
Keily berjalan perlahan menuju dapur. Sesampainya di dapur, ia segera mengambil gelas dan menuang air minum. Saat ia minum, Jason yang bertelanjang dada juga pergi ke dapur. Keily langsung tersedak dan batuk.
"Uhukkk..."
Melihat Keiky tersedak, Jason segera menghampiri Keily dan menepuk-nepuk punggung Keily. Jason terlihat panik dan khawatir.
"Kau baik-baik saja? bagaimana bisa kau tersedak?" kata Jason terus mengusap punggung Keily.
"Laki-laki ini terlalu polos apa memang dia tidak tahu apa-apa, ya. Aku tersedak karena kau!" batin Keily.
Keily mengangguk, "Aku baik-baik saja. Berhenti menepuk punggungku."
Jason kaget, "Ah, maafkan aku. Aku hanya kelewat panik."
"Tidak apa-apa, Jason. Terima kasih," kata Keily, "Kau belum tidur? butuh sesuatu?" tanya Keily.
"Aku haus dan ingin ambil minum," jawab Jason.
"Ke-kenapa tidak mengenakan pakaian. Jangan jadi orang mesum," kata Keily memalingkan wajah menatap arah lain.
"Hah? mesum?" bingung Jason, "Sepertinya kau salah paham. Aku hanya ingin melihat punggungku tadi. Karena aku terburu-buru keluar kamar karena haus, jadi aku tidak pakai baju. Siapa yang mesum," jelas Jason sedikit kesal.
"Kau yang mesum, siapa lagi? Di sini, hanya kau satu-satunya laki-laki, kan?" ucap Keily meletakan gelas di meja lalu menuang lagi air dalam gelas.
"Terserah saja. Aku malas berdebat," kata Jason berjalan ke dapir mengambil gelas. Tidak lama kembali dan menuang air minum. Jason langsung meminum air dalam gelas dengan sekali tegukan.
"Wow... keren," batin Keily melihat Jason yang sedang minum. Keily merasa pose Jason sangat sexy, "Sexynya..." batinnya lagi dengan wajah memerah.
Jason selesai minum dan meletakan gelas, ia melihat Keily yang sedang manatapnya dengan wajah yang merah seperti kepiting rebus. Melihat Keily yang menatapnya, Jason mendekatkam wajahnya dan bertanya.
"Apa kau melihatku?" tanya Jason menatap tajam.
"Apa? siapa yang menatapmu? ka-kau... kau bicara apa? aku akan kembali ke kamarku."
Keily melangkah pergi dengan membawa segelas air putih bersamanya. Baru selangkah Keily melangkah, tangannya sudah ditahan oleh Jason. Jason menghentikan langkah Keily yang ingin kembali ke kamar.
"Jika kau ingin melihatku, aku tidak keberatan. Lihatlah sepuasmu," kata Jason.
Keily berpaling dan menatap Jason, "Apa kau demam? masih merasa sakit? kau aneh sekali," kata Keily.
"Itu... boleh aku minta tolong? tolong oleskan krim obat di punggungku. Tanganku tidak bebas bergerak, sulit untuk menjangkau punggung."
Keily diam sejenak, "Ok," jawab Keily mengiyakan permintaan Jason karena merasa kasihan pada Jason.
__ADS_1
Jason dan Keily berjalan bersama menuju kamar Jason. Di dalam kamar, Jason duduk di sofa, ia memberika krim pada Keily. Ia langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Keily. Keily melihat jelas punggung Jason. Punggung yang gagah, meski terlihat beberapa luka lebam.
"Apa Kakakku tidur?" tanya Jason.
"Ya. Saat aku ke luar kamar, dia bilang ingin tidur."
"Kau sendiri? apa kau tidak tidur?" tanya Jason lagi.
"Aku haus ingin ambil minum. Sebenarnya belum mengantuk juga," jawab Keily.
"Aku boleh bertanya sesuatu?"
"Ya. Tentj saja boleh. Ada apa?" tanya Keily penasaran.
"Itu, apakah Kakakku ada sesuatu dengan Kakakku?" tanya Jason dengan suara pelan hampir tidak terdengar.
"Apa kau menyadarinnya? sejak kapan?" tanya Keily.
"Entahlah. Mungkin sejak tadi. Saat Kakakmu meminta izin membawa Kakakku untuk diobati. Aku merasa ada sesuatu di antara mereka, makanya aku bertanya padamu. Apajah kau juga melihatnya?"
Keily mengoles krim perlahan ke punggung Jason, "Aku sependapat denganmu. Dan, aku tadi bertanya langsung pada Kakakmu. Kau tau, apa jawaban Kakakmu?"
"Apa?" sahut Jason cepat, Jason merasa panasaran.
"Jadi..." kata-kata Jason terhenti.
"Jadi, sudah dipastikan. Mereka memiliki perasaan satu sama lain. Bagaimana menurutmu? kau suka tidak punya Kakak ipar seperti Kakakku?" tanya Keily.
Jason mengernyitkan dahi, "Asalkan Kakakku mencintainya, dan laki-laki itu bisa bersikap baik pada Kakak. Mau seperti apa rupanya aku tidak peduli. Mau darimanapun ia berasal, aku juga tidak peduli. Yang paling terpenting adalah kebahagiaan Kakak."
Keily selesai mengoles krim, "Aku setuju denganmu. Kali ini sepertinya kita bayak punya kesamaan, Jason. Jika kau bertanya apakah aku menyukai Kakakmu, aku akan menjawabnya dengan suara yang lantang. Aku sangat-sangat menyukainya," ungkap Keily tersenyum.
"Kau menyukaiku, tidak?" tanya Jason tiba-tiba.
"Tentu sa..." Keily melebarkan mata, "Apa maksudmu?" tanya Keily mengernyitkan dahi.
"Aku tidak akan ulangi ucapanku. Anggap aku tidak pernah bicara apa-apa," kata Jason.
"Aku juga menyukaiku, Jason. Sangat, sangat, sangat suka. Kau menyukaiku, tidak?" tanya Keily berbisik di telinga Jason.
Jason terkejut ia memalingkan wajah, karena posisi Keily yang masih ada di dekat telinga Jason. wajah mereka bertemu dan mereka saling bertatatp muka. Jason memandang dalam mata Keily, begitu juga Keily. Entah apa yang keduany pikirkan, bibir keduanya saling bertemu. Keily dan Jason berciuman.
Keily mengubah posisinya duduk di pangkuan Jason. Jason menahan tengkuk leher Keily dan memperdalam ciumannya. Beberapa saat kemudian, ciuman keduanya terlepas. Mereka saling menatap dan tersenyum, hidung Keily dan Jason bersentuhan.
__ADS_1
*****
Di rumah sakit, Hansel dan Charlie minum kopi bersama. Mereka duduk dan mengobrol di ruang tunggu yang ada di depan ruang rawat inap.
"Apa kau menyukainya?" tanya Hansel tiba-tiba.
Charlie mengeryitkan dahi, "Menyukai apa?" jawabnya meminum kopinya.
"Jesslyn," jawab Hansel, dan membuat Charlie tersedak saat minum kopinya.
"Uhukkk... uhukkkk..."
"Sialan, aku sedang minum kau biacara yang tidak-tidak. Kau ingin mati," kesal Charlie dengan wajah memerah.
Hansel tertawa, "Hahahaha... kau tidak bisa menutupinya, Charlie. Terlihat sekali kau begitu perhatian dan peduli pada Jesslyn."
"Sungguh? sebegitu kelihatannya?" tanya Charlie setengah tidak percaya.
"Hansel mengangguk, "Ya. Sangat kelihatan. Wajahmu langsung bersinar dan kau juga tersenyum. Tidak seperti Charlie yang biasa aku lihat," jelas Hansel.
Hansel meminum kopinya lalu menjawab pertanyaan Hansel, "Ya. Sepertinya aku memang suka padanya. Entah kapan pastinya, yang jelas aku ingin memilikinya. Ingin terus bersama dengannya, Dan..." kata-kata Charlie terhenti karena tiba-tiba saja Charlie membayangkan adegan vulgar bersama Jesslyn.
"Hei, sadarlah. Jangan memikirkanya di sini. Memalukan sekali," goda Hansel.
"Ah, sial! kenapa bisa langsung memikirkan apa yang aku lihat tadi, ya?" batin Charlie.
"Tidak apa-apa, kita bukan anak kecil atau anak di bawah umur lagi. Wajar saja jika pikiran orang dewasa seperti kita langsung memikirkan hal-hal gila," ucap Hansel.
"Kau bicara seperti sudah berpengalaman saja. Memangnya kau pernah merasakan perasaan seperti yang aku rasakan?" tanya Charlie.
Hansel terkejut, "Pertanyaan apa itu? te-tentu saja pernah. Aku pernah menikmati malam panas dengan perempuan paling Sexy dari semua perempuan yang aku kenal."
"Hah? apa kau serius? seperti apa perempuan itu?" tanya Charlie penasaran.
"Kau tidak perlu tahu. Itu privasiku," jawab Hansel.
"Hoho..." kata Charlie menyiku perut Hansel, "Kau sudah tumbuh dewasa rupanya. Baiklah aku tidak akan ikut campur. Kau juga berhak mendapatkan kebahagiaan dan kebebasanmu, Hansel. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik." ucap Charelie tersenyum pada Hansel.
"Terima kasih. Semoga kau juga bisa bahagia bersama Jesslyn," jawab Hansel mendokan Charlie.
Keduanya berbincang banyak hal. Malam itu, Hansel dan Charlie berjaga. Mereka bicara banyak topik, mulai dari pekerjaan, pelatihan saat di kandang kuda. Sampai percintaan, seperti tipe perempuan kesukanaan masing-masing.
...*****...
__ADS_1