My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 43 - Bersikap Biasa Saja


__ADS_3

Kakek J bersaudara terlihat bersemangat berbuncang dengan cucu-cucunya, Charlie juga Keily. Micheline mangajak Hansel keluar dari ruangan karena ada yang ingin dibicarakan.


Micheline mengajak Hansel ke Caffe kopi dekat rumah sakit. Micheline ingin mengatakan sesuatu perihal rencana pekerjaan yang harus dilakukan Hansel selanjutnya. Hansel penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Micheline.


"Jadi, untuk apa kau mengajakku ke sini?" tanya Hansel.


Micheline manatap Hansel, "Soal pekerjaan baru yang harus kau kerjakan," jawab Micheline langsung, tanpa basa-basi.


"Oh, pekerjaan. Aku sudah mengharapkan hal lain," keluh Hansel.


"Hal lain?" ulang Micheline mengernyitkan dahi, "Hal lain apa? apa kau mengharapkan sesuatu?" tanya Micheline memastikan.


Hansel tersenyum tipis, "Lupakan saja. Aku jawabpun kau juga tidak akan berubah pikiran. Katakan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Hansel.


Micheline mengembuskan napas panjang, "Apa kau bisa mengorek informasi dari Alfonzo? maksudku kau berbalik memata-matainya. Kau tetaplah menjadi orangnya, seolah kau memang bekerja padanya. Namun, itu hanya siasat untukmu menggali informasi apapun yang menyangkut Alfonzo."


"Oh, begitu. Kau memintaku bermuka dua?" jawab Hansel.


"Terserah kau anggap aku menyuruh seperti apa. Yang jelas aku butuh informasi dan kau butuh pngampunan, kan? itu kesepakatan kita," jawab Micheline menatap dalam mata Hansel.


"Jika aku ketauan bagaimana?" tanya Hansel kembali menatap Micheline, "Kau kan tahu jika ada Luiso yang selalu cermat mengamatiku," imbuh Hansel.


"Tidak perlu khawatir. Aku akan melindungimu," ucap Micheline tersenyum.


Jantung Hansel berdegup kencang saat melihat senyuman Micheline. Senyuman Micheline yang mengembang, terlihat sangat cantik. Hingga membuat Hansel tidak bisa berpaling.


Ponsel Hansel berdering, Hansel meraba saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Hansel melebarkan mata saat layar ponselnya, lalu ia mengeryitkan dahi. Micheline melihat Hansel, merasa penasaran siapa yang menghubungi Hansel.


"Siapa, Hans?" tanya Micheline.


"Pamanmu," jawab Hansel.


Micheline terkejut, "Apa? Astaga, peka sekali telinganya," kata Micheline. Micheline menghelan napas panjang, "Terimalah, biarkan dia bicara. Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan," jelas Micheline.


Hansel menatap Micheline, "Kau yakin?" sahut Hansel.


Micheline mengangguk, "Sangat yakin," jawab Micheline.


Hansel menggeser panel hijau menerima panggilan dari Alfonzo. Ia mengaktifkan pengeras suara agar Micheline juga bisa mendengar apa yang ingin disampaikan Alfonzo. Micheline diam mendengarkan, Hansel menyapa Alfonzo sekedar berbasa-basi.

__ADS_1


"Hallo," jawab Hansel.


"Hans, kau sibuk?" tanya Alfonzo.


Hansel menatap Micheline, "Ya, Tuan. Akhir-akhir ini saya sibuk. Karena saya adalah seorang Asisten pribadi, tentu saya akan sibuk mempersiapkan segala kebutuhan CEO. Apakah Anda membutuhkan sesuatu? ada apa, Tuan?" tanya Hansel.


"Oh, tidak ada apa-apa. Hanya saja aku selalu menunggu kabarmu. Aku mengira kau akan melupakan kerjasama kita," kata Alfonzo.


Hansel menatap Micheline lagi, "Ti-tidak mingkin, Tuan. Maafkan saya tidak menghubungi Anda. Karena saya berpikir tidak ada pergerakan spesial dari Micheline. Saya tidak perlu merepotkan."


"Kau benar. Tidak perlu setiap hari kau melapor. Laporlah saat melihat sesuatu," jawa Alfonzo.


"Ya. Saya mengerti," jawab Hansel.


"Kau masih tidak mau menerima uang pemberianku, Hans? ada apa? apakah uang yang aku berikan kurang? kau butuh berapa banyak uang?" tanya Alfonzo.


"Tidak perlu, Tuan. Saya akan meminta jika saya butuh. Saya masih memiliki sisa pemberian, Anda. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih karena Anda sudah berbaik hati pada saya," ucap Hansel.


"Ya. Jika ada apa-apa, kau bisa bicara padaku secara langsung. Atau bicara pada Luiso. Jangan ragu-ragu meminta bantuan kami," kata Alfozo.


"Ya, Tuan. Terima kasih," jawab Hansel.


"Ya, Tuan."


Alfonzo mengakhiri panggilannya. Hansel meletakan ponsepnya di meja dan kembali menatap Micheline. Micheline hanya diam, terus manatap Hansel. Rupanya, Micheline sedang hanyut dalam lamunanya.


"Eline..." panggil Hansel.


"Micheline..." panggil Hansel lagi.


Beberapa kali Hansel memanggil, tetapi Micheline masih fokus pada pemikirannya sendiri. Hansel memegang tangan Micheline dan kembali memanggil Micheline.


"Eline..." panggil Hasel sembari menggenggam erat tangan Micheline.


Micheline terkejut, "A-apa, Hans? ada apa?" kata Micheline setengah gagap.


"Hei, apa yang kau pikirkan?" tanya Hamsel menatap lekat mata Micheline.


Micheline menunduk dan mengatur napasnya, "Tidak ada apa-apa. Lupakan saja apa yang kau lihat tadi. Aku baik-baik saja," kata Micheline.

__ADS_1


"Kau tidak mau bercerita?" tanya Hansel lagi, berharap Micheline akan bercerita sesuatu padanya.


Micheline menatap Hansel, "Aku tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu aku ceritakan. Aku hanya memikirkan masalah kantor saja," jawab Micheline meyakinkan Hansel jika tidak ada yang dipikirkannya.


"Baiklah jika kau tidak mau bercerita sekarang. Kau bisa kapan saja menceritakannya padaku. Kau tidak bisa berbohong padaku, Eline. Ada sesuatu hal serius yang kau pikirkan. Aku tidak tahu apa sesuatu itu. Yang jelas sesuatu yang sangat ingin kau rahasiakan, kan? Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir kau terlalu banyak berpikir dan mempengaruhi kesehatanmu. Wajahmu nampak pucat sekarang," jawab Hasel tidak ingi memaksa Micheline bercerita. Ia mengusap lembut wajah Micheline.


Micheline tersenyum kaku tanpa menjawab. Hansel berusaha mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Micheline. Ia tidak ingin melewatkan satu kesempatan kecil sekalipun. Dalam pikiran Hansel, ia sangat perlu memberikan perhatian dan kepedulian lebih lagi untuk Micheline.


Keduanya saling diam tidak bicara apa-apa. Hansel sibuk dengan ponsel, sedangkan Micheline menikmati cokelat panasnya. Micheline melihat ke arah Hansel, ia lalu memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Kenapa aku jadi memikirkannya, ya? ah... menyebalkan sekali. Setiap kali memikirkan Paman, aku jadi teringat sesuatu. Kapan ini semua akan berakhir," batin Micheline mengeluh merasa lelah.


Micheline menarik napas dalam-dalam lalu membuang napas perlahan. Ia mencoba menenangkan hati dan menjernihkan pikirannya. Micheline menutup kilas matanya, lalu membukanya kembali.


"Hans..." panggil Micheline.


Hansel menatap Micheline, "Ya... apa ada sesuatu?" tanya Hansel.


"Aku hanya ingin mengingatkan sekali lagi tentang tugasmu. Kau bisa laporkan padanya kegiatanku seperti biasa. Buat saja sesuatu yang berlebih, agar dia semakin tertarik. Semakin dia bahagia mendapat banyak informasi tentangku, semakin ia akan lengah dengan keadaanya. Aku akan manfaatkan itu semua. Kau paham?" tegas Micheline dengan wajah serius.


Hansel mengangguk, "Aku mengerti. Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah berjanji untuk setia pada perintahmu. Aku tidak akam mengecewakanmu lagi," jawab Hansel.


"Baguslah. Itu memang jawaban yang seharusny kau katakan. Ingat, ini kesempatan terakhir dariku. Kau ingin aku maafkan, kan? bekerjalah dengan baik dan teliti, juga berhati-hatilah. Aku akan membantumu saat kau butuh bantuan, jangan ragu bicara padaku jika kau inginkan sesuatu ingin menyampaikan sesuatu."


"Ya, aku akan ingat."


Micheline melihat jam tangannya, "Setelah ini, aku akan kembali ke kota. Kau akan ikut denganku," kata Micheline mengingatkan.


"Hanya kita? bagaimana dengan Charlie dan Keily?" tanya Hansel.


"Mereka masih ingin tinggal. Charlie masih ada urusan di sini dan itu bukan urusan kita. Habiskan kopimu dan ayo kita kembali ke rumah sakit untuk berpamitan."


Hansel meletakam ponselnya di meja, ia mengangkat cangkir kopinya dan menikmati tegukan terakhir kopi hitamnya. Cokelat panas dalam cangkir Micheline juga sudah kosong. Micheline merasa aneh, meski ia sudah minum minuman yang manis namun suasana hatinya tidak berubah.


Hansel selesai minum dan meletakan gelas. Hansel menatap Micheline yang kembali terdiam. Tidak ingin orang yang dipedulikannya terus melamun, Hansel berdiri dan mengulurkan tangannya. Ia mengajak Micheline segera pergi dari Caffe.


"Ayo," ajak Hansel.


Micheline melihat tangan Hansel. Ia perlahan menggapai uluran tangan Hansel. Micheline berdiri perlahan dari tempat duduknya. Hansel menggandeng Micheline berjalan keluar dari Caffe, untuk kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2