
Enam bulan kemudian...
Micheline telah benar-benar pulih. Keadaan dan kondisinya semakin baik. Kini ia sudah sehat seperti sedia kala. Berkat dukungan dan semangat orang-orang terdekatnya, salah satu orang yang setia mendampinginya adalah Hansel.
Sejak diizinkan pulang dari rumah sakit, dengan penuh kesabaran dan kehangatan, Hansel merawat Micheline tanpa bantuan orang lain. Sepenuh hati dan perasaan, tanpa mengeluh sesekalipun.
*****
Micheline*
Senangnya, kesehatanku berangsur pulih. Aku sudah merasa sangat sehat sekarang. Ya, empat bulan lamanya aku menjalani serangkaian perawatan yang mengharuskanku bolak-balik dari rumah ke rumah sakit. Dua bulan berikutnya, waktu berkunjungku ke rumah sakit mulai berkurang. Sampai akhirnya aku di vonis sembuh total dari hasil pemeriksaanku.
Saat masih dalam proses pemulihan, Hansel satu-satunya orang yang paling aku repotkan. Ia bahkan selalu ada di sisiku selama hampir dua puluh empat jam. Jika aku tidak memaksanya istirahat, ia pasti akan berantusias terus merawat dan menjagaku.
Berkatnya keadaanku pulih degan cepat dan aku seperti bayi yang hanya makan dan berbaring. Ia tak memperbolehkan aku melakukan ini dan itu, jika aku merengek dia hanya akan memelukku dan membuatku tertidur. Selama itu pula, aku yakin akan ketulusannya padaku. Dia menyayangiku lebih dari apapun.
"Sayang, kau baru selesai mandi?" suara Hansel tiba-tiba mengejutkanku. Ia baru saja masuk dalam kamar, ia membawa segelas susu di tangannya.
"Hah... kau mengejutkan saja." sahutku menatapnya tersenyum, "Ya, aku baru saja selesai mandi." imbuhku.
Kulihat, Hansel meletakan gelas berisi susu di meja. Ia mengambil handuk dari tangaku dan mengeringkan rambutku. Ia menuntunku duduk di sofa. Aku pun dengan gerakan perlahan menurutin permintaannya untuk duduk.
"Biar aku yang keringkan rambutmu," katanya lembut.
"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya," jawabku. Tidak ingin merepotkannya.
"Simpan saja tenagamu. Meski kau bisa lakukan, aku tak akan izinkan," katanya membuatku tersenyum. Sepertinya ia sedikit membatasi gerak-gerikku meski melihatku sudah pulih.
"Hans..." panggilku.
"Hm," gumamnya.
"Terima kasih," ucapku. Aku tidak tahu lagi harus mengucapkan apa untuk mengungkapkan rasa terima kasihku padanya.
"Untuk apa berterima kasih? aku sudah katakan, berkali-kali padamu. Tidak perlu ada terima kasih ataupun maaf di antara kita. Apa yang aku lakukan memang sudah kewajibanku, dan aku ingin melakukannya. Tidak ada paksaan," jelas Hansel.
"Untuk itulah aku berterima kasih, Hans. Kau selalu memperlakukanku dengan sangat baik. Membuatku selalu merasa nyaman dan aman jika bersamamu," sahutku menanggapi perkataan Hansel.
"Cukup dengan, jangan mengabaikanku. Itu saja," bisik Hansel di telingaku.
__ADS_1
Mengabaikannya? kapan aku pernah mengabaikannya? mungkin aku pernah berpura-pura tidak tahu akan perasaannya, dan terus membuatnya menunggu. Namun, sekarang tidak akan seperti itu. Karena kutahu, Hansellah satu-satunya laki-laki yang paling memahamiku. Aku juga tidak akan melepaskannya. Selamanya ingin bersama dengannya.
Aku bisa merasakan, tangan besarnya dibalik handuk mengusap-usap kepalaku lembut. Rambutku sudah setengah kering, setidaknya sudah tidak ada lagi air yang akan menetes. Hansel bergegas mengambil pengering, ia memulai mengeringkan rambutku perlahan. Cukup lama waktu yang digunkan Hansela, tetapi ia tidak sedikitpun protes atau mengeluh.
"Selesai. Minum susumu," pinta Hansel.
Aku mengangguk, mengambil gelas berisi susu yang dibawanya dan di letakan di atas meja tadi. Kuminum seteguk demi seteguk sampai semua susu habis tanpa sisa setetespun. Setelahnya, akupun tanpa sadar memalingkan wajah ke arahnya.
Senyuman tampan langsung saja diberikan Hansel padaku. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, lalu mencium keningku lembut. Ciumannya berpindah ke pipi dan hidungku, dagu dan ia juga langsung mencium bibirku. Ciuman singkat, ia menatpku dan lagi-lagi tersenyum. Aku menyukai senyumannya. Entah kenapa senyumnya begitu menggoda seperti ini.
Hansel menciumku lagi, lagi, dan lagi. Bertubi-tubi ia mendaratkan kecupan-kecupan singkat di bibirku. Aku tahu, pasti ia sedang gemas padaku. Gerakannya terbaca olehku. Karena ia terus menerus mengecupku. Membuatku ingin mebalasnya. Kukalungkan tanganku ke lehernya. Saat ia mengecupku lagi, kutahan tengkuknya agar ia memperdalam kecupannya. Hansel sempat terkejut, terlihat dari matanya yang langsung melebar dan dahinya yang berkerut. Aku hanya tersenyum sebagai balasan rasa kagetnya itu.
Ia melepas ciumanku, "Kau jangan mencoba menggodaku, Nona." katanya menatapku.
"Ah... aku tak menggoda. Aku hanya..." kata-kataku sengaja kuhentikan.
Aku tak menggoda, tetapi aku sengaja memancingmu. Itulah yang ingin aku katakan padanya. Aku sengaja mengehentikan ucapanku karena aku malas menjelaskan. Bukankah lebih menyenangkan jika aku langsung saja mengekspresikan? Maksudku, bukan memancing dengan ucapan. Melainkan dengan sentuhan.
Entah apa yang ia pikirkan. Ia hanya diam menatapku saja. Aku memulai pergerakanku, kuusap wajahnya, lalu menurunkan gerakanku ke lehernya, ke dadanya sampai perut. Sengaja aku menyusupkan tanganku ke dalam kaus yang ia kenakan. Pergerakanku terhenti, Hansel memegang tanganku. Aku pun menatapnya seakan bertanya, ada apa?
"Tidak boleh. Kau baru sembuh. Kita akan melakukannya saat kau benar-benar sehat," katanya langsung ke inti.
"Apa?" katanya bertanya dengan nada sedikit meninggi, "Katakan sekali lagi," pintanya lagi.
Aku menatapnya kesal, "Aku akan men..." belum sampai ucapanku terucap lagi. Bibirku langsung disambar Hansel. Ya, dia yang cemburu langsung saja beraksi tanpa diduga. Digigitnya lembut bibir bawahku, tak lama ia melepaskan ciumanku.
"Coba saja cari. Jika kau ingin lihat mainanmu kubunuh!" ancamnya. Meski aku tahu ia tak akan mungkin membunuh seseorang karena sifatnya yang tidak tegaan itu. Namun itu berhasil membuatku tersenyum.
"Jangan pernah lagi berpikir demikian. Aku ada, aku bisa memuaskanmu, tanpa kau meiliki mainan baru. Kau permainkan saja aku. Bukankah aku budak cintamu?" tanyanya menatapku.
Aku tersenyum lagi, kuusap wajahnya yang tampan itu perlahan-lahan. Bukan, Hans. Kau bukan budak cintaku. Namun kau adalah lelaki yang aku sayangi. Aku tidak lagi menganggap kau sebagai laki-laki dewasa yang hanya menjadi patner ranjangku saja. Lebih dari itu, aku menginginkanmu lebih. Aku ingin memiliki hati, cinta, dan seluruhnya yang ada padamu.
"Aku mencintaimu, Hans..." ucapku.
Hansel melebarkan mata, lalu tersenyum. Ia memegang tanganku yang mencium tangakku. Ciumanya naik ke lengan, bahu lalu keleherku.
"Terima kasih, Eline. Cintamu, tidak akan aku sia-siakan. Aku akan selalu membuatmu tersenyum bahagia," bisiknya lembut sembari meniup telingaku.
Jantungku berdebar, darahku berdesir. Laki-laki ini selalu bisa membuatku panas dingin dengan setiap sentuhannya. Mulutnya yang manis, pandai berkata-kata. Membuatku terbuai. Aku pun memeluknya, erat sekali sampai rasanya tidak ingin melepaskannya.
__ADS_1
Aku bisa mendengar suara degup jantungnya. Tidak hanya aku yang berdebar, ia juga sama denganku ternyata. Mungkin inilah perasaan yang dirasakan semua orang yang sedang kasmaran. Hati serasa dipenuhi bunga yang bermekaran. Rasanya sangat menyenangkan, dan ingin selalu mengukir senyuman.
"Apa aku boleh melakukannya? apa kau akan baik-baik saja?" tanyanya berbisik.
Aku melepas pelukanku, "Kau takut menyakitiku?" tanyaku, dan langsung di jawab anggukan olehnya.
Ia mencium keningku, "Aku tidak mau kau terluka. Lebih dari itu, aku tidak akan lagi memaksa kau mau melakukannya atau tidak. Kau bisa menolakku jika kau tidak ingin, tetapi aku tidak akan bisa menolakmu." katanya menatapku dalam.
Hm, aku tahu maksudnya. Memang benar, jika sebelumnya kami memang melakukan hubungan atas dasar sekedar mebyalurkan hasrat dan nafsu sesaat. Baginya memang berbeda, karena ia mencintaiku. Namun, bagiku ia hanya terkesan seperti laki-laki penggoda yang menawan dan aku memang tidak bisa menolak ciptaan sempurna sang kuasa ini. Semua itu berbeda sekarang. Aku punya keinginan yang lebih kuat dari hasrat biarahiku. Aku ingin memilikinya seutuhnya.
"Kau tidak perlu bertindak hati-hati begini. Maafkan aku yang begitu terlambat menayadarinya, Hans. Maafkan aku yang selalu membuatmu menunggu dan mengatakan kau harus bersabar. Itu pasti sulit, kan?" kataku merasa bersalah.
Ia menggelengkan kepala, "Meski sulit, namun pada akhirnya usahaku berhasil. Kau menjadi milikku sekarang," jawabnya.
Entah mengapa, mendengar kata-kata 'kau menjadi milikku' membuatku senang. Ya, aku milikmu dan kau juga milikku. Kita akan saling memiliki satu sama lain seumur hidup ini.
"Aku milikmu?" tanyaku.
"Ya, kau milikku dan aku milikmu." jawabnya. Dan jawabannya sama seperti apa yang aku pikirkan.
Hansel mendekat, mengusap pelan wajahku lalu mencium bibirku. Ia menyusupkan tangannya berpindah ke tengkuk leherku. Aku tidak mau kalah, kubalas ciumanya dengan begitu rakus. Seperti singa yang kelaparan, aku mendominasinya.
...*****...
**Yuk, follow ig author
ig: dea_anggie
Jangan lupa like setiap episodenya ya..
Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..
Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..
Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..
Terima kasih semuanya...
Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..
__ADS_1
Salam hangat dari author~~🙂**