
Micheline menyelesaikan pekerjaanya dengan lancar sampai siang hari. Ia merasa lega, pekerjaanya sudah ia selesaikan tanpa kesulitan. Namun, ia merasa sangat lemas dan tidak bertenaga. Perutnya terus-terusan mual, ia juga tidak selera untuk makan sarapannya pagi tadi.
Ponselnya berdering di atas meja. Ia segera menggapai ponselnya dan melihat nama Jesslyn memanggilnya. Micheline tersenyum tipis, mendapati panggilan dari seseorang yang tidak asing baginya.
"Ya, Jesslyn. Ada apa?" tanya Micheline langsung setelah panggilan Jesslyn diterimanya.
"Hai, Nona. Apakah anda sibuk? mau makan siang denganku dan Charlie?" tawar Jesslyn.
"Wah, ada angin apa? sampai -sampai kau begitu repot mengajakku," kata Micheline menjawab.
"Bukan apa-apa. Hany sebuah perayaan kecil, saja. Aku baru saja memindahkan tempat praktekku. Jadi aku ingin mentraktir makan siang Nona dan Hansel," jawab Jesslyn.
"Oh, kau sudah dapatkan tempat yang kau incar, ya. Selamat Jesslyn. Aku ikut senang mendengarnya. Baiklah, ayo kita pergi makan siang bersama." kata Micheline.
"Ya, Nona. Terima kasih. Aku akan kirimkan alamatnya. Charlie juga sudah memberitahu Hansel soal ini, dan bagianku memberitahu anda," kata Jesslyn menjelaskan.
"Ok. Aku aku dan Hansel pasti akan datang memenuhi undanganmu. Sampai nanti," kata Micheline.
"Sampai nanti, Nona." jawab Jesslyn. Yang langsung mengakhiri panggilannya pada Micheline.
Micheline tersenyum, ia meletakan ponselnya di meja. Baru saja ia ingin melanjutkan meringkas berkas dokumen yang di atas mejanya. Pintu ruangannya terketuk dan terbuka. Tenyata Hansel datang dengan membawa sebuah berkas dokumen.
Tok... tok.. tok...
Hansel masuk dan kembali menutup pintu. Ia melangkah mendekati Micheline yang terlihat sibuk merapikan berkas dokumen yang berserakan.
"Ini berkas dokumen yang kau minta. Aku saja yang bereskan mejamu," kata Hansel yang langsung memberikan berkas dokumen di tangannya pada Micheline. Ia segera mengambil alih pekerjaan Micheline membereskan meja.
Micheline membuka dan membaca dokumen dari Hansel, "Apa ini sudah diperiksa oleh Charlie?" tanya Micheline.
"Sudah," jawab Hansel, "Apa kau baik-baik saja? kau bahkan tidak menghabiskan sarapanmu akhir-akhir ini. Apa kau akan timbuh gemuk jika hanya makan sedikit?" tanya Hansel masih sibuk dengan meringkas dokumen-dokumen di meja kerja Micheline.
"Enthalah. Terkadang ingin makan sesuatu, begitu melihat makanan itu malah tidak mau makan. Ah iya, Hans. Aku dapat telepon dari Jesslyn. Kita akan pergi makan siang bersama. Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Micheline menatap Hansel yang sibuk.
"Sudah. Begitu selesai dengan pekerjaanku, aku ke ruangan Charlie mengambil apa yang kau minta dan mengantarkannya ke sini. Aku juga diberitahu jika kita akan makan siang bersama nanti. Jesslyn berhasil mendapatkan tempat idamannya untuk membuka tempat prakteknya, kan?" jelas Hansel.
"Hmm..." gumam Micheline tersenyum, "Dia pasti sangat bahagia sekarang. Semua tergambar jelas dari suaranya yang penuh semangat mengajakku."
"Dia memang selalu semangat, kan. Begitu juga Pak kepala Sekretaris kita. Dia selalu penuh semangat setiap hari. Mungkin saja Jesslyn menularkan semangatnya pada Charlie," kata Hansel asal bicara.
"Hahaha..." Micheline tertawa, "Mungkin saja. Jika dipikir-pikir. Mereka lucu juga. Saat di hadapan kita selalu malu-malu." sahut Micheline.
Hansel selesai membereskan meja Micheline, "Hah... selesai juga. Kau ini tidak sadar, ya. Kau sudah memporak porandakan meja kerjamu. Kau aneh, Eline. Ini bukan kau yang biasanya selalu rapi dan teratur." kritik Hansel menilai perubahan Micheline.
Micheline mengernyitkan dahi, "Ya, mungkin saja tadi aku sedang malas. Kau kan tahu banyaknya pekerjaanku. Abaikan itu dan ayo kita bersiap-siap." jawab Micheline tidak mempermasalahkan perubahannya.
Hansel hanya bisa menghela napas. Ia tidak banyak bertanya dan bicara lagi. Keduanya berisap dan langsung pergi menuju tempat janji temu makan siang.
*****
Charlie dan Jesslyn lebih dulu sampai. Mereka terlihat berbincang dan tertawa bersama. Tidak beberapa lama, Hansel dan Micheline datang. Micheline dan Jesslyn saling berpelukan melepas rindu. Sudah cukup lama kedunya tidaj bertemu. Pertemuan terakhir mereka sekitar satu bulan lalu, saat Jesslyn, Jason dan Keily di rumahnya.
"Bagaimana kabarmu, Jason dan Kakek?" tany Micheline usai melepas pelukan.
"Kami semua baik-baik saja, Nona. Semua berkat kebaikan Nona," jawab Jesslyn tersenyum cantik.
__ADS_1
"Hallo, Hans. Kau terlihat tidak buruk," sapa Jesslyn.
"Jangan menyapanya. Dia selalu baik-baik saja. Tugasnya kan mudah," sela Charlie memasang wajah tidak suka. Ia menatap tajam arah Hansel.
"Ho... ada cacing kepanasan rupanya. Kekasihmu hanya sekedar menyapaku, bukan menerkamku. Jangan cemeburu seperti itu," sindir Hansel.
"Siapa? aku? aku tidak cemburu," kata Charlie mengelak.
"Memang tidak terucap. Tetapi tertulis jelas di wajahmu, 'Aku cemburu. Jangan menyapa laki-laki lain.' begitu kira-kira isi tulisannya." kata Hansel menggoda Charlie.
"Bocah ini. Bisa-bisanya dia tahu isi kepalaku. Apa dia berguru pada cenayang?" batin Charlie kesal.
Jesslyn melerai, "Sudah, sudah. Jangan ribut lagi. Kalian ini seperti kucing dan anj*ng saja. Ayo duduk dan kita pesan makanan." kata Jesslyn.
Mereka duduk dan mulai memesan makanan. Pelayan mencatat dan pergi setelahnya. Micheline menceritakan pada Cahrlie jika Matteo sudah siap bergerak. Charlie juga diminta Micheline untuk bersiap.
"Bersiaplah. Matteo akan mulai pergerakan," mata Micheline menatap Charlie, "Kita akan memancing mangsa besar," imbuhnya.
"Aku selalu siap. Apa kau siap aku pukuli, Hans? agar akting kita lebih meyakinkan, kau perlu sedikit lebam, kan? tenaga Matteo kurang karena masa pemulihan, aku siap jika diharuskan menjadi penggantinya." goda Charlie.
"Sebelum kau memukulku. Aku akan memukulmu lebih dulu," sahut Hansel.
"Apa yang terjadi?" tanya Jesslyn bingung.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Nanti akan aku ceritakan," jawab Charlie lembut pada Jesslyn.
Micheline takjub. Ini pertama kalinya ia melihat Charlie bersikap lembut pada perempuan. Jika sebelumnya hanya terkesan dingin seperti balok es dengan tatapan mata bagaikan ibl*s. Perempuan mana yang mau mendekat, sebelum mendekat saja sudah dibuat gemetar oleh aura jahat yang keluar dari tubuh Charlie.
"Kapan kalian menikah?" tanya Micheline tiba-tiba.
Micheline mengernyitkan dahi, "Ada apa? apa aku salah bertanya? aku tanya, kapan kalian menikah?" ulang Micheline bertanya.
"Oh, itu. Aku tidak tahu. Tergantung Jesslyn kapan siap kunikahi," jawab Charlie.
Jesslyn merona, "Kau ini..." gumam Jesslyn menatap Charlie.
"Kalian terlihat cocok. Lebih cepat menikah lebih baik, kan. Jangan sampai didahului orang lain," kata Micheline memanaskan suasana.
Tidak lama kemudian, pesanan makan siang mereka datang. Micheline memesan jus strawberry, salad buah, dan juga salad sayur. Hansel melirik Micheline, ia pun bertanya apakah perut Micheline sudah membaik atau belum.
"Apa perutmu sudah baik-baik saja. Kau pesan jus strawberry lagi. Itu kan asam," kata Hansel.
"Aku ingin. Jangan khawatir, aku baik-baik saja." jawab Micheline.
"Apa kau sakit? tanga Charlie pada Micheline.
"Tidak," jawab Micheline.
"Tidak apa. Bukankah kau mengeluh tadi? kau mengatakan lemas, tidak bertenaga dan tubuhmu tidak nyaman." sela Hansel membenarkan.
"Itu kan tadi. Sekarang baik-baik saja," kata Micheline.
Posel Hansel berdering, Alfonzo menghubungi Hansel. Hansel dan Micheline bertatapan. Micheline meminta Hansel menerima panggilan itu.
"Aku terima telepon dulu sebentar," kata Hansel yang langsung berdiri dari dudukny dan pergi.
__ADS_1
Charlie, Jesslyn dan Micheline mulai makan. Suapan pertam berhasil masuk ke perut Micheline, suapan berikutnya tidak. Micheline merasa mual dan ingin muntah. Ia pun berpamitan untuk pergi ke kamar mandi.
"Uhkk..." Micheline menutup mulutnya, ia segera mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya.
"Ada apa?" tanya Jesslyn.
"Perutku tidak nyaman. Aku merasa mual dan ingin muntah. Aku ke belakang dulu. Kalian makan saja," kata Micheline yang buru-buru berdiri dan pergi.
Charlie dan Jesslyn saling memandang, "Aneh..." kata keduanya bersamaan.
"Kau merasa aneh?" tanya Charlie.
Jesslyn mengangguk, "Ya. Mungkinkah dia hamil?" tebak Jesslyn.
"Ah... iya juga berpikir seperti itu. Jangan-jangan memang hamil. Si brengs*k itu cepat juga bergerak," kata Charlie mengatai Hansel.
"Kenapa kau marah?" tanya Jesslyn.
"Aku kan juga ingin kau hamil," kata Charlie dengan polosnya.
"Apa?" kaget Jesslyn melebarkan mata, ia melihat sekililing kalau-kalau ada yang mendengar ucapan Charlie selain dirinya. "Kau ini. Bisa pelankan suaramu, tidak?" Jesslyn menepuk kasar bahu Charlie.
"Maaf, sayang. Mulutku yang bersalah, kenapa kau memukul bahuku." gerutu Charlie.
"Kita bahas itu nanti. Yang kita bahas sekarang kan Micheline." jelas Jesslyn. "Apa hubungannya dengan Hansel berjalan baik? Hansel tidak cerita apa-apa padamu?" tanya Jesslyn ingin tahu.
Charlie menggeleng, "Dia tidak pernah bercerita apa-apa. Aku rasa hubungan mereka baik. Selalu ada tanda merah di tubuh Hansel, mungkin mereka bekerja keras sampai mebuahkan hasil." jawab Charlie.
Jesslyn tertawa kecil, "Kau lucu sekali, sayang. Kita juga pasti akan memiliki bayi. Berusalah lebih keras lagi," kata Jesslyn menyemangati.
"Kita mulai dengan nanti malam, ya?" bisik Charlie.
Jesslyn melebarkan mata, "Kau ini..." gumam Jesslyn malu. Wajahnya merona merah seperti tomat.
Hansel kembali. Ia melihat kursi Micheline kosong dan bertanya pada Jesslyn juga Charlie. Jesslyn memberitahukan jika Micheline pergi ke kamar mandi. Karena merasa tidak nyaman. Hansel mengerutkan dahi, perasaanya benar. Micheline memang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
...*****...
**Yuk, follow ig author
ig: dea_anggie
Jangan lupa like setiap episodenya ya..
Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..
Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..
Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..
Terima kasih semuanya...
Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..
Salam hangat dari author~~🙂**
__ADS_1