
Perhatian!
Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.
*****
Charlie terjaga, saat ingin bangun dari tidurnya. Tangannya menyentuh sesuatu, samar-samar ia melihat seorang wanita duduk di sampingnya dan tertidur lelap.
"Siapa? tidak mungkin Keily, kan?" gumam Charlie mengusap kepala seseorang itu.
Seseorang yang tidak lain adalah Jesslyn terbangun juga dari tidurnya. Ia langsung menyapa Charlie dan menanyakan kabar Charlie.
"Kau baik-baik saja? apakah mual? ingin muntah?" cecar Jesslyn.
"Jesslyn..." panggil Charlie.
Jesslyn mengangguk, "Ya. Ini aku. Aku datang karena khawatir padamu. Kau tidak membalas pesanku, dan tidak menerima panggilanku."
Charlie menggenggam tangan Jesslyn, "Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Kau kenapa tidur dengan posisi duduk seperti itu? kemarilah, berbaring di sampingku." ajak Charlie.
"Ya," jawab Jesslyn yang langsung berbaring di samping Charlie. Jesslyn membelai lembut wajah tampan Charlie. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Jesslyn.
"Ada kau, kenapa aku tidak baik-baik saja? terima kasih sudah sangat mengkhawatirkanku, sayang." kata Charlie mengecup kening Micheline.
"Aku merindukankmu," ucap Jesslyn.
Charlie tersenyum mendengar ucapan Jesslyn. Tanpa menunggu lagi, Charlie langsung mencium bibir Jesslyn dengan lembut. Jesslyn hanyut dan terbuai, membalas ciuman Charlie. Membuat Charlie memanas. Keduanya saling berciuman mesra.
*****
Jason dan Keily minum bir kaleng bersama dan tertawa bersama. Keily menceritakan pada Jason tentang Kakaknya yang mengeluh. Sedangkan Jason juga menceritkan tentang Kakaknya yang resah dan gelisah di sepanjang perjalanan.
"Kira-kira mereka sedang apa, ya?" guman Keily.
"Entahlah, menurutmu?" sahut Jason.
"Hm..." gumam Keily, "Mungkinkah sedang membuatkanku keponakan?" duga Keily.
"Daripada memikirkan Kakak-kakak kita. Kenapa kita tidak memikirkan tentang kita saja" kata Jason.
"A-apa maksudnya?" tanya Keily tidak mengerti.
Jason mengambil kaleng bir yang di pegang Keily dan meletakan di meja. Ia langsung mendorong Keily sampai berbaring di sofa dan menindih Keily. Jason langsung mencium bibir Keily, tangannya tidak tinggal diam, menyusup masuk ke dalam baju Keily. Jason mengusap perut rata Keily.
"Umh..."
"Mmh..."
Keily mengalungkan tangannya dan mengapit tubuh Jason dengan kedua kakinya. Posisi yang menggairahkan bagi keduanya. Jason semakin gencar, begitu juga Keily. Puas berciuman, keduanya saling menatap dan tersenyum satu sama lain.
__ADS_1
"Aku... aku mencintaimu, Kei." bisik Jason di telinga Keily.
Keily mengangguk, "Ya. Aku juga mencintaimu, Jason. Aku ingin selalu bersamamu," jawab Keily.
Jason membelai wajah Keily, ia mengecup bibir Keily berulang-ulang. Tangannya turun ke leher Keily, terus turun ke d*da Keily. Di ciumnya leher Keily, membuat Keily menggeliat dan mengerang sexy.
"Hh... Jason..." panggil Keily merem*s rambut Jason.
Jason tanpa ragu bersikap dominan pada Keily. Tidak main-main, keduanya sampai menanggalkan pakaian masing-masing dan saling mengizinkan menyentuh area sensitive milik satu sama lain. Keily dan Jason benar-benar bermain gila malam itu.
*****
Hansel sudah berbaring di atas tempat tidur. Matanya sebentar terpejam tidak lama terbuka. Ia tidak bisa tidur malam itu. Ia bangun dan duduk bersandar bantal, ia mengambil ponselnya di nakas. Hansel melihat beberapa pesan masuk di ponselnya, pesan yang dikirim oleh Marc.
Tok... tok... tok...
Pintu kamar Hansel diketuk dari luar oleh Micheline. Hansel melirik sebentar ke arah pintu, ia meletakan ponsel dan turun dari tempat tidur untuk membukakan pintu kamarnya.
Pintu kamar terbuk, Hansel melihat Micheline berdiri di depan kamarnya dengan senyuman. Hansel mengusap tengkuknya, ia bingung karena Micheline hanya diam melihatnya.
"Apa ada sesuatu?" tanya Hansel, "Ada yang kau inginkan?" tanyanya lagi.
Micheline mengangguk, "Ya," jawab Micheline.
"Apa?" tanya Hansel menatap Micheline dengan penuh rasa penasaran. Tidak tahu apa yang diinginkan perempuan cantik di hadapannya.
"Hm..." gumam Micheline, "Ingin tidur denganmu. Apa boleh? aku ingin tidur di tempat tidurmu," kata Micheline menunjuk tempat tidur Hansel.
"Jadi kau menolak? baiklah jika seperti itu. Tidurlah, selamat malam." kata Micheline berbalik dan ingin pergi.
Tiba-tiba saja Hansel menahan tangan Micheline dan memeluk Micheline dari belakang. Dekapan Hansel begitu erat seakan tidak ingin melepaskan Micheline.
"Jangan pergi," bisik Hansel.
"Kau hanya diam saat aku bertanya. Aku mengira kau tidak mau," kata Micheline.
"Aku mau. Sangat mau," jawab Hansel menyembunyikan wajahnya di bahu Micheline.
Micheline tersenyum, "Dasar," gumam Micheline mengusap rambut Hansel.
Cukup lama keduanya saling diam. Sampai Micheline melepas pelukan dan menghadap Hansel. Dibelainya wajah Hansel lalu di ciumnya pipi Hansel. Micheline lalu memeluk Hansel.
"Ada apa ini? apa kau sudah mengubah hatimu?" kata Hansel mengusap rambut dan punggung Micheline.
"Ini permintaan maaf," ucap Micheline.
"Permintaan maaf? maaf apa?" tanya Hansel bingung. Ia benar-benar dibuat tidak mengerti oleh Micheline.
Micheline melepas pelukan, "Bisa kita bicara di dalam saja?" katanya menatap lekat mata Hansel.
__ADS_1
"Ya. Ayo..." ajak Hansel, menggandeng tangan Micheline dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung menutup pintu kamar setelah ia dan Micheline masuk dalam kamar.
Hansel dan Micheline langsung berjalan mendekati temoat tidur. Hansel membuka selimut dan mempersilakan Micheline naik ke atas tempat tidur. Micheline naik ke atas tempat tidur, masuk dalam selimut. Hansel menyuysul Micheline, duduk di samping Micheline.
"Sekarang katakan padaku. Permintaan maaf apa yang kau maksud?" tanya Hansel.
Micheline menunduk, "Itu, Hans. Sebenarnya saat tahu Pamanmu ingin mencelakaimu dengan bantuan Matteo dan Bella. Aku juga melakukan sesuatu. Dan... mungkin apa yang aku lakukan tidak akan membuatmu senang. Aku minta maaf untuk itu. Kau dengar dulu penjelasanku. Ini semata-mata karena aku ingin menghukum Pamanmu itu. Tidak ada maksud lain," jelas Micheline.
Hansel mengerutkan keningnya, "Tunggu, tunggu. Aku semakin tidak mengerti, El. Katakan langsung apa yang sebenarnya terjadi." kata Hansel.
"Janji dulu kau tidak akan marah," kata Micheline mengacungkan jari kelingking tangan kirinya ke hadapan Hansel.
Hansel menghela napas, "Baiklah. Aku janji," jawab Hansel mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Micheline sebagai bukti janjinya.
"Aku meminta Marco membawa Bibi dan Sepupumu," kata Micheline lirih, Micheline langsung menunduk. Ia merasa tidak enak hati bertindak sesuka hati tanpa memberitahu pada Hansel.
Hansel tersenyum, "Hei, kenapa kau menunduk? lihat aku," kata Hansel mengangkat dagu Micheline sehingga ia bisa melihat wajah Micheline.
Pandangan keduanya bertemu. Terlihat jelas keraguan di mata Micheline. Ia takut apa yang ia lakukan akan membuat Hansel marah padanya. Saat memerintah Marco, Micheline tidak berpikir panjang. Karena kesal pada Ergy, ia langsung ingin menghukum Ergy dengan menculik Istri dan Anak Ergy.
"Apa kau takut?" tanya Hansel.
Micheline menggeleng, "Aku tidak takut. Hanya saja, aku tidak ingin menyakiti perasaanmu. Aku tidak akan melakukan hal buruk pada keduanya. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada Pamanmu. Itu saja," jelas Micheline.
"Iya, aku tahu. Lakukan sesuai yang kau inginkan." kata Hansel, mengecup kening Micheline.
Micheline tersenyum, "Kau tidak marah, kan?" tanyanya lagi memastikan.
"Ya. Tentu aku marah." Jawab Hansel. Hansel langsung memeluk Micheline, "Marah karena aku masih belum bisa mendapatkam hatimu," kata Hansel.
Micheline melepaskan pelukan Hansel, "Kau mulai lagi. Sampai kapan kau akan terus mengeluh, Hans? Aku sudah katakan berulang kali. Kau harus..." kata-kata Micheline terhenti, ia tidak dapat lanjut bicara karena Hansel tiba-tiba menciumnya.
"Mmmh..."
Bibir Hansel langsung menyapu bersih tepian bibir Micheline. Hansel gemas melihat Micheline yang terus-menerus mengelak darinya. Hansel memperdalam ciumannya, Micheline tidak bisa lagi menahan Hansel yang begitu rakus melahap bibirnya.
"Laki-laki ini selalu saja begini. Tidak tahu kenapa, aku juga tidak bisa menolaknya dan marah. Terkadang aku juga menginginkanya tiba-tiba," batin Micheline.
"Terus saja kau membuatku gemas. Buat aku terus mengejarmu. Aku pasti akan mendapatkanmu dan tidak akan aku lepaskan walau sedetik," batin Hansel.
Hansel merebahkan Micheline ke atas bantal, dengan bibir yang masih menempel. Tangan nakal Hansel sudah tidak sabar menggrilya. Perlahan tanganya menyusup masuk dalam rok dan mengusap paha mulus Micheline. Hansel melepaskan ciumannya, ia mencium kening, kedua pipi, hidung dan dagu Micheline. Hansel menciumi leher Micheline lalu kembali mencium bibir Micheline.
"Hans..." panggil Micheline dengan seuara lirih hampir tidak terdengar.
"Kau ingin tidur denganku, kan? kita akan tidur bersama setelah bercinta. Bagaimana? kau setuju?" bisik Hansel. Ia langsung menggigit lembut daun telinga Micheline.
"Hmm..." gumam Micheline mengusap wajah Hansel.
"Hm?" ulang Hansel menirukan gumaman Micheline. Tangannya sudah menjalar naik ke perut Micheline. "Aku akan membuatmu terus mengerang malam ini, sayang." kata Hansel yang langsung menanggalkan semua pakaian Micheline. Ia juga menanggalkan semua pakaian sendiri dan menarik selimut menutupi tubuhnya juga tubuh Micheline.
__ADS_1
...*****...