My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 85 - Sampai Kapan


__ADS_3

Charlie mulai sibuk. Jesslyn mengerti akan keadaannya. Bahkan ia pun menawarkan bantuan membantu Charlie. Ia ingat jika masih ada dua orang yang harus diurus, dalam artian di beri makan. ia pun meminta bantuan Jesslyn untuk menyiapkan sarapan hingga makan malam untuk mereka.


"Sayang, ada yang bisa kubantu?" tanya Jesslyn berdiri disamping Charlie yang sibuk memeriksa dokumen.


"Tidak ada. Bukankah semua sudah kau siapkan? mulai dari sarapan, sampai kopi dan kudapan?" jawab Charlie. Tiba-tiba Charlie teringat sesuatu, "Ah, sayang. Bisa tolong aku? aku melupakan sesuatu, karena sibuk hari ini mempersiapkan rapat." kata Charlie menatap Jesslyn.


Jesslyn membalas tatapan mata Charlie, "Ada apa? katakan saja," jawab Jesslyn.


"Tolong belikan sarapan untuk dua orang. Apapun itu makanannya. Ada bibi dan sepupu Hansel yang ada di kamar belakang rumah Micheline. Biasanya Michel yang melayani mereka, tetapi dia kan sedang sakit saat ini. Jika kau berkenan, tolong bantu aku." kata Charlie.


"Ah, jadi kau ke rumah Nona setiap harinya untuk mengirim makan, ya. Kenapa tidak bilang sejak awal. Aku kan bisa membantumu," jawab Jesslyn.


"Maaf, aku tidak ingin merepotkanmu. Kau sudah cukup sibuk dengan pasienmu, kan? kau juga selalu menemaniku setiap pagi sebelum kau buka klinikmu. Kau menjemputku setiap tutup klinik, sampai terkadang mengirimiku makan siang agar aku tidak kelaparan. Perhatianmu sungguh membuatku semakin tidak bisa berpaling darimu," ungkap Charlie tersenyum.


Jesslyn tersenyum mengusap wajah Charlie, "Manisnya, sejak kapan Charlie yang dingin seperti balok es jadi meleleh seperti cokelat panas, ya? kau sangat manis," puji Jesslyn senang.


"Sejak kau mesuk dalam hidupku. Kau seperti nyawa keduaku. Senyummu, membuatku selalu rindu. Perhatianmu, membuatku candu. Ehemm, dan..." kata-kata Charlie terhenti. Wajahnya sedikit memerah, entah mengapa ia malu untuk bicara.


Jesslyn mendekatkan wajahnya ke wajah Charlie, "Dan..." ulang Jesslyn.


"Dan... itu, sudahlah. Yang terpenting kau tidak boleh pergi meninggalkanku. Apapun yang terjadi, ok." jawab Charlie.


Jesslyn tersenyum lagi, "Ok," jawab Jesslyn mencium pipi Charlie, "Aku sangat mencintaimu Charlie. Jangankan pergi, tidak melihatmu sedetik saja aku sudah sangat rindu." bisik Jesslyn.


Kata-kata manis Jesslyn membuat Charlie berdebar, "Kenapa kau selalu membuatku berdebar?" gumam Charlie.


"Apa?" sahut Jesslyn, "Berdebar? siapa? kau berdebar? karenaku?" cecar Jesslyn yang lalu terkekeh. "Wah-wah, ini sisi imutmu ternyata." kata Jesslyn menggoda Charlie.


Keduanya saling bertatapan, lalu berciuman. Jesslyn melepas ciumannya dan memibta izin untuk pergi, ia harus segera membeli sarapan untuk Ertha dan Luky. Charlie mengizinkan Jesslyn pergi, meski dengan sedikit berat hati.


"Nanti siang aku datang lagi. Baik-baik bekerja, ya." kata Jesslyn mengusap rambut Charlie.


"Ya. Kau juga baik-baik besama pasienmu. Jangan sampai terluka," jawab Charlie.


"Ok. bye, sayang." pamit Jesslyn yang langsung pergi meninggalkan Charlie.

__ADS_1


"Bye..." jawab Charlie.


*****


Hansel*


Sehari, dua hari, tiga hari, sampai hari ke lima berakhir. Micheline tidak kunjung sadarkan diri. Setiap hariku, jiwa dan ragaku seperti tersiksa. Aku selalu memipikan kejadian itu setiap aku memjamkan mata. Aku langsung terjaga dan bangun, aku tidak mau tertidur lagi jika sudah seperti itu.


Aku terus menunggu dan menunggu. Aku sangat berharap Micheline bisa segera bangun. Aku merindukan tatapannya, suaranya, juga senyumnya.


Selamat pagi, sayang... sapaku pagi itu dengan mengecup keningnya. Hari keenam ini, aku berharap ia segera membuka mata dan sadarkan diri.


Setiap hari dokter datang memeriksa. Selalu memintaku untuk bersabar menunggu. Aku juga tidak bisa mengelak lagi, aku hanya bisa menunggu dan terus menunggu. Sepertinya, setiap hari kesabaranku seakan diuji. Charlie dan Jesslyn juga datang, Jason, Kaily, bahkan Bella. Mereka semua datang menjenguk Micheline. Mereka juga terus memberiku semangat agar aku bisa selalu kuat, dan bersabar. Terlebih aku harus memperhatikan kesehatanku. Itu yang mereka semua katakan.


Dengan tidak adanya Micheline. Charlie lah yang bertanggung jawab untuk urusan perusahaan. Aku mengatakan jika aku tidak bisa membiarkan Micheline seorang diri. Ingin terus berjaga di sisi Micheline. Charlie mengiyakan dan memintaku tidak khawatir. Aku lega, Charlie bisa diandalkan di saat genting seperti ini.


Seperti biasanya, setiap harinya rutinitasku kulakukan di sembari menjaga Micheline. Selama dua puluh empat jam aku berads di sisinya. Aku bahkan sampai mandi, tidur, sampai makan di dalam ruangan tempat Micheline dirawat. Mungkin sesekali aku keluar, itupun hanya sebatas membeli kopi di kedai sekitaran rumah sakit. Atau membeli cake kesukaan Micheline. Kulakukan itu jika aku bosan sendiri dan merindukan sosok perempuan yang masih terbaring tidak sadarkan diri di hadapanku ini.


kulihat jam di tanganku, jam menunjukkan pukul enam pagi. Aku membenahi selimut Micheline. Kukecup lagi kening Micheline dan berpamitan. Aku ingin keluar sebentar membeli kopi.


Aku pun pergi, meninggalkan Micheline yang masih tidur. Entah sampai kapan ia akan terlelap tidur seperti itu. Kupandangai Micheline sebantar sebelum akhirnya aku menutup pintu ruangan dari luar. Kuhampiri perawat yang berjaga, aku menitipkan Micheline sebentar karena ingin membeli kopi. Begitu kataku, yang langsung diiyakan oleh perawat tersebut.


Langkahku membawaku cepat keluar dari gedung rumah sakit. Langit yang mulai terang, udara juga terasa dingin, mengiringi langkahku selanjutnya menuju kedai kopi. Langkah demi langkah, kuselisik sekitaran jalan. Sudah mulai ramai kendaranan berlalu lalang.


Aku pun sudah berdiri di depan pintu kedai kopi. Kudorong pintu, lalu ku duduk di tempat biasanya aku duduk. Tempat itu dekat dengan kaca yang mengarah ke jalan. Aku biasanua menikmati kopi sembari melihat jalanan yang ramai. Terkadang pagi, siang, sore, bahkan malam. Kapanpun aku aku merada jenuh sendirian dan ingin menghilangkan penat. Aku akan datang ke sini untuk minum kopi.


"Hallo, Tuan. Selamat pagi. Kopi atau cokelat panas?" sapa pelayan yang langsung bertanya padaku, apa yang aku pesan. Ia sudah hafal padaku, meski aku baru beberapa kali datang.


"Cokelat panas," jawabku.


"Baik. Silakan menunggu sebentar," katanya yang langsung pergi.


Mataku melihat ke jalan. Tubuhku di sini, entah mengapa pikiranku tidak lepas memikirkan Micheline. Aku sangat merindukannya. Aku benar-benar rindu sampai ingin mati rasanya. Sampai kapan aku harus menunggunya seperti ini?


"Silakan, Tuan."

__ADS_1


Pelan datang membawakan pesananku, "Terima kasih," kataku.


Pelayan itu pergi. Aku mengaduk cokelat panas dihadapanku. Aku selalu ingat Micheline jika melihatnya. Selalu terbayang betapa ia sangat menikmati setiap tegukan cokelat panas yang ia minum. Kubiarkan sebentar lalu kunikmati cokelat panas pesananku. Aku kurang menyukainya sebenarnya, tetapi aku jadi suka karena ini kesukaan Micheline. Kuminum perlahan, seteguk demi seteguk sembari menatap ke luar dinding kaca yang mengarah langsung ke jalan.


Tiba-tiba saja, jantungku berdegup kencang. Entah mengapa perasaanku jadi tidak nyaman. Aku merasakan jantungku berdetak tidak biasa. Kuraba dadaku sendiri, aku merasakan detak jantungku.


Ada apa ini? kenapa aku berdebar? apa yang terjadi? pikirku mulai bertanya-tanya. Sesaat aku terdiam, lalu teringat Micheline. Ya, mungkin terjadi sesuatu padanya. Pikirku lagi.


Kau pun langsung berdiri dari tempat dudukku dan pergi ke kasir untuk membayar. Transaksi pembayaran selesai dilakukan. Akupun langsung berjalan cepat keluar dari kedai kopi dan langsung kembali ke rumah sakit. Aku berlari, jantungku terus berdetak kencang. Ada perasaan takut, khawatir juga gelisah. Semua tercampur aduk, membuat pikiranku tidak nyaman.


Aku berlari sampai akhirnya aku tiba di depan ruangan. Aku mengatur napasku, karena berlari napasku jadi naik turun. Setelah napasku kembali normal, aku pun segera membuka pintu dan masuk. Kututup pintu dari dalam, aku berbalik dan melihat ke arah Micheline. Mungkinkah aku salah lihat, Micheline seperti bergerak. Aku berjalan memastikan. Benar saja, aku melihatnya membuka mata dan ia menatapku. Aku senang, langsung saja aku memeluknya.


Terima kasih Tuhan... aku sangat bersyukur Micheline akhirnya sadar.


"Eline..." panggilku, "Kau akhirnya bangun, sayang. Tunggu... aku panggilkan dokter dulu." kataku yang langsung terburu-buru berlari meninggalkan Micheline. Aku harus memanggil dokter segera. Aku ingin memastikan semuanya.


...*****...


**Yuk, follow ig author


ig: dea_anggie


Jangan lupa like setiap episodenya ya..


Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..


Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..


Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..


Terima kasih semuanya...


Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..


Salam hangat dari author~~🙂**

__ADS_1


__ADS_2