
Charlie selesai membersihkan kotoran dan mengosongkan tempat pakan. Ia juga sudah membilas bersih kandang dengan dibantu Jesslyn.
"Anda lelah? ingin minum jus jeruk?" tawar Jesslyn.
"Boleh. Aku sudah membersihkan rumah ternak Ini dengan baik, kan. Aku juga merasa lelah dan haus," kata Charlie.
Jesslyn dan Charlie melepas perlengkapan bersih-bersih mereka dan mencuci tangan mereka. Jesslyn lalu mengajak Charlie duduk berteduh di sebuah Gazebo kecil tidak jauh dari kandang.
"Saya akan meminta pelayan menyiapkan minumnya," kata Jesslyn.
"Tunggu," kata Charlie menghentikan langkah kaki Jesslyn yang ingin pergi ke dapur di dalam Villa.
"Ya?" jawab Jesslyn.
"Apa aku bisa ikut denganmu? aku akan membantumu," kata Charlie.
Tidak perlu, Tuan. Ada pelayan yang menyiapkannya. Pelayan akan menyiapkan minuman untuk semuanya. Pasti Nona Micheline juga merasa haus," kata Jesslyn.
Jesslyn berjalan menuju dapur, Charlie menunggu di dan duduk bersandar. Ia merasa lelah. Punggungnya terasa kaku dan pegal.
"Latihan ringan apa? ini lebih sepeti perbudakan," gumam Charlie kesal, ia memijat-mijat bahunya yang pegal.
"Pelayan sedang menyiapkannya," kata Jesslyn yang baru saja datang, Jesslyn lalu duduk di hadapan Charlie.
Charlie melihat sekeliling, "Kau sudah lama bekerja di sini?" tanya Charlie.
"Anda tidak pernah ke Villa ini, ya? jika Anda pernah ke sini tentu Anda mengenal saya. Saya selalu datang setiap hari untuk memeriksa kesehatan kuda-kuda milik Nona."
"Ya. Aku biasanya datang ke Villa utama. Aku tidak pernah lama dan hanya berjalan paling jauh ke dapur Villa utama. Tidak pernah ke mana-mana," jawab Charlie.
"Tidak heran kita tidak pernah bertemu," sahut Jesslyn.
"Bagaimana perasaanmu bekerja bersama Micheline?" tanya Charlie pada Jesslyn.
Jesslyn terdiam sesaat, "Hm..." gumam Jesslyn berpikir, "Bagaimana, ya. Saya tidak emrasa terbebani sejak awal. Jadi, saya merasa senang. Tidak ada masalah apapun," jawab Jesslyn.
"Kau tidak takut pada Micheline? dia, kan..." kata-kata Charlie terhenti.
"Monster berdarah dingin," sambung Jesslyn.
"Oh, sepertinya kau juga tau bagaimana majikanmu, ya?" tanya Charlie.
"Karena itu saya merasa Nona itu keren. Apa Anda tahu, beliaulah yang menyelamatkan keluarga saya. Memang beliau tidak mengenal ampun. Namun, sepertinya itu hanya berlaku untuk orang-orang yang jahat atau orang-orang yang mengusiknya saja. Apa Anda percaya jika saya mengatakan ini, saya pernah melihat Nona Micheline menembak mati seseorang."
Charlie mengernyitkan dahi, meski ia tahu seperti apa Micheline. Namun, ia tidak menyangka jika Micheline akan memperlihatkan kekejamannya pada orang lain selain dirinya.
"Kau tidak takut? bagaimana jia sewaktu-waktu kau membuat kesalahan dan ditembak mati olehnya?" tanya Charlie.
Jesslyn tersenyum, "Saya akan berusaha sekuat tenaga saya, untuk tidak membuat kesalahan yang fatal. Saya akan selalu berhati-hati pada tindakan dan pekerjaan saya," jawab Jesslyn tanpa ragu.
__ADS_1
"Kau cukup percaya diri rupanya. Ah, bisakah kau bicara santai padaku. Aku cukup dengar bahasa formal di kantor saja. Kau kan bukan bawahanku," kata Charlie merasa tidak nyaman saat Jesslyn berbicara formal padanya.
"Oh, maaf. Sa... maksudnya aku sudah terbiasa," jawab Jesslyn.
Jesslyn dan Charlie berbincang seputar perkebunan dan gudang anggur milik keluarga Jesslyn. Charlie tertarik, karena ia sangat suka minum. Dan ingin mencoba wine produksi gudang milik keluarga Jesslyn.
"Aku tertarik datang ke gudang winemu," kata Charlie.
"Boleh saja," jawab Jesslyn.
"Apa benar seorang dokter?" tanya Charlie tiba-tiba.
Jesslyn mengangguk, "Ya. Lebih tepatnya Dokter hewan," jawab Jesslyn.
"Kenapa tidak Dokter biasa? maksudku Dokter yang biasanya mengobati orang seperti kebanyakan yang bekerja di rumah sakit."
"Dulu, keluargaku kesulitan mendapatkan Dokter hewan saat ternak kami sakit. Dan akibatnya ada beberapa ternak yang mati dan membuat kami merugi. Adapun Dokter Hewan, kami harus mencari jauh dan membayar mahal untuk jasanya. Itulah motivasiku menjadi Dokter hewan. Aku ingin membantu keluargaku, juga orang-orang di sekitarku yang membutuhkan pertolongan."
"Kau orang yang cukup peka," sahut Charlie.
"Begitulah," jawab Jesslyn tersenyum tipis.
*****
Micheline, Keily dan Jason mengobrol sembari menunggang kuda dengan santai. Mereka cukup lelah untuk berkeliling. Dan ingin segera menyudahi aktivitas mereka.
"Apa kabar Kakekmu baik, Jason? kami ingin berkunjung ke gudang winemu," kata Micheline.
"Kau ingin menginap di sini, Kei?" tawar Micheline.
"Tentu saja. Jika Kakak juga menginap," jawab Keily.
"Tidak perlu memikirkan Kakakmu. Dia bisa tidur di mana saja," jawab Micheline.
"Tega sekali," jawab Keily.
Micheline tersenyum, "Kenapa? kau tidak tega? Aku akan menjadi Kakak penggantimu jika Charlie membuangmu."
"Kakak tidak akan membuangku, Dia kan sangat-sangat sayang padaku. Apa ada alasan dia membuangku?" gerutu Keily.
"Bagaimana jika kau mendapatkan Kakak ipar yang tidak menyukaimu. Dia akan mencuci otak Kakakku agar membencimu dan membuangmu. Itu mungkin saja, kan" kata Micheline terus menggoda Keily.
Keily berpikir, "Kakak tidak boleh menikah jika begitu. Aku akan memilihkan calon yang cocok dengan Kakak. Tentu saja jika ada yang mau dengan Kakak yang narsis dan dingin itu."
Micheline tersenyum menatap Keily. Ia teringat akan Hansel dan Charlie. Jika Charlie, Micheline yakin akan terus menerus mengeluh dan pasti akan protes padanya jika bertemu. Micheline sangat tahu sifat Charlie yang menyebalkan. Lain halnya dengan Hansel, Micheline berniat melihat Hansel.
"Kita sudahi saja berkuda hari ini. Aku ingin melihat hasil kerja Charlie dan Hansel. Kau masih ingin berkuda, Kei?" tanya Keily.
"Boleh aku berputar sekali lagi?" tawar Keily.
__ADS_1
"Boleh saja. Ajak Keily berputar, Jason. Aku akan kembali. Setelah itu kalian bisa istirahat," kata Micheline.
"Baik, Nona.
"Terima kasih, Kak."
Micheline pergi keluar dari arena pacuan kuda. Ia turun dari punggung kuda dan berjalan perlahan membawa kembali Cookie ke kandangnya.
*****
Hansel selesai membersihkan semua kotoran dan mengosongkan tempat pakan milik Cookie. Sekarang, ia mengambil selang dan menyalakan kran air lalu menyemprot kandang Cookie untuk membilas sisa-sisa kotoran yang ada. Dengan penuh semangat Hansel bekerja. Meski ini pertam kalinya baginya melakukan pekerjaan seperti itu. Namun ia tidak bisa menolak perintah Micheline.
Ia sadar, ia bukan lagi Tuan muda yang memiliki kekayaan ataupun kekuasaan. Yang ia punya saat ini, hanya Micheline. Tempatnya bersandar dan bernaung hanya Micheline. Tidak ada lagi orang yang bisa menolongnya selain Micheline. Karena hanya Micheline, satu-satunya seseorang dengan kekuasaan dan kekuatan terbesar.
Micheline melihat Hansel, "Kau sudah selesai?" tanya Micheline yang baru datang bersama Cookie.
"Tentu. Lihatlah," jawab Hansel memamerkan hasil pekerjaannya.
Micheline melihat sekeliling dari luar kandang. Ia tersenyum melihat pekerjaan Hansel yang memuaskan. Hansel keluar dari kandang dan menemui Micheline.
"Apa kau puas?" tanya Hansel.
Micheline mengangguk, "Kau cukup bisa diandalkan rupanya. Jika pekerja harian di sini libur, kau bisa aku pekerjakan."
Hansel kaget, "Apa?" kata Hansel.
Micheline tertawa, "Aku bergurau. Ini tidak akan terjadi lagi, Hans. Percayalah padaku," kata Micheline.
"Bukan seperti itu. Aku tidak keberatan melakukanya, jika itu hanya sekali atau dua kali saja. Jangan setiap hari," kata Hansel menjelaskan.
"Ya, terima kasih untuk kesediaanmu."
Micheline membawa masuk Cookie masuk dalam kandang. Ia mengusap wajah Cookie lagi lalu meninggalkan Cookie di dalam kandang. Micheline mengambil pakan dan memberi makan Cookie. Cookie lahap memakan rumput yang ada di tempat pakannya.
"Apa dia kuda kesayanganmu?" tanya Hansel.
Micheline mengangguk, "Ya. Dia kesayanganku," jawab Micheline.
"Lalu aku?" kata Hansel.
"Kau kan Asistenku. Mau siapa lagi?" jawab santai Micheline.
Hansel mengehela napas panjang, "Asisten, ya."
Micheline mengernyitkan dahi, "Kau menghela napas dan mengeluh? apa-apaan ini? sudah aku katakan padamu. Aku tidak tertarik padamu. Atau pada laki-laki manapun. Kau masih saja tidak mau dengar," kata Micheline.
"Bukan tidak mau dengar. Aku sedang berusaha mendekatimu. Karena aku memang menyukaimu," bisik Hansel di telinga Micheline. Hansel meniup telinga Micheline, membuat Micheline tidak nyaman.
"Urungkan niatamu. Kau tidak akan bisa membuat hatiku tergerak," jawab Micheline.
__ADS_1
Micheline pergi meninggal kandang Cookie. Ia pergi setelah berpamitan pada Cookie. Hansel hanya tersenyum menanggapi ucapan Micheline. Hansel tidak percaya jika ia tidak bisa membuat Micheline jatuh cinta padanya.
...*****...