
Keily dan J bersaudara sampai di rumah Micheline. Mereka bertiga bingung sebenarnya. Tidak tahu apa maksud Charlie yang tidak menjelaskan detail apa yang terjadi. Charlie hanya berpesan pada Keily, untuk menjaga rumah Micheline selagi dirinya pergi bersama Hansel. Oleh karena itu, Charlie juga meminta Jesllyn juga Jason menemani Keily.
"Jadi ini rumah Nona Robert?" gumam Jason menyelisik sekeliling rumah.
"Ya. Kalian belum pernah ke sini? tanya Keily, yang langsung di sambut oleh gelengan kepala Kakak beradik Jesslyn dan Jason.
"Kami kan tidak pernah ke sini. Bukan tidak pernah juga, mungkin lebih tepatnya kami hanya beberapa kali saja ke kota ini." jelas Jesslyn.
"Ah, iya. Aku tau, Kak." jawab Keily.
"Tadi Kakak ipar berpesan apa? jangan pergi ke belakang rumah? memang di belakang rumah ada apa? sampai kita tidak boleh ke sana," kata Jason bertanya-tanya.
"Jason. Kau jangan bertingkah!" seru Jesslyn.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Kak." sahut Jason membela diri.
Keily mengangkat kedua bahu, "Entahlah, aku juga tidak tahu. Kakak berjanji akan jelaskan nanti saat ia kembali. Kita tunggu saja dia kembali," jawab Keily.
"Lalu kita harus apa? tidak mungkin kan kita berdiam diri saja," sahut Jason yang duduk di sofa.
"Kita buat makanan? atau kita nonton film? apa sajalah, agar kita tidak bosan." jawab Keily.
"Ada yang mau teh? aku akan seduh teh jika Nona memilikinya," tawar Jesslyn.
"Hm..." gumam keily berpikir, "Sepertinya aku pernah minum teh di sini. Jadi kemungkinan Kak Micheline pasti punya teh," jawab Keily bersemangat.
"Bagaimana jika kau bantu aku mencari, Kei?" ajak Jesslyn.
"Boleh, Kak. Ayo..." jawab Keily tersenyum. Ia langsung merangkul lengan Jesslyn dan pergi membawa Jesslyn ke dapur.
"Eh, tunggu..." kata Jesslyn, ia lalu menatap Jason yang duduk di sofa, "Kau diam di situ, Jason. Jangan ke mana-mana," pinta Jesslyn.
__ADS_1
"Iya Kak. Aku akan menunggu di sini sambil bermain game," jawab Jason.
Jason mengeluarkan ponsel di sakunya, lalu bermain game. Sedangkan Jesslyn dan Keily ada di dapur, mereka terlihat sibuk ingin menyeduh teh.
*****
Di kamar belakang, di mana Ertha dan Luky berada. Keduanya sudah sadar dan memakan sarapan yang diberikan Micheline. Meski Micheline kesal, ia tetap memperlakukan Ertha dan Luky layaknya seseorang yang hidup. Memberi makan sampai menyiapkan perlengkapan mandi dan pakaian yang baru untuk keduanya.
Luky sudah mendengar semuanya dari Ertha. Awalnya ia tidak percaya, sampai pada akhirnya ia menyadari jika apa yang dikatakan Mamanya adalah kenyataan dan buakan bualan semata. Luky sangat kaget, ia tidak menyadari semuanya. Ia terpaksa harus berdiam diri di kamar asing berduaan saja dengan Mamanya.
"Jadi, kita akan terus di sini sampai kapan?" kata Luky.
"Sampai badai mereda," jawab Ertha.
"Aku tidak bisa bercerita padamu, Luky. Maafkan Mama," batin Ertha. Tanpa sadar Ertha meneteskan air matanya.
Melihat Mamanya menangis, Luky bingung. Ia mendekati Mamanya. Membuat Ertha terkejut, karena Luky tiba-tiba menyeka air matanya.
"Mama menangis? ada apa, Ma?" tanya Luky menatap Mamanya.
"Tetap saja ini bukan suatu hal yang bisa dilakukan Hansel seenaknya pada kita, Ma. Pec*ndang sepertinya hanya bisa mengandalkan bantauan perempuan. Mengesalkan!" geram Luky karena kesal.
"Sudah, sudah. Lupakan saja. Habiskan sarapanmu," pinta Ertha.
"Aku tidak bernafsu," kata Luky membuang pandangan ke arah lain.
"Kenapa? kau kesal? ini kan bukan sepenuhnya salah Hansel. Papamu juga bersalah," kata Ertha lagi menjelaskan.
"Papa salah apa? papa sampai nekat seperti itu karena Hansel yang ingin merebut semua milik Papa. Dia pikir dia siapa, ingin memiliki semuanya. Apa dia punya hak untuk itu semua. Mama jangan membela Hansel," sentak Luky emosi. Luky berdiri dan menjauh dari Mamanya.
"Luky..." panggil Ertha pelan, "Jangan kau kesal seperti itu, Nak. Dinginkan hatimu, ok. Mama akan jelaskan semuanya, jangan meluapkan emosimu di saat seperti ini. Ini tidak benar," kata Ertha.
__ADS_1
"Apa lagi yang ingin Mama katakan? apa lagi yang ingin Mama sampaikan? cukup, Ma. Cukup! aku tidak akan mengubah pemikiranku tentang Hansel. Hansel... ah bukan, maksudku bed*bah itu tidak layak mendapatkan pembelaan dari Mama." kata Luky bersikeras menyalahkan Hansel.
"Kenapa aku baru menyadari jika sifat Luky sepertinya, ya? ah... memang benar. Darah itu lebih kental dari air. Bagaimana pun, Luky kan anaknya. Meski sedikit tetap mewarisi gennya. Ertha, Ertha, apa yang sekarang harus kau lakukan?" batin Ertha bergelud dengan pikirannya.
"Mama bukannya membela Hansel, Nak. Mama hanya meluruskan pemikiranmu yang sedikit melenceng dari kenyataan. Hansel memang salah, tetapi tidak sepenuhnya. Ia salah karena sudah membuat Papamu murka. Papamu salah karena mengincar nyawa Hansel. Dan perempuan itu, dia adalah rubah licik yang pada akhirya menangkap kita, membawa kita sampai di tempat ini. Kau juga tidak bisa menyalahkan perempuan itu, karena dia hanya ingin melindungi bawahannya saja." jelas Ertha beralasan.
"Lebih tepatnya karena perempuan rubah itu tahu semuany tentang rahasia Mamamu ini, Luky. Bagaimana Mama jelaskan ini padamu, Nak? mama tak ingin kita menderita dan hidup sengsara. Jika Ergy tahu kau bukan anaknya, bukankah hidup kita akan tamat? bagaimana dengan pendapat orang nantinya? tidak, tidak, aku tidak bisa hidup dalam kesusahan dan hinaan orang lagi. Cukup sebelum kau lahir Mama mengalaminya. Tidak ingin lagi hidup seperti dulu," batin Ertha mulai cemas.
"Hah..." dengus Luky, "Apa yang sebenarnya Mama pikirkan? apanuya yang bukan salah Hansel. Jelas-jelas semua salah Hansel karena menyudutkan Papa. Jika aku bertemu dengannya, aku akan menghabisinya. Arrggghh..." batin Luky kesal.
"Mama saja yang sarapan. Aku tidak lapar. Aku ingin tidur saja," kata Luky yang langsung berjalan mendekati temapt tidur. Ia naik ke atas ke tempat tidur lalu langsung berbaring.
Ertha berdiri, ia mendekati Luky yang sudah berbaring di tempat tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur di samping Luky. Tangannya perlahan mengusap kepala Luky. Ertha tahu benar, putranya sangat kesal dan menyalahkan semuanya pada Hansel.
"Kita tidak punya pilihan, Nak. Pilihanya hanya ada dua. Menyerah atau menyesal, Menyerah kita selamat dan bisa melanjutkan hidup kita. Menyesal artinya kita tidak bisa tahu apa yang terjadi kedepannya. Bisa saja kita hidup atau mati. Mama tidak mau kau menderita, Luky. Apa kau mengerti?" jelas Ertha lagi. Ia ingin Luky tahu perasaanya dan tidak terus -terusan berkecimpung dalam pemikirannya sendiri.
"Apa ada yang Mama sembunyikan dariku? kenapa Mama terlihat begitu cemas? apa Mereka sudah mengancam Mama? melakukan sesuatu? jawab, Ma. Jangan hanya diam saja.
"Mereka tidak melakukan apa-apa, Nak. Mama saja yang terlampau khawatir. Yang jelas, saat ini kita pasti akan baik-baik saja. Kau hanya perlu menahan dirimu saat kau bertemu mereka. Jangan menunjukan kekesalanmu juga emosimu. Kau mengerti ucapan Mama, Luky?" tanya Ertha.
Luky mengangguk, "Ya, Ma. Aku akan percaya pada Mama. Aku tahu Mama merahasiakan sesuatu dariku, tetapi aku tidak akan mendesak Mama bicara jika Mama tidak ingin bicara." kata Luky.
Ertha menggenggam tangan Luky erat, "Mama akan bicara jika saatnya sudah tepat. Mama berjanji," ucap Ertha.
"Ya, Ma."
"Mama tidak bisa bicara sekarang. Sekarang..." kata-kata Ertha terhenti. Tiba-tiba saja ia menunduk dan menangis. Ia tidak bisa lagi membendung air matanya.
Luky bangun, ia merasa tidak enak hati karena Mamanya menangis. Merasa bersalah karena sudah membuat Ertha menangis.
"Maaf, Ma. Tolong jangan menangis," pinta Luky.
__ADS_1
Ertha menadahkan kepalanya menatap Luky, ia tersenyum dan mengusap wajah Luky yang sedih. Ertha tidak bersuara, hanya terus mengembangkan senyuman. Luky menyeka air mata Ertha dan langsung memeluk Ertha.
...*****...