
Micheline menarik tangannya, ia berbalik dan ingin pergi meninggalkan Hansel. Hansel merangkul pinggang ramping Micheline, membuat Micheline tidak bisa pergi dan berpaling darinya. Micheline menatap Hansel, Hansel tersenyum nakal, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Micheline. Dan langsung mengecup bibir tipis Micheline tiba-tiba.
Mata Micheline melebar, ia meronta ingin dilepaskan Hansel. Semakin Micheline meronta semakin dalam ciuman Hansel di bibir Micheline. Merasa kesal Micheline menggigit bibir Hansel sampai berdarah. Hansel yang merasa sakit di bibirnya, langsung melepas ciuman dan rangkulannya. Tangannya menyentuh bibirnya yang terluka karena gigitan Micheline.
"Ouch..." lengkuh Hansel mengusap bibirnya.
"Dasar tidak sopan. Baraninya kau mencuri ciumanku," kesal Micheline menatap tajam pada Hansel.
Micheline langsung menarik pedang samurainya dan mendekatkannya ke leher Hansel. Hansel kaget, ia mentaap Micheline. Tatapan Micheline begitu dingin, seakan membekukan tubuhnya.
"Tu-tunggu. Aku tidak akan melawanmu dengan tangan kosong, kan?" kata Hansel.
Micheline tersenyum dingin, "Kau takut? aku belum menggoresnya, kau sudah segugup ini. Dasar mesum," gerutu Micheline mengangkat pedang samurainya dari leher Hansel.
Hansel bisa bernapas lega, "Kau membuatku terkejut," ucapnya.
Micheline menatap Hansel, "Ambil katanamu dan ayo bertarung denganku. Aku terima tantanganmu. Jika kau menang, aku lakukan sesuai permintaanmu. Jika kau kalah, jangan harap bisa mengeluh walau sepatah kata, Hans. Ingat itu," tegas Micheline.
Pandangan Micheline menajam, ia memegang erat pedang samurainya bersiap menyerang Hansel. Mengetahui dirinya sedang dalam bahaya, Hansel segera berlari dan mengambil pedang samurai lain untuk melawan Micheline.
Melihat Hansel yang berlari, Micheline pun mengejar dan langsung menyerang Hansel. Hansel kaget dan menangkis pedang samurai Micheline dengan pedang samurainya.
"Kuat sekali tenaganya," batin Hansel, "Sial... karena terluka aku tidak bisa banyak bergerak. Aku harus menahanya," imbuhnya.
Hansel mendorong Micheline, ia berbalik menyerang Micheline dan langsung ditangkis oleh Micheline. Keduanya saling beradu pedang samurai. Suara gesekan pedang samurai yang saling bertemu terdengar memenuhi seluruh ruangan. Hansel tidak lengah, ia terus memeperkuat pertahanannya. Begitu juga Micheline yang terus menerus menyerang Hansel tanpa memberi celah.
"Gerakannya semakin cepat," gumam Hansel.
Hansel kewalahan dengan permainan pedang samurai Micheline. Gerakan Micheline, semakin cepat dan tidak terbaca. Permainan pedang samurai itu terus memanas sampai akhirnya, Micheline membuat Hansel menyerah, setelah pedang samurainya terlempar dari gengamannya. Micheline bergerak cepat maju memojokkan Hansel dan mengarahkan pedang samurainya ke leher Hansel.
Napas Hansel naik turun, "Aku kalah," kata Hansel mengakui kekalahannya.
__ADS_1
Micheline tersenyum, "Tingkatkan kemampuanmu dulu. Baru kau bisa sesuka hatimu menantangku dengan taruhanmu yang gila itu."
Micheline menarik pedang samurainya, ia menarik napas dalam lalu mengembuskan napas perlahan. Tidak lama terdengar suara tepuk tangan yang berasal dari Charlie. Charlie menghampiri Micheline dan memuji kemampuan Micheline.
"Gerakanmu semakin lincah," puji Charlie.
"Oh, kau sudah selesai melihat-lihat?" tanya Micheline menatap Charlie.
Charlie mengangguk, "Ya. Sudah," jawabnya singkat.
Micheline memasukan kembali pedang samurai dalam tempatnya, dan meletakan kembali ke tempat semula ia menyimpan pedang samurai tersebut. Hansel juga melakukan hal yang sama. Tangan dan bahu Hansel terasa pegal, baru sebentar ia bertarung dengan Micheline tetapi sudah merasakan pegal dan rasa tidak nyaman. Hansel mengusap bahunya dan melemaskan otot bahunya yang terasa kaku.
"Kenapa? bahumu pegal?" tanya Charlie.
"Ya," jawab Hansel, "Rasanya pegal sekali," imbuhnya.
"Berlatihlah dengan keras. Kau salah jika kau menantang seorang master," jawab Charlie.
"Master?" ulang Hansel mengeryitkan dahi.
"Pantas saja. Tenaganya tidak main-main lagi," gumam Hansel.
"Hahaha..." tawa Charlie, "Sepertinya, kau juga tertipu sepertiku dulu. Aku dulu juga menganggap Micheline begitu lemah dan mudah dikalahkan. Semakin aku menyerang ia semakin meningkatkan pertahannya. Tenagaku mulai habis, dia mulai menyerang perlahan sampai tenagaku habis. Dan... akhirnya aku terbaring di lantai atau terpojokkan sepertimu tadi."
Hansel terdiam, ia sadar jika ia terlalu meremehkan Micheline. Tidak menyadari jika pengalaman dan kemampuan Micheline jauh di atasnya.
*****
Malam sudah semakin larut. Charlie dan Hansel berpamitan pulang pada Micheline. Charlie mengantarkan Hansel pulang ke apartemen.
Di perjalanan menuju apartemen, Charlie dan Hansel berbincang. Charlie berbagi pengalamannya, selama ia bekerja bersama Micheline. Hansel mendengar baik-baik cerita Charlie.
__ADS_1
"... begitulah. Pelatihan yang diberikan padaku," jelas Charlie menceritakan pengalamannya berlatih.
"Dia memang monster," sahut Hansel.
"Apa?" kaget Charlie.
"Dia monster, kau tangan kanan monster. Kalian berdua sama saja menurutku," kata Hansel mengutarakan pendapatnya.
"Kau juga akan jadi monster sepertiku," sahut Charlie.
Hansel melebarkan mata, "Ah, iya. Aku hampir saja melupakan itu. Sial," gumam Hansel mengumpat. Yang disambut tawa kecil Charlie.
Charlie menepuk bahu Hansel, "Tidak apa. Micheline tidak akan memintamu melakukan hal yang buruk. Selama aku bekerja dengannya, ia memperlakukanku dengan sangat baik. Karena itulah aku selalu siaga untuk menjaga dan melindunginya. Aku harapkan kau juga seperti itu, Hans. Jangan sampai kau lupa jika kau memiliki seorang Tuan," kata Charlie memberi nasihat pada Hansel.
Hansel mengangguk, "Ya. Aku akan coba," jawab Hansel.
"Oh, ya. Bicara soal kedatanganmu ke kota ini. Apakah ada sesuatu di kota asalmu? hmm... maksudku, Keluarga Pamanmu. Apa aku boleh tahu sesuatu?" tanya Charlie ingin tahu cerita tentang Hansel.
"Bukankah kau sudah menyelidikiku?" jawab Hansel.
"Aku hanya ingin dengar apa yang keluar dari mulutmu," jawab Charlie.
"Aku memang memiliki hubungan yang buruk dengan Pamanku. Ia mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku. Bahkan, ia sudah merencanakan semuanya sejak Papaku masih hidup. Sayangnya, aku tidak punya cukup bukti untuk menyatakan jika Pamanku adalah dalang dibalik kematian Papaku. Jika aku tetap menentangnya, maka aku hanya akan mendapatkan siksaan. Begitulah, mereka mengirimku ke sekolah asrama yang berada di luar kota. Mereka memenuhi biaya sekolahku sampai aku lulus. Aku berpikir, semua uang yang dipakai Paman adalah milik mendiang Papa. Rumah, perusahaan, mobil, dan semua yang dimiliki Paman adalah milik Papa tanpa terkecuali. Aku terus berusaha menjadi yang terbaik di sekolah. Karena aku ingin di pandang dan aku ingin semua mata teman-temanku hanya tertuju padaku. Hanya di sekolah aku bisa mendapatkan suasana menyenangkan. Yah... begitulah. Sampai aku meminta hakku sesuai yang tertulis dalam surat wasiat Papa. Paman justru mengataiku dan memakiku. Meneriakkan kata-kata kasar," jelas Hansel panjang lebar.
"Jadi karena itu kau pergi?" sahut Charlie.
Hansel mengangguk, "Ya. Aku pergi karena aku ingin mandiri. Aku ingin sukses dan bisa menujukan pada Paman suatu saat nanti, jika aku bisa melawannya. Aku juga ingin mengambil kembali semua hakku."
"Motivasi yang bagus. Dengan adanya rasa yang menggebu mendorongmu ingin terus maju dan berusaha. Tidak ingin menjadi orang yang gagal," jelas Charlie.
"Tetapi semuanya tidak semuanya tidak mudah yang dibayangkan. Aku kesulitan mencari pekerjaan saat itu, sampai aku dihubungi Luizo dan bertemu dengan Alfonzo. Mungkin karena aku tidak berpikir panjang, aku begitu saja menerima tawarannya. Sampai hal bsrbeda aku rasakan saat bekerja di bawah Micheline," jelas Hansel, bercerita.
__ADS_1
Charlie akhirnya paham. Ia bersyukur meski orang tuanya sudah pergi meninggalkan dunia ini. Ia masih memiliki seorang Adik yang bisa menjadi tempatnya berkeluh kesah dan berbagi.
...*****...