My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 92 - Bersiaplah


__ADS_3

Luiso mendatangi Alfonzo di ruang kerjanya. Alfonzo sedang menikmati seduhan teh dengan tenang, menatap luar jendela ruang kerjanya. Luiso terlihat gelisah, ia tidak bisa berkata-kata karena masih tegang. Sekian lama berlalu, ini pertama kalinya ia berbicara langsung dengan Micheline. Meski Luiso terlihat tenang di luar, di dalam hatinya ia merasa khawatir.


"Ada apa? kau tampak gugup," kata Alfonzo.


"Itu, Tuan. Ini... ini, ini soal Nona." jawab Luiso cemas.


"Nona? Micheline?" tanya Alfonzo lagi.


Luiso mengangguk, "Ya, Tuan. Sepertinya rencana kita tidak berhasil," kata Luiso.


"Hahaha..." tawa Alfonzo, ia meletakan cangkir tehnya di atas meja, " Sudah kuduga. Dia memang bukan prempuan sembarangan. Dia belajar mati-matian untuk bisa mengusai keadaan dan meningkatkan kewaspadaan sekitarnya. Tidak heran dia menajdi ratunya dunia gelap." kata Alfonzo.


"Tuan... jika Anda sudah tahu akan hasilnya. Mengapa anda sengaja mengibarkan bendera perang?" sahut Luiso bertanya.


"Inilah yang namanya percobaan. Aku menguji, seberapa kuat pertahannya. Aku juga harus mempersiapkan kekuatanku, kan? menghadapi ratunya moster, kita harus menjadi pembasmi monster." ucap Alfonzo menatap Luiso.


"Tetapi... Nona sempat mengatakan hal aneh. Dia menyampaikan sesuatu pada Sektetaris Anne. Dia berkata mengenai induk dan anak ayam," kata Luiso.


Kening Alfonzo berkernyit, "Induk dan anak ayam? apa lagi yang dia bicarakan kali ini?" gumam Alfonzo berpikir keras.


Di saay Alfonzo berpikir, Luiso juga berpikir. Keduanya sama-sama tidak mengerti akan ungkapan dari 'induk dan anak ayam'. Meski sudah dipikirkan berkali-kali, ia tidak menemukan pentunjuk apapun.


"Hah, sudahlah. Lupakan saja induk dan anak ayam itu.Nanti kita pikirkan lagi. Di mana orang itu?" tanya Alfonzo.


"Maksud anda, Ergy Feliks?" tanya Luiso.


Alfonzo menganggukkan kepala, "Ya," jawabnya singkat.


"Ada di kamarnya, Tuan. Saya melarangnya keluar dan tidak membuat kekacauan. Seperti yang anda perintahkan, saya meminta pelayan mengunci pintu setelah keluar dari kamar tersebut." jelas Luiso.


"Bagus. Kita juga tidak boleh begitu lengah pada Hansel. Anak itu memiliki sikap keras hati juga," kesal Alfonzo.


"Benar, Tuan." sahut Luiso.


"Selama Micheline dirawat di rumah sakit. Pasti di kantornya, hanya akan ada anj*ng gila kesayangannya itu, kan?" tanya Alfonzo lagi.


"Sepertinya begitu, Tuan. Menurut informasi yang saya peroleh. Masa pemulihan Nona masih diperkirakan memakan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan hingga benar-bebar sembuh." jelas Luiso.

__ADS_1


"Selama itu juga. Kita harus bisa mengoyakkan pertahanannya. Bersiaplah untuk perang besar, Luiso. Karena permainan akan segera di mulai." kata Alfozo.


"Dendam ini pasti akan terbalaskan, Micheline. Kau telah merampas kebahagiaanmu. Kau juga kebahagiaanmu akan hancur perlahan. Saat ini kau hanya akan kehilangan anakmu, esok kau akan kehilangan orang-orang yang kau sayangi dan semua orang dekat denganmu. Semua akan kulenyapkan. Hahahahaaa..." batin Alfonzo tertawa senang.


Begitu senang dan gembiranya perasaan Alfonzo, seperti gelas yang terisi air dengan penuh sampai meluap-luap. Ia sudah merencanakan segalanya sedemikian rupa. Bahkan ia terlihat senang, saat keponakannya celaka dan kehilangan calon anknya. Bagi Alfonzo, itu adalah balasan atas semua tindakan Micheline yang sudah merenggut nyawa istri dan anak kesayangannya.


*****


Sementara itu, di rumah sakit. Karena sudah malam, Charlie, Jesslyn, Keily dan Jason berpamitan pulang. Sementara Ertha dan Luky sudah pulang lebih dulu saat sore. Di sore harinya, Hansel menjelaskan pada Ertha dan Luky. Tentang apa yang terjadi dan bagaimana situasinya. Ertha mengerti, begitu juga dengan Luky. Meski sedikit kecewa, tetapi Luky tidak mempermasalahkan atau memberatkan Hansel. Besar harapan Luky untuknya bertemu papanya dan bicara empat mata dari hati ke hati.


Micheline bersandar di dada bidang Hansel, "Jadi... bagaimana Sepupu dan bibimu?" tanya Micheline.


Hansel mengusap lembut rambut Micheline, "Tidak ada masalah apa-apa. Semua baik-baik saja. Aku sudah jelaskan apa yang terjadi pada mereka berdua," jawab Hansel.


"Hahh..." Micheline menghela napas kasar, "Ini pasti akan sulit, Hans. Bersiaplah..." kata Micheline bersuara berat. Micheline memegang tangan Hansel dan mengeratkan cengkramannya.


"Kaulah keberuntungan terbesar dalam hidupku, El. Jika sebelumnya kau sudah menolongku, sekarang izinkan aku untuk melindungimu. Aku akan berada di sisimu selamanya." Ucap Hansel, yang lalu mencium tangan Micheline.


Micheline menadahkan kepalanya menatap Hansel, "Hans..." panggilnya lirih tersenyum.


Hansel tersenyum lebar, "Apapun yang terjadi. Bagaimanapun akhirnya, aku dan aku tidak akan terpisahkan. Kau memgizinkanku berada di sisimu, kan?" tanya Hansel memastikan perasaan Micheline padanya.


Hansel membelai wajah Micheline, "Itu pasti, sayang. Karena kau sudah menjadi separuh nyawaku. Sedetikpun, aku tidak akan beranjak dari sisimu," jawab Hansel bersungguh-sungguh dengan penuh perasaan.


Hansel mengecup kening Micheline dengan lembut, cukup lama ia mendaratkan kecupan itu. Seakan Hansel sedang meresapi kecupannya itu. Micheline menutup matanya, saat keningnya dikecup oleh Hansel, rasanya sungguh terasa hangat. Jantungnya pun berdebar-debar.


Deg... Deg... Deg... Deg...


Deg... Deg... Deg... Deg...


"Aku mencintaimu, Eline. Sangat mencintaimu," kata Hansel lembut, sesaat setelah ia mengecup kening Micheline.


"Aku... aku, aku, sepertinya aku juga sama." gumam Micheline yang langsung menuduk karena malu.


"Juga apa?" tanya Hansel menggoda Micheline.


"Ah, lupakan. Tidak jadi," kata Micheline menggerutu.

__ADS_1


"Haha..." Hansel tertawa, "Kau ini sangat keras kepala, juga keras hati, ya. Jika memang suka, ungkapkan. Jika tidak suka, kau juga harus mengatakannya. Jangan menyimpanny sendiri dalam hatimu," kata Hansel.


Micheline tersipu malu, "Kau kan tahu, ini bukan gayaku. Aku sekarang jadi seperti orang yang bodoh karena harus terlinat cinta. Terlebih dengan orang sepertimu," kata Micheline.


"Memangnya aku kenapa? apa ada yang salah denganku?" tanya Hansel panik.


"Micheline menggeleng, "Bukan itu maksudku. Jika dibanding laki-laki yang banyak mendekatiku. Kaulah yang bisa dibilang paling lemah. Lemah lembut dan bermurah hati, kau tidak seperti mereka-mereka yang mendekatiku karena mengincar sesuatu. Yah, meski awalnya kau mendekatiku juga karena diperintah seseorang. Tapi, aku sekarang tahu. Dalamnya rasamu padaku," kata Micheline tersenyum cantik.


"Cantik sekali," puji Hansel kembali membelai wajah Micheline, "Kau sangat cantik, El. Juga seksi," bisik Hansel menggoda Micheline.


"Hei, jangan mulai. Aku masih sakit," kata Micheline.


"Mulai apa? aha... apa setelah kau sembuh nanti, artinya aku boleh mulai?" lagi-lagi Hansel menggoda Micheline.


Michelime melebarkan mata, "Kau ini..." gumam Micheline yang lalu memeluk Hansel. "Jangan menggodaku lagi. Aku lelah," ucap Micheline.


"Ya, tidurlah. Aku akan menemani dan menjagamu," kata Hansel.


Micheline melepas pelukan, "Hm," gumam Micheline.


Micheline pun, perlahan berbaring. Disusul oleh Hansel yang langsung memeluk Micheline tidur. Diusapnya lembut rambut dan punggung Micheline. Seakan Hansel sedang menina bobokan Micheline. Perlahan-lahan Micheline mulai memejamkan kedua matanya. Ia segera ingin lekas pulih dan membaik.


...*****...


**Yuk, follow ig author


ig: dea_anggie


Jangan lupa like setiap episodenya ya..


Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..


Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..


Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..


Terima kasih semuanya...

__ADS_1


Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..


Salam hangat dari author~~🙂**


__ADS_2