
Hansel*
Aku berpamitan pada Micheline dan Jesslyn, setelah itu aku pergi meninggalkan mereka. Aku sudah keluar dan menutup pintu, tetapi aku ingin masuk lagi karena ingin bertanya sesuatu pada Micheline. Saat itu, di saat aku sudah membuka pintu dan hendak masuk. Aku mendengar percakapan antara Micheline dan Jesslyn.
"Nona, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Jesslyn pada Micheline.
"Ya, tanyakan saja. Ada apa?" tanya balik Micheline pada Jesslyn.
"Maaf ini mungkin menyinggung hal pribadi. Tapi kalau boleh jujur. Aku sangat penasaran pada hubungan Nona dan Hansel. Bagaimana sesungguhnya perasaanya Nona padanya, apakah Nona menyukai Hans?" tanya Jesslyn lagi.
"Aku... entahlah, Jesslyn. Awalnya aku sungguh tidak punya perasaan apa-apa padanya. Aku hanya ingin dia menjadi laki-laki yang kuat dan tangguh karena melihat dulunya ia hidup seperti apa. Tidak dipungkiri, Hansel memanglah laki-laki yang baik dan pengertian. Dia juga hangat, sangat peduli padaku. Hubunganku dengannya, yang kurasa hanya sekedar hubungan antara laki-laki dewasa dan perempuan dewasa, tidak tahu kenapa sekarang rasannya sedikit berbeda. Aku selalu merasa senang sekaligus sedih, saat ia berulang kali mengungkapkan cinta. Senang karena aku tahu, cintanya tidaklah main-main. Sedih, tidak ingin dia terseret dalam duniaku yang kelam. Dia pasti akan kesulitan kedepannya, tetapi aku juga enggan untuk melepaskannya. Itulah yang aku rasakan Jesslyn. Terlebih, setelah aku mendenagr permintaanya. Aku menjadi semakin yakin, Hansel memang bukan laki-laki egois yang hanya mementingkan perasaannya sendiri. Dia seseorang yang berbeda denganku. Kami bertolak belakang," jawab Micheline menjelaskan.
Aku tidak heran dengan jawabannya. Kenapa? karena aku memang tidak pernah melihat cinta utukku di matanya. Baginya, hubungan kami hanya 'patner di atas ranjang' atau 'Asisten dan CEO' itu saja. Entah mengapa hatiku terasa perih mendengar ungkapan Micheline. Rasanya, seperti kulit yang tergores pisau dan dibubuhi garam.
Cukup sudah. Aku tidak mau lagi mendengarnya.
Aku pun kembali menutup pintu perlahan dan pergi. Kulangkahkan kaki secepat mungkin meninggalkan ruangan itu. Tanpa terasa, aku sudah berada di luar gedung rumah sakit. Kupandangi sesaat gedung rumah sakit di belakangku, lalu aku kembali berjalan menuju parkiran. Aku segera menghampiri dan masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, aku menyandarkan punggung dan kepalaku sejenak. Aku menarik napasku dalam-dalam, lalu kuembuskan napasku perlahan. Rasa sesak yang yang menyereng mulai menghilang, meski tidak sepenuhnya.
Aneh sekali. Kenapa aku jadi kesal? bukankah, sejak awal memang ini adalah cinta sepihak saja? oleh karenanya aku terus berjuang dan berusaha mendapatkan hatinya? Hahhh... kenapa sulit sekali mendapatkan cinta? meski itu hanya sedikit. Apa memang takdirku, tidak pernah dicintai dan hanya mencintai? jika benar, bukankah ini tidak adil? aku juga butuh dicintai, aku ingin dipedulikan, mendabakan perhatian dan kasih sayang.
Cukup lama aku bergulat dengan pemikiranku sendiri. Sesaat kemudian, aku teringat akan tujuanku pergi. Sekarang bukan waktunya aku memikirkan apa yang Micheline ucapkan. Melainkan, memikirkan urusanku dengan Pamanku. Aku ingin mengakhiri ini semua, hari ini juga.
*****
__ADS_1
Aku ke rumah Micheline dan pergi menemui Ertha juga Luky. Sesuai permintaan Luky, aku memberikannya kesempatan bicara. Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya lagi setelah sekian lama. Saat terakhir aku datang, hanya bibi yang yang bicara padaku. Sedangkan Luky masih tidak sadarkan diri.
"Hai, Hans..." sapa Luky padaku. Kurasakan nads suaranya sedikit gemetar. Mungkin saja ia takut jika ia akan menyinggungku.
"Ya, katakan apa permohonanmu. Katanya, kau ingin bertemu denganku." jawabku. Aku lalu diam menuggu apa yang ingin ia sampaikan. Kulihat bibi duduk jauh dari kami, ia mungkin tidak ingin ikut campur dalam perbincangan kami.
"Apa boleh aku bertemu papaku? aku ingin menemuinya untuk yang terakhir kalinya," kata Luky yang langsung membuatku kaget.
"Terakhir kali? apa maksudmu?" tanyaku tidak paham.
Luky menatapku, "Izinkan aku menemui Papaku satu kali ini saja. Dan lalu kirim kami pergi jauh ke manapun kau inginkan. Kami akan menurut, tidak akan menolaknya." katanya lagi.
Aku mencoba mencerna ucapannya, Ingin bertemu paman untuk yang terakhir kali? dan ingin ku kirim pergi jauh? apa ini sungguh-sungguh keinginan mereka berdua? ini bukan trik untuk mengelabuhiku, kan?
"Apa kau sudah bicarakan ini dengan Mamamu?" tanyaku padanya.
Jujur saja, aku tidak menyangka ia akan berpikir seperti ini. Ini semua di luar dugaanku. Aku mengira jika ia akan lebih membela paman. Karena ia selalu dimanjakan olehnya. Aku diam berpikir. Apa yang sebaiknya aku lakukan? aku harus menjawab apa? pikiranku mulai bingung.
"Baiklah. Akan kubawa kalian menemuinya. Dengan catatan, kalian harus menepati ucapan kalian sendiri. Aku tidak ingin menyakiti banyak orang, karena aku bukanlah orang yang tega hati, terlebih kepada keluarga." jawabku.
Luky terlihat senang, begitu juga bibi. Bibi langsung menghampiriku dan hendak bersujud. Namun aku dengan segera menghalanginya. Aku bukan orang sebaik itu sampai harus diberi salam sujud oleh seperti itu.
"Bangunlah, bi. Jangan seperti itu," kataku merangkul lengan bibi Ertha.
"Biarkan aku bersimpuh, Hans. Bibi merasa sangat malu padamu. Bibi bukan bibi yang baik untuk keponakannya. Saat pamanmu berjalan di jalan yang salah, bibi hanya diam dan pura-pura tidak tahu. Betapa egoisnya bibimu ini," kata bibi Ertha sembari menangis. Aku bisa melihat penyesalan dalam matany yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tidak perlu, Bi. Itu semua sudah berlalu, tolong jangan diingat lagi." kataku, aku memang tidak mau mengenang masa-masa kelam dalam hidupku. Meski aku tidak akan bisa melupakan dan melepaskan kejadian-kejadian sulit itu. Aku berusaha mengubur semuanya perlahan-lahan.
"Terima kasih, Hans. Kau memang memiliki sisi yang sangat baik dan hangat seperti Paman." kata Luky, yang kuanggap itu adalah sebagai pujian.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya mau kalian menepati ucapan kalian," jawabku.
Keduanya mengangguk, baik bibi maupun Luky menyanggupi ucapanku. Tanpa membuang waktu lagi, ku minta keduanya bersiap. Aku menunggu mereka di luar kamar.
Semoga saja keputusanku dalam mengambil pilihan tepat. Aku ingin semua berakhir baik, tanpa adannya pertumpahan darah. Mungkin sulit, mengingat sikap keras kepala dan arogannya Paman. Akan tetapi, ia pasti akan memikirkan dua kali untuk tetap bersikeras. Karena aku mempunyai semua bukti-bukti kejahatannya.
...*****...
**Yuk, follow ig author
ig: dea_anggie
Jangan lupa like setiap episodenya ya..
Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..
Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..
Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..
Terima kasih semuanya...
__ADS_1
Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..
Salam hangat dari author~~🙂**