My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 38 - Misi Penyelamatan (2)


__ADS_3

Charlie dan Micheline bergerak cepat. Tanpa mengulur waktu lagi, setibanya mereka di rumah yang diduga milik Calvin. Mereka langsung bergerak melumpuhkan semua penjaga yang berjaga di luar rumah dan memporak porandakan bagian dalam rumah.


Perkelahian tidak terhindarkan lagi. Karena banyaknya penjaga, sempat membuat Charlie dan Micheline kuwalaham menangani. Micheline mendekati Charlie, mereka saling membelakangi.


"Kau lcarilah Jesslyn. Aku yakin ads disalah satu ruangan di lantai atas," kata Micheline.


"Lalu kau?" jawab Charlie ragu karena masih ada beberapa penjaga yang masih harus ditangani, dan memiliki kemampuan cukup kuat.


"Aku tidak akan mati di sini. Aku akan alihkan perhatian mereka, Kau cepatlah bergegas. Jika kita tidak melakukannya, maka mereka akan memanggil bantuan. Kita juga tidak tahu kapam bantuan kita sampai, kan?" kata Micheline lagi.


Charlie terdiam sesaat, "Baiklah. Aku serahkan tikus kwalitas sedang ini padamu. Aku akan pergi mencari keberadaan Jesslyn," jawab Charlie.


"Ok," jawab Micheline.


Rencana sudah dibagi. Micheline mulai bergerak dan mencoba mengalihkan perhatian semua penjaga agar tidsk terlalu fokus pada Charlie. Charlie berlari menuju tangga hendak pergi ke lantai dua rumah tersebut, beberapa penjaga menghadang, dan langsung dibereskan oleh Charlie.


Meski sulit melewati penjagaan, Charlie berhasil sampai di lantai dua rumah itu. Micheline melirik melihat ke lantai dua, ia melihat Charlie yang berlari. Micheline pun merasa lega. Kini ia bisa bertarung tanpa beban dengan harapan Charlie cepat bisa menemukan di mana Jesslyn berada.


*****


Charlie mencari disetiap kamar dan ruangan. Namun, tidak menemukan keberadaan Jesslyn. Charlie mulai emosi karena tidak kunjung menemukan keberadaan Jesslyn. Di satu sisi, ia khawatir jika Jesslyn kenapa-kenapa. Di satu sisi ia cemas dengan Micheline yang harus bertarung seorang diri di lantai bawah.


"Sial, di mana kepa*** itu menyembunyikan Jesslyn. Membuatku kesal saja," umoat Charlie.


Saat terus mencari, samar-samar ia mendengar suara. Ia mencari sumber suara, dan akhirnya ia menemukan sebuah ruangan yang mungkin digunakan sebagai ruangan rahasia, karena letaknya yang cukup jauh. Charlie mendengar Jesslyn mengumpat, jantungnya terasa sakit seperti tertusuk saat mendengar suara Jesslyn. Ia pun langsung membuka pintu ruangan itu.


Pintu ruangan terbuka, ia melihat pemandangan yang memicu birahi membunuhnya timbul. Tangan Calvin sudah ads di dada Jesslyn meski belum menyentuh area tersebut. Calvin dan Jesslyn bersamaan menatap ke arah Charlie.


"Be**bah!" maki Charlie yang langsung berlari mendekati Calvin.


Charlie mencengkram krah kemeja Calvin dan langsung menghantam wajah Calvin sampai Calvin tersungkur. Charlie mendekati Calvin dan bertubi-tubi menghantam wajah Calvin. Charlie tidak bisa mengendalikan emosinya lagi, saat ia hendak menghantam Calvin lagi, ia langsung teringat akan Jesslyn dan mengurungkan niatannya.


Charlie memalingkan wajah manatap Jesslyn. Jesslyn juga melihat ke arahnya setengah kaget. Charlie langsung berlari menghampiri Jesslyn dam melepas tali yang mengingat Jesslyn. Charlie membantu Jesslyn berdiri, ia melihat bagian yang seharusnya tidak dilihatnya. Jesslyn sadar jika Charlie sudah melihat dadanya, Jesslyn menutupinya dengan tangan dan menundukkan kepalanya karena malu.


Charlie melepas kemejanya dan memakaikan pada Jesslyn, "Pakai ini. Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Charlie.

__ADS_1


Jesslyn kaget, "Ah..." Jesslyn melihat Charlie bertelanjang dada demi dirinya, "Aku tidak apa-apa. Ambil kembali kemejamu," kata Jesslyn setengah malu.


"Tidak apa-apa. Aku laki-laki, kaulah yang seharusnya menutupi bagian sensitivmu," jawab Charlie.


Calvin meringis menahan rasa sakit. Ia merasa kesal, melihat kedekatan Jesslyn dan Charlie. Calvin meraba saku jasnya, ia mengeluarkan sebilas pisau lipat yang selalu ia bawa ke mana-mana. Dengan erat ia memegang pisau lipat bersiap menikam Charlie. Ia berdiri perlahan dan langsung berlari menghampiri Charlie yang sedang bicara dengan Jesslyn.


"Mati saja kau," kata Calvin penuh emosi berlari menghampiri Charlie dan Jesslyn.


"Charlie awas," kata Jesslyn mengingatkan.


Charlie berbalik dan menepis pisau yang mendekat ke arahnya. Pisau itu menggores lengannya karena jaraknya yang terlalu dekat membuat Charlie tidak bisa menghindar. Charlie menendang kaki Calvin dan memukul perut Calvin. Pisau yang dibawa Calvin terjatuh, Charlie mengambil pisau milik Calvin dan hendak menikam Calvin. Namun, aksinya dihentikan oleh Jesslyn yang langsung merangkul erat lengan Charlie.


"Jangan, Charlie!" seru Jesslyn.


Charlie menghentikan langkahnya, "Aku ingin memberinya pelajaran," kata Charlie menatap Jesslyn.


Jesslyn menggeleng, "Ayo pergi dari sini. Bawa aku pergi," kata Jesllyn memelas.


Melihat wajah sedih dan suara lirih Jesslyn yang seakan memohon, Charlie pun mengurungkan niatannya untuk memberi pelajaran pada Calvin. Charlie menjatuhkan pisau dan segera pergi merangkul Jesslyn. Keduanya langsung meninggalkan ruangan.


"Kakimu terluka?" tanya Charlie.


"Sedikit sakit. Mungkin karena aku sempat terjatuh karena berusaha kabur. Aku baik-baik saja," kata Jesslyn.


Charlie menurunkan kembali rok dan berdiri, "Tidak ada yang baik jika itu cidera. Sekecil apapun, luka tetaplah luka."


Charlie langsung menggendong Jesslyn. Jesslyn melebarkan mata menatap Charlie, ia terkejut sekaligus malu. Charlie melangkah pergi sambil menggendong Jesslyn, ia menuruni anak tangga perlahan sampai tiba di lantai bawah tempat Micheline berada.


"Michel..." panggil Charlie.


Micheline memalingkan wajah dan menghampiri Charlie, "Sudah bertemu, ya? apa kau terluka, Jess?" tanya Micheline


"A-aku... aku baik-baik saja."


"Sepertinya kakinya terkilir. Kau sudah selesai? ayo pergi," kata Charlie.

__ADS_1


Micheline melihat lengan Charlie, "Kau juga terluka?"


"Hanya luka kecil," jawab Charlie.


Micheline menghela napas panjang. Ia berbalik dan pergi diikuti Charlie yang masih menggendong Jesslyn. Micheline membuka pintu mobil belakang, Charlie membantu Jesslyn dan mendudukan Jesslyn. Ia duduk di samping Jesslyn.


"Aku yang mengemudi kau istirahat saja. Kita akan segera ke rumah sakit," kata Micheline yang langsung menutup pintu mobil.


Micheline segera masuk dalam mobil, ia langsung menghidupkan mesin mobil. Ia langsung menarik sabuk pengamannya untuk dikenakan dan langsung mengemudikan mobilnya melesat pergi meninggalkan rumah Calvin.


Sepanjang perjalanan, suasana hening. Charlie merasakan lengannya sedikit perih, Jesslyn yang melihat Charlie kesakitan hanya bisa diam. Digenggamnya tangan Charlie untuk memberikan sedikit rasa nyaman pada Charlie.


Charlie menatap Jesslyn, "Aku baik-baik saja," kata Charlie tersenyum.


"Maafkan aku," kata Jesslyn.


"Kenapa? apa kau membuat kesalahan?" tanya Charlie.


"Karena aku kau terluka. Maaf," kata Jesslyn lagi.


"Aku tidak akan mati hanya karena luka kecil seperti ini, Jesslyn. Jangan cemas," jawab Charlie.


"Kenapa kau bisa terluka?" tanya Micheline.


"Entahlah, tiba-tiba saja Jesslyn berteriak 'awas', saat aku berbalik laki-laki gila itu sudah membawa pisau ingin menikamku. Untungnya aku menepisnya dan hanya tergores di lengan. Bede**h itu membuatku kesal, ingin aku membunuhnya."


"Syukurlah kau hanya tergore, Charlie. Bagaimana jadinya jika kau sampai tertusuk tadi," omel Micheline. Micheline ingat pada Jesslyn dan bertanya keadaan Jesslyn, "Kau tidak apa-apa, Jesslyn? apa yang bede**h itu lakukan padamu?" tanya Micheline.


Charlie melirik melihat Jesslyn, "Fokuslah mengemudi dan cepat bawa aku yang terluka ini ke rumah sakit. Tanyanya kan bisa nanti," sahut Charlie.


Charlie tahu Jesslyn pasti malu menceritakan apa yang dialami. Mendengar ucapan Charlie, Jesslyn menatap Charlie dan tersenyum. Charlie membalas senyuman Jesslyn.


Jesslyn bernapas lega karena Charlie sudah membantunya bicara. Ia merasa tidak bisa berkata-kata karena merasa malu dan gugup. Tidak tahu harus menjawab apa.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2