
Charlie sedang bersama Jesslyn di klinik pribadi Jesslyn. Ia mencoba menghubungin ponsel Hansel, dua kali panggilannya tidak dijawab Hansel. Dan, panggilan terakhirnya malah tidak tersambung karena ponsel Hansel tidak aktif.
"Mengesalkan sekali. Di mana perginya anak ini," gumam Charlie emosi.
Jesslyn mendekat lalu mencium pipi Charlie, "Ada apa? kenapa kau emosi sampai mengomel seperti itu, huh?" tanya Jesslyn lembut.
Seketika emosi Charlie meredam. Ia tidak lagi kesal karena ciuman yang dihadiahkan Jesslyn di pipinya. Ia tersenyum tampan seakan menikmati ciuman mesra kekasihnya tersebut. Melihat senyum tampan Charlie, membuat Jesslyn enggan untuk memalingkan pandangannya.
"Semakin hari kau semakin tampan saja. Bagaimana ini, aku tidak bisa fokus bekerja." kata Jesslyn memuji ketampanan Charlie.
"Kau mulai lagi, sayang. Sampai berapa banyak rayuan dan pujian mautmu itu kau lontarkan padaku?" sahut Charlie merasa malu karena memikiki kekasih bermulut manis, semanis madu.
"Kau sibuk menghubungi siapa?" tanya Jesslyn.
"Hansel," jawab Charlie menatao Jesslyn, "Tapi tidak diangkat. Dan sekarang ponselnya tidak aktif. Itu kan mengesalkan." keluh Hansel.
"Hubungi saja orang terdekatnya jika urusanmu penting menyampaikan sesuatu," usul Jesslyn.
"Ide bagus, sayang. Sebentar, ya." jawab Charlie mengecup kening Jesslyn lembut.
Charlie menghubungi Micheline. Panggilannya diterima Micheline dan mereka pun berbincang. Charlie menanyakan kebaradaan Hansel. Mengeluhkan kenapa Hansel tidak bisa dihubungi, sampai pada akhirnya mengatakab tujuannya menghubungi Micheline.
"Hallo," jawab Micheline.
"Michel, kau tahu di mana Hasel? aku sudah menghubunginy, tetapi tidak dijawabnya. Terakhir aku hubungi poselnya justru tidak aktif. Anak itu benar-benar membuat kesal saja," keluh Charlie.
"Ada apa? bisa kau tenang dan jelaskan pelan-pelan dulu?" tanya Micheline.
"Begini saja. Aku minta tolong padamu saja untuk menyampaikan ini. Bilang saja pertemuannya dengan Tuan Waller sudah ditetapkan. Di jam makan siang nanti. Kau bisa kan sampaikan ini?" pinta Charlie.
__ADS_1
"Oh, ok. Aku akan sampaikan nanti. Terima kasih sudah menyampaikan informasi penting ini padaku." jawab Micheline.
"Ok, begitu saja. Aku harus membantu Jesslyn mengurus klinik. Sampai jumpa, Micheline. Jaga dirimu baik-baik," ucap Charlie.
"Ya, kau juga. Berhati-hatilah." jawab Micheline.
Charlie mengembuskan napas lega. Setidaknya ia sudah menyampaikan pesannya pada Micheline untuk disampaikan pada Hansel. Jesslyn mengambil ponsel Charlie dan meletakan ponsel itu di atas meja. Jesslyn lalu memeluk erat Charlie, membenamkan wajahnya ke dada bidang Charlie. Melihat begitu manjanya perempuan kesayangannya, membuat Charlie gemas. Ia lalu mendekap erat tubuh Jesslyn.
"Aku tak bisa bernapas," keluh Jesslyn.
"Siapa yang memeluk duluan? kau, kan?" sahut Charlie enggan melepaskan pelukan.
"Baiklah, aku mengakui itu. Aku dulu yang memelukmu. Itu karena aku sangat-sangat senang kau bisa menemaniku saat aku sibuk mengurusi pasien-pasian mungilku di dalam sana. Terima kasih sayang, aku mencintaimu." ungkap Jesslyn penuh perasaan.
Charlie melepas pelukannya, ia langsung menatap mata Jesslyn lekat-lekat dan sesaat kemudian bibirnya langsung melahap habis bibir ranum Jesslyn. Jesslyn menyambut ciuman Charlie, dikalungkannya kedua tangany ke leher Charlie lalu dibalasnya ciuman Charlie. Keduanya saling berciuman mesra.
Siang harinya. Hansel, Charlie dan Marco Waller bertemu. Charlie menjelaskan tujuan pertemuan mereka siang itu. Marco yang merupakan seorang pengacara kompeten dan memiliki nama sekaligus reputasi baik, langsung mengiyakan permintaan Charlie. Tidak main-main, peran penting Micheline yang merupakan 'Queen' tidak diragukan lagi.
"Jadi... kita langsung saja bicara inti pembahasan pertemuan kita. Dia adalah Hansel Feliks, klien Anda. Dan beliau adalah Tuan Waller, pengacara terkemuka. Jadi, saya mohon kesedian Anda membantu Hansel, Tuan Waller." begitulah Charlie saling memoerkenalkan satu dengan yang lain secara singkat padat dan jelas.
"Baik, Tuan. Saya mengerti. Nona juga sudah menghubungi saya secara langsung. Beliau ingin urusan Tuan Feliks terselesaikan dengan baik." kata Marco menerangkan.
Charlie menganggukkan kepala, "Ya. Terima kasih atas perngertian Anda. Selebihnya silakan Anda berbicara langsung dengan Hansel. Saya hanya memenuhi perintah Bu CEO untuk mempertemukan Anda berdua." kata Charlie menjelaskan.
Marco tersenyum pada Charlie lalu menatap Hansel. "Baiklah, Tuan Feliks. Mari kita langsung pada inti pembicaraan. Hal apa yang Anda inginkan?" tanya Marco.
Hansel menatap Charlie lalu menatap Marco, "Mungkin sedikit banyak Anda sudah tahu apa yang saya inginkan. Juga permasalahan saya. Namun, di sini saya ingin menegaskan kembali, jika saya ingin mengambil alih semua hak saya sebagai peearis tunggal aset dan seluruh harta peniggalan mendiang Papa saya, Hanry Feliks. Apa Anda berkenan membantu saya, Tuan Waller?" jelas Hansel mengungkapkan keinginanya.
"Apa keputusan Anda sudah bulat?" tanya Marco memastikan.
__ADS_1
Hansel mengangguk pelan, "Ya. Saya sudah membulatkan tekad. Bagaimana pun juga, saya tidak bisa berdiam diri menerima perlakuan yang tidak selayaknya dari Paman saya sendiri." jawab Hansel tanpa ragu-ragu.
"Baiklah jika itu kemauan Anda, Tuan. Saya sudah mempunyai beberapa bukti dan sebagian berkas penting mengenai permasalahan ini. Hanya saja, saya ingin pergi menemui seseorang. Apakah Anda mau mempertemukan kami? hal ini saya lakukan demi memperlancar prosesnya." kata Marco sedikit ragu.
Hansel mengernyitkan dahi, "Bertemu seseorang? siapa?" tanya Hansel.
"Tuan Bronch. Darren Bronch. Beliau adalah pengacara yang ditunjuk saat membacakan isi surat wasiat, bukan? saat saya menghubungi nomor ponselnya dan berkunjung ke alamat rumahnya, beliau sudah tidak ads di tempat. Apakah Anda tahu beliau ads di mana? saya sudah mencari, namun tidak ditemukan keberadaanya." jelas Marco.
Hansel melebarkan mata, "Tidak mungkin. Paman Darren menghilang begitu saja. Apa Paman melakukan seuatu padanya?" sentak Hansel kaget.
"Tenang dulu, Hans. Menurut kami tidak terjadi apa pun padanya. Kami sudah menggali informasi dan menemukan jika ia memang sengaja pindah karena tidak lagi bekerja di firma hukum karena ulah Ergy Feliks yang meblokir akses. Sayangnya, orang-orangku tidak bisa menemukan jejak kepergiannya. Kami bertanya seperti ini padamu, mungkin saja kau tau di mana Tuan Darren Bronch berada." kata Charlie menjelaskan. Charlie tahu Hansel pasti sangat panik. Karena hubungan kedua orang itu yang terlampau baik.
Hansel diam berpikir, ia mengusap wajahnya masih dengan wajah yang gelisah dan khawatir. Melihat ekspresi wajah Hansel yang seperti itu, Marco merasa tidak enak. Ia memalingkan wajah menatap Charlie. Charlie mengangguk, seakan mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.
"Anda tidak perlu buru-buru, Tuan. Saya hanya ingin menghadirkan beliau sebagai saksi karena beliau lah satu-satunya kuasa hukum yang ditunjuk mendiang Tuan Feliks. Dengan bukti yang sudah saya punya, kita bisa membuat surat gugatan langsung untuk Paman Anda, Ergy Feliks."
Hansel mengembuskan napas perlahan, "Hal itu, saya serahkan saja kepada Anda. Saya tidak begitu memahami hukum. Silakan Anda melakukan tugas Anda tanpa terbebani oleh saya," kata Hansel.
"Baik, Tuan. Saya akan mulai prosesnya hari ini. Besok atau lusa, pasti akan langsung bisa dipastikan. Jika orang itu akan mendapatkan surat panggilan." jelas Marco.
"Baik, Tuan Waller. Terima kasih atas kerja keras Anda. Saya bergantung sepenuhnya pada Anda," kata Hansel tersenyum ramah.
"Sama-sama, Tuan Feliks. Terima kasih juga untuk Anda, Tuan Charlie. Saya senang bisa membantu Nona Robert. Saya pasti akan berkerja semaksimal mungkin pada kasus ini." ungkap Marco.
"Saya menantikan kejutan dari Anda," sahut Charlie tersenyum. Yang juga dibalas senyuman oleh Marco.
Ketiganya menikmati makan siang bersama setelah pembicaraan panjang. Hansel merasa sedikit lega, setidaknya ia merasa masalahnya pasti akan terselesaikan. Meski tidak tahu pasti, kapannya dan seperti apa akhirnya. Pikirannya teralihkan pada sesuatu. Hansel penasaran akan keberadaan Darren.
......*****......
__ADS_1