
Malam semakin larut. Karena tidak ingin terjadi sesuatu lagi pada Hansel, Micheline memerintahkan Hansel untuk tinggal dan beristirahat di rumahnya. Hansel menuruti perintah Micheline dengan senang hati.
Micheline membuka pintu sebuah kamar, "Kau bisa tidur di sini. Istirahatlah," kata Micheline menatap Hansel.
"Ya. Terima kasih," jawab Hansel.
"Kita bahas lagi hal tadi besok. Hari ini cukup sampai di sini. Kau paham?" tanya Micheline tidak ingin terus memikirkan hal yang membuatnya sakit kepala.
Hansel mengangguk, "Aku mengerti. Kau juga pergilah tidur. Selamat malam dan selamat tidur, Eline."
"Hm, selamat tidur juga. Jika ada apa-apa panggil aku lewat telepon. Atau, kau bisa ketuk kamarku. Di sini tidak ada pelayan," kata Micheline memberitahukan.
"Ya. Aku mengerti," Jawab Hansel tersenyum.
Micheline menutup pintu kamar dan pergi. Hansel berjalan perlahan mendekati tempat tidur, ia duduk dan langsung berbaring. Rasanya tubuhnya sakit semua, tulangnya seakan hancur.
"Ouhh..." lengkuh Hansel menggerkkan sedikit tubuhnya, "Benar-benar kuat sekali laki-laki itu. Apa dia tidak lelah sudah memukuliku sampai seperti ini? dia terlalu berambisi menghajar orang," keluh Hansel membayangkan dirinya dihajar dan dipukuli Charlie sampai babak belur.
Wajah, dada, perut. Tidak hanya itu, ada ada sedikit luka di bahu dan punggungnya juga kakinya. Harinya benar-benar sial. Niat hati ingin meminta maaf, ia dengan bodohnya justru memancing emosi orang gila.
Hansel menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napasnya perlahan. Ia merasakan nyeri di area dada dan perut, napasnya berat dan sesak. Hansel terus kesulitan bernapas.
"Oh, sial! jika seperti ini, aku pasti akan segera mati. Laki-laki itu sungguh menyusahkanku," keluhnya lagi.
Hansel memejamkan mata perlahan. Ia lelah dan ingin istirahat. Namun, ia tidak bisa tidur malam itu. Ia terus memikirkan kejadian hari itu.
*****
Micheline meneguk habis wine dalam gelasnya. Ia sedang memikirkan masalah Charlie dan Hansel. Juga masalahnya dengan Alfonzo.
"Apa dia tidak bisa melakukan hal lain selain minta maaf? laki-laki itu sungguh membuatku kesal saja. Lemah sekali," gerutu Micheline.
Micheline meletakan gelas kosongnya di atas meja. Lalu ia mengambil ponselnya. Dilihatnya layar ponselnya, ia sedang menunggu balasan pesannya yang dikirimnya pada Charlie.
Ia tidak bisa mengabaikan Charlie begitu saja. Karena Charlie adalah salah satu orang yang sangat ingin melindunginya, dari ancaman orang-orang kiriman Alfonzo.
"Apa dia sudah tidur, ya? kenapa tidak dibalas. Menyebalkam sekali," gerutunya lagi.
Tanpa banyak berpikir lagi, Micheline langsung menekan panel panggilan di ponselnya. Ia menempelkan ponselnya mendekat ke telinga kirinya. Dengan gelisah menunggu panggilannya diterima.
"Ayo, angkat!" batinnya memerintah.
__ADS_1
"Ahh..." teriaknya kesal karena panggilannya tidak diangkat, "Awas saja kau tak terima panggilanku. Jangan salahkan aku yang akan langsung menemuimu," gumam Micheline.
Panggilan Micheline diabaikan Charlie. Micheline menjadi khawatir akan keadaan Charlie. Terlebih setelah tahu jika Charlie dan Hansel baru saja berkelahi.
"Bagaimana ini?" gumamnya bingung, "Ah, iya. Aku hubungi Keily saja. Dia pasti membantuku," katanya berharap sesuai keinginannya.
Micheline mencari kontak Keily dan langsung memanggil Keily. Baru beberapa saat setelah nada terhubung, ada suara seseorang yang menerima panggilan Keily. Suara seorang pria.
"Hallo," jawabnya di ujung panggilan.
"Siapa kau?" tanya Michrline.
"Oh, maaf. Keily sedang di kamar mandi. Aku teman kencannya," jawabnya.
"Te-teman kencan?" ulang Micheline ragu-ragu.
"Ya, Nona. Apa ada hal penting yang harus aku sampaikan?" tanyanya pada Micheline.
"Tolong sampaikan, jika aku menunggu panggilannya. Terima kasih," jawab Micheline.
"Ya, sama-sama. Akan segera saya sampaikan."
"Ya," jawab Micheline yang langsung mengakhiri panggilannya.
Merasa diabaikam Micheline kesal sendiri. Satu orang hanya tau minta maaf. Satu orang lain hanya tau menghindar dan menyendiri. Sekretaris dan Asisten yang membuatnya kesal karena mengharuskannya terus-menerus berpikir.
Micheline berjalan mendekati tempat tidurnya. Ia melemparkan ponselnya, lalu melemparkan dirinya sendiri ke atas tempat tidur. Matanya kosong menatap langit-langit kamar. Ia merasa tidak puas akan apa yang ia lakukan hari itu. Ia tidak bisa meluapkan emosi kekesalannya, rasa jengkelnya harus menahan amarah. Perlahan matanya tertutup, Micheline pun pada akhirnya terlelap tidur.
*****
Keesokan harinya, Micheline memasakan bubur untuk Hansel. Micheline meminta Hansel untuk tidak datang ke kantor lebih dulu, dan tinggal sementara di rumahnya. Hansel menurut tanpa membanta. Ia tidak ingin berdebat lagi dengan Micheline.
"Kau dengar ucapanku?" tanya Micheline.
"Ya. Aku mendengarnya," jawab Hansel yang sedang makaj bubur.
"Kau merubah sikapmu ini, Hans. Jangan terlalu mudah mengucapkan kata maaf. Kau harus kuat," kata Micheline.
"Apa maksudnya? aku memang tidak lemah, kan?" jawab Hansel merasa tersinggung dengan ucapan Micheline.
"Oh, jadi kau mulai tersinggung dengan ucapanku? kau tau? kau itu sangat-sangat bodoh dan tidak kompeten dengan perasaanmu sendiri. Kita hidup hanya dengan dua pilihan, dijatuhkan atau menjatuhkan. Jika tidak ingin terinjak jatuhlan lawanmu. Jika ingin menang melawan lawanmu, jadilah seseorang yang kuat dan pintar. Pakai sedikit ototmu dan rangkai strategi dari pikiranmu. Jika kau saja bimbang dengan hatimu, kau hanya akan jalan di tempat."
__ADS_1
"Lalu, aku harus bagaimana? aku memang tidak punya pilihan saat itu. Aku baru saja pergi meninggalkan Pamanku. Aku tinggal bersama teman sekolahku, aku tidak mau hanya hidup bergantung padanya. Saat itu aku hanya mengambil kesempatan saja dengan tawaran yang diberikan Alfonzo. Siapa sangka aku akan seperti ini," jelas Hansel menatap Micheline.
Micheline membalas tatapan Hansel, "Berjanjilah satu hal padaku. Aku akan memaafkanmu dan akan kuberikan satu kesempatan terakhir," kata Micheline.
"Apa itu?" sahut Hansel tidak sabar.
"Jadilah dirimu sendiri apapun situasimu, dan bagaimanapun kondisimu. Jangan memikirkan orang lain saat hidupmu sendiri di ujung tanduk. Apa kau bisa?" tanya Micheline.
"Kau memintaku untuk menjadi orang seperti Charlie? tidak manusiawi seperti itu?" kata Hansel mengeryitkan dahinya.
"Jadi? kau anggap aku juga tidak manusiawi? dengar ucapanku, aku tidak akan mengulanginya. Aku juga sama dengamu, aku terpaksa melawan Pamanku sendiri demi bertahan hidup. Jika aku menunjukan belas kasih, itu artinya aku menunjukan kelemahanku. Dan kau tahu apa yang terjadi jika semua musuh tahu kelemahanmu? tentu saja kau akan dihancurkan tanpa sisa. Kau paham, kan?" jelas Micheline panjang lebar.
Micheline mengangkat gelas berisi susu, "Apa kau tahu kelemahanmu, Hans?" tanya Micheline.
Hansel menggeleng, "Tidak," jawabnya.
Micheline meminum susunya sampai tegukan terakhirnya, "Maaf!" seru Micheline.
"Maaf?" ulang Hansel.
"Terlalu banyak kata maafmu. Maaf, maaf, dan maaf. Terlalu sering kau katakan kata-kata maaf. Itu menandakan hatimu selalu ragu dan mudah goyah. Tetapkan satu pilihan sejak awal sampai akhir. Jangan ragu-ragu lagi mulai dari sekarang. Jika kau berjanji, aku akan membuatmu menjadi lebih kuat mulai dari sekarang. Bagaimana?" Micheline menjelaskan dan memberikan penawaran pada Hansel.
"Jadi, kau tidak akan memecatku? atau menghukumku?" tanya Hansel.
Micheline menggeleng, "Tidak. Sebagai gantinya, aku ingin melatihmu sendiri sebagai orang yang luar biasa mulai dari sekarang. Jangan menolak semua perintahku. Jangan ragu dengan apa yang kuminta lakukan. Hanya itu persyaratannya," jelas Micheline lagi.
Hansel terdiam sesat, "Apa ini? dia ingin aku jadi pembunuh atau apa? kenapa seperti ini? namun, jika aku menolak aku pasti akan dibuang, kan? tidak mungkin Eline akan melepaskanku begitu saja. Jadi... ini kesempatan terakhirku, kan?" batin Hansel. Pikirannya dan hatinya lagi-lagi berdebat.
"Kau diam lagi?" sahut Micheline.
"Aku berjanji dan bersedia. Tolong aku," jawab Hansel.
"Kau siap? jika kau memutuskan maju, tidak boleh ada kata mundur. Kau bersedia dan berjanji. Itu artinya kau menyanggupi semunya dan tidak boleh ingkar dengan ucapanmu."
"Ya. Aku sudah membukatkan tekadku. Aku mau," jawab Hansel.
Micheline tersenyum, "Sepakat?" tanya Micheline mengulurkan tangannya ke hadapan Hansel.
Hansel menatap tangan Micheline, "Sepakat," jawab Hansel menyambut uluran tangan Micheline.
Micheline dan Hansel sudah mencapai kesepakatan. Tentu saja kesepakatan itu menguntungkan kedua belah pihak. Micheline akan membimbing Hansel dan melatih Hansel secara langsung agar bisa melakukan sesuatu yang luar biasa. Sedangkan sebagai gantinya Micheline akan menahan Hansel selamanya berada di sisinya sebagai budaknya.
__ADS_1
...*****...