
Micheline, Hansel dan Micheline makan malam bersama. Mereka membahas langkah pertama untuk pelatihan Hansel. Micheline sudah menentukan jadwalnya dan Hansel harus bisa melalui pelatihan itu dengan sempurna tanpa kegagalan sedikitpun.
"Jadi... kapan mulai latihannya?" tanya Charlie.
"Besok," jawab Micheline singkat.
"Uhukkk..." Hansel tersedak. Charlie yang ada di samping Hansel segera menyodorkan segelas air putih untuk Hansel. Dan segera diterima oleh Hansel.
"Kenapa, sekaget itu?" kata Micheline tenang menatap Hansel.
Hansel meletakan gelas, "Terkejut saja. Aku kan masih seperti ini," jawab Hansel yang bermaksud menunjukan luka-lukanya.
Micheline melebarkan mata, "Lukamu bukan penghalang untuk kaki dan tanganmu bergerak, kan?"
Charlie tertawa kecil, "Hei, Hans. Kau sudah memutuskan mengabdi pada CEO, kan? beginilah cara kerja sebenarnya. Aku bilang apa, bersiaplah. Kau tidak mau dengar ucapanku," kata Charlie.
"Ah, baiklah. Aku siap kapanmu itu," jawab Hansel.
"Itu baru jawaban yang benar," sahut Micheline tersenyum, "Ayo lanjutkan makan dan kita akan ke gudang," imbuhnya.
Hansel dan Charlie perlahan menikmati makan malam mereka, begitu juga Micheline.
*****
Setelah selesai makan, sesuai perkataan Micheline pada Hansel dan Charlie. Mereka bertiga berjalan menuju gudang yang terletak jauh dari rumah utama Micheline.
"Sudah lama tidak jalan ke gudang," kata Charlie memecah kesunyian malam.
"Ya. Terakhir kali kapan, ya?" sahut Micheline.
"Saat ulang tahun Keily," jawab Charlie yang masih ingat akan kejadian terakhir di gudang.
Hansel hanya diam mendengar Micheline dan Charlie berbincang. Ia tidak mengerti, topik apa yang di bahas. Jadi ia memlilih untuk diam dan mengamati saja.
Setibanya di gudang. Micheline memasukan kunci dan membuka kunci, lalu mendorong pintu gudang agar terbuka. Hansel terlejut, ternyata itu bukanlah gudang melainkan sebuah rumah yang mempunyai ruangan bawah tanah. Ada dua ruang bawah tanah, satu adalah gudang anggur pribadi milik Micheline dan satu lagi adalah gudang penyimpanan senjata.
"Luar biasa," batinnya kagum, "Ini bukan lagi gudang, tetapi sudah seperti markas rahasia. Lantai utama adalah semua ruangan lengkap dengan meja, sofa dan dua kamar tidur. Lalu ada anak tangga yang membawa kami menuju ruang bawah tanah," batinnya lagi terkagum-kagum.
Hansel melihat sekeliling dan terus mengikuti Micheline dan Charlie yang berjalan menuju ruang bawah tanah. Charlie menatap gudang anggur dan meminta izin pada Micheline untuk melihat gudang anggur tersebut.
"Michel, apakah aku boleh ke gudang anggur?" tanya Charlie meminta izin.
Micheline mengangguk, "Ya, pergilah. Apa kau ingin minum?" tawar Micheline.
Charlie menggeleng, "Tidak. Aku hanya rindu. Ingin lihat-lihat saja," jawab Charlie yang langsung berjalan menuju gudang anggur meninggalkan Micheline dan Hansel.
__ADS_1
"Ayo, Hans. Aku akan tunjukan sesuatu," ajak Micheline.
Micheline langsung berjalan dan Hansel kembali mengikuti Micheline. Tidak lama berjalan, keduanya sampai di depan pintu sebuah ruangan. Micheline membuka kode akses masuk pintu tersebut dengan sidik jari. Sidik jari terditeksi, dan pintu yang terbuat dari kaca itu langsung terbuka dengan sendirinya. Begitu Micheline dan Hansel masuk, lampu ruangan langsung menyala secara otomatis.
Hansel melebarkan mata, "Wah," gumamnya kagum.
"Inilah gudang senjata rahasiaku, Hans. Ada banyak macam senjata di sini."
"Apa ini semua milikmu?" tanya Hansel.
"Ya. Tentu saja. Jika bukan, milik siapa lagi?" jawab Micheline.
"Apa semua ini kau gunakan? maksudku, ini kan kau geletakan begitu saja," tanya Hansel ingin tahu.
"Ada saatnya aku memakainya, Hans. Jika ada hal darurat dan aku diharuskan menggunakannya, tentu saja aku akan gunakan. Intinya, penggunaannya sesuai dengan situasi dan kondisi."
Hansel mengangguk, "Oh, aku mengerti."
"Kau bisa menggunakan senjata?" tanya Micheline.
"Ya. Aku bisa menembak dan menggunakan pedang. Aku sempat ikut pelatihan dulu," jawab Hansel.
"Baguslah jika seperti itu," puji Micheline.
Hansel melihat, banyak sekali berjajar bermacam-macam jenis pisau dan senapan. Ada pedang, katana (pedang samurai) dan tombak juga. Hansel melihat sesuatu yang unik.
"Ini adalah cambuk racun. Ini adalah senjata yang aku gunakan saat bertarung menghadapi musuh yang kuat dengan jumlah lebih dari tiga orang. Kau lihat, cambuk ini berserat, dan di setiap seratnya ada racun mematikan. Hanya aku yang punya Penawarnya," kata Micheline.
"Kau keren," puji Hansel.
"Kau juga keren. Mulai dari sekarang, giatlah berlatih. Apapun yang kau inginkan, jika kau punya kekuatan dan kekuasaan juga mampuan. Kau bisa dapatkan," kata Micheline menyemangati.
Hansel tersenyum, ia tidak menduga wanita yang ada dihadapannya adalah seorang petarung handal. Sikap anggun Micheline yang selalu dilihatnya di kantor selama ini hanya sebuah tipuan semata. Dalam keanggunan, tersimpan kebuah kegigihan dan ketangguhan.
"Kau pernah belajar bela diri, kan?" tanya Micheline lagi.
"Ya. Pernah," jawab Hansel mengangguk.
"Jadi aku atau Charlie tidak perlu jelaskan lagi. Selanjutnya kau hanya perlu langsung latihan langsung. Saat nanti Charlie datang, aku akan tunjukan sedikit padamu. Apa yang dinamakan 'kuat dan tangguh', "kata Micheline.
Hansel melihat sepatu dan sarung tangan, serta satu set pakaian yang memiliki desain khusus. Dari melihat saja, Hansel langsung tahu jika pakaian itu milik Micheline.
"Eline pasti terlihat cantik dengan pakaian ini. Sungguh luar biasa," batinnya memuji keindahan pakaian khusus milik Micheline.
Hansel melihat Micheline yang memegang pedang samurai. Mata Hansel menatap lekat wajah cantik Micheline. Dilihatnya dengan seksama CEO-nya itu. Kulit putih seputih susu, mata yang bulat berwarna cokelat. Rambut hitam panjang yang tergerai sampai ke pinggang. Hidung mancung dan bibir merah tipis yang tentu saja menggodanya untuk ingin mengecupnya.
__ADS_1
Micheline menatap Hansel yang menatapnya, "Hans..." panggil Micheline.
Hansel terlejut, "Ya," jawab Hansel.
Micheline mendekati Hansel dengan masih membawa sebilah pedang samurai ditangannya, "Kau kenapa melihatku terus? ada sesuatu yang ingin kau tahu? tanyakan saja," pinta Micheline.
"Tidak ada. Aku hanya menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan saja," goda Hansel bermulut manis.
"Kau ingin kehilangan lidahmu, huh? jangan merayuku," kata Micheline menakut-manakuti Hansel.
Seketika Hansel langsung menutup rapat mulutnya, membuat Micheline tertawa setelahnya. Micheline yang berniat menggertak saja, tidak menyangka akan membuat Hansel langsung diam tidak berkutik.
"Apa kau takut, Hans?" goda Micheline, "Oh, ayolah. Aku hanya menggodamu saja. Jangan kecil hati hanya karena gertakan," kata Micheline.
"Kau jangan terus menggodaku, Eline. Bagaimana aku tau kau bercanda atau serius. Terlebih kau membawa pedang samurai," kata Hansel mengehela napas panjang.
"Aku tidak akan seperti itu lagi," sahut Micheline.
Hansel melihat katana samurai yang dipegang oleh Micheline, "Kau ingin apakan benda ini?" tanya Hansel menunjuk pedang samurai yang dipegang Micheline.
"Aku akan gunakan untuk bertarung," jawab Micheline.
"Bertarung?" ulang Hansel.
Micheline mengangguk, "Ya, kau ingin mencobanya? ayo, bertarung denganku. Aku akan berikan hadiah jika kau bisa menang melawanku," kata Micheline mengajak Hansel bertarung.
"Apa yang akan aku dapatkan?" tanya Hansel tertarik.
"Apa saja yang kau inginkan," jawab Micheline.
"Kau sungguh-sungguh? tidak bohong kan?" tanya Hansel memastikan.
Micheline mengernyitkan dahi, "Aku pantang bicara omong kosong, Hans. Apa yang kau inginkan?" tanya Micheline.
"Tidur bersamamu," jawab Hansel tanpa ragu-ragu dan langsung membuat Micheline kaget.
"Apa? tidur bersamaku? kau gila," sentak Micheline malu.
Karena dalam pikiran Micheline Hansel pasti akan meminta hukumannya diringankan atau pelatihanya diganti. Ia tidak menyangka Hansel seberani itu meminta tidur bersama dengan tanpa ragu-ragu.
"Apa yang gila? kau mengatakan semua yang ku inginkan, kan? aku ingin tidur denganmu, ingin kembali mengenang malam manis kita."
Micheline membungkam mulut Hansel, "Kau jangan bicara sembarangan, Hans. Bagaimana jika Charlie mendengarnya?" bisik Michelice melebarkan matanya.
Hansel tersenyum, ia menjilati telapak tangan Micheline yang membungkam tangannya. Ia berusaha menggoda Micheline. Hal itu tentu saja membuat Micheline terkejut, tidak hanya berani bicara bahkan Hansel berani bertindak tidak sopan padanya.
__ADS_1
...*****...