My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 58 - Surat Panggilan


__ADS_3

Perhatian!


Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.


*****


Beberapa hari kemudian. Sesuai yang dikatakan Marco Waller. Surat panggilan sudah datang dan berada di tangan Ergy Feliks. Ergy yang membuka dan membacanya sangt geram. Ia murka sehingga memporak porandakan seisi ruang kerjanya. Melihat suaminya yang sedang emosi, Ertha istrri Ergy berusaha membujuk dan meredam emosi suaminya.


"Sayang, tenanglah!" seru Ertha memeluk Ergy suaminya dari belakang.


"Lepaskan aku, Ertha!" sentak Ergy.


"Tidak. Aku tidak akan lepaskan. Kau akan menghancurkan semuanya jika aku biarkan," kata Ertha terus memeluk erat perut suaminya.


"Perempuan b*doh! kau hanya menjadi benalu dan pembawa s*al, enyahlah!" umpat Ergy menarik paksa tangan Ertha hingga pelukan Ertha terlepas.


Ergy menatap Ertha, ia mendorong kasar tubuh Ertha sampai Ertha terjatuh ke dekat meja dan kepalanya terbentur pinggiran meja. Tidak hanya itu, Ergy yang kesal akhirnya melimpahkan amarahnya pada Ertha, istrinya. Ia tidak henti-hentinya memaki dan mengumpat Ertha.


Ertha menahan rasa sakit di kepalanya. Darah segar keluar karena pelipisnya robek kecil. Hal itu tidak mengurangi rasa kesal Ergy. Ergy terus saja marah-marah tidak jelas karena ia sedanh kesal.


"Ini sakit, tetapi aku harus tahan. Jika tidak Ergy akan semakin marah," batin Ertha memegang pelipisnya yang terluka. Rasanya sangat sakit di area kepalanya sampai berdengung ke telinga.


Ergy menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak, tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak akan bisa melepas semuanya begitu saja. Ini tidak boleh terjadi. Aku harus menemukan cara melawannya," batin Ergy. Ergy terus berpikir sampai akhirnya ia menjadi lebih emosional.


Brakkk...


Ergy menggebrak meja dengan sekuat tenaga. "Sampah! bagaimana bisa si bocah tengik itu seperti ini padaku, huh? hebat sekali. Dia tidak hanya menjual diri, bahkan bisa merayu perempuan untuk dijadikan batu loncatan. Pemikiran yang busuk ini pasti diturunkan dari Papanya yang brengs*k itu." ungkap Ergy meluapkan kekesalannya.


"Kau temui saja Hansel. Jangan membuat pikiranmu terbebani," sahut Ertha yang berusaha berdiri dari simpuhnya.


"Kau diam, perempuan b*suk!" sentak Ergy.

__ADS_1


"Kau jangan membentakku, Ergy. Aku istrimu, bukan budakmu!" sentak balik Ertha, "Shhh..." desisnya merasa kepalanya berkedut-kedut.


Ergy yang kesal menghampiri Ertha, "Hoh, kau merasa hebat sekarang?" kata Ergy yang langsung memelototi Ertha.


"Kenapa kau jadi seperti ini, Ergy? kenapa?" tanya Ertha dengan suara lirih.


"Diam! aku sudah katakan diam, kenapa kau masih banyak bicara, huh? kau itu sangat-sangat menyebalkan. Kau lebih baik urus anakmu yang tidak berguna itu. Yang bisanya hanya main perempuan dan mabuk-mabukan. Ibu dan anak sama saja, tidak ada yang bisa diandalkan." ungkap Ergy dengan kasarnya.


"Kau bilang apa? kau lah orang yang harus bertanggung jawab untuk semuanya, Ergy. Karena kau terus menerus menekan Luky, dia menjadi seperti itu. Aku pun muak dengammu yang selalu melimpahkan kekesalanmu dan kesalahanmu pada kami. Aku muak!" teriak Ertha keras-keras


Ertha sudah merasa tidak tahan, ia segera pergi meninggalkan Ergy yang berdiri mematung di ruang kerja. Ergy mengepalkan tangannya, ia sungguh merasa marah dan kesal.


*****


Alfonzo sedang melihat Luiso menginterogasi seseorang. Seseorang itu adalah mata-mata yang di kirim seseorang untuk mengawasi Alfonzo. Luiso menyiksa seseorang tersebut, ia tidak segan untuk menampar sampai meneteskan lilin ke tangan seseorang itu. Meski kesakitan seseorang itu terus bungkam tidak bicara apa-apa, hanya mendesis kesakitan sesekali.


"Katakan yang sebenarnya," desak Luiso.


"Jika kau tidak bicara, aku juga tidak jamin keselamatan seluruh anggota keluargamu!" seru Luiso.


Mata orang itu melebar, "Ja... jangan, Tuan." katanya lirih, "Sa-saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya menjalankan perintah saja dan mendapatkan upah. Saya tidak tahu apapun, sungguh." imbuhnya menegaskan.


Luiso menatap Alfonzo, "Bagaimana ini, Tuan? dia tetap tidak ingin mengaku," kata Luiso.


"Biarkan saja jika seperti itu. Jangan beri dia makan, dan bawa semua anggota keluarganya. Aku tidak akan mengampuni orang-orang yang ikut campur urusanku," jawab Alfonzo.


"Baik, Tuan." sahut Luiso.


Luiso menghubungi seseorang lain, meminta seseorang di ujung telepon bergerak membawa semua anggota keluarga dari seorang laki-laki yang saat itu bersama Luiso dan Alfonzo. Seseorang di ujung telepon menerima perintah dan mengiyakan permintaan Luiso, menjawab dengan pasti akan menyanggupi perintah.


"S*alan! kenapa banyak sekali orang yang mengincarku sekarang," kata Alfonzo geram.

__ADS_1


"Kita akan membereskan semuanya, Tuan. Jangan kahawatir." kata Luiso.


"Hah..." hela napas panjang Alfonzo, "Bagaimana dengan anak itu?" tanyanya lagi.


"Hansel belum mengabari," jawab Luiso.


"Apa yang dipikirkan anak itu? tidak mau menerima hadiah dan sekarang bersikap sok sibuk. Mengesalkan juga," kata Alfonzo merasa tidak senang.


"Orang-orang kita menginformasikan. Hubungan Hansel dan Micheline semakin dekat. Kemungkinan Hansel memang fokus mendekati Micheline. Kita tunggu saja hasilnya. Dia juga tidak akan bisa lepas dari kita, kan."


"Oh... begitu rupanya. Semoga saja dia tidak mengecewakanku. Aku tidak akan diam jika dia sampai mengkhianatiku." kata Alfonzo.


"Ya, Tuan. Saya sendiri yang akan membereskannya jika dia berani mengkhianati Tuan. Saya akan menghabisinya dan tidak akan memberinya pengampunan." sahut Luiso.


"Bagus, Luiso. Kau memang orangku yang sangat setia sejak dulu. Kau selalu berpihak padaku," puji Alfonzo.


"Saya tidak akan tidak berpihak pada Anda, Tuan. Seluruh hidup saya akan saya berikan pada Tuan. Tuan bisa memerintahkan saya melakukan apapun asalkan itu membuat Tuan senang. Saya akan melakukannya seuai perintah dari Tuanku," jawab Luiso bersungguh-sungguh.


Alfonzo menepuk bahu Luiso, "Karena kesungguhanmu ini lah, aku selalu merasa puas dengan semua pekerjaanmu. Kau benar-benar tahu apa yang aku mau, dan bisa menghiburku saat aku sedang tidak senang hati. Kau pantas mendapatkan hadiah dariku. Mintalah apa saja, aku akan berikan padamu."


"Tidak, Tuan. Anda menjamin hidup saya saja. Saya sudah sangat senang. Saya tidak butuh hal lain lagi, selain keeprcayaan Anda pada saya." jawab Luiso.


Alfonzo tersenyum, "Ya. Baiklah jika itu kemauanmu. Katakan saja apa yang kau inginkan. Jangan segan dan ragu-ragu. Ayo pergi dari sini, aku merasa sesak terus berada di ruangan yang pengap seperti ini." pinta Alfonzo.


"Baik, Tuan. Silakan," kata Luiso yang langsung mempersilakan Alfonzo pergi.


Luiso berlari kecil menuju pintu dan membukakan pintu untuk Alfonzo. Alfonzo keluar dari ruangan, Luiso pun menyusul Alfonzo keluar dari ruangan dan meninggalkan seseorang yang dianggap mata-mata itu seorang diri di ruangan yang gelap dan pengap.


Hati Luiso tidak lagi ada kehangatan cinta ataupun kasih. Ia yang sudah kehilangan seluruh keluarganya karena terlalu baik kepada orang lain, kini menjalani kehidupan yang sangat berbanding terbalik dengan yang dulu. Jika dulu ia rela berkorbam demi orang lain, maka sekarang orang lain lah yang menjadi korbannya dan menjadi batu pijakannya.


Orang baik tidak selamanya menjadi baik. Orang baik bisa berubah menjadi jahat, saat mendapatkan tekanan yang bertubi-tubi. Juga karena suatu alasan yang lainnya. Luiso adalah salah satu dari sekian banyaknya orang yang bisa berubah dari baik menjadi bringas, jahat, dan keji.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2