
Ergy merasa kesal, ia menyembunyikan kekesalannya dan hanya bisa menunjukkan senyum paksa di depan Martin sekeluarga. Ia hanya bisa memaki dan mengumpati dalam hati.
"S*al! anak bedeb*h itu kenapa bisa ada di sini? dia terlihat baik-baik saja. Apa dia hidup baik? apa dia tinggal di kota ini? siapa perempuan muda cantik yang bersamanya? Hans memanggilnya CEO, dan Martin begitu menghormatinya seperti orang yang berkedudukan tinggi atau orang berpengaruh. Hah... kenapa aku jadi memikirkan hal-hal yang tidak perlu seperti ini?" batin Ergy menerka-nerka tidak pasti.
Ia merasa penasaran akan kehidupan Hansel yang sekarang. Apa pekerjaan dan apa saja yang dilakukan Hansel. Muncul pemikiran untuk menyelidiki Hansel dan orang-orang di sekeliling Hansel. Penyelidikan di mulai dari seseorang yang tidak jauh darinya, yaitu Martin. Ergy ingin tahu lebih banyak tentang Micheline.
Ergy melirik Martin lalu mendekati Martin, "Tuan Ware, ada waktu luang sebentar? ada beberapa pertanyaan yang membelengku pikiran saya."
"Ada apa Tuan Feliks? coba katakan, apa yang membuat anda gelisah," ucap Martin.
"Apa saya boleh bertanya-tanya perihal perempuan tadi? ah... maafkan saya salah menyebut. Maksud saya Nona Robert."
"Oh, apa yang ingin Anda ketahui darinya?" tanya Martin.
"Aneh sekali, kenapa Ergy tertarik pada Nona Robert? tidak mungkin kan dia menyukainya? atau ini soal laki-laki muda tadi? yang memiliki nama belakang yang sama dengannya? ah... kenapa aku jadi menerka-nerka sesuatu yang tidak pasti seperti ini? lupakan saja, apapun itu semua bukan urusanku juga. Aku tidak ingin terlibat sesuatu hal yang mengancam bisnis dan nyawaku," batin Martin.
Martin sedikit banyak tahu tentang rumor yang tersebar, mengenai siapa dan bagaimana Micheline Robert. Meski terlihat anggun dengan mengenakan gaun. Martin masih sedikit waspada dan khawatir. Rumor yang beredar, mengatakan jika Micheline adalah seoarang yang kejam dan berdarah dingin. Ada yang mengatakan jika Micheline adalah seorang psikopat gila. Ada juga yang menyebarkan rumor jika Micheline adalah perempuan liar yang suka mengoleksi laki-laki muda yang tampan untuk dijadikan boneka mainan. Martin sendiri tidak begitu yakin akan rumor-rumor yang beredar dan didengar telinganya. Ia hanya merasa Micheline memang bukan perempuan yang biasa-biasa saja.
"Seseorang seperti apa, Nona Robert itu? apakah dia Nona muda berpengaruh di kota ini?" tanya Ergy.
Martin mengangguk pelan, "Hm... bisa dikatakan seperti itu. Anda berasal dari luar kota. Mungkin tidak banyak mendengar rumor yang beredar, kan? atau Anda memang tidak pernah mendengar? atau malah sudah dengar?" tebak Martin.
Ergu menggeleng, "Maafkan saya, Tuan Ware. Saya tidak terlalu peduli soal rumor. Karena rumor memang hanya rumor yang belum pasti keberanarannya. Jadi, bisa dibilang setengah benar dan setengah lagi tidak benar. Begitu kira-kira,"
"Tidak hanya berpengaruh, Nona Robert memeliki reputasi baik juga buruk. Baiknya, dia adalah seoarang CEO yang kompeten dalam bisnis dan pengelolaan perusahaan. Dia juga mendapat predikat CEO terunggul. Buruknya, rumor yang beredar membuat bulu-bulu tangan saya berdiri. Kabarnya dia perempuan psikopat yang gemar menyiksa dan membunuh orang. Mengoleksi laki-laki tampan untuk dijadikan boneka mainan. Dan yang paling menggemparkan adalah, dia memiliki hubungan sangat baik dengan semua di dunia bawah." jelas Martin.
"Dunia bawah?" ulang Ergy memastikan tidak salah mendengar.
__ADS_1
"Ya. Dunia bawah. Anda pernah dengar kan tentang apsar gelap yang terkenal, yang berpusat dibatas kota?"
"Ya. Jika berhubungan dengan pasar gelap, saya tentu tahu." jawab Ergy.
"Bagaimana tidak tahu. Aku kan bisa membunuh Hanry dengan menyewa pembunuh bayaran di sana," batin Ergy.
"Ah, Anda tahu rupannya."
Ergy berpikir, ia mencerna ucapan Martin. Dipikirnya baik-baik semua perkataan Martin mengenai Micheline. Seberapa keras berpikir pun, Ergy masih bingung dan tidak mengerti. Bagaimana bisa seorang yang di matanya rendahan seperti Hansel bisa menjadi Asisten pribadi CEO.
*****
Micheline menatap Hansel, "Apa kau kesal padaku?" tanya Micheline blak-blakan.
Hansel menatap Micheline lekat, "Apa tujuanmu?" tanya balik Hansel, "Kau punya motif apa seeprti ini padaku?"
"Hans... dengar baik-baik ucapanku. bukan aku tidak ingin memberitahumu sejak awa. Jika aku beri tahu yang sebenarnya, bukan kah kau akan menghindar dan memilih menyembunyikan diri di dalam kamar? Dan... bukan kah aku juga sudah bilang tadi pagi. Jika ini adalah pertemuan Paman dan keponakannya? apa kau lupa?" jelas Micheline.
Hansel menghela napas panjang, "Tetap saja, aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan. Aku mengira jika pesta ini akan mempertemukamu dengan Alfonzo. Aku tadi sudah sangat khawatir dan cemas, Eline."
Micheline mengusap wajah Hansel, "Aku tahu ini sulit, Hans. Namun, kau tidak bisa selamnaya menyembunyikan diri dari Pamanmu itu. Pasti ada masa di mana kau akan bertatap muka dengannya seperti tadi, kan?" kata Micheline memperjelas tujuannya.
"Benar juga. Kenapa aku tidak memikirkan hal ini, ya. Aku justru sibuk menghindar dan melarikan diri. Karena aku sudah tidak berminat memiliki hubungan apa-apa lagi denggannya. Bagiku, aku hanya hidup seorang dir sekarang. Tidak lagi punya keluarga," ungkap Hansel.
"Kau salah besar, Hans. Masih ada aku yang bisa kau jadikan sandaran. Ada aku yang bisa kau andalkan. Aku bisa menjadi kelaurgamu juga, kan?" sahut Micheline.
Hansel sedih, hatinya seperti sedang terombang ambing oleh ombak di lautan. Micheline memang mengatakan jika ia bisa mengandalkan Micheline dan bersandar pada Micheline. Namun, disatu sisi Micheline juga seakan mendorongnya jauh jika ia melewati batas kedekatan.
__ADS_1
"Mana yang benar?" batin Hansel bingung, dengan kedua sisi yang ditunjukan Micheline padanya.
"Pasti kau bingung, kan?" tanya Micheline tiba-tiba.
Hansel mengangguk, "Ya. Aku sangat bingung," jawab Hansel.
Micheline tersenyum, "Lupakan dulu, soal kau ingin menjadi bagian dalam hidupku dan mengisi kekosongan dalam hatiku. Yang terpenging saat ini, kau harus tunjukan sikap angkuhmu di hadapan Pamanmu. Lakukan saja seperti yang aku ajarkan. Jika ada yang menyinggungmu, kau bisa menginjaknya. Itu poin pentingnya. Pamanmu pasti akan bertanya pada Martin tentang siapa dan bagaimana bisa kau mengenalku. Melihat Martin, dia pasti akan menjawab berdasarkan rumor yang sudah tidak asing lagi di telinga. Semua sudah bisa tertebak dengan jelas."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Hansel.
"Buat Pamanmu semakin penasaran dengammu. Semakin dia melangkah mendekalimu, semakin cepat kau bisa menginjaknya. Meski sulit, aku harapkan kau mau mencobanya. Tunjukan jika kau bukan Hansel yang lemah seperti dulu. Sekarang, sudah menjadi Hansel yang kuat dan tangguh."
"Aku harus terus bersikap dingin seperti ini?" tanya Hansel.
Micheline mengangguk, "Ya. Pertahankan seperti ini. Teruslah berpura-pura tidak kenal meski pada akhirnya dia menyapamu duluan. Orang seperti Pamanmu, sudah dipastikan tipe orang yang gampang sekali penasaran dan suka mencampuri urusan oranv lain. Terutama orang yang dianggapnya sebagai ancaman."
"Apa semua akan baik-baik saja? bukan kah pada akhirny aku akan tetap ketahuan jika aku berpura-pura tidak mengenalnya? bagaimana jika dia bisa membuktikan aku adalah Hansel, keponakannya?" ucap Hansel kembali ragu.
"Dasar b*doh! apa masalahmya jika dia mengungkapkan kebenaran kau keponakannya? kau juga punya bukti jika dia adalah seseorang yang tidak kompeten. Kau bisa buktikan jika Ergy adalah orang yang serakah karena ingin mengusaai harta warisan orangtuamu. Coba tebak, orang akan berpihak pada Paman yang mengecap keponakan durhaka, atau keponakan yang terasingkan karena sifat serakah dan egois Pamannya? terlebih kita punya semua bukti-buktinya," jelas Micheline.
Hansel mengernyitkan dahi, "Kita punya semua bukti? bukti apa?" tanya Hansel.
"Itu... rahasia," jawab Micheline tersenyum.
"Rahasia? ah..." kata Hansel tertawa tidak jelas, "Kau memang bisa mmebuat orang sehat menjadi gila, Eline. Aku gila karena tidak pernah tahu bagaimana perasan dan hatimu, juga pikiranmu." ucap Hansel, memegang tangan dan mencium telapak tangan Micheline yang masih mengusap wajahnya.
Hansel mengerti, inti dari percakapannya dengan Micheline, adalah ia hanya harus bersikap dingin dan angkuh. Tidak perlu banyak bicara atau melakukan sesuatu yang tidak diperlukan. Dan harus membuat Pamannya sepenasaran mungkin. Sampai pada akhirnya Pamannya tidak akan tahan dan langsung menegurnya, sekaligus akan melakukan protes keras padanya.
__ADS_1
...*****...