My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 66 - Persiapan Micheline


__ADS_3

Hansel selesai sarapan. Micheline menghubungi Charlie, meminta Charlie mengantar Hansel ke dokter. Charlie terkrjuta saat mendengar cerita Micheline. Tidak menyangka jika Micheline akan bergerak cepat dengan langsung menahan Ertha dan Luky.


"Antarkan Hansel. Aku harus pergi ke suatu tempat. Kemungkinan akan pulang malam," kata Micheline.


"Kau mau ke mana? jadwalmu tidak ada kunjungan ke mana pun," jawab Hansel.


"Oh, itu sesuatu hal yang tidak boleh kalian ketahui. Ini urusan pribadiku," jawab Micheline.


"Jangan-jangan..." batin Charlie.


"Kau jangan bertindak gila, Michel."sahut Charlie menduga jika Micheline akan melakukan tindakan gila.


"Kau ini bicara apa? tindakan gila apa? jangan berpikir yang bukan-bukan," jawab Micheline tenang.


"S*al! hampir saja aku terkejut dan panik. Bagaimana bisa tau aku akan bertindak gila. Dasar Charlie," batin Micheline.


Charlie mengernyitkan dahi menatap tajam pada Micheline, "Kau yakin?" tanyanya lagi.


Micheline tersenyum, "Sangat-sangat yakin. Kau jangan lagi banyak bertanya. Tugasmu hari ini adalah menemani Hansel dan mengawasi dua orang di kamar belakang. Ajaklah Keily, dan J bersaudara ke sini jika kau bosan. Kau boleh membawa Marc juga, Hans."


Micheline berjalan menuju kamarnya. Merasa ada yang aneh, Hansel pun mengikuti Micheline. Hansel melangkah cepat menyusul Micheline. Charlie hanya bengong melihat Hansel bergerak cepat dari posisi duduk yang langsung mengikuti Micheline.


"Mencurigakan sekali dua orang ini," gumam Charlie. Ia lalu berjalan ke dapur untuk menyeduh kopi.


*****


Di dalam kamar, Hansel mendesak Micheline untuk jujur bicara. Ia mengungkapkan perasaan tidak nyamannya pada Micheline. Mendengar keluhan dan desakan Hansel, mmebuat Micheline semakin kekeh berkelit. Micheline menyakinkan Hansel jika kepergiannya bukan untuk melakukan apa-apa. Kepergiannya juga tidak akan berbahaya.


"Aku harap kau tidak berbohong padaku," kata Hansel menatap Micheline.


"Aku tidak bohong. Percayalah," jawab Micheline mengusap wajah Hansel.


"Maaf, Hans. Jika aku berkata aku akan mnedatangi Matteo dan Bella, kau pasti tidak akan mengizinkanku pergi. Begitu juga Charlie. Aku tahu kalian khawatir, tapi aku pasti akan baik-baik saja. Aku yakin," batin Micheline.


Hansel memegang dua tangan Micheline yang mengusap wajahnya. Diciumnya kedua punggung tangan dan kedua telapak tangan Micheline bergantian. Hansel menempelkannya lagi di wajahnya, berharap Micheline mau mengusapnya lagi.


Micheline tersenyum, "Baik-baiklah di sini. Bila hatimu risau, kau tidak perlu temui Bibi dan sepupumu. Ok. Kau jangan buat luka lagi, sekecil apa pun itu. Atau aku akan membuangmu sejauh yang aku bisa," kata Micheline sedikit mengancam.


Hansel menganggukkan kepala perlahan, "Ya. Aku akan ingat ucapanmu." jawab Hansel.

__ADS_1


"Terserah, kau mau ke rumah sakit atau memanggil dokter. Yang terpenting aku mau dokter memerikaa lukamu. Aku tidak yakin itu baik-baik saja. Karena saat aku bangun darah sudah merembes dan kau masih dalam posisi terlelap tidur."


"Ya. Aku tahu. Jangan mengomel lagi. Aku tidak akan tahan untuk mengigit bibirmu jika kau terus mengomel." kata Hansel menggoda Micheline.


Micheline mencubit pelan perut Hansel, "Berani-beraninya kau menggodaku saat aku serius bicara, huh. Dasar kau si mesum," kata Micheline gemas.


"Ouch..." racau Hansel menahan sakit sembari mengusap perutnya, "Jahat sekali. Aku kan hanya bergurau," gerutu Hansel memasang wajah murung.


"Ah... aku lupa. Kenapa kau mengikutiku ke kamar? Bukankah di luar masih ada Charlie? Hansel, kau lupa kesepakatan kita, hm?" kata Micheline yang baru menyadari situasi.


"Ma-maafkan aku, El. Sesaat aku lupa jika Charlie tidak tahu tentang kita. Aku sungguh tidak ingat," jawab Hansel.


"Kau ini. Keluarlah!" perintah Micheline, "Jangan buat aku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Charlie, Hans. Aku sedang malas memutar otakku." kata Micheline mendorong tubuh Hansel agar keluar dari kamarnya.


Hansel pun keluar. Micheline segera melangkahkan kaki ke ruang ganti pribadinya dan berganti pakaian. Micheline mengenakan celana jeans panjang dan kaus, lalu ia mengambil sebuah jaket berbahan kulit berwarna cokelat tua. Micheline membuka laci, ia mengeluarkan pisau lipat dan menatap pisau itu dengan tatapan mata yang tajam.


"Kau pasti akan dapat mangsa," gumamnya tersenyum tipis.


Micheline mengenakan sepatu boots cokelat, berwarna senada jaketnya. Diselipkanya pisaublipatnya di sepatunya itu. Micheline tidak ingin tertangkap basah oleh Charlie membawa pisau. Meski ia bisa saja beralasan pisau lipat itu untuk berjaga-jaga, tetapi Charlie tidak akan semudah itu percaya.


Pandangan mata yang tajam menatap cermin. Micheline mengikat rambutnya ekor kuda dan mengenakan topi berwarna hitam. Ia bercermin, berbalik dan berputar untuk memastikan penampilannya yang sempurna agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Hansel dan Charlie.


Dengan cepat, Micheline segera keluar dari ruang ganti dan mengambil ponselnya di nakas di samping tempat tidurnya. Micheline menyalakan layar ponsel, ada sebuah pesan masuk dari seseorang bawahannya yang mengamati pergerakan Matteo dan Bella. Seseorang itu adalah orang yang cukup dekat dengam Matteo dan Bella. Tidak lain adalah Kakak kandung Matteo, bernama Faello Zeox.


Micheline menghubungi Faello, panggilannya langsung tersambung dan diterima Faello. Dengan sapaan ramah nan mesra, Faello menjawab panggilan Micheline


"Ya, sayang." sapa Faello.


"Terima kasih untuk informasi yang kau berikan, Tuan Zeox. Akan aku pastikan kau mendapatkan apa yang kau mau." kata Micheline.


"Hoho... kau semakin manis sayangku. Baiklah-baiklah, aku percayakan padamu. Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Faello.


"Ya, tentu. Silakan," jawab Micheline.


"Kau tidak berminat melenyapkan adikku, kan? maaf-maaf, bukan aku ingin melawan atau menentangmu. Kau tahu, kan. Hubungan kami memang tidak baik. Tetapi bagaimana pun, dia kan tetap saudara kandungku." kata Faello.


"Itu tergantung Adikku tersayang, Tuan. Jika dia menolak apa yang aku minta. Ya... kau akan melihatnya di pemakaman. Maafkan aku, tapi kau tahu bagaimana aku menyelesaikan semua masalahku. Juga bagaimana sikapku terhadap orang-orang yang berkepala batu, kan? apa kau 'sangat' keberatan, tuan Zeox?" tanya Micheline dingin.


"Ti,-tidak! tidak sama sekali. Lakukan apa yang kau mau lakukan. Aku hanya penasaran dan bertanya saja. Aku tidak akan mengganggu acara berburumu. Sampai bertemu manis, bye..." Faello mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Micheline tersenyum, "Semudah itu digertak? laki-laki macam apa kau, Faello Zeox? Hah... aku heran. Kenapa semua takut dan melihatku seperti malaikat pencabut nyawa. Apa aku se-menyeramkan itu?" gumam Micheline.


Ponselnya dimasukan ke saku jaket. Micheline langsung keluar dari kamar untuk segera berpamitan pada Hansel dan Micheline.


*****


Charlie dan Hansel melihat dari atas ke bawah, mereka menatap tajam arah Micheline. Micheline bingung tidak tahu harus bicara apa, yang jelas tatapan keduany bukan tatapan yang mencurigai. Mungkin lebih diartikan tatapan Heran.


"Kau pergi sendiri?" tanya Charlie.


Micheline mengangguk, "Ya. Aku pergi sendiri. Ini kan urusan pribadi yang sangat,-sangat pribadi. Aku tidak mau 'orang luar' mengetahui apa yang aku lakukan. Maaf jika kalian berdua tersinggung, aku harapkan kalian mengerti. Ok." jawab Micheline.


"Hubungi aku jika ada apa-apa," sahut Hansel khawatir.


"Ya," jawab Micheline. "Jangan lupa pesanku. Kau juga, Charlie. Ingat, ini perintah dan bagian dari pekerjaan. Meski hari ini kalian off. Bukan berarti kalian tidak punya pekerjaan." ucap Micheline menekankan kata-katanya.


"Dimengerti, Bu CEO." jawab Hansel.


"Ya, Bu CEO." jawab Charlie.


Micheline tersenyum cantik, "Bagus. Kalian yang terbaik. Aku pergi dulu, sampai nanti." pamit Micheline berjalan pergi meninggalkan Charlie dan Hansel yang ada di ruang tengah.


Micheline mengehela napas panjang, "Huh, untung saja aku masih bisa mengatasi mereka berdua. Jika tidak aku tidak akan bisa pergi," batin Micheline merasa lega karena akhirnya bisa pergi tanpa hambatan. Dengan langkah cepat setengah berlari, Micheline keluar dari rumah mendekati mobilnya yang terparkir di halaman.


Di ruang tengah, Hansel dan Charlie ternyata diam-diam punya rencana juga. Mereka sepakat mengikuti Micheline secara diam-diam, tanpa sepengetahuan Micheline. Kedua langsung bersiap setelah kepergian Micheline.


"Kau siap, Hans?" tanya Charlie.


"Selalu, Pak." jawab Hansel.


"Ayo," ajak Charlie.


"Ya," jawab Hansel.


Charlie telah menghubungi Keily, dan juga J bersaudara. Meminta ketiganya datang bersama ke rumah Micheline. Charlie memerintahkan ketiganya menjaga rumah Micheline dan tidak mengizinkan siapapun menyentuh kamar kosong di belakang rumah. Di mana ads Ertha dan Luky dalam kamar itu. Charlie berjanji akana menjelaskan semuanya begitu ia kembali bersama Hansel. Keily yang awalnya enggan akhirnya mau mengiyakan permohonan Kakaknya. Ia bertanggung jawab menjaga Jesslyn selama Kakaknya pergi.


Kedua laki-laki tampan itu pun pergi. Dengan menggunakan mobil Charlie, mereka langsung melesat pergi meninggalkan rumah, untuk segera menyusul Micheline.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2