
Micheline*
Beberapa hari berlalu, kira-kira sudah seminggu aku terus mual dan ingin muntah. Tetapi makanan yang ingin aku muntahkan tidak keluar. Tubuhku terasa semakin lemas. Aku pun tidak bisa lagi menahan diri, dan pergi memeriksakan diri.
Jika aku terus-menerus seperti ini. Semua pekerjaanku akan terbengkalai. Tidak bisa, aku akan pergi ke dokter dan bertanya apa yang salah dengan tubuhku.
Aku pun sampai di rumah sakit, aku langsung menemui dokter yang sebelumnya sudah aku hubungi. Perasaanku berdebar saat itu. Inikan hanya pemeriksaan biasa, pikirku. Dokter mulai memeriksaku. Ia tersenyum menatapku, aku pun bingung mengartikan senyumannya.
"Apa ada sesuatu, dok?" tanyaku ingin meleyapkan rasa penasaranku.
"Selamat, Anda tengah mengandung." kata dokter yang langsung tersenyum lebar padaku.
Aku terkejut, sesaat aku seperti orang linglung. Tidak tahu harus bicara apa. Ekpresiku hanya diam mematung. Beberapa saat pun pemeriksaan selesai dilakukan. Dokter pun bertanya apakah aku ada keluhan, atau tidak. Kukatakan semua keluhanku. Jika aku merass mual dan ingin muntah, tetapi tidak benar-benar muntah. Dokter menjelaskan padaku jika hal itu biasa dialami oleh Ibu yang sedang mengandung. Terutama ditahap awal kehamilan sepertiku.
"Berapa usia kandunganku, dok?" tanyaku.
"Satu bulan. Anda harus berhati-hati dalam segala sesuatunya. Karena ini masih tahap awal kehamilan, jika ands terlalu lelah atau stres anda bisa mengalami keguguran. Jangan dulu terlalu sering melakukan aktivitas berat, terlalu lelah, dan jaga pola makan anda. Makan makanan begizi akan membantu janin anda tumbuh sehat dan berkembang." jelas dokter padaku.
Aku mengangguk, "Baik," jawabku.
Setelah itu aku mendapatkan resep vitamin dan obat anti mual yang perlu aku konsumsi, aku pun berpamitan untuk pulang. Aku keluar dari ruang pemeriksaan dan pergi ke bagian administrasi. Kuselesaikan semuanya lalu aku keluar dari gedung rumah sakit itu.
Di dalam mobil aku terdiam. Aku mengusap perutku perlahan. Aku tidak menyangka jika aku hamil, dan ini adalah anak Hansel. Aku sama sekali tidak peka, sampai terlambat datang bulan pun aku tidak menyadarinya.
Pikiranku jadi bingung, haruskah aku memberitahu Hansel? Ya, tentu saja. Dia kan Ayah dari janin yang kukandung.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Aku terkejut saat ponselku tiba-tiba berdering. Hansel menghubungiku.
"Ya," jawabku menerima panggilannya.
"Kau di mana?" tanyanya terlihat khawatir.
"Aku baru saja keluar dari rumah sakit. Kau sudah pulang? jam berapa ini?" tanyaku sembari melihat jam tanganku.
"Aku sudah menyelesaikam semua pekerjaanku. Semuanya tanpa ada yang kurang satu pun. Aku khawatir padamu, saat aku pulang kau justru tidak di rumah. Apa kau tahu sepanik apa aku? tanyanya mulai emosi. Bisa kurasakan ia sangat khawatir padaku.
"Iya, iya. Tidak perlu aku meluapkan emosi seperti itu. Aku akan segera pulang," kataku.
__ADS_1
"Hah..." ku dengar ia menghela napas panjang, "Hati-hati di jalan dan jangan terlalu cepat. Perhatikan jalanmu, aku akan menunggumu. Hubungi aku segera jika ada sesuatu." katanya. Ia memang selalu cerewet seperti induk ayam yang kehilangan anaknya.
"Ya," jawabku singkat. Aku tidak ingin banyak bicara, karena tidak ingin ia lebih panjang mengomel.
"Aku mencintaimu. Muachh..." katanya sebelum akhirnya panggilan kami terputus.
Aku masukan ponselku dalam tas dan langsung menyalakan mesin mobilku. Dengan segera aku mengemudikannya pergi meninggalkan parkiran rumah sakit. Sepanjang perjalanan aku berpikir, bagaimana caranya aku mengatakan pada Hansel tentang kehamilanku ini.
Apakah Hansel akan senang? atau malah sebaliknya. Atau ia hanya akan bersikap biasa-biasa saja, karena tidak terlalu mengharapkan anak ini? Jika ditanya, apakah aku mencintai Hansel? aku akam menjawab dengan pasti. Aku sama sekali tidak mencintai Hansel. Rasaku padanya hanya sebatas kagum. Entahlah, aku memang menyukai paras tampannya, tubuh sempurnanya. Sampai perlakuan hangatnya padaku. Namun, aku masih enggan untuk mencintainya. Aku takut, jika aku mencintainya dengan sepenuh hatiku. Akankah ia juga mencintaiku sebesar cinta yang aku berikan? jawabnya belum pasti, antara ya dan tidak. Pikiranku kacau, aku tidak menolak janin ini. Namun, juga tidak sepenuhnya menerima. Aku tidak yakin, apakah aku bisa menjadi Ibu yang baik untuk anakku? Aku yang seperti ini, mungkinkah bisa?
Pertanyaan demi pertanyaan melayang-layang di atas kepalaku. Dari satu pertanyaan muncul pertanyaan baru. Dugaan demi dugaan saling mengejar menghantuiku. Tanpa sadar, aku pun sudah melalui setengah perjalananku.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya aku sampai di rumah. Aku memarkir mobilku dan keluar dari dalam mobil. Aku langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Baru saja kakiku melangkah masuk ke dalam rumah, aku melihat Hansel dengan gelisah mondar mandir sembari mengigit ujung ibu jari tangan kanannya.
"Hans..." panggilku.
Hansel memalingkan wajah padaku, langsung mendekat dan memelukku erat. Aku bisa mendengar jantungnya berdegup kencang. Aku tidak sangka ia akan sepanik ini saat tidak menemukanku di rumah.
"Akhirnya kau pulang," bisiknya di telingaku.
Aku mengangguk, "Maaf... membuatku khawatir dan panik. Dan terima kasih sudah menungguku pulang," kataku.
"Bisa kau tenang dulu? aku tahu kau sangat khawatir, cemas dan panik. Namun, jika kau mendesakku seperti ini, bagaimana bisa aku memberitahumu?" kataku menjelaskan padanya.
Aku menggandeng tangannya, membawanya masuk ke dalam kamar. Ia hany diam dan menurut saat aku membawanya tanpa bicara apa-apa. Di kamar, aku memintanya duduk. Ia pun duduk di tepi tempat tidur.
"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu," kataku yang langsung mengeluarkan surat pemeriksaan yang diberikan dokter padaku dari dalam tasku. Kuberikan surat itu pada Hansel.
"Apa ini?" tanyanya menerima lembaran kertas yang kuberikan.
Dibukanya lalu dibacanya. Aku bisa melihat matanya melebar, ia langsung menatapku. Aku tidak bisa mengartikan tatapannya, tatapannya terlihat sedih.
"Kau hamil..." gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
Laki-laki yang duduk di depanku ini pun berdiri dan memelukku lagi. Ia menangis terisak dan mengatakan kata-kata yang membuatku tercengang.
"Aku sangat bahagia, Eline. Terima kasih," itulah kata yang diucapkannya.
__ADS_1
Hansel melepas pelukannya, kulihat matanya merah karena manangis. Aku menjadi tidak tega, kusekany air mata laki-laki di hadapanku ini, lalu mengusap pipinya. Ia tersenyum tipis, mata elangnya menatapku sayu. Ia mencium keningku dengan penuh perasaan. Lalu ia mencium perutku.
"Terima kasih sudah hadir untuk kami, sayang. Tumbuhlah sehat." katanya yang aku bisa kudengar.
"Dia pasti akan tumbuh sehat dan kuat," kataku mengusap kepala Hansel lembut.
"Berapa bulan?" tanyanya.
"Kata dokter satu bulan," jawabku.
"Jaga dirimu juga anak kita. Kali ini aku akan lebih mengawasi dan memperhatikanmu." katanya.
"Ya, terima kasih. Oh, apa ada sesuatu di kantor, Hans?" tanyaku menyakan situasi di kantor. Sudah dua hari ini aku tidak datang ke kantor karena merasa tidak enak badan. Sebelum akhirnya aku tahu jika ada calon bayi di perutku.
"Tidak ada masalah. Aku dan Charlie sudah menyelesaikan semuanya." jawab Hansel.
"Oh, begitu. Kau sangat bekerja keras rupanya," pujiku tersenyum padanya.
"Tentu saja. Karena aku ingin cepat pulang dan menghabiskan waktuku denganmu. Ah, sekarang aku akan menghabiskan waktuku dengan kau dan calon anak kita." kata Hansel tersenyum senang.
Aku bisa melihat Hansel sangat senang dan bsrantusias. Aku melihat ia menangis terisak, sampai tersenyum lebar karena suatu alasan. Karena kehadiran sang buah hati.
...*****...
**Yuk, follow ig author
ig: dea_anggie
Jangan lupa like setiap episodenya ya..
Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..
Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..
Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..
Terima kasih semuanya...
__ADS_1
Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..
Salam hangat dari author~~🙂**