My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 28 - Pelatihan (1)


__ADS_3

Selesai berpamitan, Micheline berangkat ke kantornya. Ia pergi ke kantor tanpa supir, dengan mengendarai mobil mewahnya. Hansel bertugas menjaga rumah dan istirahat sampai Micheline pulang dari kantor. Hansel mengantarkan kepergian Micheline. Setelah mobil Micheline tidak terlihat, ia segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah Micheline. Hansel kembali melangkahkan kakinya masuk dalam kamarnya. Ia serasa mendapatkan hukuman dari Micheline. Tidak boleh dan tidak bisa pergi ke mana-mana.


Di dalam kamar, Hansel duduk bersandar bantal dan memandangi layar ponselnya. Ada beberapa pesan dan panggilan masuk dari Marc. Marc mencemaskan keadaan Hansel karena tidak pulang ke rumah sampai pagi. Merasa tidak enak karena tidak mengabari, Hansel pun akhirnya menghubungi Marc.


Panggilannya terhubung dan langsung diterima Marc, "Hallo, Hans. Kau di mana?" cemas Marc menerima panggilan dari Hansel.


"Hei, tenanglah. Aku ada di kantor. Maaf aku semalam menginap di rumah salah satu teman kantorku. Kami minum bersama dan aku sampai tertidur," jawab Hansel berbohong. Tidak ingin sahabatnya khawatir.


"Kau ini. Jika lain kali tidak bisa pulang sendiri, kau bisa menghubungiku untuk dijemput. Kau tidak perlu sunggkan padaku," tambah Marc.


Hansel teersenyum, "Kau memang yang terbaik, Marc. Terima kasih," puji Hansel.


"Kau baru mengetahuinya sekarang, jika aku baik?" jawab Marc menggoda Hansel.


Hansel tertawa, "Hahaha, kau ini. Oh, Marc. Maafkan aku, aku sedang sibuk sekarang. Aku akan pulang terlambat nanti," kata Hansel beralasan.


"Oh, baiklah jika seperti itu. Selamat bekerja," jawab Marc.


Hansel mengakhiri panggilannya. Ia meletakan layar ponselnya di nakas. Ia meraba bahu lalu dadanya. Rasanya sakitnya hanya berkurang sedikit. Semua masih terasa nyeri.


*****


Micheline memanggil Charlie ke ruangannya. Charlie dan Micheline duduk berhadapan di sofa dan memperjelas semuanya. Micheline ingin tahu keadaan Charlie, apa saja yang dilakukan Charlie sampai mengabaikan panggilannya.


"Kau mengabaikan panggilanku," kata Micheline mengangkat cangkir tehnya lalu menikmatinya.


"Aku ingin sendiri. Itu 'kan di luar jam kantor," jawab Charlie.


"Aku tahu itu. Aku hanya khawatir padamu. Apa aku tidak boleh mencemaskan orang yang selalu khawatir pada keselamatanku?" kata Micheline menatap Charlie.


Charlie diam, ia hanya menunduk. Micheline menikmati lagi tehnya dan meletakan cangkir tehnya kembali ke atas meja. Dengan tenang Micheline menyandarkan punggungnya ke sofa dan mengangkat satu kakinya bertumpu kaki yang lain.


"Aku sudah tau apa yang terjadi antara kau dan Hansel," kata Micheline memecah kesunyian.


Charlie mengangkat kepala menatap Micheline, "Apa dia mengadu padamu? kau harusnya tahu, aku melakukannya karena dia memprovokasiku. Tidak sepenuhnya salahku," jawab Charlie merasa sedikit kesal.


Micheline menganggukkan kepalanya, "Aku tahu itu, Charlie. Hansel menceritakan semuanya padaku. Ia mengakuinya," ucap Michelune menyilangkan dua tangannya di dada.

__ADS_1


"Mengakui apa? kau juga tahu jika dia bekerjasama dengan Pamanmu?" tanya Charlie.


"Hm," jawab Micheline.


"Lalu kau diam saja? kau tidak akan menyingkirkannya?" sahut Charlie mulai emosi.


"Tenangkan dirimu, Charlie. Dengar aku baik-baik. Aku tidak berniat memecatnya karena dia juga orang yang cekatan dalam bekerja. Dia hanya melakukan tugasnya saja sebagai informan dan hanya mengawasi gerak-gerikku saja. Sebaliknya, aku akan menggunakan cara yang sama untuk melawan Alfonzo."


"Kau berencana membalik kapal? menggunakan Hansel menyerang Alfonzo?" tanya Charlie.


"Tepat sekali. Alfonzo terlihat begitu mempercayai Hansel. Tidak akan ada yang curiga, kan?" jawab Micheline.


"Tetapi..." kata-kata Charlie terhenti.


"Kau tidak perlu takut dan meragukannya lagi, Charlie. Dia sudah berjanji dan berkenan menjadi orangku. Sebagai hukumannya aku akan melatihnya keras. Kau bantulah aku untuk melatihnya disaat aku tidak bisa melatihnya nanti," pinta Micheline.


"Apa dia bisa? kau sudah benar-benar memikirkannya, Michel?" tanya Chrlie lagi.


"Keputusanku sudah bulat. Aku akan melatihnya sedikit demi sedikit sampai ia menjadi sekuatmu dan membuatnya bisa melindungiku sepertimu."


Charlie diam, ia tidak bisa mengubah keputusan Micheline. Ia masih meragukan Hansel yang sudah membuatnya kecewa denga tidak mau mengakui kesalahannya padanya. Namun, ia juga tidak bisa menolak permintaan Micheline. Micheline mencoba mengambil jalan tengah dan tidak berpihak pada siapa-siapa.


"Aku yakin tidak. Entah mengapa aku punya firasat baik. Oleh karena itu, bantu aku. Jangan mengabaikanku seperti semalam," jawab Micheline menatap kesal pada Charlie.


"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Charlie tiba-tiba mengejutkan Hansel.


Micheline kaget, "Apa? siapa? Hansel?" cecar Micheline bingung. Ia tidak menyangka Charlie akan menanyakan kabar Hansel padanya.


"Ya dia, siapa lagi. Hadiahku tidak mungkin tidak luar biasa," kata Charlie.


Charlie tahu benar pukulannya tidak akan tidak meninggalkan bekas. Ia merasakan kesal dan karena itu ia memukul Hansel dengan setangah kekuatannya bertubi-tubi. Ia tidak peduli jika Hansel merasakan kesakitan. Karena ia hanya ingin memberi pelajaran pada Hansel.


"Kau cukup keterlaluan. Kau memberikan jeajas pukulanmu disemua tubuhnya," jawab Micheline.


Charlie tersenyum, "Mau bagaimana lagi. Aku sedang kesal saat itu. Anggap saja itu sebuah pe-la-ti-han khusus dariku. Yah, semacam pelatihan fisik," kata Charlie.


"Pelatihan khusus, ya? kau ini ingin melatih apa membunuhnya, hm?" goda Micheline.

__ADS_1


"Keduanya. Ingin melatihnya jika tidak tau diri, tentu akan kubunuh. Kau tahu aku orang seperti apa, kan?" jawab Charlie.


Micheline tersenyum senang. Melihat cara Charlie berbicara dan menjawab semua pertanyaanya. Charlie tidak benar-benar membenci Hansel. Seperti yang sudah dikatakan, Charlie punya alasannya sendiri bersikap sangat baik pada Hansel.


Kini, saatnya Micheline menyembuhkan luka Hansel. Lalu menjalankan pelatihan-pelatihan yang sudah dirancangnya. Saat ia sibuk dan tidak bisa melatih Hansel, akan ada Charlie yang akan menggantikannya melatih Hansel. Micheline percaya Charlie akan membantunya.


*****


Sepulang kerja. Micheline mengajak Charlie ke rumahnya untuk makan malam bersama dirinya dan Hansel. Mendapati adanya Charlie yang datang, Hansel kaget setengah mati. Hansel hanya diam, menghindari tatapan mata Charlie dan tidak ingin dekat-dekat dengan Charlie.


"Apa kau menjauhiku, Hans?" tanya Charlie.


Hansel melebarkan mata, "Ti-tidak. Tidak ada hal seprrti itu," jawab Hansel.


Charlie melangkah mendekati Hansel, "Oh, begitu ya."


Hansel merasa sedikit takut saat memikirkan kejadian terakhir kali. Secara tidak sadar kakinya melangkah mundur dengan sendirinya. Charlie melihat luka di wajah Hansel, Hansel memejamkan mata karena takut dipukul lagi oleh Charlie.


"Hei, kenapa kau menutup matamu? kau kira aku akan menciummu?" goda Charlie.


"A-apa? tidak ada yang seperti itu. Aku tidak apa-apa," jawab Hansel gugup.


"Kau mempunyai fisik yang kuat, Hans. Kejadian kemarin adalah pelatihan khusus dariku, untukmu. Selanjutnya persiapkan dirimu," kata Charlie.


Hansel menatap Micheline, "Apa ini?" tanya Hansel.


Micheline tersenyum, "Tidak perlu takut pads Charlie, Hans. Jika dia memukulmu, pukul balik saja. Jika dia mendorongmu, doronglah dia sampai terjatuh di abwah kakimu, lalu injak. Tidak peduli siapapun yang ads di hadapanmu. Charlie memang rekanmu, rekan juga bisa jadi musuhmu disaat tidak terduga. Jangan lengah dan teruslah waspada," kata Micheline.


Hansel mengengguk, "Aku mengerti," jawabnya.


Charlie menepuk bahu Hansel keras, "Bagus, ini baru namanya laki-laki."


"Aku memang laki-laki meski kau tidak memujiku seperti itu," kesal Hansel.


Charlie tertawa, "Hahaha... bagaimana, ya? di mataku, laki-laki itu adalah seorang yang kuat dan tegas dalam mengambil keputusan. Tidak boleh ada keraguan, dan yang terpenting. Tidak semudah kau yang terus meminta maaf, maaf, dan maaf. Kau harus menyembunyikan kelemahanmu, Hans. Jika tidak kau akan terinjak," kata Charlie.


"Kenapa kata-katanya seperti Eline? apa dia juga menganggapku laki-laki yang lemah?" batin Hansel.

__ADS_1


Hansel mengernyitkan dahi. Ia menatap Charlie lalu menatap Micheline. Dari keduanya ada beberapa kata yang sama. Mereka menganggapnya sebagai seseorang yang lemah karena harus menggunaka kata maaf berulang kali untuk mengakui kesalahannya. Hansel mengerti sekerang, ia akan mencoba untuk merubah dan memulai kembali semuanya dari awal. Memperbaiki yang bisa diperbaiki. Mempertahankan yang harus dipertahankan. Dan, membuang yang seharusnya dibuang.


...*****...


__ADS_2