
Charlie kembali duduk, ia menyelesaikan makan sianganya dengan Keily dengan segera. Melihat Charlie yang hanya diam dan tidak bicara, Keily pun enggan untuk bertanya. Namun, ia juga penasaran apa hal yang dipikirkan Kakaknya tersebut.
"Tanya sekarang atau nanti kalau suasa hatinya baik, ya?" batin Keily bimbang.
"Kei..." panggil Charlie menatap Keily.
"Ya, Kak? ada apa?" tanya Keily membalas tatapan mata Charlie.
"Maafkan aku tidak bisa berlama-lama denganmu. Slesai ini aku akan mengantarmu kembali ke kantor dan aku juga harus kembali ke kantor. Aku masih banyak pekerjaan," kata Charlie beralasan. Yang sebenarny ingin ia lakukan adalah bertemu dengan Zack untuk segera mengambil semua hasil penyelidikan mengenai Hansel.
Keily tersenyum cantik, "Tidak apa-apa, kak. Aku sudah senang meski hany makan siang seperti ini. Kakak sering-sering hubungi aku, ya. Agar aku bisa mengajak Kakak berkencan," jawab Keily mencoba mengambil hati Charlie.
Chaelrlie diam sesaat lalu tersenyum, "Aku akan coba. Maaf selalu membuatku kesal dan kecewa, Kei. Aku bersyukur kau selalu menerimaku sebagai Kakakmu meskipun kau tau seperti apa Kakakmu ini. Terima kasih," kata Charlie dengan nada suara kecil sampai hampir hilang.
Keily menggapai tangan Charlie dan mengusapnya lembut, "Kakak adalah satu-satunya keluarga yang tersisa. Baik buruknya Kakak, bukan masalah bagiku. Asalkan Kakak sehat dan baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup. Jangan sakit, Kak. Jangan sampai terjadi sesuatu padamu," ucap Keily berkaca-kaca. Tiba-tiba saja ia merasa sedih tanpa sebab.
Charlie berdiri dan mendekati Keily, "Jangan menangis, ok. Aku janji padamu akan selalu baik-baik saja," kata Charlie menyeka air mata Keily.
Diusapnya kepala Keily dengan lembut. Charlie merasa sedih saat melihat air mata Adik kesayangannya tumpah. Ia merasa bersalah, sampai membuat Adiknya itu menangis. Charlie pun akhirnya meminta maaf pada Keily.
"Maafkan Kakakmu ini, Kei. Jangan menangis lagi," kata Charlie menenangkan Keily.
Keily menatap Charlie, "Aku sayang Kakak. Jangan selalu melakukan hal-hal berbahaya. Apa Kakak tahu, betapa takutnya aku saat aku mendengar sesuatu tentang Kakak? Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin terus melihat Kakak," ungkap Keily yang kembali meneteskan air mata.
Diraihkan tubuh Keily agar bisa dipeluk Charlie. Dengan lembut diusapnya kepala belakang Keily dan punggung Keily. Charlie berusah menenangkan Keily yang menangis.
"Aku tahu semua itu. Aku akan ingat semua kata-katamu hari ini," jawab Charlie.
Keily melepaskan pelukan, "Janji? apapun yang terjadi, Kakak tidak akan membuat diri Kakak terluka? ayo janji padaku," desak Keily menunjukkan jari kelingkingnya di depan Charlie.
"Janji," jawab Charlie yang langsung mengikatkan jari kelingking tangan kirinya pada kelingking Keily. Charlie terpaksa berjanji meksi tidak tahu akan seperti apa nantinya.
"Maafkan aku, Kei. Aku terpakasa berjanji. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya nanti. Aku tahu kau sangat khawatir padaku, aku tidak bisa berjanji untuk baik-baik saja. Maaf," batin Charlie.
__ADS_1
*****
Sore harinya. Setelah Charlie menyelesaikan semua tugas dan pekerjaanya di kantor. Ia menghampiri Micheline yang ada di ruangan untuk pulang lebih awal. Charlie mengatakan jika ia merasa tidak enak badan dan ingin pulang untuk segera beristirahat. Laporan yang selesai di kerjakannya diberikan langsung pada Micheline untuk diperiksa.
Mendengar alasan Charlie. Micheline mengizinkan Charlie pulang kerja lebih awal. Ia juga mengizinkan Charlie berlibur jika ingin mengambil libur untuk istirahat. Charlie menolak berlibur. Ia hanya ingin pulang cepat saja hari itu.
Dari kantornya, Charlie langsung pergi menemui Zack. Charlie datang ke rumah Zack tanpa perencanaan dan tidak menghubungi Zack lebih dulu. Ia berharap kedatanganya disabut ramah dengan hasil penyelidikan Zack yang memuaskan.
Mobil Charlie berhenti di halaman sebuah rumah. Ia segera turun dari dalam mobil. Dilihatnya sekitaran rumah tersebut, rumah kecil satu lantai dengan halaman yang luas. Seekor anjing besar berlari menghampiri Charlie dan mengonggong seakan mengenali Charlie.
"Hei, Max..." sapa Charlie berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.
Anjing ber-ras siberian huski itu langsung berlari dan mengangkat kedua kaki depannya seakan menyambut pelukan Charlie. Charlie mendekap Max, nama anjing tersebut.
"Kau bertambah jelek, Max. Di mana Paman jelekmu, huh?" goda Charlie melepas dekapannya dan mrngusap-usap wajah Max.
"Hei, Charlie. Kapan kau datang?" sapa seseorang yang tidak lain adalah Zack.
"Hei, Zack..." sapa Charile.
"Aku senang kau datang, temanku. Sudah lama, kan?" kata Zack. Zack melihat Max terus menempel pada Charlie, "Kau sangat rindu orang jahat ini rupanya. Dasar kau Max," kata Zack mengusap kepala Max.
Charlie tersenyum, "Kau cemburu jika Max merindukanku, hah? itu berarti aku lebih baik dan lebih perhatian padanya," jawab Charlie.
Keduanya saling menatap dan tertawa. Zack memepersilakan teman baiknya masuk ke dalam rumah. Zack menawarkan teh dan kopi, tetapi di tolak oleh Charlie. Charlie ingin minum bir kaleng, ia meminta bir pads Zack tanpa ragu.
"Jadi... apa kedatangamu untuk melihat hasil penyelidikanku?" tanya Zack memberikan satu kaleng bir pada Charlie.
"Ya. Itu sangat penting untukku, Zack. Aku sedang kacau saat ini," ungkap Charlie yang langsung meneguk bir di dalam kaleng.
"Ceritakan padaku, apa yang membuatku kacau. Apa ada sesuatu?" tanya Zack duduk di samping Charlie.
Charlie menceritakan tentang Hansel pada Zack. Mulai dari awal Hansel bekerja, sampai terkahir saat ia mendengar percakapan Hansel di telepon dengan seseorang yang diyakini Charlie adalah Luiso atu Alfonzo sendiri.
__ADS_1
"... kau tahu, kan? apa arti Micheline buatku," kata Charlie.
Zack mengangguk, "Ya. Tentu saja aku sangat tahu itu. Dia adalah Dewi penyelamatmu sekaligus orang yang bisa menerima apa adanya dirimu tanpa melihat status sosialmu. Bukankah karena Micheline juga kau tetap bertahan diperusahaannya?" jelas Zack yang tahu semuanya tentang Charlie, Karena Zack adalah satu-satunya teman Charlie setelah Micheline yang menyelamatkannya.
"Bagimana aku mengusir tikus ini, Zack?" keluh Charlie.
"Ah... sebelum kau bingung memikirkan cara menyingkirkan seseorang yang kau sebut 'tikus' itu. Bagaimana jika kau melihat datanya," kata Zack yang berdiri dan pergi meninggalkan Charlie. Tidak beberapa lama, Zack kembali dan membawa sebuah amplop cokelat besar berisi semua data milik Hansel. Dan langsung memberikannya pada Charlie.
"Apa ini datanya?" tanya Charlie menerima.
Zack menganggukkan kepalanya, "Ya. Data ini aku jamin akurat. Karena aku langsung menyuruh orangku menyelidikinya," jawab Zack.
Charlie yang sangat penasaran langsung membuka amplop itu dan mengeluarkan lembaran kertas berisi biodata sampai laporan Hansel yang mendetail. Charlie meletakan kertas-kertas itu di atas meja dan membacanya dengan seksama. Ia begitu fokus karena ingin tahu siapa sesungguhnya Hansel.
*****
Sekitar hampir tiga puluh menit Charlie membaca berkali-kali dan mencoba memahami. Ia menemukan titik-titik kelemahan Hansel di sana. Ia berpikir bisa menyerang Hansel dengan titik kelemahan tersebut.
"Bagaimana menurutmu, Zack?" tanya Charlie ingin dengar pendapat Zack.
"Jika kau bertanya padaku. Maka aku akan menjawab jujur. Bisa saja pemikiranmu tentangnya salah, bisa juga sepenuhnya benar. Aku juga bingung, karena banyak hal sulit yang juga ia alami. Mungkinkah ia orang yang gelap mata akan uang? itu jelas mungkin karena dia orang asing di tempat ini, kan? jadi kesimpulannya, ia menjalankan perannya demi bertahan hidup. Dia terpaksa masuk perusahaan tempatmu bekerja untuk mendapat informasi sebanyak-banyaknya dan menjualnya pada Alfonzo. Itu masuk akal jika rahasia yang tidak diketahui orang luar bisa sampai bocor, kan? bocah itu hebat juga," jelas Zack.
"Jadi... apa yang harus aku lakukan. Aku sangat kesal padanya. Kalau menggunakan caraku, sudah pasti aku akan mencongkel dua matanya dan memotong dua telinganya. Juga mematahkan tangan dan kakinya," kata Charlie sudah berangan-angan ingin menyiksa Hansel sedemikian rupa.
"Jangan gunakan caramu, Charlie. Coba saja kau tenang dulu dan cari semua bukti kesalahannya danpa ketahuan olehnya. Lalu dengan itu kau buat dia tidak bisa berkutik lagi. Hansel terlihat tenang dan polos sepertinya, ia juga bisa mengatur perannya dengan sangat baik."
"Aku harus mengunggu lagi, begitu?" tanya Charlie menatap tajam pada Zack.
"Jika tidak? kau akan langsung menemuinya dan langsung menuduhnya, begitu?" jawab Zack membalas tatapan mata Charlie.
"Hah..." keluh Charlie mengembuskan napas panjang, "Kau tau 'kan aku tidak suka menunggu. Aku benci menunggu dan diabaikan, terlebih di pojokkan."
Zack menepuk bahu Charlie, "Bagaimana jika seperti ini. Kau ajak saja dia bertemu dan tanyakan secara pribadi. Beri dia kesempatan menjelaskan, sisanya kau bisa lakukan semaumu. Hanya saja, jangan gunakan emosimu dan murkamu. Kau paham maksudku, kan?" kata Zack.
__ADS_1
Charlie berpikir. Apa yang dikatakan Zack ada benarnya juga. Jika menggunakan caranya yang kasar hanya akan menambah masalah besar. Jika ia menemui Hansel dan bicara baik-baik maka itu akan sulit, mengingat sebelumya ia masih kesal dengan ucapan Hansel yang menusuk hatinya.
...*****...