My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 51 - Tamu Istimewa (1)


__ADS_3

Di Boutique, Hansel sudah rapi dengan stelan jas berwarna hitam. Tata rambut dan penampilannya diperhatikan sedemikian rupa oleh Micheline. Micheline sungguh ingin Hansel berpenampilan semaximal mungkin.


"Apa ini terlalu berlebihan?" kata Hansel bercermin.


Micheline menggeleng, "Kau terlihat tampan dengan gaya seperti itu, Hans." puji Micheline.


"Benarkah?" sahut Hansel tidak percaya diri, "Jika menurutmu ini keren aku akan pakai. Aku tidak ingin mengecewakanmu.;"


Hansel senang, ia berbalik menatap Micheline. Dilihatnya Michelinw juga mengenakan dress berwarna hitam berlengan panjang, tetapi memiliki belahan punggung yang cukup rendah.


"Apa yang kau lihat?" tanya Micheline.


Hansel menggeleng, "tidak ada. Aku hanya sedang mengamati penampilanmu," jawab Hansel.


"Apa ada sesuatu?" tanya Micheline mengamati penampilannya sendiri.


Micheline sampai berbalik dan menatap cermin, mencari apalah ada yang kurang atau ada sesuatu. Namun, ia tidak menemukan apa-apa. Melihat Micheline bingung, Hamsel mendekat. Ia meraba belahan gaun yang memperlihatkan jelas punggung mulus Micheline.


"Apa ini? kau mau pamer?" bisik Hansel.


Micheline kaget, "Singkirkan tanganmu!" seru Micheline pelan. Micheline menatap sekeliling, untung saja tidak ada siapa-siapa di ruangan itu selain ia dan Hansel.


Hansel memindahkan rambut Micheline yang tersampir di bahu kiri ke belakang. Hansel ingin Micheline menutupi belahan gaun yang memperlihatkan punggung Micheline. Hansel tersenyum setelah merapikan rambut Micheline.


"Begini lebih cantik," puji Hansel yang langsung mencium kening Micheline.


Micheline melebarkan mata, "Lagi-lagi dia seperti ini," batin Micheline.


"Jika seperti ini hanya aku yang akan melihat mulusnya kulitmu. Tidak boleh ada laki-laki lain yang melihatnya," batin Hansel merasa puas.


Micheline merasa aneh, tetapi ia tidak menolak apa yang Hansel lakukan. Ia hanya menanggapi Hansel dengan senyuman.


"Sudah selesai, kan? ayo berangkat dan kita mulai pertunjukan," kata Micheline, mengajak Hansel cepat berangkat.


"Pertunjukan?" gumam Hansel, "Ah, entah apa yang kau bicarakan. Ayo," jawab Hansel.


Hansel mengulurkan tangan dan disambut oleh Micheline. Keduanya berjalan keluar dari ruangan. Mereka segera meninggalkan Boutique.


*****


Pesta meriah diselanggarakan untuk memperingati hari ulang tahun. Sang empu sedang menyambut para tamu dan menyampaikan separah dua patah kata untuk mengucapkan syukur atas bertambahnya umur.


Banyak tamu yang hadir. Semua bergantian mengucapkam selamat ulang tahun dan bertambah umur. Salah satu tamu undangan yang diundang adalah Micheline. Dan, seseorang yang dulunya berhubungan dekat dengan Hansel.


Oleh karena itu, Micheline mengajak Hansel ikut bersamanya. Agar Hansel bisa bertemu dan seseorang itu. Micheline ingin Hansel menunjukan pada seseorang itu seperti apa kehidupannya saat ini.


"Selamat ulang tahun, Tuan Ware."


"Terima kasih, Tuan Feliks. Senang bisa bertemu Anda."


"Saya juga. Anda terlihat lebih baik dari sebelumnya. Sepertinya bisnis anda berjalan dengan sangat lancar."


"Hahaha... Anda terlalu memuji. Anda lah yang semakin sukses. Perusahaan Anda semakin berkembang."

__ADS_1


"Semua karena kerja keras, Tuan Ware."


"Ya... Anda benar."


Kedua orang itu berbincang-bincang. Mereka membicarakan banyak hal sambil menikmati jamuan pesta. Selain membicarakan bisnis, mereka juga membahas tentang hal lain. Saat asik berbincang, seorang pelayan datang menghampiri dan menyampaikan pada sang empu perayaan jika tamu yang ditunggu baru saja sampai.


"Tuan, Nona Robert baru sampai."


"Oh, di mana dia?"


"Masih berbincang dengan Nyonya."


"Baik, layanilah dia dengan baik. Dia adalah tamu kehormatanku."


"Baik, Tuan." kata pelayan yang lamgsung mengundurkan diri.


"Apakah Anda sedang menunggu seseorang, Tuan?"


"Ya. Aku menunggu rekan bisnis bersarku. Dia baru sampai. Ayo, sekalian saya kenalkan Anda padanya."


"Boleh, Tuan. Silakan."


Martin Ware mengajak Ergy Feliks bersamanya. Mereka hendak menemui Micheline yang sedang berbincang dengan Istri dadi Martin Ware.


Martin menyapa Istri dan Micheline, "Sayang... Kau sudah bertemu Noa Robert rupannya," kata Martin menatap istrinya lalu menatap Micheline, "Hallo, Nona Robert. Selamat datang," sapa Martin ramah.


"Hallo, Tuan Ware. Selamat ulang tahun. Semoga terus diberi kesehatan dan panjang umur. Berkat Tuhan kiranya selalu berlimpah ruah."


"Terima kasih, Nona. Senang sekali Anda bisa menghadiri pesta sederhana yang saya selenggarakan. Ini merupakan suatu kerhormatan bagi saya," ucap Martin menyanjung Micheline.


"Oh, jika berkenan saya akan perkenalkan seseorang."


"Silakan," jawab Micheline, yang langsung melihat seseorang si samping Martin.


"Perkenalkan, Tuan Feliks. Rekan bisnis saya."


"Ah... inikah Ergy Feliks? sesuai yang difoto. Tampangnya sudah menggambarkan jelas isi hatinya," batin Micheline.


Micheline tersenyum ramah, "Hallo, Tuan Feliks. Suatu kerhormatan mengenal Anda. Namun, sepertinya nama Feliks tidak terdengar asing."


Ergy melebarkan mata, "Feliks adalah nama keluarga saya. Apakah Anda pernah bertemu saya sebelumnya, atau putra saya?" tanya Ergy.


Micheline memasang wajah bingung, "Mungkin saja, tetapi saat saya bertanya ia mengaku sebatang kara. Bagaimana, ya?" jawab Micheline.


"Mungkin saja nama belakang kami saja yang mirip, Nona. Bukankah itu bukan hal yang mengejutkan?" sahut Ergy.


"Oh..." gumam Micheline, "Mungkin lebih baiknya Anda berdua berkenalan secara langsung saja. Kebetulan saya mengajaknya," jawab Micheline.


"Anda bersama seseorang, Nona? siapa?" tanya Martin.


"Seseorang yang sangat-sangat istimewa tentunya. Asisten pribadiku," jawab Micheline.


"Di mana Asisten Anda?" tanya Martin lagi.

__ADS_1


"Di mana, ya?" gumam Micheline pura-pura mencari, "Ah... tadi aku minta dia ambilkan sesuatu di mobil. Aku meninggalkannya dan masuk duluan ke sini. Mungkin saja..." tiba-tiba saja ucapan Micheline terhenti karena Hansel memanggilnya.


"Bu CEO..." panggil Hansel yang berjalan mendekati Micheline lalu memberikan tas milik Micheline.


"Oh... Terima kasih," jawab Micheline dengan suara lembut, Micheline menatap Hansel dan tersenyum, "Ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu, Beliau yang penyelenggara pesta ini. Tuan Ware..." ucap Micheline memperkenalkan Hansel pada Martin.


Hansel tersenyum memalingkan pandangan dari Micheline ke Martin. Ia dan Martin saling berjabat tangan memeperkenalkan diri. Martin langsung memperkenalkan Ergy, Ergy dan Hansel saling bertatap muka satu sama lain. Keduanya sama-sama terkejut, tidak menduga akan bertemu setelah sekian lama. Rasa canggung muncul, Namun Micheline menyela dan membuat suarana lebih mencengkam.


"Hallo, Tuan."


"Ya, Tuan. Perkenalkan saya Martin Ware."


"Saya Hansel."


"Beliau adalah rekan bisnis saya, Silakan Anda berdua berkenalan."


Hansel terkejut melihat Ergy, "Paman..." batinnya.


Ergy terkejut melihat Hansel, "Hansel..." batin Ergy.


Keduanta sama-sama kaget dan melebarkan matanya. Tidak menduga akan bertemu satu sama lain. Selama berbulan-bulan mereka tidak bertemu, dan akhirnya bertemu di pesta yang diselenggarakan oleh Martin.


"Dialah orang yang aku maksud tadi, Tuan Feliks. Bukankah nama kalian terdengar mirip? apakah aku salah dengar? bagaimana pendapat Anda, Tuan Ware?" tanya Micheline berpura-pura heran.


"Ya. Sepertinya begitu," jawab Martin yang juga merasa heran.


Hansel memalingkan wajah menatap Micheline, "Apa ini semua?" batin Hansel seakan bertanya-tanya pada Micheline.


Micheline tersenyum dan menepuk bahu Hansel, "Ayo, tunjukan kemampuanmu, Hans. Buat Pak tua di hadapanmu tercengang," batin Micheline juga.


Hansel menatap dalam dan mengangkat satu alisnya, Micheline mengedipkan mata seakan memberikan isyarat pada Hansel. Ia mengerti sekarang, apa yang harus ia lakukan.


"Apa ini rencanamu, Eline? di luar dugaanku. Kau benar-benar memberikan 'pelatihan' di sini, ya. Sungguh aku yang selalu gagal menebak apa isi pikiranmu," batin Hansel.


"Baiklah, jika sudah seperti ini. Hanya perlu tidak mengenali saja, kan? bukan, bukan, bukan tidak mengenali. Memang seharusnya dari awal aku tidak kenal orang jahat ini. Hah..." batin Hansel sedikit kesal saat mengingat kejadian pada masa lalu.


"Sepertinya Anda salah menduga, Bu CEO. Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Tuan yang ada di hadapan saya." jawab Hansel tegas.


Ergy kaget, "Apa?" katanya seperti tersentak.


"Brengs*k! kau bahkan tidak mengakuiku sebagai Pamanmu," batin Ergy kesal. Kedua tangannya mengepal erat.


"A-apa ada sesuatu, Tuan?" tanya Martin.


"Ti-tidak ada sesuatu. Saya baik-baik saja, Tuan."


Micheline tersenyum, "Kerja bagus, Hans. Sesuai dugaan, kau memang bisa mengeluarkan sisi iblismu. Aku bangga padamu," batin Micheline memuji Hansel.


"Oh, maafkan aku. Mungkin aku yang terlalu banyak berpikir," gumam Micheline, "Baiklah, Tuan Ware. Apakah saya boleh menghirup udara segar dulu di luar? kita akan bicara lagi nanti," kata Micheline.


"Baik, Nona. Silakan saja," jawab Martin.


Micheline merangkul tangan Hansel dan pergi ke luar gedung tempat pesta di selenggarakan. Micheline ingin tahu apa yang Hansel pikirkan. Apa yang Hansel rasakan.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2