
Di dalam mobil, Micheline melepas sepatunya dan memasukan sepatunya ke dalam kantung plastik. Ia mengenakan sepatu lain yang ada di dalam mobilnya. Tidak hanya itu, ia langsung melepas mantel dan membersihkan tanngan juga kakinya dengan sapu tangan yang dibasahi oleh air.
"Kau terkejut?" tanya Micheline tanpa menatap Hansel.
"Sedikit," jawab Hansel.
Micheline tersenyum, "Baguslah. Kau memiliki pertahan yang luar biasa," puji Micheline.
Micheline memasukan mantel dan sapu tanganya yang basah ke dalam kantong plastik dan meleprkan ke bangku belakang mobilnya. Micheline langsung mengijak pedal gas dan mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu bersama Hansel.
*****
Sepanjang perjalanan, Hansel dan Micheline hanya saling di am. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Micheline mengemudi dengan kecepatan sedang menuju Villa. Hansel tidak berani bertanya, pikirannya sedang kacau. Ia merasa khawatir namun juga penasaran.
"Kenapa diam, Hans? biasanya kau banyak bertanya," sindiri Micheline memecah kesunyian.
"Hanya merasa canggung saja," jawab Hansel.
"Apa yang sedang kau pikirkan, tentangku? apa kau berpikir aku adalah orang yg kejam?" tanya Micheline.
"Ya. Sepertinya begitu. Daripada itu, saya penasaran dengan Anda, Bu CEO. Apa yang Anda pikirkan saat Anda menginjak dan menarik kasar rambut laki-laki tadi. Apa Anda tidak merasa bersalah atau kasihan?" tanya Hansel mengungkapkan rasa penasarannya.
Micheline tetap fokus mengemudi, "Kau sungguh ingin tahu apa yang ku rasakan? baiklah, aku akan memberitahumu. Jadi dengar baik-baik," jawab Micheline.
Hansel memalingkan wajah menatap Micheline yang sedang mengemudi. Ingin sekali rasanya mendesak Micheline agar cepat bicara. Namun, ia tidak mau membuat Micheline membencinya karena bersikap tidak sopan dan menyebalkan. Hal yang harus dilakukan Hansel saat itu hanya diam, dengan terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kenapa dia lama sekali menjawabnya. Apa pertanyaanku ada yang salah?" batin Hansel bingung.
"Aku senang saat melihat orang yang membuatku menderita juga menderita. Kau tau kenapa? karena aku ingin mereka merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Jika aku sakit, mereka tentu saja harus lebih sakit dariku. Itulah hukuman orang-orang yang berani menyinggungku. Aku akan buat mereka kesakitan, menderita dan memohon pengampunan. Bila perlu, akan aku buat mereka memilih kematian daripada hidup dalam penderitaan. Sungguh senang rasanya, melihat orang-orang bodoh seperti mereka memohon pengampunan. Mereka tidak tahu saja, jika semua itu percuma. Pada akhirnya mereka tetap ada pada satu jalan. Yaitu, kematian!" seru Micheline. Dengan penuh kekesalan Micheline menekankan setiap kata-katanya.
Ucapan Micheline membuat Hansel tertegun. Pikiran Hansel langsung terisi penuh perkataan Micheline yang tidak masuk akal. Hansel sungguh tidak mengerti jalan pikiran Micheline. Sampai-sampai, Hansel terus mengumpati dan mencaci Micheline dalam hati.
__ADS_1
"Perempuan gila," batin Hansel mengatai Micheline.
"Kau anggap aku gila?" sahut Micheline tiba-tiba.
Hansel kaget, "Apa?" tanya Hansel.
"Aku tanya, apa kau menganggapku gila?" tanya Micheline.
Hansel mengerti, jika Micheline hanya bertanya saja. Pikiran Hansel sudah berkeliaran, mengira Micheline bisa membaca pikirannya. Karena apa yang baru saja dikatakannya dalam hati, langsung ditanyakan oleh Micheline.
"Ya. Sangat jahat," jawab Hansel jujur.
"Lalu? bagaimana dengan orang-orang yang juga melakukan hal yang sama padaku? apa mereka juga tidak jahat? di Dunia ini, siapa yang kuat, dialah yang berkuasa. Dan siapa yang memiliki kekuasaan akan memiliki tahta. Tahta sebagai Raja atau Ratu. Yang bisa memegang kendali untuk semuanya," jawab Micheline.
"Anda benar, Bu CEO. Akan tetapi, cara Anda salah. Tidak seharusnya Anda membalas kejahatan dengan hal yang lebih jahat. Tidak akan ada ujung dari perselisihan jika Anda seperti itu," kata Hansel mengungkapkan pendapatnya.
Micheline menepikan mobilnya dan langsung menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napasnya perlahan. Micheline memejamkan sebentar matanya seakan menahan rasa kesalnya. Ia kembali membuka matanya dan menatap Hansel.
"Apa alasanmu berkata seperti itu, Hans?" tanya Micheline pada Hansel.
"Katakan alasanmu mengatakan itu. Bukankah kau bilamg caraku salah? bagaimana cara yang benar menurutmu?" tanya Micheline.
"I-itu aku hanya asal bicara saja. Jangan hiraukan," jawab Hansel.
Micheline tersenyum miring, "Dengar Hans. Ini juga bukan kemauanku. Aku diharuskan melakukan itu. Jika tidak, maka aku sendiri yang akan menderita dan kemungkinan besar aku sudah menjadi nama saat ini. Jangan menilai perkataanku sepihak saja. Coba pikirkan baik-baik. Jika kau tau apa yang ku rasakan dan alami, kau tak mungkin bicara seperti ini."
Hansel mengernyitkan dahi, "Boleh saya tahu apa itu? maksud saya tentang apa yang Anda alami," Hansel mencoba mencari tahu sesuatu dari Micheline.
"Tidak boleh. Itu adalah sebuah hal yang tidak bisa aku ceritakan pada siapapun juga, termasuk kau. Biarlahh itu menjadi sebuah kenangan. Aku tak bisa menceritakannya, Hans. Sungguh..." jawab Micheline terlihat sedih.
"Maafkan aku, Hans. Aku tidak ingin menunjuakan betapa hatiku hancur dan terluka. Aku tidak mau kau tau sisi lemahku," batin Micheline, ia mencengkram kuat setir kemudi mobilnya.
__ADS_1
Hansel menghela napas panjang, "Sebenarnya, apa yang terjadi pada perempuan ini. Baru kali juga aku melihatnya begitu tertekan dan sedih. Kesedihannya sampai aku bisa merasakannya," batin Hansel. Hansel masih terus menatapi Micheline.
"Hans..." panggil Micheline memalingkan wajah menatap Hansel.
"Ya?" jawab Hansel dengan segera.
"Apa kau muak bekerja denganku? kau ingin pergi dariku?" tanya Micheline menatap Hansel dengan penuh perasaan.
Hansel melebarkan matanya. Baginya, mempunyai pekerjaan adalah prioritas utama. Karena ia sudah tidak bisa lagi mengandalkan apa-apa dari keluarga Pamannya. Ia sudah menjadi orang buangan yang tidak memiliki apa-apa. Di saat bekerja pun, ia harus di hadapkan dengan sesuatu pilihan yang berat. Satu sisi sebagai informan, satu sisi sebagai Asisten pribadi. Dan, tentu saja semua harus imbang. Hansel ragu untuk mengatakan 'iya' karena ia memang tidak sepenuhnya muak pada Micheline. Bahkan, Hansel tidak pernah tidak menyukai Micheline. Meski terkesan sebagai atasan yang kaku dan tidak mau tau, ada sisi baik yang ditunjukan Micheline padanya. Yang membuatnya tidak bisa memalingkan muka dari Micheline.
Micheline mendekatkan wajahnya ke wajah Hansel, "Kau diam saja? sudah ku duga, kau pasti muak, kan? bagaimanapun kau pasti mengidamkan memiliki seorang atasan yang berprilaku baik dan manusiawi. Ya, aku tidak masalah jika kau ingin pergi, Hans. Ini belum terlambat bagimu, sebelum aku berubah pikiran. Pergilah..." kata Micheline meminta Hansel untuk pergi darinya. Micheline sadar jika ia salah telah menyeret Hansel masuk dalam jurang bersamanya.
Hansel langsung memeluk Micheline, "Tidak, Bu. Saya tidak akan pernah meninggalkan Anda. Saya juga tidak punya alasan untuk tidak menyukai Anda," jawab Hansel secara tidak terduga.
Micheline terkejut, "Apa? kau sungguh menyukaiku?" tanya Micheline melepas pelukan Hansel, dan menatap Hansel lekat.
Wajah Hansel memerah, ia mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Micheline. Karena tatapan Mucheline, Hansel menjadi salah tingkah. Micheline tersenyum, mendapatkan ide menjahili Hansel.
"Wajahmu memerah, kau sakit?" tanya Micheline mengusap wajah Hansel.
"Ti-tidak apa-apa. Saya baik-baik saja," jawab Hansel setengah gugup.
Micheline mencium lembut pipi Hansel, membuat Hansel terkejut. Seketika Hansel langsung mematung. Sepertinya waktu saat itu langsung terhenti karena hal yang tidak pernah dibayangkannya terjadi.
"Terima kasih, Hans. Kau sudah mau membantuku dan menjadi tempat keluh kesahku. Ayo, aku traktir kau minum dan makan malam di Villa-ku."
Micheline mengemudikan kembali Mobilnya menuju Villa. Ia juga sedikit terkejut dan malu. Bagaimana ia bisa berani mencium laki-laki. Namun, hal itu tidak ditunjukan Micheline secara terang-terangan pada Hansel.
"Ah, sial. Kenapa aku menciumnya. Aku 'kan hanya ingin menjahilinya," batin Micheline merasa malu.
"Apa aku sedang bermimpi? ini pertama kalinya ada wamita yang menciumku," batin Hansel.
__ADS_1
Keduanya saling diam. Memikirkan apa yang ada dalam kepala masing-masing. Micheline tidak sengaja melakukan kesalahan dengan mencium Hansel. Karena tujuan awalnya hanya ingin menggodai Hansel yang terlihat malu-malu. Namun, nyatanya pemikirannya dan gerakan tubuhnya bertolak belakang. Di sisi lain, Hansel yang belum pernah merasakan sensasi dicium perempuan sangat kaget dan tidaj menyangka. Meski merasa dirugikan karena dicium tanpa izini, Hansel merasa sedikit berdebar saat bibir lembut Micheline menyentuh kulit wajahnya.
...*****...