
Charlie dan Hansel masih membuntuti mobil Micheline. Dengan sekuat tenaga Charlie mengejar. Awalnya, hampir saja Charlie dan Hansel kehilangan jejak. Beruntung masih bisa terkejar.
Hansel melihat sekeliling jalan, "Ini kan..." gumam Hansel.
"Kau tahu jalan ini?" sahut Charlie.
"Ya. Aku tahu. Aku sering pergi ke daerah sini." jawab Hansel, "Kenapa Micheline ke daerah sini? ingin bertemu siapa sebenarnya?" gumam Hansel lagi penasaran.
"Untunglah kita tidak terjebak lampu merah tadi. Hampir saja lolos," kata Charlie merasa lega bisa terus membuntuti Michrline.
"Hm, hampir saja kita kehilangan jejak." sahut Hansel sependapat dengan Charlie.
"Argghhh... s*al!" umpat Charlie tiba-tiba, mengejutkan Hansel yang duduk di sampingnya.
"Ke-kenapa?" tanya Hansel.
"Sepertinya aku tahu ke mana Micheline mengarahkan mobilnya. Dia pasti mendatangi kedua bed*bah itu," jawab Charlie.
"Kedua bed*bah," ulang Hansel bergumam. Tiba-tiba ia ingat akan ucapan Micheline, " Apa maksudmu Matteo dan Bella? itu, orang yang ingin mencelakaiku?" kata Hansel sedikit meninggikan suara.
Charlie mengangguk, "Ya. Tidak salah lagi. Ini jalan ke sana," kata Charlie sangat yakin.
"Lalu bagaimana? apa kita hentikan saja dia pergi?" usul Hansel mulai cemas.
"Tidak, Hans. Kau ingin mati dibunuhnya? ingat dia mengatakan apa sebelum dia pergi? menguntitnya seperti ini saja, jika ketahuan kita akan celaka. Apalagi jika kita menghentikannya berburu. Bisa-bisa kaki kita dipatahkannya karena tidak patuh pada perintahnya. Di saat seperti ini, hati dan pikirannya sangat sensitive. Jangan buat masalah," jelas Charlie.
__ADS_1
"Tapi..." kata-kata Hansel terpotong oleh Charlie.
"Tidak ada tapi, tapian. Dengarkan aku baik-baik, Hans. Kita akan tetap membantunya jika dia dalam kesulitan. Aku akan biarkan kau datang menolong dan mencegahnya, jika ia terluka dan tetap keras kepala. Jika tidak, kita cukup melihat dari jauh saja. Kau mengerti maksudku, kan?" jelas Charlie.
"Apa ini tidak berbahaya? aku tahu dia sangat berani dan kuat. Tetapi ini kan seperti dia mendatangi kandang singa yang sedang kelaparan. Apa dia memang sengaja ingin mengacau dan menjadikan dirinya sendiri umpan makanan singa-siang yang lapar?" kata Hansel sedikit sedih, ia terlihat murung.
"Kau sangat peduli padanya, ya? apa kalian punya hubungan istimewa?" tanya Charlie.
Hansel melebarkan mata, "Hu-hubungan istimewa apa? tidak ada hal seperti itu," elak Hansel.
"Lalu... apa ini?" Charlie menunjuk tanda merah di leher Hansel. Tanda merah yang masih tercetak jelas.
Hansel meraba lehernya, "Apa? ini bukan apa-apa. Ini hanya bekas cubitan." elak Hansel lagi.
Charlie tertawa, "Biar aku tunjukan sesuatu," kata Charlie melepas kancing kemejanya paling atas lalu menurunkan krah kemejanya. Di sana terlihat dua cetakan jejak yang dibuat Jesllyn. "Lihat baik-baik, Hans. Bukankah ini mirip dengan punyamu? kau pikir aku b*doh?"
"Jangan-jangan, kau dan Jesslyn. Sudah melakukannya?" tanya Hansel berterus terang.
"Hah..." Charlie menghela napas kasar, "Tentu saja, Hans. Kami kan laki-laki dan perempuan dewasa. Bukan anak remaja yang hanya sebatas berpelukan dan berciuman atau hanya meraba-raba. Kau ini berpura-pura polos atau memang tidak mengerti sama sekali?" ejek Charlie.
"Yah, aku kan hanya bertanya. Karena aku tidak menyangka, seorang yang berkepala batu dan berhati es sepertimu bisa langsung luluh oleh seorang wanita. Bukankah wajar jika aku terkejut," kata Hansel beralasan. Berbalik mengejek Charlie.
"Entahlah. Cinta membutakan mataku sekarang. Membuatku tidak berdaya," jawab Charlie.
"Ya. Itu benar. Aku sependapat denganmu. Kita dibuat hilang akal dan dibuat tersiksa jika rindu." sambung Hansel.
__ADS_1
Kedua laki-laki dewasa itu berbincang sembari terus mengikuti Micheline secara diam-diam. Mobil yang dikemudikan Micheline terus melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah yang ditinggali Matteo dan Bella.
*****
Setelah menempuh perjalanan panjang. Micheline akhirnya sampai di tujuan akhirnya. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan dan menghentikan laju mobilnya. Micheline mengamati dari luar, rumah Matteo dan Bella.
"Selamat datang Micheline. Ayo kita berburu anj*ng besar hari ini," gumamnya tersenyum penuh arti.
Ia keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah Matteo dan Bella. Suasana rumah nampak sepi, seperti apa yang disampaikan Faello, jika Matteo dan Bella sedang keluar dan tidak ada di rumah. Kesempatan emas bagi Micheline untuk mengacak-acak rumah tersebut.
Micheline membuka paksa pintu utama rumah tersebut dengan kekuatannya. Ia segera masuk, lalu mengamati sekitar ruangan. Dilihatnya beberapa lukisan karyabpelukis terkenal yang bernilai tidak murah. Ada beberapa vas bunga yang bagus dan terlihat seperti barang antik.
"Hoho... ini menyenangkan. Aku akan menghancurkan semuanya," kata Micheline tersenyum lebar.
Micheline mengeluarkan sarung tangan dari saku jaketnya dan langsung mengenakannya. Ia mengambil vas bermotif bunga sakura, dengan cepat langsung dilemparnya ke dinding dan akhirnya vas itu pecah berkeping-keping. Begitulah cara Micheline merapikan seluruh vas-vas di ruang tamu tumah tersebut.
Langkah kakinya masuk ke ruang tengah. Ada terlihat vas besar yang menyilaukan karena berkilat. Dengan satu gerakan, ditendangnya vas besar itu hingga terguling dan pecah. Micheline berhasil memporak porandakan isi ruang tengah. Dan kini ia masuk ke ruang kerja Matteo. Disana Micheline langsung menyalakan komputer Matteo dan mengecek semua data yang ada. Di ruangan itu, Micheline membuang semua buku di rak dan di atas meja kerja Matteo.
Bosan di dalam ruangan, Micheline keluar menuju kamar tidur. Disana ia langsung mencari lemar. Ia sangat yakin Matteo atau Bella menyembunyikan perhiasan atau harta benda mereka di dalam lemari. Setelah mengacak-acak dan mencari, Micheline akhirnya menemukan sebuah kotak berisi uang dan perhiasan.
"Wah-wah. Luar biasa," gumam Micheline, "Berapa banyak orang yang tersiksa setelah dua anj*ng itu menerima uang ini?"
Micheline langsung menghamburkan uang itu dari kmar sampai ruang tengah lalu ke ruang tamu. Ia sengaja mencecer uang yang ada di dalam kotak. Ia tidak sabar menunggu dua anj*ng buruannya pulang ke rumah.
Micheline melihat jam yang melekat di pergelangan tangan kirinya, "Membosankan juga jika aku harus menunggu anj*ng-anj*ng itu. Aku datang terlalu cepat rupanya." kata Micheline, "Tidak masalah. Aku akan menunggu dan bermain di lantai dua saja," imbuhnya.
__ADS_1
Ia berjalan perlahan menyusuri anak tangga satu persatu. Micheline melepas semua bingkai foto yang berjajar sepanjang ia melangkah menaiki anak tangga. Dengan sembarangan ia melempar semua bingkai itu. Tidak peduli ke mana bingkai-bingkai itu mendarat. Di lantai dua, Micheline tidak banyak menemukan barang. Hal itu membuat Micheline kesal dan kecewa.
...*****...