My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 70 - Menyerah Atau Menyesal (4)


__ADS_3

Charlie dan Hansel menunggu dengan gelisah. Keduanya kaget saat mendengar suara tembakan. Hansel ingin keluar dari dalam mobil dan menyusul Micheline, namun ditahan oleh Charlie.


"Bersabarlah, Hans." kata Charlie.


"Kau gila? aku kau tuli sampai tidak mendengar suara tembakan," sentak Hansel.


"Aku tidak tuli. Pendengaranku masih sangat bagus! aku juga tidak buta sampai tidak bisa melihat keadaan. Lihatlah, tidak ada suara teriak Michel, kan? Bisa kau tenang sekarang?" sentak balik Charlie.


Hansel gelisah, "Tembakan apa tadi? Micheline tidak terluka, kan?" batin Hansel.


Keduanya saling diam. Larut dalam pemikiran masing-masing. Saat suasana mulai mencair, terdengar lagi suara tembakan kedua dan disusul tembakan ketiga. Charlie mengepalkan tangan. Ia merasa takut, namun juga engan untuk turun karena ia menyakini semua akan baik-baik saja.


Beberapa saat kemudian. Hansel yang sudah tidak tahan akhimya memutuskan untuk menyusul Micheline. Ucapan Charlie tidak dihiraukannya lagi. Ia membuka pintu dan ingin keluar dari dalam mobil. Saat pintu mobil baru terbuka sedikit, Ia melihat Micheline yang berjalan cepat, disusul seorang laki-laki yang menggendong perempuan.


"Eline..." gumam Hansel terkejut.


"Tutup pintunya kita akan ikuti mereka," kata Charlie pada Hansel.


Hansel menutup kembali pintu mobil. Charlie dengan segera mengemudikan mobilnya menyusul mobil Micheline yang baru saja melesat pergi meninggalkam rumah Matteo dan Bella. Hansel dan Charlie menyimpan rasa penasaran meraka. Yang mereka lihat Micheline terlihat buru-buru. Pasti ada keadaan darurat yang terjadi.


*****


Di rumah sakit, Bella dan Matteo langsung mendapatkan perawatan. Karena tidak ada wali lagi, terpaksa Micheline menjadi wali keduanya. Micheline mondar-mandir. Hatinya begitu resah, bukan karena khawatir atau emrasa bersalah. Melainkan ia tidak mengerti apa-apa perihal kehamilan Bella.


"Apa Faello sengaja menyembunyikannya?" gumam Micheline. "Lebih baik aku hubungi saja si tua genit Faello itu. S*al sekali, misiku gagal karena kurang lengkapnya informasi yang aku dapatkan." katanya kesal.


Segera Micheline menghubungi Faello. Di telepon Micheline langsung menegur Faello dan menanyakan perihal kehamilan Bella. Micheline merasa dipermainkan oleh Faello.


"... katakan yang sebenarnya, Faello. Kau penipu!" sentak Micheline geram.


"Tunggu, tunggu, apa maksudmu? penipu apa, Micheline? kau jangan sembarangan menuduhku," jawab Faello.


"Apa kau tahu Bella sedang hamil? kau sengaja membuatku mencelaki ibu hamil begitu? kau ini membuatku kesal saja," kata Micheline mencecar Faello.


"Apa? hamil?" kaget Faello, "Sejak kapan? aku tidak tahu jika dia hamil. Karena sebelumny ia sudah pernah mengalami keguguran dan dokter pernah mengatakan jika dia akan sulit untuk bisa hamil lagi." jelas Faello.


"Hah..." hela napas Micheline, "Aku di rumah sakit sekarang. Bella tertembak olehku di bahu kanannya, dan adikmu di pergelangan tangan. Mereka mencoba melukaiku lebih dulu. Aku hanya memberikan perlindungan." jelas Micheline membela diri.


"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Faello.


"Ya. Aku langsung membawa mereka ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung mendapatkan perawatan." jelas Micheline lagi.


"Baiklah. Aku akan ke sana melihat keadaan keduanya. Maaf sudah merepitkanmu dan mmebuatmu dalam keadaan sulit karena aku kurang teliti." ucap Faello meminta maaf.


"Tidak apa. Lupakan saja," jawab Micheline, "Jika ingin datang, maka datanglah. Jangan hanya banyak bicara," kata Micheline yang tiba-tiba mengakhiri panggilannya.


Micheline duduk, ia menunggu kabar dari Matteo dan Bella yang masih ditangani oleh dokter. Ia berharap anak yang tidak berdosa dalam kandungan Bella tetap sehat. Meski enggan meminta maaf, setidaknya ia masih punya hati nurani dengan mengantar Bella juga Matteo ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


Lama Micheline menunggu. Tim dokter ternyata langsung melakukan tindakan operasi guna mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu Bella, dan di pergelangan tangan Matteo. Micheline sudah menandatangani surat-surat yang membutuhkan tanda tangannya sebagai wali, ia juga sudah membayar lunas semua biaya administarasi.

__ADS_1


*****


Operasi selesai. Peluru yang bersarang berhasil diangkat keluar. Dokter juga sudah memberikan perawatan terbaik pada Bella dan Micheline. Tidak hanya itu, dokter juga menyampaikan jika kondisi kandungan Bella tidak mengalami gangguan. Semua baik-baik saja.


Micheline merasa bersyukur, setidaknya ia tidak mencelakai calon bayi yang tidak berdosa. Papa dan Mama calon bayi memang seorang yang br*ngs*k. Tetapi anak yang tidak tahu apa-apa tidak akan ia libatkan dalam perseteruan.


"Huh... akhirnya semua baik-baik saja," batin Micheline.


Micheline merasakan sesuatu. Seperti ada yang terus mengawasinya, tetapi ia tidak tahu siapa yang mengawasinya. Micheline mengklaim ia terlalalu lelah dan banyak berpikir.


"Seperti ada yang terus menatapku. Siapa, ya?" batin Micheline melihat sekeliling, "Apa cmn perasaanku saja? mungkin aku banyak berpikir yang tisak perlu. Aku ke kamar mandi dan cuci muka dulu saja. Baru setelah itu pergi melihat keadaan Matteo dan Bella."


Ia berdiri dari posisi duduknya di ruang tunggu. Micheline pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya agar terlihat lebih segar.


*****


Charlie dan Hansel diam-diam mengawasi Micheline. Keduanya bersembunyi dan berpura-pura sebagai penunggu pasien yang terlihat sedang mmwbaca buku dan bermain ponsel. Karena Hansel dan Cahrlie memakai topi, Micheline tak bisa melihat jelas wajah keduanya.


Sampai pada saat Mucheline merasakan ada sesuatu yang tidak aneh. Seperti sedang di awasi. Ia melihat sekeliling ingin tahu siapa yang mengawasinya. Hampir saja Hansel dan Charlie ketahuan oleh Micheline.


"Apa kita ketahuan?" bisik Hansel.


"Hampir saja, Hans. Kau ini bagaimana? bisa tidak tenang sedikit," bisik Charloe kesal bercampur gemas.


"Maaf, aku sangat penasaran dan ingin segera menghampirinya." kata Hansel lagi.


"Ya. Ayo..." jawab Hansel setuju.


Keduanya lalu pergi menemui perawat yang memang bertugas menjaga Matteo dan Bella yang sedang mendapatkan perawatan.


*****


Saat dalam perjalanan menuju kamar mandi, Micheline tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Ia lupa memberitahu perawat jika ia sudah meminta pihak rumah sakit untuk merawat Matteo dan Bella dalam satu ruangan. Micheline sudah membayar biaya ruang khusus VIP.


"Ah, aku lupa. Perawat tadi, tahu tidak, ya? aku kembali saja beritahu lalu pergi ke kamar mandi." gumamnya yang langsung berbalik dan berjalan cepat untuk kembali.


Micheline berjalan melangkah setengah berlari. Ia tidak ingin membuang waktu meski hanya sedetik pun. Ia sudah tidaj jauh dari tempat perawat jaga, dari kajauhan Micheline melihat perawat jaga sedang bicara dengan dua laki-laki yang memiliki postur tubuh tidak asing bagi Micheline.


Micheline mengernyitkan dahi, "Sepertinya orang tidak asing," gumamnya berpikir, "Siapa, ya?" gumamnya lagi.


Seketika Micheline langsung melebarkan mata, "Oho... aku ingat siapa. Tidak salah lagi. Mereka pasti Charlie dan Hansel. Aku bisa dengan jelas tahu meski mereka membelakangiku seperti ini. Awas saja kalian, ya." kata Micheline murka.


Micheline berjalan cepat dan berdiri tepat dibelakang Hansel dan Charlie. Perawat melebarkan mata melihat Micheline tersenyum dengan aura jahat dibelakag dua laki-laki yang sedang bertanya padanya. Namun Micheline memberi isyarat untuk perawat agar pura-pura tidak melihatnya dan mengabaikannya.


"Maaf, apa terjadi sesuatu?" tanya Charlie.


"Ti-tidak, Tuan. Maafkan saya, jika Anda berdua ingin tahu lebih banyak. Bisa menemui dokter yang merawat kedua pasien." jawab peeawat merasa takut akan tatapan mata Micheline.


"Senyumanya cantik, tetapi juga mengerikan. Mimpi buruk apa aku semalam, sampai-sampai di hadapkan dengab hal rumit seperti ini. Tolong aku Tuhan," batin perawat khawatir.

__ADS_1


"Oh, baiklah jika seperti itu. Apa perempuan cantik berambut cokelat panjang diikat terluka? dia baik-baik saja, kan?" tanya Charlie lagi.


"Anda tidak perlu cemas. Kami adalah anggota keluarganya. Kami memang sengaja diam-diam mengikutinya karena khawatir," sambung Hansel. Yang langsung disambut anggukan oleh Charlie.


Perawat menatap Micheline, "No, no, nona cantik itu baik-baik saja. Beliau tidak terluka, Tuan. Maaf, saya sedang banyak pekerjaan. Silakan anda menunggu dokter untuk bisa bertanya lebih detailnya," kata perawat.


"Baiklah jika seperti itu. Terima kasih," kata Charlie.


"Terima kasih," ucap Hansel.


Hansel menghela napas lega, begitu juga Charlie. Keduanya lalu berbalik dan seketika dihadiahi pukulan diperut masing-masing oleh Micheline. Kedua tangan Mucheline langsung mengepal dan meninju perut Charlie dan Hansel bersamaan. Setelah melakukan itu, Micheline tersenyum lebar dengan artian yang bertolak belakang. Tentu saja hal itu mengejutkan Charlie juga Hansel karena mereka diserang secara tiba-tiba.


"Ouch..." lengkuh Hansel.


"Awh... shhh..." desis Charlie.


Keduanya langsung memegangi perut mereka masing-masing dan menatap Micheline kaget. Hampir saja kedua pasang mata laki-laki itu lepas melihat Micheline yang tersenyum cantik mengerikan.


"Mi, Mi, Michel..." panggil Charlie.


"Eline," panggil Hansel. Keduanya bersuara hampir bersamaan.


"Bagus sekali, ya. Berani-beraninya kalian mengabaikan perintahku. Aku akan menguliti kalian berdua nanti, lihat saja." kata Micheline sangat kesal.


"Maafkan kami, El. Ini semua rencananya," kata Hansel melemparkan kesalahan pada Charlie.


Charlie kaget lalu melebarkan mata, "Apa kau bilang? hei br*ngs*k! kau yang merengek seperti anak kecil dan membujukku, kan. Ahh... s*alan kau! berani-beraninya mengatakan hal sampah seperti itu." geram Charlie.


"Bukankah kau duluan yang mencurigai Eline? kau mengatakan tidak akan tinggal diam, kan?" jawab Hansel membela diri.


"Aku..." kata-kata Charlie terpotong oleh Micheline yang semakin kesal mendengar perdebatan keduanya.


"Apa kalian ingin aku lempar keluar tanpa pakaian? Jangan saling menyalahkan! dasar, tidak tahu diri." murka Micheline, "Aku akan beri kalian pelajaran, pentingnya mendenagrkan perintah atasan nanti. Sekarang aku sibuk dan masih ingin menyelesaikan sesuatu dulu dengan Matteo dan Bella." jelas Micheline.


"Lalu kami..." kata Hansel dan Charlie kompak.


Micheline menatap tajam Charlie dan Hansel, "Kalian bisa duduk diam dan menunggu di sebelah sana." jawab Micheline menunjuk kursi-kursi kosong yang digunakan sebagai ruang tunggu.


"Ya," jawab Charlie.


"Aku mengerti," jawab Hansel.


"Ayo cepat duduk. Jangan membuatku mengulangi ucapan," kata Micheline lagi sedikit menyentak.


Charlie dan Hansel berjalan perlahan menuju barisan kursi yang digunakan sebagai ruang tunggu. Keduanya saling bertatapan yang lalu duduk, karena masih kesal antara satu sama lain, mereka memilih duduk dengan berjarak dua kursi. Micheline memijat pangkal hidungnya. Tidak menyangka akan dibuat sakit kepala oleh Charlie dan Hansel.


Sesaat kemuadian, Micheline mengabaikan sebentar masalaha Charlie dan Hansel lalu menemui Micheline. Ia segers memberitahukan apa yang ingin ia sampaikan. Lalu berpamitan. Micheline melangkah menghampiri Hansel dan Cahrlie, meminta keduanya menunggu karena ia ingin pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2