
Alfonzo, Ergy dan Luiso berdiri di kejauhan. Micheline melebarkan mata kaget, tidak hanya dia, bahkan yang lainnya juga terkejut.
"Si, siapa kalian?" tanya ketua anggota menatap tajam ketiganya. Ia pun menatap Luiso, "Kau... bukannya kau orang yang menyewa kami?" tanyanya.
Ergy melihat seorang yang tidak asing, "Ertha... Luky..." panggilnya melangkah mendekati istri dan anaknya. "Menyingkir kalian dari istri dan anakku," kata Ergy kesal.
"Hentikan tindakan kalian!" seru Luiso memerintah.
"Ah, bagaimana ini? yang dipesan tidak bisa dibatalkan," katanya tersenyum.
Luiso menatap Alfonzo. Alfonzo mengehntikan Luiso yang ingin bicara dan menggantikannya bicara. Alfonzo masih belum sadar jika ada istri dan anaknya. karena tertutup oleh orang-orang yang dibayar Luiso.
"Pergilah! kuberikan uang bayaran kalian tiga kali lipat." kata Alfonzo.
Seseorang yang dipanggil ketua itupun berpikir. Ia mendorong tubuh Hansel sampai tersungkur. Micheline berlari mendekati Hansel, ingin melihat keadaan Hansel.
"Baiklah. Sesuai keinginanmu. Berikan uangnya sekarang, jika tidak kaupun akan kubunuh." katanya dengan tatapan tajam.
Alfonzo menatap Luiso, "Berilah! pertintahnya.
"Ya, Tuan." jawab Luiso.
Ketua anggota menatap semua anggotanya, "Ayo pergi dari sini. Bawa teman kalian yang terluka. Dan panggil yang lain membawa sisanya," perintahnya yang lansung melangkah pergi mendekati Alfonzo dan Luiso.
Julie mencengkram kuat lengan Albert, "Apa itu papamu?" bisik Julie.
"Ya, Ma. Itu memang suara Papa," jawab Albert juga berbisik. Albert masih tidak mengubah posisinya.
Ergy yang senpat dihadang menemui istri dan anaknya akhirnya bisa memeluk keduanya. Ergy bahkan terlihat senang melihat istri dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja.
Di sisi lain, Micheline melihat keadaan Hansel. Ia mengusap wajah Hansel dan terlihat sedih. Hansel hanya tersenyum, mengusap lembut wajah Micheline yang terkena boda darah.
"Kau baik-baik saja?" tanya Hansel meringis menahan rasa sakit dari pukulan yang ia terima.
"Kau yang tidak baik-baik saja. Salahku tidak membawa orang bersama kita. Aku terlalu meremehkan lawan dan merasa paling kuat. Maafkan aku, Hans." kata Micheline memeluk Hansel.
"Tidak apa-apa. Akulah yang seharusnya lebih giat berlatih dan berusaha. Agar bisa melindungimu. Aku laki-laki yang lemah, yang langsung tersungkur menerima beberapa pukulan. Bukan salahamu, El. Tidak apa-apa," bisik Hansel mengeratkan pelukan.
Micheline melihat Alfonzo yang berbalik dan ingin pergi. Ia pun memanggil pamannya itu dan mengatakan sesuatu hal yang mengejutkan.
"Tunggu, paman..." panggil Micheline. Ia buru-buru melepas pelukan dan berdiri. Ia menatap Alfonzo dengan tatapan mata dalam.
Alfonzo berbalik, "Ada apa, Nona Robert?" tanya Alfonzo.
"Apa anda ingin pergi begitu saja?" tanya Micheline membuat Alfonzo menaikan sebelah alisnya karena bingung.
"Lalu?" tanya Alfonzo.
Micheline manarik napas dalam, lalu mengembuskan bapas perlahan-lahan. Meski sulit, ia tetap harus bersikap bijaksana. Ia ingin mengakhiri semuanya. Hubungan yang kusut, ingin secepatnya ia luruskan.
"Mungkin ini saatnya, kita akhiri perseteruan kita. Aku tak akan meminta maaf untuk apa yang aku lakukan. Dan aku juga tidak mau berterima kasih untuk apa yang sudah paman berikan. Termasuk bantuan hari ini. Namun, terimalah hadiah dariku. Dengan ini, ayo kita akhiri semuanya. Anggap kita hanya orang asing satu sama lain, tanpa perlu menjatuhkan atau melukai. Itu saja peintaanku," jelas Micheline. Semakin membuat Alfonzo kebingungan.
Micheline menatap Julie dan Albert, "Bibi, Albert. Selamat berkumpul kembali dengan paman. Aku harap kalian hidup bahagia," kata Micheline.
Mendengar ucapan Micheline, Alfonzo pun terkejut. Dilihatnya arah pandangan Micheline. Ia melihat seorang perempuan dan laki-laki, yang tidak lain adalah istri dan anaknya.
__ADS_1
"Julie... Albert..." panggil Alfonzo dengan suara bergetar, ubuh Albert langsung gemetar dan lemas. Luiso yang berada di samping Alfonzo langsung membantu.
"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Luiso menahan tubuh Alfonzo.
"A, a, antarkan aku mendekati mereka." kata Alfonzo pelan.
"Baik, Tuan." jawab Luiso. Yang langsung memapah Alfonzo mendekati Julie dan Albert.
Alfonzo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ini seperti mimpi, ia bisa melihat istri dan anaknya yang ia pikir sudah meninggalkannya.
"Julie... Albert..." panggil Alfonzo yang langsung memeluk keduanya.
"Papa..." panggil Albert.
"Al..." panggil Julie.
"Apa aku sedang bermimpi? ini bukan halusinasiku, kan? aku sangat merindukan kalian. Sangat..." kata Alfonzo dengan nada suara bergetar. Tidak beberapa lama Alfonzo pun melepaskan pelukan.
Alfonzo membelai wajah Albert putranya, "wajahmu tak berubah, nak. Kau bahkan terlihat sehat," kata Alfonzo.
Albert mengangguk, "Kak Eline memberikan semuanya yang kami butuhkan, Pa. Dialah orang yang selalu baik padaku juga mama. Tapi, kenapa papa menyakiti Kak Eline?" tanya Albert.
"Albert benar, Al. Kau salah besar jika menerka Eline lah dalang dibalik kecelakan saat itu. Justru Eline yang menolong kami. Tanpa bantuannya, kami pasti sudah tiada." jelas Julie manatap Alfonzo.
Alfonzo berbalik menatap Micheline. Ternyata ia sudah memapah Hansel dan bergegas ingin pergi. Melihat punggung Micheline tak jauh darinya, Alfonzo pun memanggil. Membuat langkah kaki Micheline dan Hansel terhenti.
"Eline..." panggil Alfonzo.
Micheline menghentikan langkahnya bersamaan dengan langkah Hansel. Mereka berdua tidak berpaling dari posisinya.
"Ini tidak akan menjadi pertemuan terakhir kita," kata Alfonzo.
Alfonzo terkejut dengan ucapan Micheline. Ini pertama kalinya ia mendengar kata-kata Micheline setelah sekian lama berseteru. Alfonzo hanya bisa menghela napas panjangnya. Ia juga tidak bisa memutar kembali waktu.
Micheline dan Hansel masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, tiba-tiba saja Micheline terdiam. Tidak beberapa lama, ia pun menangis tersedu menutupi mukanya dengan dua tangan.
"Eline... kau baik-baik saja?" tanya Hansel panik. Karena Micheline tiba-tiba menangis.
Micheline terus menangis, sampai ia merasa lelah dan berhenti menangis beberapa menit kemudian. Ia pun menyeka air matanya, ia menatap Hansel dengan mata merah yang sembab. Melihat perempuan kesayangannya menangis, Hansel ikut sedih dan menjadi murung.
"Ada apa? kau tiba-tiba menangis," tanya Hansel.
"Apa yang aku lakukan sudah benar, kan?" tanya Micheline dengan suara seraknya.
Hansel diam sejenak lalu menjawab, "Bagaimana, ya. Aku tahu ini memang sulit untumu. Namun, membalas dengan cara yang sama itu bukanlah tindakan yang baik. Kau sudah lakukan yang terbaik, sayang. Aku bangga padamu. Jujur saja, aku tidak akan menyangka jika kau punya sisi seperti ini. Yah, kau tentu tau apa yang ada di dalam pikiranku tentangmu, kan?" jelas Hansel.
Micheline menganggukkan kepala, "Ya, aku tahu." Jawab Micheline.
Hansel menyeka air mata Micheline lalu mencium kedua kelopak mata Micheline, "Jangan menangis lagi. Keputusanmu sudah tepat, sayang. Ayo kita pulang," ajak Hansel tersenyum.
Micheline tersenyum, "Ya, ayo..." jawab Micheline.
Micheline mengemudikan mobil yang ia tumpangi bersama Hansel pulang ke rumah. Rasa lelah terbayarkan sudah. Kedepannya ia berharap akan menjalani kehidupan dengan tenang dan damai bersama Hansel.
*****
__ADS_1
Dua bulan kemudian...
Tepat di hari H pernikahan Hansel dan Micheline. Micheline yang sedang ada di ruang ganti begitu gugup. Ia menantikan detik-detik ia dipanggil dan keluar dari ruangan, lalu berjalan menuju altar penikahan.
"Andaikan Papa masih ada di sini. Papalah orang yang akan menggandengku dan mengiringiku berjalan menuju altar," batin Micheline sedih. Ia kembali mengenang mendiang kedua orangtuanya.
Tok... tok... tok...
Pintu ruangan terletuk, Micheline pun mempersilakan masuk. Pintu ruangan terbuka, seseorang masuk dan menyapa Micheline.
"Eline..." panggil seseorang itu, yang tidak lain adalah Alfonzo. Hal itu membuat Micheline terkejut, dan berdiri dari tempatnya duduk.
"Pa... oh, Tuan Robert. Untuk apa anda datang menemui saya?" tanya Micheline.
Bruuuukk...
Alfonzo bersimpu, berlutut di hadapan Micheline. Ia mengakui kesalahannya dan meminta maaf untuk semua yang sudah ia perbuat. Melihat itu, membuat Micheline terkejut.
"Berdirilah. Jangan berlutut seperti itu," kata Micheline.
"Maafkan aku, Eline. Aku tahu, pamanmu ini tidak pantas hidup. Aku akan berikan apapun dan akan melakukan apapun yang kau inginkan. Asal kau mau memaafkanku," kata Alfonzo.
Eline memijat pangkal hidungnya, "Kenapa paman seperti ini? berdirilah," pinta Micheline mulai emosional.
"Apa kau sudah memaafkanku? tolong maafkan aku, meski hanya seujung kukumu." mohon Alfonzo.
Micheline tidak tahu harus apa, ia pun mendekat dan membantu Alfonzo berdiri. Micheline menatap Alfozo dengan tatapan mata kesal dan dingin.
"Lupakan saja," Kata Micheline.
"Boleh aku minta satu hal?" tanya Alfonzo.
"Apa?" tanya Micheline.
"Bolehkah, aku yang mengantarmu sampai ke alatar, Eline? anggaplah ini sebagai penebusan dosa." kata Alfonzo.
Tidak beberapa lama, seseorang memanggil Micheline. Meminta Micheline memasuki altar, Micheline tidak ada pilihan selain mengiyakan tawaran Alfonzo. Keduanya pun berjalan beriringan menuju tempat di lakukanya pemberkatan pernikahan.
Dengan langkah kaki melambat dan hati-hati, Micheline melangkah menyusuri karpet merah yang menuju Altar suci. Dari kejauhan berdiri Hansel yang sudah rapi mengenakan tuxedo berwarna putih. Senada dengan gaun yang dikenakan Micheline.
Langkah Micheline akhirnya sampai, ia berdiri tepat di hadapan Hansel. Hansel mengulurkan tangan, Alfonzo menyerahkan tangan Micheline pada Hansel. Keduanya saling memandang dan melemparkan senyuman.
Pemberkatan pernikahan di jalankan. Dengan keyakinan hati dan kesungguhan, Micheline dan Hansel mau untuk menerima satu sama lain dalam segala keadaan. Berjanji untuk saling mengasihi, menyayangi dan mencintai sampai maut memisahkan. Setelah selesai mengucap janji dan memasangkan cincin pernikahan pada masing-masing, Hsnsel langsung mendekap dan mencium bibir Micheline. Micheline mengalungkan tanganya, membalas ciuman Hansel. Iringan tepuk tangan meriah riuh terdengar. Semua orang berbahagia atas pernikahan Hansel dan Micheline.
...*****...
...TAMAT...
Hallo-hallo...
Wah, nggak kerasa. Kita sudah ada dipenghujung cerita. Terima kasih untuk pembaca sekalian yang setia mengikuti dari awal sampai akhir cerita ini. Maaf apabila ceritanya kurang menarik, kurang seru, dll. Saya akan mencoba menulis karya yang lebih baik lagi kedepannya. Mohon maaf jika kurang berkenan juga kurang menarik dibagian ending. Sampai jumpa di karya author selanjutnya, ya...
Bubaiii semua..
Jangan lupa like, komen dan vote yah🙂
__ADS_1
Yuk, follow ig author
ig: dea_anggie