
Micheline makan bersama Hansel. Hansel terlihat tidak selera makan. Ia marasa bingung atas sikap Charlie padanya. Mengapa Charlie begitu dingin dan kaku padanya. Hansel merasa jika tidak ada yang salah, baik dari sikap ataupun perkataannya. Hansel kembali menerka-nerka apa yang salah dari semuanya. Sepertinya, memang ada bagian yang terlewatkan olehnya.
Melihat Hansel yang melamun. Micheline menegur Hansel. Ia tidak suka melihat Hansel yang diam mematung tanpa menyentuh makanan yang sudah disajikan pelayan. Makanan yang ada di hadapan Hansel sampai hampir dingin.
"Makan, makananmu, Hans. Jangan sampai makananmu dingin," ucap Micheline menusuk daging steak dengan garpu setelah ia memotongnya. Lalu Micheline melahap irisan steak tersebut dengan lahap.
"Kau tidak lapar? apa ada masalah lagi? apa kau tidak suka makanannya?" cecar Micheline gemas karena Hansel hanya diam tanpa bicara.
Micheline yang kesal akhirnya meletakan kasar pisau dan garpunya. Ia lalu meminum air putih dalam gelas dengan sekali tegukan. Rasanya ingin sekali membuka paksa mulut Hansel agar mau bicara padanya.
"Hansel. Lebih baik kau tidak berkeja dulu selama beberapa hari. Kau terlihat lelah," kata Micheline memutuskan memberi libur pada Hansel.
Hansel kaget, "Apa? saya baik-baik saja," jawab Hansel.
"Tidak. Kau sedang tidak baik-baik saja, Hans. Ada sesuatu yang terus kau pikirkan. Kau mengabaikanku dan tidak mendengar ucapanku. Kau membuatku kesal," ungkap Micheline.
"Maaf, Bu CEO. Saya memang sedang berpikir saat ini. Bukan berarti saya tidak mendengar kata-kata Anda. Saya hanya..." kata-kata Hansel terhenti.
"Hanya... tidak ingin memberitahuku? begitu 'kan maksudmu, Hans?" sambung Micheline yang langsung tersenyum sinis.
Hansel menggeleng, "Jujur saya sungguh tidak mengerti, Bu. Mengapa Pak Kepala seperti itu tadi di ruang rapat. Saya 'kan hanya mengkritik usulan beliau. Saya hanya merasa jika itu tidak efisien karena harus dua kali kerja. Bukankah itu memakan waktu?" jelas Hansel pada Micheline.
"Ya. Kau benar. Itu bisa membuat kita banyak membuang waktu karena kita harus dua kali bekerja. Namun, apa yang disampaikan Charlie juga masuk akal. Jika kita ingin mendapatkan hasil maksimal, kita harus melakukan penyaringan. Tentu saja penyaringan itu dengan dua kali bekerja seperti yang kau maksudkan. Kau paham?" tegas Micheline menjelaskan.
"Jadi, saya salah?" tanya Hansel merasa tidak enak hati.
"Tidak sepenuhnya salah. Boleh saja kau berusul, hanya tadi kau salah jika langsung memotong ucapan Charlie. Ada dua hal yang perlu kau tahu dari Charlie, Hans. Pertama, dia tidak suka ucapannya disela atau dipotong. Kedua, dia tidak suka orang lain memandang rendah dirinya. Kau menyelanya dan kau menatapnya seakan ingin memangasanya. Itulah kenapa dia seperti anj*ng yang siap menggigit orang kapan saja," jelas Micheline lagi.
Hansel mengehala napas, "Saya mengerti, Bu CEO. Saya menyadari kesalahan saya. Ke depannya, saya tidak akan seperti ini lagi. Saya juga akan meminta maaf secara langsung pada Beliau," jawab Hansel.
__ADS_1
"Ya. Lebih baik seperti itu. Karena bagaimanapun, Charlie adalah seniormu di tempat kerja. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku menunggu kabar baik dari kalian berdua," kata Micheline.
Micheline kembali menikmati makan siangnya. Begitu juga Hansel. Hansel berencana menghubungi Charlie dan ingin membuat janji temu dengan Charlie untuk meminta maaf.
*****
Charlie mendengarkan cerita Keily. Keily menceritakan tentang pekerjaanya, bagaimana ia di tempat kerja. Teman-temannya dan banyak hal lainnya.
"Kau begitu menyukai pekerjaanmu, ya?" tanya Charlie.
Keily mengangguk, "Ya. Suka sekali..." jawab Keily girang.
Charlie tersenyum melihat Adiknya yang terlihat senang. Meski hatinya dipenuhi rasa kesal dan jengkel. Ia masih bisa tersenyum karena mendengar cerita menarik dari Adik satu-satunya yang ia miliki.
"Minggu depan kita akan ke pemakanan, kan? aku harap Kakak tidak lupa dan tidak sibuk," kata Keily.
"Tidak akan. Bagaimana aku bisa melupakan mendiang orangtua kita, Kei."
"Wah-wah. Adik kesayanganku sudah berani memperingatkan Kakaknya, ya? aku terharu," goda Charlie.
"Kak..." panggil Keily ingin menanyakan sesuatu.
"Hm?" gumam Charlie.
"Apakah Kakak dan Kak Micheline bertengkar? maaf, aku hanya ingin tahu. Jika Kakak tidak mau jawab tidak apa-apa," kata Keily ragu-ragu. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Kakaknya.
"Aku tidak ada masalah dengannya. Hanya saja aku kesal pada seseorang yang menyelaku dan mengkritik usulanku. Seakan merendahkanku," jawab Charlie.
Keily kaget, "Wah... hebat. Tenyata masih ada orang yang berani menyinggung Pak Kepala Sekretaris ini, ya? aku jadi penasaran siapa orangnya," guman Keily.
__ADS_1
Keily mengangguk, "Ah, ternyata begitu. Aku penasaran siapa orang yang begitu berani menyinggungmu, Kak. Kemungkinan besar, orang itu belum mengenalmu seutuhnya. Jika tidak, ia pasti sudah akan diam saat kau bicara. Bukan begitu?" kata Keily.
"Kau sudah mengenalnya," jawab Charlie.
"Kenal? siapa, ya?" gumam Keily mengingat-ingat. Keily mengernyitkan dahi, pikirannya menerka-nerka.
"Orang yang kau ajak berkenalan tadi," sahut Charlie.
"Berkenalan?" jawab Keily. Keyli langsung melebarkan mata menanggapi ucapan Charlie, "Maksud Kakak, laki-laki tampan yang sedang makan dengan Kak Michel, ya?" tebak Keily.
"Jangan bertanya lagi jika sudah tahu," kata Charlie.
Keily pun diam. Ia masih terus memikirkan Kakaknya yang terlihat kesal karena harus membahas masalah yang sudah ingin diredam. Keily tidak ingin lagi membahas hal yang tidak menyenangkan
Charlie berdiri dari tempat duduknya, "Aku ke kamad mandi dulu. Kau makan saja yang banyak," kata Charlie menatap Keily.
"Ya, Kak. Aku akan habiskan ini semua," jawab Keily.
Charlie mengusap rambut Keily lalu berjalan menuju kamar mandi. Sesampainya Charlie di kamar mandi, ia mencuci tangannya. Tiba-tiba saja ia mendengar suara yang tidak asing. Ia mendengar Hansel berbincang di telepon dengan seseorang. Merasa penasaran Charlie pun masuk ke dalam bilik yang ada di sebelah bilik Hansel. Charlie ingin mencuri dengar pembicaraan Hansel yang sedang bertelepon.
"Apa yang bocah brengs*k ini lakukan? dengan siapa dia bertelepon?" batin Charlie penasaran. Ia terus mencuri dengar pembicaraan Hansel.
Terdengar Hansel sedang berbicara. Hansel menjelaskan mengapa ia ingin berlibur untuk menata-matai Micheline. Mendengar kata-kata Hansel, Charlie geram. Ia ingin sekali mendobrak pintu bilik dan menghajar Hansel.
"Sialan, jadi dia selama ini mata-mata? kurang ajar," batin Charlie.
"Tenang Charlie, tenang. Jangan terpancing emosi. Jangan buru-buru dan gegabah mengambil sikap. Lihat saja, aku akan bongkar kebusukanmu pada Micheline nanti," batin Charlie lagi.
Charlie mendengar Hansel selesai bertelepon dan mencuci tangan. Tidak lama Hansel pergi meninggalkan kamar mandi. Charlie membuka pintu bilik dan mengintip, ia tidak melihat siapa-siapa di dalam kamar mandi. Dengan segera ia keluar dari bilik dan melangkah mendekati Westaffel untuk mencuci tangan. Lalu segera pergi ke luar dari kamar mandi. Ia kembali kesal dan dibuat jengkel oleh Hansel. Yang lebih mencengangkan, Hansel ternyata adalah seorang mata-mata yang sengaja memata-matai Micheline.
__ADS_1
Mendengar Pernyataan Hansel yang hanya beberapa kalimat saja. Sudah bisa jelas di pastikan oleh Charlie, Jika Hansel sengaja di kirim Alfonzo untuk Micheline. Mengintai pergerakan Micheline. Yang artinya Micheline sedang dalam bahaya.
...*****...