My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 24 - Pertemuan Hansel dan Charlie


__ADS_3

Malam harinya, Charlie kembali membaca dan memikirkan cara terbaik untuk mengungkap semuanya. Namun, ia tidak bisa menemukan cara yang tepat. Ia bingung harus bagaimana. Sampai-sampai ia berpikir akan langsung bicara pada Micheline meski belum tentu Micheline akan mempercayainya.


Saat pikirannya dan hatinya sedang bergejolak, ia mendapatkan panggilan dari Hansel. Charlie kaget saat melihat nama Hansel di layar ponselnya. Ia menjadi ragu, ia pun tidak menjawab panggilan Hansel. Beberapa saat kemudian, Ponselnya kembali berdering. Panggilan dari Hansel kembali datang. Charlie memantapkan hatinya untuk menerima panggilan dari Hansel.


"Ya," jawab Charlie.


"Pak, bisa kita bertemu malam ini?" tanya Hansel, "Ada yang ingin saya sampaikan secara langsung," imbuhnya tidak berbasa-basi.


"Apa tidak bisa disampaikan lewat telepon?" tanya Charlie.


"Kurang baik sepertinya jika melalui telepon. Jika Pak kepala tidak bisa hari ini, silakan pilih hari lain. Saya akan mengikuti sesuai keinginan Pak kepala," jawab Hansel.


Charlie berpikir sejenak, "Baiklah. Ayo bertemu dan bicara. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu juga, Hans. Tempatnya kau yang pilih. Kirim alamatnya padaku," jawab Charlie.


"Baik, Pak. Saya akan langsung mengirim alamatnya. Sampai bertemu," kata Hansel.


"Ya," jawab Charlie mengakhiri panggilan Hansel.


Charlie meletakan ponselnya di atas meja, ia menatap kembali kertas dokumen yang baru saja dilihatnya. Tidak lama, Hansel mengirim alamat di mana kedunya akan bertemu. Ia segera bangun dan bersiap, ia memasukan kertas-kertas kembali dalam amplop dan membawa bersamanya.


*****


Hansel selesai mengirim pesan pada Charlie. Ia merasa tidak enak hati pada Charlie. Memang tidak seharusnya Ia mengkritik usulan Charlie saat rapat. Sehingga membuat Charlie merasa kesal padanya. Cara satu-satunya untuk meredam semuanya adalah minta maaf.


"Apa yang ingin dia sampaikan, ya? sepertinya hal yang penting. Apa dia akan memarahiku nantinya?" batin Hansel menerka-nerka.


"Ya, sudahlah. Apapun itu..." kata Hansel yang berdiri dari tempat duduknya di tepi tempat tidur, "Aku akan minta maaf dan mengakhiri perselisihan ini sampai di sini saja. Aku juga tidak ingin membuat Micheline berpikir tidak-tidak tentangku. Setelah urusan dengan Charlie, aku akan selesaikan urusanku dengan Alfonzo. Aku tidak mau lagi menjadi mata keduanya," ucap Hansel meraih mantel dan keluar dari kamar tidurnya.


"Hans..." sapa Marc menatap Hansel, "Kau mau keluar?" tanyanya.


"Ya, Marc. Kau tidak keluar?" tanya Hansel.


Marc menggelengkan kepala, "Tidak. Aku ingin tidur nyenyak malam ini," jawab Marc.


"Baikalah jika seperti itu. Aku pergi dulu ya," pamit Hansel.


"Ya. Hati-hati dan jangan pulang terlalu malam," jawab Marc.

__ADS_1


Hansel pergi meninggalkan Marc seorang diri di apartemennya. Ia tidak yakin akan baik-baik saja atau tidak. Tidak bisa memastikan semua akan berjalan lancar atau malah sebaliknya. Dimaafkan saja sudah cukup bagus, itulah yang dipikirkan Hansel.


Ia pergi dengan menggunakan taksi menuju tempat yang ditentukan. Sepanjang perjalanan, ia memikirkan apakah Charlie akan menerima penjelasannya atau tidak. mengingat sikap Charlie yang dingin padanya usai rapat di kantor.


"Kenapa aku jadi resah seperti ini, ya?" batin Hansel.


Sekitar lima belas menit Hansel menempuh perjalanan dari apartemennya menuju bar tempatnya bertemu Charlie. Sesampainya di lokasi, Hansel langsung turun dan masuk dalam bar.


Hansel melihat sekeliling, ia melihat seseorang yang tidak asing. Yang tidak lain adalah Charlie. Ia melihat Charlie sudah memesan minuman dan menikmati minuman pesanannya. Hansel menarik napas dalam lalu mengembuskan napas perlahan. Ia berjalan mendekati Charlie dan langsung duduk di samping Charlie.


"Maaf membuat Anda menunggu," kata Hansel.


"Tidak, aku hanya ingin datang lebih awal saja. Kau bisa bicara santai denganku," jawab Charlie kembali menimun minumannya.


Hansel memesan minuman. Ia menatap Charlie sekilas melihat Charlie yang sedang minum. Charlie menatap Hansel, pandangan keduanya bertemu.


"Ada apa? apa di wajahku ada sesuatu?" tanya Charlie.


Hansel menggelengkan kepala, "Tidak," jawab Hansel singkat.


"Jadi, apa tujuanmu ingin bertemu denganku, Hans? apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Charlie mulai tidak sabar.


Charlie tersenyum dingin, "Apa kau tahu? kau orang pertama yang bisa membuatku amat sangat kesal, Hans. Aku menyampaikan usulanku bukan karena berpikir aku hebat, atau jabatanku yang merupakan kepala sekretaris. Tetapi aku sampaikan dengan pertimbangan yang sangat matang. Aku selalu perhitungkan untung dan rugi jika itu menyangkut perusahaan."


"Saya mengerti," jawab Hansel.


Charlie mengehela napas, "Lupakan saja. Aku tidak ingin membahasnya lagi saat ini. Ada hal yang lebih ingin aku bahas denganmu."


Hansel mengeryitkan dahi, "Apa itu?" tanya Hansel.


"Apa kau punya tujuan tertentu masuk ke perusahaan?" tanya Charlie tanpa basa-basi lagi.


Hansel terkejut, "Apa maksudnya?" tanya Hansel tidak mengerti.


"Apa maksudnya? apa dia tahu sesuatu? itu tidak mungkin, kan?" batin Hansel.


"Ya atau tidak," kata Charlie.

__ADS_1


"Saya tidak mengerti Maksud Anda," jawab Hansel.


"Terakhir kali aku bertanya, Hans. Ya atau tidak?" tanya Charlie dengan nada suara penuh penekanan.


Hansel diam tidak menjawab. Ia tidak mengerti maksud ucapan Charlie. Melihat Hansel yang diam, Charlie menjadi geram. Ia langsung meletakan amplop cokelat besar di atas meja di hadapan Hansel.


"Apa ini?" tanya Hansel menatap amplop cokelat di atas meja, lalu menatap Charlie.


Charlie berbalik diam. Ia tidak ingin banyak bicara lagi. Hansel ragu-ragu mengambil amplop itu, dengan perlahan dibukanya dan dikeluarkannya beberapa lembar kertas dari dalam amplop. Hansel membaca dan terkejut, lembaran kertas ditangannya berisi semua data pribadinya.


"Ini..." kata Hansel yang kaget.


"Kau terkejut?" sahut Charlie.


"Kau menyeledikiku diam-diam?" kata Hansel sedikit kesal.


"Kenapa? kau jadi tidak sesopan tadi. Inikah sifat aslimu, Hansel Feliks?" jawab Charlie tersenyum dingin.


"Apa yang kau inginkan? bagaimana bisa kau tau semua ini?" tanya Hansel lagi merem*s kertas di tangannya.


"Ya atau tidak? kau bukan orang bodoh sampai tidak tahu maksud pertanyaanku, kan?" ucap Charlie kembali menikmati minumannya.


Hansel bingung. Ia serasa didorong ke tepi jurang. Harusnya ia menyerah dan melompat ke jurang, atau haruskah ia menyerah dan mengatakan semuanya pada Charlie.


"Kau tetap diam rupanya," kata Charlie menatap Hansel, "Baiklah. Ku beri waktu 1 minggu. Katakan sejujurnya padaku atau kau akan kehilangan nyawamu," bisik Charlie.


Hansel mengeryitkan dahi, "Kau hanya bisa mengancam? apa kau selalu seperti ini pada semua orang?" jawab Hansel kesal.


Charlie melebarkan mata, "Oh, kau berani berkomentar seksrang. Jadi ini sosok aslimu, hah?" kata Charlie tersenyum masam.


"Bagimu nyawa seseorang hanya seperti nyawa semut yang bisa kau injak begitu saja. Mungkin kau bisa melakukannya pada orang lain. Tapi... kau tidak akan bisa melakukannya padaku," jawab Hansel.


Charlie geram. Ia langsung memukul wajah Hansel sampai Hansel tersungkur di lantai. Seketika suasana bar tersebut ramai. Charlie mendekati Hansel, mencengkram krah kemeja Hansel dan langsung memukul perut Hansel. Bertubi-tubi Charlie memukul Hansel. Charlie melampiaskan semua rasa kesalnya saat itu juga.


"Aku sudah cukup menahan emosiku sejak tadi pagi. Karena Micheline aku mebiarkanmu hidup. Kau sekarang berani mengataiku, hah? dasar baj*ngan! memangnya apa yang kau tahu tentangku, huu? kau tau apa?" murka Charlie kembali memukil Hansel.


Hansel tidak melawan dan pasrah. Ia sadar jika kata-katanya sudah menyulut emosi Charlie. Namun, ia masih tidak bisa membiarkan Charlie tahu apa yang sebenarnya. Hansel merasa punya rencana sendiri untuk menyelesaikan semuanya. Ia tidak ingin Charlie ikut campur dalam urusannya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2