
Micheline*
Sesuai yang kami rencanakan. Hari ini adalah hari di mana Ergy akan menemui Matteo. Matteo akan berpura-pura menawan Hansel untuk menyakinnkan Ergy. Sebelumnya, Matteo sudah menghubungi Ergy, mengatakan jika Matteo berhasil menangkap dan melumpuhkan Hansel. Mengatakan jika Hansel ada ditanganya, meminta Ergy datang untuk memberikan upah hasil kerjanya.
Kami sudah bersiap sesuai peran. Aku meminta tim make up profesional untuk merias wajah Hansel, seperti memberikan kesan luka memar dan lebam. Juga sedikit memgoles sudut bibir, hidung dan kemeja Hansel dengan cat pewarna merah sedikit gelap untuk menyakinkan Ergy jika Hansel benar-benar tidak mampu melawan Matteo. Dan sudah kalah di tangan Matteo.
Penampilan sempurna. Meski hanya make up, tetapi kelihatan sangat nyata seperti bekas pukulan. Awalnya, Hansel ingin Charlie memukulnya untuk menyakikan jika ia terkena pukulan. Tetapi aku tidak setuju, jika ada cara yang mudah kenapa harus menggunakan cara sulit? itu yang aku katakan pada Hansel dan Charlie.
"Sayang sekali. Tanganku yang gatal ini tidak bisa menghajarmu," kata Charlie pada Hansel. "Mau bagaimana lagi. Bu CEO kita tidak mengizinkan Asisten kesayangannya terluka," imbuhnya seakan-akan menyindirku.
Hansel menatapku, "Jangan membuatnya kesal. Lihat tatapannya," jawabnya yang lalu menatap Charlie.
Charlie bertatapan dengan Hansel, "Apa?" katanya yang langsung berpaling menatapku, "Oh... maaf, Michel. Aku hanya menggodanya saja," kata Charlie tersenyum lebar.
"Jesslyn, sepertinya kau perlu memberikan pelajaran pads kekasihmu itu. Kau kurang keras dan tegas padanya," kataku pads Jesslyn.
Jesslyn tersenyum, "Aku tidak tega jika harus menyakitinya, Nona. Aku kan menyayanginya. Tidak ada orang yang menyakiti kesayangannya di dunia ini." jawab Jesslyn membuatku terdiam berpikir beberapa saat.
Benar juga. Tidak akan ada orang yang akan tega menyakiti orang yang disayanginya dan dicintainya di dunia ini. Jika itu ada orang itu bukan rasa sayang dan cinta, tetapi adalah sebuah obsesi semata. Rasa ingin memiliki, lalu memperlakukan semaunya sendiri dan betindak seenaknya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Hansel menghampiriku. Aku sempat terkejut, sesaat aku memikirka sesuatu hal yang tidak berguna.
"Aku baik-baik saja. Ayo, bersiaplah." kataku tersenyum tipis.
"Jangan banyak bergerek. Ingat anak kita," bisiknya di telingaku.
Aku mengangguk, "Ya. Akan aku ingat ucapanmu," jawabku.
"Nona, semua sudah siap." kata Matteo yang berteriak dari lantai dua rumah kosong itu.
Aku mengangguk, "Ya," jawabku.
__ADS_1
Aku menatap Hansel, "Ayo, naiklah. Kita harua bergegeas," kataku lagi.
"Ya, kau baik-baiklah." kata Hansel seperti enggan untuk berpisah denganku.
Hansel pun berjalan mendekati tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua, ia menaiki anak tangga untuk ke naik ke lantai dua. Aku dibawah juga langsung bersembunyi. Tempatku sudah disiapkan. Semua orang sudah ada dalam posisinya dan siap menyambut kedatangan Ergy.
Jantungku berdebar. Aku sedikit ragu, apakah ini akan berhasil? atau tidak. Awalnya Hansel tidak mau kita semua melakukan penjebakan ini. Namun, aku bersikeras. Hanya ini satu-satunya cara menjatuhkan Ergy. Memancing Ergy keluar dari sarangnya. Karena ia selama ini bersebunyi entah di mana. Mungkin ia sibuk mencari anak dan istrinya atau mungkin sedang sibuk menghindari sesuatu. Entahlah, aku juga tidak peduli akan hal itu. Yang aku inginkan hari ini misi ku harus berakhir dengan membuahkan hasil. Aku harus bisa menangkap Ergy, lalu membawa Ergy menemui Istri anaknya sebelum mengirimnya ke kantor polisi.
Jantungku semakin kencang berdegup. Rasanya aneh, aku belum pernah merasakan perasaan aneh seperti ini. Aku mengusap perutku, baik-baiklah di dalam sana.
Lama kami semua menunggu. Tiba saat yang ditunggu-tunggu. Ya, Ergy datang tidak seorang diri menemui Matteo. Melainkan bersama Jack. Dua orangku yang menyamar sebagai bawahan Matteo langsung menghadang jalan Ergy dan Jack. Seakan mereka sigap waspada pada orang asing.
"Siapa kalian? di mana Tuanmu?" tanya Ergy dengan suara meninggi.
"Aku di sini. Biarkan mereka lewat!" perintah Matteo dari lantai dua. Matteo melihat dari jauh kedatangan Ergy dan Jack. Suaranya dibuatnya terdengar dingin penuh emosi.
"Matteo..." sapa seseorang, suaranga terdengar berbeda. Itu adalah suara Jack, Jack langsung menyapa Matteo.
Luar biasa. Matteo sangat menghayati perannya saat sedang bicara di hadapan Hansel dan Jack. Kedua laki-laki tua itu langsung naik ke lantai dua. Sebelumnya Matteo sudah akan menduga, Ergy akan datang bersama Jack. Karwna Jack lebih mengenal Matteo dibandingkan Ergy. Ternyata benar apa yang Matteo katakan. Ergy sangat takut ia akan melakukan sesuatu padanya sehingga mebgajak orang yang lebih tahu tentang Matteo bersamanya. Sungguh pemikiran yang licik.
Entah apa yang terjadi di atas sana. Setelah aku melihat keduanya tidak terlihat dari pandanganku, Aku memalingkan wajah menatap Cahrlie, lalu menganggukkan kepala sebagai tanda. Charlie yang menatpku mengangguk sekaan mengerti tugasnya. Ia keluar dari tempat persembunyiannya mengendap. Ia berjalan cepat mendekati tangga dan menaikinya perlahan. Matanya waspada terus menatap ke lantai dua. Charlie berhasil naik sampai atas dan terlihat mengendap, ia bersembunyi di salah satu pilar yang bisa terlihat olehku.
Jantungku semakin lama semakin berdegup tidak terkendali. Aku merasa lemas dan pandanganan mataku kabur. Kepalaku seperti berkunang-kunang.
S*al! kenapa tubuhku melemas dan pandanganku jadi begini di saat seperti ini. Aneh! aku tadi tidak apa-apa, sekarang kenapa begini? Arrrghhh...
Aku mulai kesal dan emosi. Seakan tubuhku memang tidak sepihak denganku. Bagaimana bisa aku berdiri dan pergi menyusil Charlie naik jika seperti ini? Aku memijat-mijat keningku. Kupejamkan sesaat mataku. Berharap saat mataku kembali terbuka, semua kembali ke dalam semula.
Cukup lama aku bergelud dengan tubuhku yang menolakku bergerak. Sampai-sampai aku tidak lagi fokus pada Charlie. Saat melihat Chalrie, ia sudah tidak ada di tempat. Tiba-tiba terdengar suara tawa keras di atas sana.
"Hahaha..."
__ADS_1
Itu Ergy!
Rasa penasaranku meluap-luap. Apa yang Ergy lakukan di atas sana, ya? pertanyaan yang sama terus memutar di kepalaku. Aku memutuskan bergerak pada akhirnya. Aku melihat sekeliling, aku memalingkan wajahku apda Jesslyn. Jesslyn mengangguk Ia siap bergerak jika nanti aku memberinya syarat dari atas sana.
Segera aku berdiri dan berjalan mendekati tangga penghubung lantai satu dan dua. Meski pandanganku sedikit kabur dan kepalaku terasa berputar, aku masih bisa tahan. Rasanya lebih baik daripada di awal-awal tadi. Kupandang tangga di hadapanku, yang entah mempunyai berapa anak tangga. Aku menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Aku berjalan menaiki anak tangga itu satu per satu dengan langkah perlahan.
Aku harus waspada dan sangat hati-hati!
Satu demi satu anak tangga terpijak olehku. Perlahan kakiku melangkah naik. Aku melihat ke belakang sekali untuk memastikan posisi mereka yang bersembunyi. Kulihat lagi anak tangga yang ingin kupijak. Aku tidak mau melakukan kesalaham sekecil apapun. Meski aku terburu-buru ingin sekali secepatnya sampai. Namun aku tidak boleh membahayakan nyawaku juga calon bayi yang ada di perutku.
Pada akhirnya aku sampai di atas. Aku berjalan mengendap-endap agar tidak ketahuan. Langkahku semakin dekat, kulihat dari jauh Charlie sedang mengintai. Aku masih berada cukup jauh dari Charlie. Samar-samar aku bisa mendengar suara percakapan mereka semua.
...*****...
**Yuk, follow ig author
ig: dea_anggie
Jangan lupa like setiap episodenya ya..
Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..
Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..
Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..
Terima kasih semuanya...
Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..
Salam hangat dari author~~🙂**
__ADS_1