
Hari H pernikahan Charlie dan Jesslyn diadakan. Hansel dan Micheline hadir memberikan ucapan selamat. Sepasang pengantin yang baru saja mengikat janji suci pernikahan itu, tampak bahagia. Charlie terlihat tampan begitu juga Jesslyn yang terlihat cantik.
"Selamat atas pernikahan kalian. Wah-wah, Pak kepala Sekretaris yang kukira tak akan melirik perempuan bahkan akan menjadi seorang ayah. Aku ikut berbahagia, Charlie, Jesslyn." ucap Micheline memberi selamat.
"Terima kasih, Nona." sahut Jesslyn gembira.
"Terima kasih. Berkatmu juga aku bertemu Jesslyn, kan? Semoga kalian berdua juga cepat-cepat mendapat kabar baik," jawab Charlie mendoakan.
"Selamat atas pernikahan kalian, Charlie, Jesslyn. Semoga berbahagia dan tidak pernah terpisahkan sampai maut datang," ucap Hansel memberi selamat sekaligus mendoakan.
"Terima kasih, Hans." jawab Jesslyn.
"Terima kasih, Hans. Semoga acara kalian juga lancar nanti," jawab Charlie.
"Ya, semoga saja. Aku pun tidak sabar menantikannya," jawab Hansel.
Setelah memberi ucapan dan mendoakan Charlie juga Jesslyn. Hansel dan Micheline duduk menikmati pesta. Hansel menggenggam tangan Micheline, membuat sang empu menatap ke arah Hansel.
"Ada apa?" tanya Micheline.
"Aku tidak sabar menantikan hari pernikahan kita," jawab Hansel.
"Aku juga. Melihat Charlie yang bermuka dinding hari ini terus menerus tersenyum, membuatku berpikir jika pernikahan pasti sangat membahagiakan. Bukankah begitu?" jawab Micheline.
"Ya, itu juga yang kupikirkan." jawab Hansel.
"Semoga pernikahan kita tidak ada kendala apapun. Kau tahu kan, akhir-akhir ini ada saja tikus pengganggu yang mengacau. Oh, ya. Hansel, setelah dari sini, aku akan ajak kau ke suatu tempat." kata Micheline.
Hansel mengernyitkan dahinya, "Ke mana?" tanya Hansel menatap Micheline tajam.
"Ke mana saja asal tidak terpisahkan," jawab Micheline berbisik.
Hal itu, tentu saja mengejutkan Hansel. Wajah Hansel seketika memerah. Micheline memang pandai menggoda hati. Hansel tersenyum tipis, ia merasa aneh dan senang saat kata-kata manis itu terucap dari bibirnya. Melihat Hansel yang malu-malu, membuat Micheline semakin ingin menggoda Hansel.
"Kenapa wajahmu merah, sayang? kau demam?" tanya Micheline, ia menjulurkan tangan menyentuh dahi Hansel.
__ADS_1
Hansel tersentak sedikit kaget, "Ti, ti, tidak ada. Aku baik-baik saja. Tidak sakit," jawabnya sedikit terbata-bata.
Micheline tertawa kecil, "Kau lucu sekali, Hans. Apakah sesenang itu kau kupanggil sayang? jika kau sangat menyukainya akan ku lakukan seterusnya. Aku akan memanggilmu sayang," kata Micheline menatap Hansel lekat.
Hansel menganggukkan kepalanya perlahan, "Kau kau tidak keberatan. Apa boleh aku memanggilmu begitu? aku juga ingin memanggilmu, sayang." ucap Hansel lirih sambil malu-malu.
"Tentu saja boleh. Kau boleh melakukannya, Hans. Karena aku memang kesayanganmu, kan. Jangan ragu jika kau ingin seperti itu, lakukan saja. Aku tidak keberatan sama sekali," jawab Micheline.
"Kenapa aku jadi malu-malu seperti ini, ya. Biasanya aku kan memang langsung memanggilnya sayang tanpa ragu padanya. Hah, semenjak saling tahu hati masing-masing aku jadi salah tingkah sendiri," batih Hansel.
*****
Pesta akhirnya selesai. Micheline dan Hansel langsung berpamitan. Keduanya pergi meninggalkan lokasi pesta pergi menuju suatu tempat yang tidak diketahui tempat apa itu oleh Hansel.
Ditengah perjalanan, mengusir keheningan. Micheline mengajak Hansel berbincang. Micheline menanyakan tentang apa yang akan Hansel lakukan dengan perusahaan keluarganya
"Apa ada pergerakan dari pamanmu?" tanya Micheline.
"Ada apa? pergerakan apa?" tanya balik Hansel.
"Pengadilan kan sudah memutuskan jika perusahan dan semua milik mendiang orangtuamu kembali padamu. Yang secara tidak langsung membuat Ergy tidak memiliki apa-apa. Bahkan rumah yang ditinggalinya, bukankah rumah peninggalan orangtuamu?" kata Micheline.
"Jadi, apa kau mau ambil alih semuanya? tidak mungkin kau biarkan begitu saja, kan?" tanya Micheline lagi.
Hansel mengusap tengkuknya sndiri, "Entahlah. Aku tidak tahu. Apa yang harus aku lakukan sekarang," jawab Hansel.
"Apa kau butuh bantuan?" tawar Micheline.
Hansel mengangguk, "Ya. Aku butuh kau selalu ada di sisiku. Jangan pernah pergi ataupun berpaling dariku tanpa izin dariku," kata Hansel yang masih fokus mengemudi.
Micheline menaikan sebelah alisnya, "Ah... soal itu lain lagi. Maksudku tadi, aku..." kata-kata Micheline terhenti. karena tiba-tiba Hansel menepikan mobil dan mendadak menghentikan laju mobil. Membuat Micheline bingung dan hanya menatap Hansel. "Ada a..." ucapan Micheline terhenti oleh Hansel yang keburu menciumnya.
Hansel memperdalam ciumannya. Micheline bisa merasakan sesuatu, rasa yang berbeda dari sebelumnya. Lewat ciuman itu, ia seakan tahu perasaan Hansel yang campur aduk. Beberapa detik berikutnya, Hansel melepas ciumannya. Ia menatap Micheline dan membelai wajah Micheline.
"Bisakah kita bicarakan tentang masa depan kita saja? maafkan aku, aku pun tidak tahu harus bagaimana. Aku bingung," ucap Hansel murung yang lalu menundukan kepala.
__ADS_1
Micheline mengusap wajah Hansel, "Inilah yang ingin aku sampaikan tadi. Jika kau butuh bantuanku, aku akan bantu. Aku akan menghormati apapun keputusanmu. Jika kau memang ingin turun tangan mengelola apa yang orangtuamu tinggalkan untukmu, aku siap membantu semampuku. Jika memang kau ingin melimpahkan pada orang lain, aku akan mencarikan orang yang tepat yang bisa diandalkan. Tentu saja, orang itu akan bekerja dibawah kendali kita. Pikirkan baik-baik, tidak perlu terburu-buru. Maaf jika aku bertanya di waktu yang tidak tepat," ucap Micheline menjelaskan.
Hansel menutup matanya sebentar merasakan belaian lembut tangan Micheline di wajahnya. Ia kembali membuka mata dan memeng tangan Micheline yang menyentuh wajahnya, diciumnya punggung tangan juga telapak tangan Micheline, lalu di letakannya tangan Micheline lagi di wajahnya.
"Terima kasih, sayang. Aku bahagia ada kau yang selalu mendukung dan memberiku semangat," ucap Hansel.
"Ya, sama-sama. Aku akan selalu ada untukmu. Ayo, jalan lagi. Sebentar lagi kita akan sampai." kata Micheline.
Hansel mengangguk, "Ya," jawabnya yang langsung mengecup kening Micheline dan kembali melajukan laju mobil yang sempat terhenti.
*****
Keduanya tiba di sebuah rumah sederhana. Rumah satu lantai dengan halaman yang tidak begitu luas. Namun di halamannya penuh dengan bunga yang menghiasi.
Hansel melihat sekeliling, "Ini rumah siapa?" tanya Hansel.
"Kau akan segera tahu," jawab Micheline tersenyum yang langsung menggandeng tangan Hansel, "Ayo..." ajak Micheline yang langsung menarik tangan Hansel mendekati pintu utama rumah tersebut.
Micheline dan Hansel berdiri berdampingan. Micheline menekan bell rumah beberapa kali. Ia melirik arah Hansel, Hansel melirik Micheline. Hansel menaikan sebelah aslinya, ia bingung melihat Micheline hanya tersenyum tipis padanya. Rasa penasarannya memuncak, ingin sekali tahu rumah siapa yang ia datangi.
...*****...
^^^**Yuk, follow ig author^^^
ig: dea_anggie
Jangan lupa like setiap episodenya ya..
Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..
Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..
Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..
Terima kasih semuanya...
__ADS_1
Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..
Salam hangat dari author~~🙂**