My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 77 - Memancing Mangsa (1)


__ADS_3

Micheline*


Sebulan berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, hari demi hari terlewati begitu saja. Banyak hal terjadi sebulan ini. Dari hal kecil, sampai hal-hal besar. Aku pun tidak tahu jika waktu berlalu secepat ini.


Bagaimana keadaan ku? tentu aku baik-baik saja. Hubungan ku dengan Hansel? tentu kami selalu bersemangat dan semakin memanas setiap waktu. Hahaha... lucu sekali, kan. Aku malu untuk mengakuinya, tetapi memang begitulah kenyataannya.


Hari ini seperti biasa, aku terbangun dari tidur panjangku. Pemandangan indah selalu kulihat setiap aku bangun tidur. Apa lagi, tentu saja wajah tampan Hansel yang ada di sampingku. Kusentuh rambut hitamnya yang lebat, aku meraba wajahnya, alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung. Jujur, aku tidak pernah bosan melihatnya.


Sesuatu aku rasakan. Tiba-tiba saja aku merasa mual dan ingin muntah. Uh... kenapa pagi-pagi begini ingin muntah? Pikirku yang langsung buru-buru keluar dari selimut dan turun dari tempat tidur. Aku membekap mulutku lalu berlari cepat ke kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, aku menundukan kepalaku di wastafel. Dugaanku benar, tidak ada yang keluar dari dalam perutku. Aku berkumur dan mencuci mukaku. Pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini.


Apa karena aku semalam tidak makan dengan benar? atau karena aku terlalu banyak makan cake strawberry yang masam manis? entahlah, mungkin juga bisa terjadi karena keduanya.


Aku bercermin sebentar lalu menyeka wajahku dengan handuk kering. Aku pun keluar dari kamar mandi, terlihat Hansel sudah bangun dan duduk bersandar bantal. Ia menyapaku, merentangkan tangan agar aku menghampiri dan memeluknya.


Senyumku mengembang, aku berjalan cepat dan langsung naik ke atas tempat tidur. Tanpa banyak menunda waktu, aku langsung menyambut pelukan Hansel. Dengan erat aku memeluknya. Sesaat setelah memeluknya, aku pun duduk di pangkuannya dengan posisi menghadapnya. Pandangan mata kami saling bertemu satu sama lain. Kami saling melempar senyuman. Hansel mencium keningku lalu mencium hidungku, dirabanya wajahku dengan kedua tangannya, lalu di dekatkannya keningnya ke keningku sampai kedua kening dan hidung kami menempel.


"Selamat pagi sayangku. Apa tidurmu nyenyak?" tanyanya padaku, dengan suara khas bangun tidur.


Aku menggeleng, aku mengatakan jika perutku terasa tidak nyaman. Begitu juga tubuhku. Aku mengeluarkan semua keluhanku, ia pun mendengarkan dengan seksama setiap ucapanku dengan terus membelai rambutku. Sesekali ku lihat keningnya berkerut, sesekali juga tidak. Mungkin ia juga bingung dengan apa yang aku sampaikan. Atau mungkin menganggapku si perempuan pengeluh. Terserah saja, toh itu memang yang aku rasakan saat ini.


"... semua terasa tidak nyaman," keluhku.


Hansel menatapku sedih, "Apa perlu kita ke dokter? wajahmu juga pucat," usulnya. Tetapi aku tolak dengan dalih pekerjaan.


"Aku tidak apa-apa. Jadwalku penuh hari ini, kan? Mungkin karena aku tidak makan dengan benar, dan banyak makan yang manis asam jadi seperti ini." jawabku sesuai apa yang aku pikirkan.


Hansel memelukku, "Ingin makan apa pagi ini? aku akan buat sarapan untukmu." tawarnya.


Aku diam sebentar berpikir, "Roti dan susu saja. Sedang tidak selera makan," kataku padanya.


Hansel mengusap punggungku. Aku selalu merasa nyaman saat ia mendekapku seperti ini. Ingin rasanya aku terus menerus berada dalam pelukannya seperti ini. Menghabiskan waktu seharian bermanja dengannya dan besendau gurau.

__ADS_1


Ponselku berdering. Aku menatap ponselku yang ada di nakas, lalu memelas menatap Hansel. Berharap ia mengambilkan ponselku karena aku sudah nyaman dengan posisiku dan malas bergerak. Hansel mengerti, tanpa kusuruh ia pun segera menggeser posisi duduknya, dan mencondongkan tubuhnya sedikit agar tangannya sampai ke nakas.


"Ambil ini," katanya memberikan ponselku padaku.


Aku tersenyum lalu mencium pipi kirinya, "Terima kasih," ucapku padanya.


Aku melihat layar ponselku. Ada Matteo yang menghubungiku. Segera aku menerima panggilan itu, aku berbincang dengan Matteo, masih dalam posisi aku berada di pangkuan Hansel dan mendekapnya. Aku mengaktifkan pengeras suara, agar Hansel juga bisa dengar percakapan kami.


"Ya," jawabku.


"Nona. Hari ini bagaimana? apakah kita akan jalankan sesuai rencana awal kita?" tanya Matteo.


"Ya, tentu saja. Jika kau siap, ayo lakukan." kataku.


"Bagaimana dengan Tuan Hansel?" tanya Matteo sedikit ragu.


"Aku akan bicara padanya. Dia juga pasti sudah sangat menantikan ini. Siapakan saja segala sesuatunya, kita harus menampilkan pertunjukan yang sempurna." kataku lagi berantusias.


"Baik Nona. Saya mengerti," katanya lagi.


"Baik," jawabnya yang langsung aku akhiri dengan menutup sambungan telepom darinya.


Aku melempar ponselku ke dekat bantal. Kudekap erat-erat tubuh laki-laki kekar di hadapanku ini. Sungguh, aku tidak ingin beranjak walau selangkah kaki pun dekapan ini.


"Hans..." panggilku.


"Ya, sayang. Ada apa?" jawabnya bersuara lembut.


"Apa kau siap dengan rencana kita? sepertinya Matteo sudah akan menyelesaikan semuanya," kataku melepas dekapanku dan menatap mata Hansel.


Hansel mengangguk, "Tentu saja siap. Aku ingin semua ini segera berakhir," jawabnya terlihat serius.


"Kau tidak masalah, kan? jika kau merasa tidak nyaman, katakan saja. Kita bisa menundanya." usulku. Kau ingin Hansel nyaman dan melakukan perannya tanpa beban.

__ADS_1


Ia tersenyum tampan, "aku baik-baik saja. Aku menantikan ini, El. Menantikan wajah kagetnya dengan mata terbelalak. Pasti akan sangat puas mengerjai pak tua itu," katanya bersemangat.


"Syukurlah. Sepertiny kau memang sudah menantikannya," kataku tersenyum.


Hansel membalas senyumanku, ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan langsung mencium bibirku. Ciumannya ini tidak pernah membuatku bosan. Ia mengigit lembut sesekali menghis*p tepian bibirku. Bibir atas bawah ku, disapunya bersih. Tangan kanannya mengusap tengkuk leherku, dan tangan kirinya merem*s da*aku perlahan.


Aku memang selalu menantikan ini. Saat yang mendebarkan dan membuat darahku mendidih. Namun, aku rasa aku tidak bisa lebih jauh dari ini. Semalam ia sudah mengerjaiku habis-habisan. Sampai membuatku hampir tidak bisa berjalan. Cukup sudah, aku hanya bisa menikmatinya sampai sejauh ini. Jika berlanjut, bisa dipastikan aku hanya akan terbaring seharian di atas tempat tidur karena sakit pinggang.


Ciumannya aku lepaskan, "Cukup, Hans. Aku mau mandi," kataku.


Hansel mencium bahuku, "Ya. Ayo mandi bersama. Aku akan membantumu mandi," tawarnya padaku.


"Janji padaku. Jangan macam-macam," kataku. Aku tidak ingin bekerja sembari terus mengusap pinggangku karena sakit, atau jadi malas bekerja karena lemas dan tidak bertenaga.


"Aku janji, sayang. Aku tidak akan melanggar janjiku. Meski ingin, aku pasti akan menahannya. Sebisa mungkin aku tidak akan melakukannya. Kau terlihat sangat lelah. Aku tidak mau kau sampai jatuh sakit karena ulahku," katanya dengan sangat menyakinkan.


Aku lega. Jika seperti ini, ia terlihat sangat dewasa. Berbeda seperti biasannya, memasang mata memelas seperti anak kucing yang terlantar. Aku merasakan tubuhku diangkat. Rupanya Hansel membopongku ke kamar mandi. Ia melangkah perlahan menuju kamar mandi. Inilah sisi yang selalu aku sukainya darinya. Ia sangat peduli dan perhatian padaku. Tidak pernah sekali pun ia membiarkanmu kesulitan. Aku jadi merasa aneh, perlahan aku mulai bergantung padanya. Entah ini hal baik atau hal buruk untuk ke depannya. Yang pasti, aku bahagia dengan keadaanku yang sekarang.


...*****...


**Yuk, follow ig author


ig: dea_anggie


Jangan lupa like setiap episodenya ya..


Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..


Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..


Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..


Terima kasih semuanya...

__ADS_1


Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..


Salam hangat dari author~~🙂**


__ADS_2