
Micheline tersenyum menatap Hansel. Hansel membalas senyuman Micheline. Mengusap wajah Micheline lembut. Micheline melihat, ada kantung mata dan lingkaran hitam di kedua mata Hansel.
"Kau pasti sangat lelah. Maafkan aku membuatmu kesulitan," kata Micheline.
"Tidak. Aku tidak merasa kesulitan. Justru sebaliknya, aku senang bisa di sisimu. Aku khawatir setiap melihat keadaanmu. Kau tahu? rasanya di dadaku ini, seperti teraduk-aduk. Khawatir, takut gelisah, panik dan sedih berbaur. Rasa itu tidak bisa diungkapkan lagi, aku tidak bisa berpikir jernih lagi." jelas Hansel.
"Terima kasih, Hans. Kau sudah merawatku dengan sepenuh hati," kata Micheline.
"Tidak perlu ada kata terima kasih di antara kita. Apa yang aku lakukan, apa yang aku berikan, memamg sudah seharusnya." jawab Hansel.
"Boleh aku meminta seduatu?" tanya Micheline.
Hansel mengangguk, "Ya. Katakan saja," jawab Hansel.
"Peluk aku, Hans. Kumohon," kata Micheline memelas.
Hansel terkejut mendengar permintaan tidak biasa Micheline. Ia langsung memeluk Micheline, Hansel bisa merasakan jika Micheline sedang sangat sedih. Micheline membalas pelukan Hansel, mendekap erat Hansel. Menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Hansel.
"Aku merindukanmu, Eline. Sangat merindukanmu..." bisik Hansel.
Micheline sudah berkaca-kaca, tetapi ia berusaha agar tetap tenang dan tidak menangis. Micheline hanya menganggukkan kepala sebagai tanda jawaban atas ucapab Hansel. Keduanya saling melepas rindu, cukup lama mereka berpelukan.
Hansel melonggarkan pelukan, "Kau lapar? ingin makan?" tanya Hansel.
"Ya. Aku sangat lapar," jawab Micheline.
"Tunggu, aku akan ambilkan dan menyuapimu." kata Hansel yang langsung bergerak mengambil makanan Micheline yang sudah tersedia.
"Kau sudah makan?" tanya Micheline.
Hansel mengangguk, "Ya. Aku sudah makan. Selama kau tidur, aku makan dengan teratur. Aku tidak mau sakit, karena aku harus terus berada di sisimu untuk menjagamu. Nah, ayo. Buka mulutmu," pinta Hansel menyodorkan sendok ke depan mulut Micheline.
Micheline membuka mulutnya dan melahap makanan di sendok. Disesapnya lalu dikunyah-kunyah perlahan makanan tersebut. Ia merasakan rasa hambar dan ada sedikit rasa pahit di bubur yang ia makan. Namun, ia tetap berusaha menelan makanan tersebut.
"Pelan-pelan saja," kata Hansel mengusap sudut bibir Michelien dengan tangannya.
Micheline mengangguk dan tersenyum, "Ya," jawabnya singkat.
"Hanya pemikirianku atau dia memang lebih hangat dan perhatian dari sebelumnya, ya?" batin Micheline.
"Oh, ya. Bagaimana dengan Pamanmu?" tanya Micheline sesaat setelah menelan makanannya.
__ADS_1
Hansel mengisi lagi mulut Micheline yang kosong. Micheline tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaanya. Membuatnya sedikit kesal. Micheline menatap Hansel dengan tatapan mata yang tajam.
"Bisakah kita bahas itu setelah kau selesai makan, sayang? saat makan tidak boleh bicara, ok. Menurutlah," pinta Hansel. Ia mengusap lembut pipi Micheline yang menggembung karena di mulut Micheline terisi makanan.
Micheline semangat makan. Ia pun langsung menghabiskan seluruh buburnya tanpa tersisa. Hansel tersenyum, ia tahu jika Micheline tidak sabar membahas masalah Pamannya, Ergy. Hansel memberikan segelas air putih untuk diminum Micheline juga beberapa butir obat dan vitamin.
"Ayo, ceritakan. Aku sudah selesai makan dan minum obatku, kan. Sesuai ucapanmu, selesaikan makan, lalu kita akan bicara." kata Micheline.
Hansel tersenyum, "Sebegitu tidak sabarnya," kata Hansel.
"Ya. Aku melewatkan bagian terpenting. Bagaimana bisa aku bersabar," jawab Micheline.
"Pamanku ada, dijaga oleh Matteo dan beberapa orangmu. Sedangkan temannya, pelaku yang sudah mendorongmu. Juga sudah diamankan. Semenjak di sini, aku belum menemui keduanya. Aku takut tidak bisa mengontrol diriku saat bertemu mereka, terutama seseorang yang melukaimu." jelas Hansel.
Micheline tersenyum, " Hans..." panggil Micheline dengan nada suara lembut.
"Ya," jawab Hansel. "Ada apa?" tanya Hansel menatap lekat mata Micheline.
"Tidak ada. Aku hanya ingin memanggil namamu," kata Micheline mengusap lembut wajah Hansel, "Lalu, apa yang akan kau lakukan pada mereka?" tanya Micheline.
"Soal itu, sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan padamu. Entah kau setuju atau tidak. Aku ingin mengurus sendiri keduanya tanpa kau ikut campur tangan. Aku tahu kau menginginkan pembalasan. Namun, aku tidak bisa sepertimu yang membunug orang begitu saja, El. Maafkan aku, Hatiku masih lemah. Setelah aku pikir-pikir. Memang sudah seharusnya, jika nyawa dibayar dengan nyawan. Tetapi coba kau pikir lagi, kau menganggap mereka yang menjahatimu orang jahat, kan. Jika kau melakukan hal yang sama, apa bedanya kau dan dia?" jelas Hansel panjang lebar. Ia mengungkapkan pendapatanya pada Micheline.
Betapa tidak, selama ini ia hanya menahan diri atas perlakuan kasar keluarga Pamannya. Meski tahu kebenarannya Hansel juga tidak pernah berniat membalas dendam. Justru Micheline lah, yang sudah memperngaruhi pikiran Hansel untuk balas dendam. Karakter dasar seseorang memang tidak bisa diubah. Tidak heran Micheline mendengar pernyataan Hansel yang lebih memilih menyelesaikan semuanya secara adil dengan bantuan hukum yang berlaku.
*****
Jesslyn dan Charlie datang ke rumah Micheline. Seperti biasanya, kedatangan keduanya membawakan makanan untuk Ertha dan Luky. Di hari sebelumnya, Jesslyn sempat berbincang dengan Ertha dan memberitahukan jika Micheline sedang dirawat di rumah sakit. Jesslyn pun dengan tanpa ragu memberitahukan apa yang terjadi. Setelah memberitagu Ertha, Jesslyn juga langsung bercerita apda Charlie. Jesslyn tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari Charlie.
"Selamat pagi," sapa Jesslyn ceria penuh semangat.
"Hai," sapa Luky.
"Hallo, Jesslyn. Selamat pagi. Kau terlihat ceria," sahut Ertha.
"Benar, Bibi. Micheline sudah bangun, aku merasa senang sekali." jawab Jesslyn.
"Oh. sungguh? syujurlah jika seperti itu," ucap Ertha merasa lega.
"Apa dia sudan lebih baik?" tanya Luky.
"Kami belum lagi datang. Rencananya setelah dari sini kami akan ke rumah sakit." jawab Jesslyn.
__ADS_1
"Semoga dia selalu baik-baik saja. Kasian sekali, dia harus kehilangan calon anaknya. Sebagai seorang perempuan sekaligus ibu, aku bisa merasakan rasa sakitnya kehilangan." kata Ertha.
Luky mendekati Charlie, "Tuan, apakah aku boleh mengajukan permintaan?" tanya Luky.
"Ada apa? apa yang ingin kau kalukan?" tanya Charlie menatap tajam pada Luky.
"Apa boleh aku bertemu Papaku?" tanya Luky.
"Luky..." panggil Ertha
"Uh... jangan salah paham. Aku hanya ingin melihatnya untuk terakhir kali. Setelah itu aku akan meminta Hansel menemuiku. Aku memintanya untuk memindahkanku dan Mamaku ke luar kota sana. Mau itu ke daerah pedalaman juga tidak apa-apa. Setelah ku pikir-pikir, aku mau hidup bahagia bersama Mama. Meksi tanpa Papa," ungkap Luky.
"Aku tidak bisa putuskan itu. Begini saja, aku akan sampaikan niatanmu pada Hansel nanti. Aku hanya bertugas sesuai tugas yang diberikan padaku, tidak bisa ikut campur tangan." jawab Charlie.
"Baiklah jika seperti itu. Tolong sampaikan pada Hansel, jika aku ingin segera menemuinya." kata Luky.
"Ya," jawab Charlie singkat.
"Terima kasih, Tuan." ucap Luky.
Luky terlihat senang, meski ia tidak yakin Hansel akan menemuinya setidaknya ia sudah mengatakan niatanny lebih dulu. Luky menyerah dengan keadaan, ia hanya ingin hidup bebas tanpa kekangan dan dikurung.
...*****...
**Yuk, follow ig author
ig: dea_anggie
Jangan lupa like setiap episodenya ya..
Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..
Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..
Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..
Terima kasih semuanya...
Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..
Salam hangat dari author~~🙂**
__ADS_1