanku. Meski paman sudah berprilaku kasar, bibi akan terus sepenuh hati mengabdikan diri untuk paman. Jika ia pulang ke rumah dan tidak ada sambutan tentu saja dia akan kebingungan, kan?" jelas Hansel.


Micheline menggenggam tangan Hansel, "Aku senang kau tersenyum. Setidaknya, kau merasa sedikit puas. Bukankah dengan ini, kau bisa melangkah selangkah lebih maju darinya." kata Micheline.


"Selangkah lebih maju..." ulang Hansel menatap Micheline.


"Oh, maaf aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya..." kata-kata Micheline terpotong oleh Hansel.


"Kau benar. Dengan begini aku bisa memperingatkannya, kan?" kata Hansel, "Ah... Tetapi belum bisa dipastikan juga. Pamanku kan tidak secinta dan sesayang itu pada keluarganya. Hal paling utama adalah dirinya sendiri." imbuh Hansel.


"Hah..." lengkuh Micheline, "Aku jadi kesal mendengarnya." kata Micheline.


"Jangan kesal. Aku tidak akan biarkan kau murka malam ini. Karena..." Hansel mendekati Micheline lalu berbisik, "Karena aku masih belum puas membuatmu menjerit." bisik Hansel menggoda Micheline.


Micheline melebarkan mata, "Kau ini..." gumam Micheline merasa malu. Hansel sungguh berani bicara tidak senonoh di depan banyak orang. Untungnya Hansel berbisik.


Micheline meminta Marco dan dua rekan Marco pergi istirahat. Hansel dan Micheline tetap tinggal. Keduanya merencanakan langkah selanjutnya yang akan mereka ambil. Juga apa yang sebaiknya dilakukan dengan Ertha dan Luky.


"Umhhh... Umm..."


Mendengar sesuatu, Micheline berbalik dan menatap Ertha. Melihat Micheline, Hansel mengikuti pandangan Micheline. Hansel dan Micheline menatap Ertha yang terlihat terkejut.


"Hmmm... mmm..." gumam Ertha.


Hansel melangkah mendekati Ertha, "Apa ada yang ingin Bibi sampaikan?" tanya Hansel mengambil kain yang menyumpal mulut Ertha.


"Hansel..." panggil Ertha.


"Kau... kau kenapa bisa?" kata Ertha kaget.


"Aku kira Bibi akan bertanya kabar padaku. Pertanyaan apa, kenapa bisa?" kata Hansel menatap Ertha, "Jika bibi sangat peansaran. Tanyakan saja pada suami tercinta bibi. Aku melakukan ini juga karena terpaksa," kata Hansel.


"Apa... apa maksudmu, Hans?" sentak Ertha melebarkan mata.

__ADS_1


"Lupakan saja. Aku tidak akan mencelakai atau melukai Bibi dan Luky. Bersikap baiklah," kata Hansel dingin.


"Luky..." gumam Ertha, ia langsung melihat sisi kanannya. Luky ada di sana dengan posisi meringkuk dilantai karena tidak sadarkan diri.


"Luky... Kau baik-baik saja? Luky..." teriak Ertha memanggil-manggil Luky, anaknya.


"Dia baik-baik saja. Hanya mabuk dan tertidur. Kecilkan teriakan bibi, atau aku akan sumpal mulut bibi dengan kain lagi." kata Hansel kesal mendengar bibinya yang berisik.


"Kau sungguh keterlaluan, Hans. Apa yang kau lakuakan ini, huh. Aku ini bibimu, Luky juga saudaramu." kata Ertha membela diri.


Hansel berdiri mengusap wajahnya kasar, "Apa?" tanya Hansel kaget lalu tertawa lebar, "Hahaha... bibi bilang apa? bibi adalah bibiku? dan Luky adalah saudaraku? apa seorang bibi dan saudara tega memperlakukan keponakan juga sepupunya begitu keji? apa bibi pernah bertanya kabarku saat paman memarahiku dan memukulku? apa bibi peduli padaku saat aku ada di asrama? apa bibi tahu perasaanku yang sangat sesak sampai-sampai aku ingin mati? kenapa sekarang bibi menyebut diri sendiri seorang bibi? kenapa?" sentak Hansel kesal.


"Hans..." panggil Micheline.


"Aargghh..." teriak Hansel emosi yang langsung memukulkan tangannya ke cermin yang berada tepat di sampingnya.


Buukkk...


Suara keras tinjuan Hansel ke cermin. Darah segar mengalir dari sela-sela jari Hansel, sebagian darah menetes ke cermin. Tindakan Hansel yang tiba-tiba itu, membuat Micheline tercengang. Micheline tidak menyangka Hansel akan seemosional itu. Tidak hanya Hansel yang terkejut, Ertha pun juga dibuat kaget oleh tindakan nekat Hansel.


"Hansel!" seru Micheline yang langsung mendekat dan memegang tangan Hansel.


"Lepas," kata Hansel mencegah Micheline menghentikan tindakannya.


"Tidak akan! apa kau gila? kau melukai dirimu sendiri. Lihat tanganmu," kata Micheline mencemaskan Hansel.


"Jangan hentikan aku, El. Lepaskan tanganku," kata Hansel.


"Cukup! jangan bertindak bodoh, Hansel Feliks!" sentak Micheline melebarkan mata.


Hansel terdiam. Micheline dapat melihat perasaan Hansel yang sangat sedih bercampur kecewa dari sorot mata Hansel. Hansel mengepalkan tangannya, membuat darah semakin deras keluar dari luka yang timbul akibat tindakan bodohnya. Micheline memeluk Hansel, mengusap-usap kepala Hansel. Ia memandang Ertha penuh rasa benci, karena Ertha lah yang memicu Hansel menjadi emosional.


"Jika saja kau bukan orang terdekat Hansel. Aku pasti akan mencongkel kelair dua bola matamu dan memotong lidahmu, bibi tua." batin Micheline menahan kekesalannya.


"Tidak apa-apa. Tenangkan dirimu dulu. Ok," bisik Micheline lembut. Micheline mencoba menenangkan Hansel sebisa mungkin.


Samar-samar tersengar suara isak tangis. Micheline tahu jika Hansel sedang menangis karena tidak bisa meluapkan emosi sepenuhnya. Mendengar Hansel yang menangis, melihat Hansel yang terluka, membuat Micheline ikut merasakan kesedihan Hansel.


"Kita pergi dari sini, Hans. Ayo..." ajak Micheline melepaskan pelukannya. Micheline mengusap wajah Hansel, lalu memapah Hansel keluar dari kamar. Hansel dan Micheline meninggalkan Ertha dan Luky berdua saja di kamar yang gelap tanpa penerangan.

__ADS_1


"Setelah menenangkan Hansel. Aku akan kembali dan memberimu pelajaran," batin Micheline.


...*****...


__ADS_2