
Charlie, Micheline dan Hansel berada dalam satu ruangan. Rapat telah selesai, Micheline meminta semua staf kembali bekerja. Mucheline kesal, saat rapat berjalan. Ada perselisihan pendapat antara Charlie dan Hansel yang membuat suasana rapat menjadi tegang dan memanas.
"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Micheline yang kembali duduk.
Charlie dan Hansel saling menatap dengan pandangan mata yang dingin. Micheline menatap Charlie dan Hansel bergantian.
"Tidak ada yang mau jelaskan?" tanya Micheline lagi.
"Tidak ada hal yang perlu dijelaskan. Aku akan kembali ke ruanganku," kata Charlie yang langsung pergi meninggalkan ruang rapat.
"Charlie..." panggil Micheline.
"Maaf, Micheline. Aku sedang tidak ingin berdebat. Katakan kepada Asistenmu untuk tidak banyak bertingkah," kata Charlie sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan.
Micheline menatap Hansel, "Ada apa denganmu dan Charlie, Hans? kenapa kalian seperti ini?" tanya Micheline.
"Maafkan sikap saya yang berlebihan, Bu CEO. Saya akan meminta maaf langsung pada Pak kepala Sekretaris nanti," ucap Hansel.
"Kau tidak ingin jelaskan apa-apa padaku?" tanya Micheline lagi.
Hansel menghela napas panjang, "Bisa kita bicarakan ini nanti saja? sejujurnya saya juga tidak mengerti," jawab Hansel.
"Baiklah. Kau kembali saja dulu. Aku masih ingin di sini," jawab Micheline.
"Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Hansel.
"Ya. Minta Lisa membuatkan kopi utukku. Pikiranku kacau sekarang," keluh Micheline memijit lembut keningnya.
"Anda baik-baik saja? wajah Anda pucat, Bu. Saya khawatir," kata Hansel cemas.
Micheline menggeleng, "Tidak apa-apa. Daripada kau sibuk mencemaskanku atau khawatir padaku. Pikirkan saja penjelasan yang akan kau sampaikan nanti. Ingat, aku diam karena menunggu. Aku tidak bisa kerja jika kalian berselisih seperti ini," ucap Micheline menatap Hansel..
Hansel menunduk, "Ya. Saya mengerti. Saya akan jelaskan nanti kepada Anda, Bu. Saya permisi," pamit Hansel untuk kembali ke meja kerjanya.
Hansel berjalan meninggalkan ruang rapat. Micheline hanya diam. Kepalanya terasa nyeri sampai ke matanya. Ingin rasanya Micheline mendudukan Hansel dan Charlie lalu menginterogasi keduanya. Namun, ia tidak ingin melakukannya. Mengingat Charlie yang terlihat bengis dan dingin. Micheline tahu jika Charlie bersikap seperti itu, artinya Charlie sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
*****
Di ruangannya Charlie duduk bersadar di sofa. Ia sudah melepas jasnya dan melonggarkan dasinya. ia juga sudah melepas dua kancing kemejanya dari paling atas. Charlie memikirkan kejadian di ruang rapat sebelumnya. Di mana sarannya ditolak keras oleh Hansel karena dianggap membuang-buang waktu, karena harus kerja dua kali.
"Sialan! si brengs*k itu berani-beraninya menguruhiku. Aku dan dia berbeda jauh. Aku sudah pikir baik-baik keuntungan dan kerugiannya. Arrghh..." murka Charlie.
Charlie mengepalkan tangannya erat. Ingin sekali rasanya ia memukul Hansel yang begitu kurang ajar padanya. Selama ini ia tidak pernah merasa disepelekan atau diragukan sedikit pun. Baru kali ini ia merasa seperti dipermainkan seorang bawahan yang bahkan belum bekerja satu tahun.
Ponsel Charlie berdering. Charlie meraba meja dan menggambil ponselnya di atas meja. Dilihatnya layar ponselnya, ia mendapat panggilan dari Adiknya.
__ADS_1
"Keily..." gumam Charlie yang langsung menerima panggilan dari adiknya.
"Ya," jawab Charlie.
"Kak. Apa kau sibuk?" tanya Keily.
"Tidak. Aku baru slesai rapat," jawab Charlie.
"Ayo kita makan siang bersama. Aku yang traktir," ajak Keily.
"Baiklah. Kau tentukan tempatnya dan kabari aku."
"Yeah..." sorak Keily, "Ok, akan langsung aku kirim tempatnya. Aku juga akan langsung berangkat sekarang," kata Keily.
Charlie tersenyum mendengar Adiknya bersorak, "Aku tutup panggilanmu, Kei. Sampai nanti," ucap Charlie.
"Ya, Kak. Sampai nanti," jawab Keily.
Charlie mengakhiri panggilan Keily. Ia menatap layar ponselnya, di layar ponselnya ada fotonya dan Keily. Cukup lama Charlie menatap layar ponselnya. Ia teringat akan Adiknya yang tinggal terpisah dengannya.
"Sepertinya sudah lama aku tidak menemuimu, Kei. Kakakmu ini terlalu sibuk bekerja rupanya," gumam Charlie.
Tidak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Ada pesan masuk dari Keily. Keily mengirimkan alamat dan nama restorant yang akan dikunjungi.
Segera dikancingkannya kancing kemejannya. Lalu dirapikannya dasinya. Ia mengambil jasnya dan langsung keluar dari ruangannya.
*****
Keily sampai di restorant yang ia tuju. Segera ia masuk untuk memesan meja. Saat berjalan masuk dalam restorant, ia melihat Micheline dan lalu menyapa Micheline.
"Kakak Michel," sapa Keily.
"Hai, Kei. Kemarilah," sapa balik Micheline meminta Keily mendekatinya.
Keily mendekati Micheline dan langsung disambut pelukan hangat Micheline. Keily merasa sangat senang bisa bertemu dengan Micheline.
"Aku senang sekali bertemu denganmu, Kak. Bagaimana Kabar Kakak? Kakak terlihat semakin cantik," puji Keily.
"Kau juga semakin cantik, Kei. Kau datang sendiri?" tanya Micheline melihat sekeliling.
"Aku janjian dengan Kakak. Sepertinya dia belum datang," jawab Keily.
"Ah, begitu. Aku mengira kau dengan kekasihmu," goda Micheline.
"Kekasih siapa? aku sedang tidak puny kekasih," elak Keily. Keily menatap Hansel lalu menatap Micheline, "Siapa dia, Kak? kekasih Kakak?" tanya Keily ingin tahu.
__ADS_1
"Apa?" kaget Micheline, "Jangan bergurau, Kei. Dia Asistenku," jawab Micheline.
"Oh, Asisten. Maaf, Kak. Aku kira kekasih Kakak," kata Keily merasa tidak enak hati.
"Tidak Apa-apa. Lebih baik kalian berkenalan saja," pinta Micheline. Lalu memperkenalkan Hansel dan Keily, "Hansel, ini Keily. Dan Keily, ini Hansel."
"Hansel," kata Hansel memperkenalkan diri.
"Hai, Hans. Aku Keily," kata Keily memperkenalkan diri.
Hansel dan Keily saling memperkenalkan diri dan berjabat tangan. Saat Hansel dan Keily berkenalan, Charlie datang dan menegur Keily.
"Keily," panggil Charlie.
Keily memalingkan wajah, "Kakak," sapa Keily tersenyum.
Charlie berjalan mendekati Keily, dan langsung menarik tangan Keily untuk dibawanya pergi meninggalkan Micheline dan Hansel. Keily kaget, saat tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh Charlie. Micheline dan Hansel hanya diam melihat kepergian Charlie dan Keily. Micheline ingin mengikuti Charlie dan Keily, tetapi niatnya diurungkan karena tidak ingin mengganggu kehidupan pribadi Charlie ataupun Keily.
*****
"Kakak, ada apa?" tanya Keily tidak mengerti.
"Tidak ada apa-apa. Jangan ganggu orang lain," jawab Charlie menekankan kata-katanya.
Keily duduk, "Tidak apa-apa, apanya? Kakak seperti sedang kesal begitu," kata Keily.
"Sejak kapan kau bicara dengan Micheline. Apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Charlie penasaran.
"Kami baru bertemu. Saat Aku baru masuk ke dalam dan ingin memesan meja, aku melihat Kak Michel dan menyapanya. Kak Michel memanggilku," jawab Keily.
"Oh," jawab Charlie ber-oh ria.
Charlie dan Keily makan di ruangan berbeda dengan Micheline dan Hansel. Jika Hansel dan Micheline ada di dalam bagaian depan, makan Charlie dan Keily ada di belakang.
Keily dan Charlie langsung memesan makanan. Keily terlihat senang bisa makan bertemu dan makan bersama Kakaknya. Meski kesal, Charlie mencoba menahan karena tidak ingin mengecewakan Keily. Tidak ingin membuat Keily khawatir juga.
"Bagaimana pekerjaamu?" tanya Charlie pada Keily.
"Baik," jawab Keily, "Kakak sendiri bagaimana? pasti sangat sibuk, ya? tanya Keily.
Charlie mengangguk, "Ya. Aku sangat sibuk," jawab Charlie.
Charlie masih memikirkan Hansel dan Micheline. Hal itu membuatnya kesal karena harus bertemu lagi, lagi dan lagi. Charlie tidak mengira akan bertemu dengan Hansel dan Micheline. Niatnya datang memenuhi permintaan Keily, Adiknya. Charlie merasa bersalah karena sudah terlalu mengabaikan Keily.
...*****...
__ADS_1