
Keesoakan harinya. Ponsel Hansel terus berdering, Hansel yang masih menganguk merasa kesal karena ponselnya terus berdering. Hansel meraba nakas dan mengambil ponselnya. Ia langsung menerima panggilan tanpa melihat siapa orang yang menghubunhinya.
"Kau ini, cepat bangun. Aku sudah di depan apartemenmu," kata seseorang yang tidak lain adalah Micheline.
"Ah, iya..." jawab Hansel tanpa sadar. Tidak lama mata Hansel terbuka lebar karena merasa kenal dengan suara di ujung telepon, "A-apa?" kaget Hansel.
Hansel melihat layar ponselnya dan melebarkan matanya, "Bu CEO," katanya terkejut.
"Hei, sampai kapan kau akan tekejut. Cepat bangun dan ganti bajumu. Kita akan lakukan pelatihan ringan hari ini. Aku beri waktu lima menita untukmu bersiap. Jika lebih dari lima menit, aku akan ratakan bangunan apartemenmu. Kau mengerti?" kata Micheline.
"Hah? i-iya. Tunggu sebentar," jawab Hansel segera mengakhiri panggilan dari Micheline.
Hansel bangun dengan terburu-buru dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Waktunya hanya lima menita saja untuk bersiap. Waktu yang sangat singkat, membuat Hansel tergopoh-gopoh.
*****
Micheline, Charlie dan Keily menunggu di parkiran. Mereka nampak mengenakan stelan pakaian olah raga. Charlie yang kurang tidur terlihat kurang bersemangat. Semalam setelah ia berbicara dan menemani Adiknya sampai terlelap, ia masih sibuk mengolah data sambil minum bir.
"Apa-apaan ini," gumam Charlie mengeluh. Ia menatap Micheline, "Kau membangunkanku tidur demi hal ini? untuk menemani latihan bodyguard barumu itu? menyedihkan," imbuh Charlie terang-terangan.
"Kakak, kenapa bicara seperti itu pada Kak Michel. Jahat sekali," sahut Keily tidak terima dengan perkataan Charlie yang blak-blakan.
"Biarkan saja. Sepertinya, Kakakmu juga perlu latihan kecil hari ini. Kakakmu pasti akan 'sangat' menikmatinya," jawab Micheline tersenyum penuh misteri.
Charlie mengernyitkan dahi, "Jangan tersenyum seperti itu. Sepertinya kau sudah merencanakan sesuatu. Aku sangat paham arti senyumanmu, Bu CEO."
Micheline melebarkan senyumannya, "Bagus sekali, Pak kepala Sekretaris. Anda sangat-sangat peka," jawab Micheline.
Keily hanya bisa menahan tawa melihat kelakuan Kakaknya dan Micheline. Sudah lama ia tidak melihat keakraban yang seperti ini. Setelah sekian lama, ia kembali menikmati momen-momen indah bersama Kakaknya dan teman dari Kakaknya.
"Wah, senang sekali. Akhir pekanku bisa berkunjung ke Villa. Untung saja tadi Kakak Michel datang, kalau tidak aku pasti akan jadi roti panggang yang di oven di dalam rumah oleh Kakak."
Mendengar keluhan Keily, Micheline mengernyitkan dahi. Dalam ucapan Keily tersimpat sesuatu yang mmebuat Micheline tertarik untuk mengetahui lebih lanjut.
__ADS_1
"Ada apa? Kakakmu menghukummu?" tanya Michrline manatap Keily.
Keily menatap sedih pada Micheline dan menganggukkan kepala perlahan, "Ya. Sepertinya dia sudah tidak sayang lagi padaku. Aku sedih," kata Keily mulai mengeluh pada Micheline. Keily sengaja ingin mengerjai Kakaknya.
"Hei, kau kenapa? kita kan sudah berbaikan semalam. Apa ini?" sahut Charlie terkejut karena tiba-tiba Keily mengadu pada Micheline.
"Kenapa? apa Kakak takut aku bilang pada Kakak Michel? Kakak penakut sekali," ejek Keily.
"Oh, begitu. Setelah kau mengadu padanya. Kakakmu ini akan menderita, kau sengaja rupanya. Kasian sekali aku, punya Adik yang suka mengadu."
"Apa yang Kakakku katakan. Jangan takut dan bicara saja. Jika Kakakmu melakukan sesyau padamu, aku akan patahkan satu jari tangannya. Di mulai dari jari kelingking tangan kanannya," kata Micheline.
Keily mengerutkan dahi, "Kakak, kenapa mematahkan jari Kakakku? Tidak ada hukuman lain? omeli saja dia," jawab Keily kaget mendengar jawaban Micheline.
"Ah... aku melupakan sesuatu. Aku lupa jika Kak Michel adalah monster betina berdarah dingin. Aku salah jika mengadukan Kakak padanya. Hampir saja Kakakku mengalami patah tulang pada jari-jarinya," batin Keily.
"Kau membela Kakakmu sekarang? tadi bukannya kau mengeluh? plin-plam sekali," gerutu Micheline.
Melihat Keily yang kahawatir, Micheline langsung tertawa lebar. Ia tau jika Keily pasti membela Charlie, karen Keily sangat menyayangi Charlie.
"Aku juga hanya bergurau, Kei. Mana mungkin aku tega mematahkan jari-jari tangan Kakakmu yang berharga. Kakakmu sangat bernilai," kata Micheline.
Keily tersenyum, "Terima kasih untuk kebaikan hatimu pada Kakak dan padaku, Kak Michel. Kakak adalah satu-satunya perempuan yang sangat baik dan perhatian padaku. Aku sangat senang," imbuh Keily.
Setelah menunggu sesuai waktu yang ditentukan. Hansel datang dengan berlari. Napasnya tersengal, dadanya sedikit sesak dan membuat Hansel sedikit terbatuk-batuk.
"Kau terlambat dua menit," kata Micheline.
"Ya. Waktu yang kau berikan terlalu singkat," jawab Hansel.
"Baiklah, ayo kita berangkat. Hansel, kau ikut aku. Kau yang menyetir. Cepat!" perintah Micheline.
Charlie dan Keily berjalan bersama mendekati mobil Charlie yang semalaman terparkir di parkiran dekat apartemen Hansel. Hansel dan Micheline naik dalam mobil, Hansel mengikuti perintah Micheline mengemudikan mobil Micheline. Mobil yang ditumpangi Charlie dan Keily menyusul kepergian mobil Micheline.
__ADS_1
*****
Di Villa pribadi milik Micheline. Tidak lama setelah sampai di Villa, Micheline langsung memerintahkan Hansel dan Charlie juga Keily mengikutinya. Rupanya, Micheline pergi ke kandang kuda kesanyangannya, Cookie. Micheline langsung tersenyum dan menyapa sahabatnya itu. Cookie pun mengendus-endus Micheline dan terlihat senang. Seakan memang menantikan kedatangan Micheline.
"Hai, Cookie sayang. Aku datang," ucap Micheline mengusap wajah Cookie.
Cookie mengusap-usapkan wajahnya pada tangan Micheline. Seperti ini terus dibelai dan diberi perhatian berlebih. Micheline tahu keinginna kuda kesayangannya itu dan langsung melakukan sesuai keinginan kudanya.
"Kau rindu padaku, ya? aku juga sangat rindu padamu, Cookie. Sayangku," ucap Micheline terus memuji dan mengusap kepala Cookie.
"Selamat pagi, Nona. Selamat datang," sapa seseorang yang tidak lain adalah pelatih kuda, Jason.
"Hai, Jason. Apa kau sedang berkeliling? di mana Jesslyn?" tanya Micheline.
"Saya di sini, Nona. Selamat da..." karena terlalu bersemangat dan terburu-buru berlari, Jesslyn tersandung dan hampir saja terjatuh. Untungnya, dengan sigap Charlie menolong Jesslyn.
"Te-terima kasih, Tuan. Maafkan kecerobohan saya," kata Jesslyn buru-buru melepaskan diri dari dekapan Charlie.
"Ya. Lain kali tolong lebih hati-hati," jawab Charlie.
Keily dan Micheline saling menatap. Mereka terlihat bingung. Karena Charlie bukan tipe orang yang ramah seperti saat itu. Suasana menjadi canggung. Untuk memecah susana, Micheline bertanya kabar Jason dan Jesslyn.
"Apa kalian sehat dan baik-baik saja? Jika sibuk dengan perkebunan anggur. Kalian bisa meminta oranglain mengurus kuda-kudaku yang lain, kecuali Cookie."
"Kami sangat sehat, Nona. Tidak masalah, kami senang melakukan ini. Benarkan, Jasson?" kata Jesslyn menatap Jason.
Jason mengangguk, "Ya, Nona. Kami tidak keberatan. Merawat kuda-kuda Anda adalah tanggung jawab kami," kata Jason membenarkan kata-kata Kakaknya.
"Oh, ya. Aku membawa beberapa tamu. Dia adalah kepala Sekretaris kantorku, Charlie. Dia Adik perempuan Charlie dan dia Asisten pribadiku, Hansel. Dan kalian, mereka adalah Kakak-beradik Jesslyn dan Jasson. Jesslyn seorang Dokter hewan yang khusus aku tugaskan merawat kuda-kuda peliharaanku. Dan Jason adalah Asistennya. Mereka juga pemilik perkebunan anggur, sekaligus pengelola gudang anggur terbesar di wilayah ini. Jadi, jika ingin minum wine. Kita bisa langsung datang ke gudang anggur milik J bersaudara," kata Micheline memperkenalkan satu sama lainnya.
Semuanya saling berkenalan. Mereka sedikit berbincang untuk sekedar berbasa-basi. Keily terlihat langsung akrab dengan Jesslyn. Sedangkan Jason berbincang dengan Hansel dan Charlie. Micheline masih sibuk melepas rindu pada Cookie kesayangannya.
...*****...
__ADS_1