
Kegelisahan menyelimuti hati Ergy. Perasaanmya tidak tenang, dan pikirannya terus tidak fokus. Ergy yang tak pernah menaruh perhatian sedikitpun pada Hansel, kini begitu penasaran akan keponakannya yang ditelantarkan itu.
Semakin dipikirkan, semakin Ergy kebingungan. Beberapa bulan semenjak kepergian Hansel, Ergy mengira Hansel akan menjadi seorang yang terlunta-lunta atau gelandangan di jalan karena ia sama sekali tidak mmeberinya uang. Ia tidak menduga akan bertemh dengan keponakannya dalam keadaan yang baik, justru lebih dari perkiraanya. Hansel nampak seperti tidak ada masalah dan baik-baik saja.
Ergy meminum wine, ia melihat sekeliling. Saat melihat Hansel yang berada tidak jauh darinya, ia hampir saja tersedak karena kaget.
"S*alan! baru saja ingin menikmati wine, bocah tengik itu sudah mengacaukannya. Bisa-bisanya dia muncul di hadapanku," batinnya kesal.
Ergy mengamati Hansel, ia melihat Hansel sedang bersama Micheline. Terlihat Hansel sedang berbincang santai sedangan beberapa orang dengan tersenyum ramah. Melihat keponakannya bahagai, membuat Ergy tidak senang. Hansel tidak pernah tersenyum seperti itu padanya, istrinya atau anaknya sekalipun.
Hansel terlihat pergi meninggalkan Micheline dan beberapa orang yang sebelumnya berbincang dengannya. Ia hendak pergi ke kamar mandi. Melihat Hansel yang pergi, Ergy tidak melewatkan kesempatan. Ergy meletakan gelas wine di atas meja dan segera pergi mengikuti ke mana Hansel melangkah.
Micheline melirik, ke arah perginya Hansel. Ia melihat sesuatu yang tidak asing mengikuti Hansel. Senyum tipis menghiasi bibir Micheline, ia tahu akan ada sesuatu yang menarik di kamar mandi sana.
"Ada yang tidak sabar juga ternyata. Ya, siapa yang sabar melihat seseorang yang dekat dengamu berpura-pura tidak mengenalmu. Semuanya pasti akan kesal dan kecewa," batin Micheline meminum seteguk wine yang di pegangnya.
*****
Hansel masuk dalam kamar mandi, ia mendekati wastafel lalu membuka kran air untuk cuci tangan. Dimatikannya kran air dan ia memandangi cermin. Ia merasa sulit beradaptasi dengan orang-orang yang tidak sepadan dengannya. Meski ini bukan kali pertamanya menghadiri pesta mewah semenjak ia bekerja di bawah perintah Micheline. Namun, hatinya tidak merasa nyaman sejak awal datang ke pesta.
"Kenapa hatiku tidak tenang, ya? apa karena aku terus memikirkan Paman? hah... sulit juga jika aku harus mengabaikannya dan pura-pura tidak mengenalnya. Bagaimana bisa aku lupa, seperti apa perlakuannya padaku. Semuanya tidak terlupakan," batin Hansel.
Hansel menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan-lahan. Matanya perlahan terpejam, ia berusaha menenangkan hatinya. Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka. Hansel segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.
Hal tidak terduga, Ergy datang dan langsung menghampiri Hansel. Ergy berdiri di samping Hansel, menyalakan kran air lalu mencuci tangannya. Hansel diam, ia merasa tidak ingin bicara ataupun menyapa Pamannya.
__ADS_1
"Kau banyak berubah, ya." kata Ergy, mematikan kran air lalu menatap Hansel dari cermin. Hansel hanya diam, ia tidak mempedulikan ucapan Ergy.
"Hoho... kau selalu diam seperti ini jika aku ajak bicara. Diammu tidak berubah," kata Ergy lagi.
"Apa yang ingin dia katakan sebenarnya. Apapun itu aku tidak tertarik, lebih baik aku pergi saja. Aku tidak ingin melihatnya," batin Hansel. Hansel berbalik dan melangkah pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Ergy mengatakan sesuatu tentang Papanya, Hanry.
"Apa kau tau, Hans? kau sangat mirip dengan Papamu, Hanry. Kakakku itu, dia juga pendiam sepertimu. Itulah kenapa semua orang menyukainya termasuk Kakek dan Nenekmu. Kasih sayang, kekayaan dan kekuasaan bisa didapatkannya dengan mudah. Dan aku... hanya bisa berdiri di tempat yang jauh untuk melihat semuanya. Melihat semua yang tidak ingin aku lihat, dan tidak bisa kugapai. Beruntungnya, orang yang pendiam dan baik itu sangat bodoh! Hahaha..."
Ergy tertawa senang, ia teringat akan keberhasilannya mengelabuhi Hanry, Kakaknya. Saat ia diam-diam berhasil mebuat Kakaknya percaya akan kesetian palsunya dan akhirnya bisa menyingkirkan Kakaknya itu dengan sangat mudah.
"Buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya. Meski kau sekarang sudah berubah, kau tetaplah anak dari si bodoh!" ejek Ergy mulai memanasi Hansel.
Hansel sudah mulai emosi, tetapi ia masih menahan diri. Dadanya sesak saat ia harus mendengar nama Papanya disebut oleh Adik yang sudah menjahati Kakaknya sendiri.
Prokk... Prokk... Prokk...
"Aku tidak tahu seberapa besar kemampuanmu. Kau memang menonjol untuk bisa jadi seorang Asisten CEO atau... kau menjual dirimu? siapa yang tahu, kan? uang bisa membutakan semua orang. Dan... hidup selalu butuh uang. Ckckck... aku punya keponakan yang tampan. Sayang juga jika ketampanannya tidak dimanfaatkan," sindir Ergy.
"Apa kau tidak bisa menahan mulutmu untuk selalu mencelaku, Tuan Feliks?" sahut Hansel kesal, "Hah... jujur saja, aku merasa risih kita harus memiliki nama belakang dan berasal dari keluarga yang sama. Itu menjijikan," kata Hansel masih dengan posisi membelakangi Ergy.
"Apa? kau bilang apa? aku menjijikan?" kesal Ergy, "Bocah brengs*k! berani sekali kau bicara seperti itu padaku. Kau bisa tumbuh besar seperti ini semua karena kebaikanku. Apa kau lupa, itu?" sentak Ergy. Mengingatkan kejadian pada masa lalu.
Hansel tersenyum masam lalu berbalik menghadap Ergy. "Apa aku harus membungkuk dan mengucapakan 'terima kasih banyak, Paman?' itu yang Paman mau? Paman melupakan satu hal, Pamanku yang sangat baik hati, apa Paman lupa? semua yang Paman gunakan, termasuk uang untuk membayar sekolah dan kebutuhanku, adalah uang peninggalan Papaku. Sebagai anak sah, aku berhak mendapatkannya. Kenapa Paman mempermasalahkan? di mana salahnya?" cecar Hansel melangkah mendekati Ergy.
Ergy melebarkan mata, "Apa yang kau katakan? peninggalan Papamu sudah tidak ada," elak Ergy tidak ingin disalahkan.
__ADS_1
"Sudah tidak ada? ke mana? bukankah diperjanjian surat wasiat Papa aku bisa dapatkan semua pada usiaku ke dua puluh tahun. Sekarang sudah berapa tahun? apa aku pernah mempermasalahkannya? apa aku pernah sedikit saja memaksa Paman dan keluarga Paman itu meberikan padaku? tidak, kan? jawab!" Sentak Hansel mulai kesal.
Hansel terus melangkah maju, Ergy melangkah mundur dan diam tidak bicara apa-apa. Hansel memojokan Ergy, dengan tatapan tajam Hansel menatap Ergy. Tatapan penuh rasa kesal, kecewa dan amarah membaur menjadi satu.
"Jangan membuatku harus berkata kasar dan melakukan sesuatu tindakan yang bodoh. Aku masih bisa menahan diri jika Paman menghina dan merendahkanku, tetapi tidak dengan Papa. Papa orang yang terlalu baik untuk menjadi Kakak dari Paman. Apa Paman tau kenapa? hati Paman busuk, Paman juga penuh kepalsuan. Paman egois, tidak ada hal penting selain keuntungan pribadi Paman sendiri. Apa semua yang aku katakan kurang jelas?"
Plakkkk...
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Hansel. Hansel tertawa setelah mendapatkan tamparan dari Ergy. Hansel kembali menatap tajam mata Ergy.
"Anak tidak tahu berterima kasih. Masih untung aku merawatmu setelah kematian Papamu. Aku masih mau mengurusmu juga. Bisa-bisanya kau kurang ajar seperti ini," ucap Ergy marah.
Hansel tersenyum, "Kebiasaan Paman juga tidak berubah, ya? selalu saja, marah-marah dan langsung memukul jika aku membantah atau mengungkapkan pendapatku. Awalnya aku tidak ingin berurusan lebih lanjut dengan Paman. Namun, sepertinya aku berubah pikiran. Mulai saat ini, aku tidak akan biarkan Paman tidur lelap. Aku akan mengambil semua yang menjadi hakku, semuanya tanpa ada yang tersisa. Ayo kita selesaikan masalah kita dipengadilan, Paman."
Ergy kaget, "Brengs*k! apa yang kau katakan, huh?" sentak Ergy.
"Semakin tua, pendengaran Paman juga semakin bagus, ya. Aku malas menjelaskan, akan ada seseorang ahli yang akan menjelaskannya nanti. Ini peringatan, karena keponakanmu ini masih mau berbaik hati. Jika tidak ingin masalah kita menyebar luas, berikan hakku secara sukarela. Aku akan menganggap tidak ada apa-apa dan kita bisa memutuskan hubungan. Aku tidak mau punya Paman jahat sepertimu," jelas Hansel.
"Apa kau gila! aku tidak akan begitu saja menyerahkan semuanya. Aku mendapatkannya dengan susah payah. Aku juga yang sudah mengurus perusahaan dan semuanya. Kau tidak bisa begitu saja mengambilnya," jawab Ergy bersikeras.
"Kenapa tidak? aku adalah putra sah sekaligus satu-satunya pewaris. Paman kan bukan putra Papa. Atas dasar apa Paman tidak mau memberikan hakku setelah aku melewati batas usia yang telah ditentukan? Sudahlah... aku tidak mau memperpanjang pembicaraan kita. Apa yang aku sampaikan sudah aku sampaikan. Aku tidak akan mengurungkan niatanku. Aku ingin hakku kembali," tegas Hansel mendekatkan wajahnya ke wajah Ergy. Hansel berbalik dan melangkah pergi.
Hansel menghentikan langkahnya, "Selagi aku masih berbaik hati, berikan semua hakku dengan sukarela. Aku tidak akan menuntut atau menguak luka masa lalu. Jika tidak, jangan salahkan aku mengacaukan ketentraman hidup keluarga kalian. Pikirkan baik-baik, Paman."
Hansel kembali melangkah pergi keluar dari kamar mandi. Ergy terkejut, ia tidak menyangka jika Hansel berani berteriak dan berkata kasar padanya. Bahkan berani mengancamnya. Melihat Hansel yang bersikap arogan, membuat Ergy kesal. Ergy menganggap ancaman Hansel hanyalah bualan. Ia tetap memandang rendah Hansel, mengukuhkan hati untuk tidak mendengar apa yang Hansel katakan.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyerahkannya. Mau kau memaksa atau tidak, aku tetap akan mempertahankan apa yang aku miliki. Dasar anak s*alan!" batin Ergy memaki Hansel.
...*****...