My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 84 - Berharap Hanya Bunga Tidur


__ADS_3

Hansel berada di depan gedung rumah sakit. Ia melihat sekeliling, lalu menghela napas panjang. Ia menadahkan kepalanya sambil memejam. Teringat akan kejadian yang menimpa Micheline membuat Hansel kembali emosi. Ia mengepalkan dua tangannya geram.


"Tidak akan ku maafkan!" batinnya berseru.


Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan langsung menghubungi Charlie. Hansel ingin memastikan apa yang sudah dilakukan Charlie pada Ergy juga Jack. Panggilan Hansel diterima Charlie.


"Ya, Hans. Bagaimana Micheline?" tanya Charlie.


"Tidak baik. Calon bayiku tidak bisa diselamatkan. Micheline masih belum sadarkan diri." jawab Hansel menghela napas panjang.


"Aku turut bersedih atas tidak selamatnya calon anakmu, Hans. Semoga Micheline juga lekas membaik," kata Charlie.


"Di mana si br*ngs*k itu?" tanya Hansel.


"Sudah kuamankan. Kau bisa menemuinya kapan saja. Aku sudah membuatnya sedikit merasakan rasa sakit," kata Charlie.


"Lalu pamanku?" tanya Hansel lagi.


"Orang itu diurus oleh Matteo. Maaf, aku kesal pada pak tua Jack. Jadi aku tadi hanya fokus padanya saja," jawab Charlie lagi.


"Baiklah. Aku masih harus memastikan keadaan Micheline lebih dulu. Menunggunya sampai dipindahkan ke ruang perawatan. Kau tidak perlu seharuan mengawasi mereka. Serahkan dulu pada Matteo dan yang lainnya. Kau bisa pulang dan istirahat jika lelah Charlie. Ajak juga Jesslyn pulang bersamamu. Aku tidak tega melihatnya terus khawatir," kata Hansel.


"Ya. Nanti aku akan ke rumah sakit menjemput Jesslyn sekalian menjenguk Micheline. Aku masih ingin memberi pelajaran pada pak tua ini. Aku tutup dulu teleponmu, ya." kata Charlie.


"Ya," jawab Hansel.


"Oh, bilang pada Jesslyn untuk jangan ke mana-mana. Karena aku akan datang ke rumah sakit. Terima kasih, Hans." kata Charlie yang langsung mengakhiri panggilan Hansel.


Hansel lagi-lagi menghela napas panjang. Ia masih merasakan sesak di dadanya meski mendengar Charlie sudah memberikan pelajaran pad Jack. Baginya itu tidaklah cukup.


"Seharusnya... Nyawa dibayar Nyawa, kan?" batin Hansel.


Ia sudah merasa cukup untuk menghirup udara segar. Saatnya kembali, ia ingin secepatnya bisa melihat keadaan Micheline.


*****

__ADS_1


Charlie bisa merasakan kesedihan Hansel saat di telepon. Meski Hansel menjawab pertanyaanya dengan lancar dan terlihat tegar. Terdengar jelas emosi kekesalan dan kekecewaan.


"Bisa-bisanya pak tua ini," batin Charlie mulai geram, saat ia kembali melihat Jack di depan matanya.


"Matteo, ikut aku dulu sebentar." kata Charlie yang langsung berbalik dan pergi keluar dari dalam ruangan.


"Ya, Tuan." jawab Matteo mengikuti Charlie.


Charlie berdiri membelakangi Matteo, "Aku akan pulang nanti. Kai bisa menyerahkan mereka pada orang-orang di bawah sana jika kau ingin pulang juga. Ada Istrimu yang tengah hamil menunggumu. Jangan biarkan dia khawatir," kata Charlie.


"Ya, Tuan. Saya mengerti. Bagaimana keadaan Nona?" tanya Matteo.


Charlie menggelengkan kepala, "Tidak baik. Dia kehilangan calon bayinya dan masih belum sadarkan diri," jawab Charlie.


Matteo terkejut, ia tidak tahu jika Micheline tengah mengandung. Matteo tahu bagimana perasaan 'takut kehilangan' sama sepertinya, saat sebelumnya ia jugabmerasa takut terjadi apa-apa apda bayinya karena perlakuan kasar Micheline pada Bella, istrinya.


"Apakah kita harus memisahkan dua orang di dalam?" tanya Matteo.


Charlie mengangguk, "Ya. Kita pisahkan saja. Biarkan saja mereka merasakan rasanya kesepian seorang diri di ruangan gelap dan pengap." jawab Charlie.


"Baik, Tuan. Saya mengerti." sahut Matteo.


Charlie menarik kursi lalu dipakainya kursi itu duduk. Ia duduk tepat di hadapan Jack. Ia mengusap kasar wajahnya mengingat apa yang di katakan Hansel. Ia memposisikan dirinya menjadi Hansel, apa yang terjadi jika keadaan Micheline terjadi pads Jesslyn? dengan senang hati Charlie pasti akan menghabisi nyawa Jack tanpa mengulur waktu.


"Seharusnya aku tanya saja, apakah aku perlu membereskannya atau tidak tadi. Arrggghh... membayangkan jika aku berada diposisi Hansel, pasti aku akan gila. Aku pasti akan langsung menebas dua tanganya langsung." batin Charlie.


Cukup lama Charlie berada dalam posisi seperti itu. Matanya terus melekat menatap Jack. Semakin ia melihat Jack, semakin ingin Charlie menyiksa dan langsung membunuh jack dengan segera.


"S*al! aku bisa gila jika aku terus ada di sini. Lebih baik aku pergi, aku akan ke rumah sakit untuk melihat keadaan Micheline dan menjemput Jesslyn." batin Charlie.


Charlie berdiri dari duduknya, ia segera pergi meninggalkan Jack seorang diri di dalam ruangan. Charlie mengunci pintu ruangan itu.


*****


Hansel*

__ADS_1


Micheline sudah dipindahkan ke ruang pasien. Keadaanya masih sama, ia masih terbaring lemah dan tidak sadarkan diri. Saat aku dan Jesslyn berjaga, Charlie pun datang. Ia melihat keadaan Micheline dan menghiburku. Diajaknya aku minum kopi untuk melepas penat. Kami berdua akhirnya pergi, menitipkan Micheline pada Jesslyn.


Hampir kira-kira satu jam, aku dan Charlie bersama. Cangkir kopiku pun sudah kosong. Aku bahkan sudah menghabiskan secangkir kopi dan cokelat panas. Aku sengaja minum cokelat panas, karena teringat akan Micheline. Perempuan yang kusayang itu, sangat menyukai cokelat panas dan semua makanan berbau cokelat. Mau itu kue, cake, atau puding. Aku tidak banyak bicara, hanya sesekali menjawab. Namun, aku menyimak semua ucapannya.


Charlie meluapkan kekesalannya. Ya, tentu aku pun kesal. Sangat, sangat, sangat kesal! pikiranku sama seperti Charlie. Aku mencoba menahan diri. Bukan berarti aku lupa dan memaafkan si br*ngs*k yang mencelakai Micheline. Aku hanya memikirkan, hukuman apa yang layak ia dapatkan.


Sebagai seorang yang telah bertahun-tahun melayani Micheline. Charlie pasti juga sedih melihat atasannya terbaring tidak berdaya seperti saat ini. Tidak heran, ia langsung menyiksa Jack sampai ketakutan. Aku pernah melihat gilanya Charlie, memang tidak diragukan lagi. Sekali ia menggila ia tidak akan bisa berhenti sampai rasa puasnya datang. Bahkan dengan terus terang Charlie mengatakan jika ia hampir gila setiap melihat Jack. Belum puas rassnya hanya menggertak, mengancam, memaki dan mengumpati Jack. Meski ia tahu Jack sudah sangat ketakutan.


Aku masih mengesampingkan pikiranku sesaat pada Jack. Aku sangat marah, tetapi aku juga tidak akan bisa meninggalkan Micheline. Aku ingin selalu ada di sisinya apapun keadaanya. Aku tidak bisa meninggalkannya seorang diri.


Cangkir ketiga Charlie kosong, ia bahkan minum kopi lebih banyak dibandingkan denganku. Kami pun akhirnya kembali ek rumah sakit. Sesampainya di sana, Charlie dan Jesslyn langsung berpamitan pulang. Tinggallah aku seorang diri menemani Micheline. Kutatap wajah cantiknya yang terdapat beberapa lebam, karena benturan. Hatiku sakit melihatnya seperti ini. Rasanya tidak hanya hatiku yang tertusuk, tetapi juga jantungku.


Aku menangis tanpa suara sembari menggenggam tangannya. Aku merasa bersalah, juga merasa kesal. Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku laki-laki lemah yang tidak bisa menjaga juga melindungi orang yang kusayangi.


Aku menyesal... tidak seharusnya aku membiarkanmu sendirian. Seharusnya aku bisa lebih cepat membereskan Ergy dan pergi menemuimu, El. Atau paling tidak, aku seharusnya tidak melibatkanmu. Bagaimana ini? bagaimana? kita kehilangan calon bayi kita. Aku sangat nenyesal tidak menjagamu dengan baik, El. Maafkan aku. Aku tidak bisa melindungimu. Maaf...


Hanya kata maaf, maaf, dan maaf. Kata maaf tidak pernah lepas kuucapkan. Karena memang aku sangat merasa bersalah. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana nanti saat Micheline bangun dan mendengar kabar menyedihkan ini. Aku pasti tidak akan tahan jika melihatnya menangis, meraung meratapi calon anaknya yang telah tiada.


Aku terus diam sampai tengah malam. Aku bahkan tidak beranjak dari posisiku. Menjelang dini hari, sekitar pukul dua dini hari, aku merasa sangat lelah dan mengantuk. Aku berusaha tidak tertidur. Aku menahan kantukku, ingin teruz berjaga. Aku menggenggam erat jemari Micheline, kurebahkan kepalaku di tepian tempat tidur. Mataku berat untuk dibuka, mungkin karena aku terlalu banyak menangis atau memang mataku sudah mulai lelah. Entahlah, aku hanya bisa berkedip-kedip. Ingin rasanya semua ini hanya bunga tidur. Mataku akhirnya terpejam, sedetik berikutnya aku tidak tahu apa yang terjadi. Sepertinya aku tertidur.


...*****...


**Yuk, follow ig author


ig: dea_anggie


Jangan lupa like setiap episodenya ya..


Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..


Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..


Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..


Terima kasih semuanya...

__ADS_1


Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..


Salam hangat dari author~~🙂**


__ADS_2