My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 75 - Denganmu (Micheline)


__ADS_3

Perhatian!


Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.


*****


Micheline*


Sinar matahari yang hangat menerpa wajahku. Ya, kurasa ini sudah waktunya aku bangun dari tidurku. Kubuka perlahan mataku, pandangan yang masih kabur dan samar juga silau. Aku menyembunyikan lagi wajahku di dalam selimut. Entah mengapa, enggan rasanya aku bangun pagi ini.


Kudengar pintu kamar terbuka, siapa? pikirku. Namun aku tidak penasaran ingin tahu itu siapa. Jika bukan Hansel, lalu siapa lagi. Hanya dia seorang yang bebas dan suka keluar masuk dari kamarku tanpa seizinku. Langkah kakinya semakin dekat, aku merasakan tempat tidurku bergoyang. Sepertinya duduk, atau apalah itu terserah saja asal dia tidak menggangguku.


"Pagi sayang," sapanya memelukku. Lalu mencium keningku dengan lembut.


Aku terkejut, saat aku menurunkan selimut dan melihatnya, ia hanya mengenakan kimono handuk dengan bagaian dada yang setengah terbuka.


"Kau sudah bangun?" tanyanya lagi padaku.


Aku hanya mengangguk, ia tidur di sampingku menghadapku. Tangannya mengusap-usap pipiku lembut. Juga membelai rambutku. Ia pun tersenyum tampan di hadapanku. Sungguh, aku sangat menyukai senyumannya. Senyuman yang terasa hangat memukau.


Tidak pernah sekalipun aku melihatnya tersenyum se-bahagia ini jika dengan orang lain. Aku merasa hanya saat bersamaku ia seperti ini. Apakah ini hanya perasaanku? entahlah, apapun itu, aku menyukainya yang seperti ini. Sisinya yang memelas atau kesalpun aku juga sudah melihatnya. Sisinya yang...


Astaga, apa yang kau pikirkan Micheline? pikiranmu sungguh sangat kotor. Bagaimana bisa kau memikirkan hal-hal erotis di saat seperti ini.


Aku tanpa sadar memikirkan sesuatu hal berkaitan dengan kemampuannya di atas temoat tidur. Ia sangat handal dan mahir, bahkan aku sangat, sangat ragu padanya. Benarkah hanya aku teman bercintanya? atau ada perempuan lain yang dibuatnya mengerang penuh kenikmatan? jika mendengar pengakuannya, ia mengatakan tidak pernah sekalipun melakukannya dengan perempuan lain. Hanya aku satu-satunya perempuan yang pernah ia sentuh.


"Kenapa kau diam saja? apa kau merasa tidak enak badan? di mana yang sakit?" tanyanya lagi mulai mencecarku. Ia begitu khawatir dan cemas jika aku hanya diam membisu.


Aku tersenyum lagi, "Aku tidak apa-apa, Hans. Aku hanya sedang berpikir saja," jawabku.


Hansel tiba-tiba mendekatkan keningnya ke keningku, memnuat kening kami saling bersentuhan. Tidak hanya kening, aku merasakan hidung mancungnya juga menyentuh hidungku.


"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya lagi. Lagi, lagi, ia penasaran dengan apa yang aku pikirkan.


"Apa kau penasaran? kau sungguh ingin tahu?" jawabku memancing.


Ia mencium hidungku, "Ya. Aku snagat ingin tahu." Jawabnya menekankan kata-katanya.


"Aku hanya memikirkan hal yang tidak perlu. Aku berpikir, apajah benar hanya aku seorang teman tidurmu? ah... maksudku, teman bercintamu juga." kataku. Aku melihat tajam matanya yang seperti mata elang itu.

__ADS_1


Senyummya mengembang, "Percayalah. Hanya kau yang pertama dan akan menjadi yang terakhir. Aku bukan laki-laki yang akan berganti-ganti pasangan hanya karena nafsu. Aku menyukaimu, aku menyayangimu, dan mencintaimu. Hanya kamu, mau itu kemarin, esok atau masa yang akan datang." jawabnya.


Mendengar jawabannya, membuat jantungku berdegup. Ini aneh, tidak pernah aku rasakan jantungku kacau seperti ini. Di awal ia menyatakan perasaannya pun, dadaku tidak se-berdebar ini. Aku sangat senang bercampur lega. Mungkin inilah perasaan semua perempuan yang mendapat pernyataan cinta dari laki-laki.


Sesaat aku lupa jika aku mengulur waktu untuk membalas perasaanya. Namun aku tidak bisa memungkiri hatiku yang mulai berdebar karenanya. Hansel adalah laki-laki yang peduli dan perhatian padaku. Ia selalu khawatir juga cemas setiap aku dalam keadaan tidak baik atau mengalami kesulitan.


Aku memeluknya sesaat setelah ia bicara. Rasanya sangat hangat dan nyaman. Pelukan yang dulu aku rasa biasa-biasa saja. Kini perlahan aku mulai bisa merasakan kehangatan disetiap dekapannya. Andaikan waktu terhenti, aku ingin terus ada dalam kehangatan ini.


"Ada apa, Eline. Kau tidak seperti biasanya. Katakan padaku dengan jujur," katanya berbisik.


"Aku sungguh tidak apa-apa, Hans. Aku hanya senang, aku merasa nyaman saat berada dalam pelukanmu seperti ini. Aku harap kau tidak pernah bosan memelukku," kataku secara tidak sadar. Aku mengutarakan apa yang aku pikirkan begitu saja.


Hansel melepaskan pelukanku. Ia menatapku dalam dan langsung mencium bibirku dengan sangat lembut. Ia mencium hidungku lalu mencium bibirku lagi.


"Aku akan memelukmu setiap waktu, kapan pun itu. Katakan saja jika kau ingin kupeluk. Aku kan juga langsung memelukmu saat aku ingin. Ok," katanya menjelaskan padaku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum karena senang.


Diciumnya keningku, kedua pipiku, hidungku lalu turun ke dagu. Ia melahap bibirku lagi. Kali ini aku bisa merasakan perasaanya. Ciuman ini tidak pernah membuatku bosan, aku selalu menginginkannya setiap aku melihat bibir Hansel. Pikiranku mulai tidak karuan, melayang entah kemana. Kemampuannya berciuman sangat luar biasa. Hanya dengan bersentuhan bibir, ia membuatku terbang seperti balon yang terisi gas.


Aku mengalungkan tanganku, membalas ciumannya. Ia selalu memberiku kesempatan untukku bisa melakuakan apa yang aku inginkan. Ia selalu mengalah saat aku mulai mendominasinya. Tatapan mata kami bertemu sesaat. Kupejamkan mataku lalu aku mulai merasakan ciumanku sendiri. Aku pun ingin selihai dan semahir Hansel dalam bermain lidah.


Aku merasakan sesuatu, tangan nakal seseorang sudah mulai berkeliaran. Ya, itu tangan Hansel yang mencari mangsa. Aku tidak heran jika tangannya selalu menjalar ke mana-mana seperti tanaman rambat. Ia menemukan mangsa, direm*snya mangsanya itu membuatku merasakan sensasi hangat yang semakin membuatku kelabakan.


"Hans..." kataku memanggil namanya dengan terbata.


"Hm," gumamnya sibuk menciumi punggungku. Ia pun menatapku dan bertanya padaku, "Ada apa?" tanyanya.


"Bagaimana bisa kau begitu luar biasa?" tanyaku. Ini pertanyaan ter-gila yang aku lontarkan pada seseorang.


Pikiranku kacau sekali. Aku tidak bisa berpikir jernih dan manyaring ucapanku pada Hansel. Aku mengatakan apa yang yang aku pikirkan tanpa menyusun kata-katanya lebih dulu. Aku malu, aku yang bertanya aku juga yang merona.


"Itu karenamu," jawabnya. Jawabannya membuatku beroikir keras.


"Apa maksudnya, aku tidak mengerti." sahutku. Aku tidak mau capek berpikir hal-hal rumit.


"Karena aku mencintaimu. Aku akan melakukan apa saja untukmu. Anggaplah ini sebagai ucapan budak cintamu, El." katanya.


Aku mengernyitkan dahiku, Budak cinta? pikirku.


"Ayo, kita selesaikan apa yang sudah kita mulai. Jangan katakan kau ingin ini berhenti di tengah-tengah. Aku tidak akan biarkan hal itu terjadi," katanya.

__ADS_1


Aku tertawa dalam hatiku. Memang benar, jika aku pasti akan membuat alasan untuk selalu mengukur waktu. Namun kali ini tidak. Sejak semalam, aku ingin mengakhiri apa yang memang aku mulai. Aku ingin melepasnya agar aku merasa puas.


"Ayo, Hans. Lakukan..." kataku dnegan tersenyum nakal. Kupancing laki-laki bertubuh kekar di hadapanku ini untuk memakan umpan.


Belum sampai bibirku tertutup setelah bicara, ia dengan tidak sabarannya menanggalkan kimono handuknya. Ini gila, aku selalu terbelalak setiap melihatnya tanpa pakaian. Bahu yang lebar dan terlihat kuat, dada yang bidang, perut berotot. Membuat ku ingin menyentuhnya.


Hansel pun langsung menindihku ia melakukan pemanasan lagi untuk mendidihkan darah dalam tubuhku. Tidak perlu menunggu lama, beberapa saat kemudian, aku langsung dibuatnya mengerang dan melengkuh. Mulutku langsung mengeluarkan suara dari apa yang dirasakan tubuhku.


"Mmmh..."


"Hhhh..."


Aku begitu menikmati setiap pergerakan erotisnya. Ia memperlakukanku begitu lembut, ia tidak pernah terburu-buru dalam setiap gerkan. Terkadang, ia bertanya apakah aku menikmatinya atau tidak. Bukankah pertanyaannya tidak masuk di akal? jika aku tidak menikmatinya lalu untuk apa aku mengerang dan melengkuh. Tubuhku juga tidak akan bereaksi pada setiap sentuhannya.


Aku menikmatinya. Aku sangat, sangat menikmati saat-saat seperti ini. Entah sejak kapan, aku pun tidak menghitung sudah berapa kali aku bercinta dengan Hansel.


Hansel mulai menggebu. Aku marasakan ia akan mendaki puncak. Gerakan yang lembut, sedikit demi sedikit mulai cepat. Semakin cepat, dan cepat. Sampai akhir di mana kita mencapai puncak kenikmat bersama. Tubuh kami masing-masing banjir oleh keringat, napas kami pun bagaikan seorang yang sudah berlari keliling lapangan.


Hari ku denganmu. Memang selalu panas, Hansel.


...*****...


**Yuk, follow ig author


ig: dea_anggie


Jangan lupa like setiap episodenya ya..


Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..


Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..


Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..


Terima kasih semuanya...


Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..


Salam hangat dari author~~🙂**

__ADS_1


__ADS_2