My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 95 - Mengejutkan Hatimu


__ADS_3

Micheline*


Kami tiba di kantor. Aku kelaur dari dalam mobil, dan langaung mengeluarkan buket bunga dari dalam mobil lalu menggendongnya. Karena ukurannya yang besar, aku cukup kesulitan membawanya. Kulihat sekeliling, sudah lama aku tidak datang, dan ini hari pertama aku datang. Mungkin saja semua akan terkejut dengan kedatanganku. Aku pun melangkahkan kaki masuk dalam gedung diikuti Hansel.


Bicara soal rumor. Tersebar rumor aneh di perusahaan, rumor itu juga menyebar sampai ke telinga para klien bisnisku. Rumor apa? rumorku dengan Hansel. Yang katanya, Hansel adalah Asisten sekaligus laki-laki simpananku.


Laki-laki simpanan, ya? tidak layak, dia bahkan ingin kujadikan lebih dari sekedar simpanan. Akan kubuat semua orang terkejut nanti. Lihat saja! akan kubuat mulut mereka terbuka dan mata mereka semua melompat keluar. Mengesalkan sekali!


Langkah kakiku sampai, aku melihat sebuah pintu yang biasa kugunakan untuk pertemuan bulanan yang tergolong penting. Hansel di sampingku, aku memalingkan pandanganku padanya, ia juga menatapku. Wajahnya terlihat tegang, seharuanya aku yang tegang. Karena aku akan mengejutkannya.


"Kenapa tegang?" kataku setengah berbisik.


"Tidak ada. Biar kubukakan pintunya," katanya yang langsung melangkah selangkah dan membuka pintu mempersilakan kumasuk dalam ruangan. "Silakan, Bu." katanya.


Aku melangkahkan kakiku masuk. Semua mata menatapku. Aku abaikan mata-mata tajam itu. Aku melihat semua sudah berkumpul termasuk para staf kantor. Aku meletakan perlahan buket bunga yang kupeluk erat sejak tadi. Beberapa berbisik, entah apa yang meraka bisikkan. Beberapa lekat menatapku lalu menatap buket bunga di atas meja di sisiku. Beberapa juga menatap Hansel yang berdiri di dekat pintu.


"Pertama-tama, saya mengucapkan permintaan maaf kepada semuanya, tanpa terkecuali. Permintaan maaf ini mewakili ketidak hadiran saya sebagai CEO selama beberapa bulan. Saya hanya bekerja di rumah, dan di sini dikendalikan sepenuhnya oleh Pak Kepala Sekretaris. Ada dua hal yang ingin saya sampaikan terkait pertemuan kita hari ini. Langsung saja, karena saya juga bukan orang yang suka mengulur waktu." kataku yang langsung mengangkat tangan menatap Charlie. Charlie pun segera menghampiriku, membawakan setumpuk berkas dokumen pengajuan pembatalan kontrak.


"Saya dengar, Tuan-tuan sekalian ingin membatalkan kontrak kerja. Silakan saja, saya tidak akan menahan. Namun, ada sesuatu yang perlu kalian ketahui. Melepaskan kerjasama ini, Anda sekalian juga bersiap saja melepaskan bisnis kalian." kataku membuka satu per satu dan menjajarkan lima berkas dokumen yang membutuhkan tanda tanganku.


"Apa maksud anda?" tanya salah seorang klienku padaku.


"Maksud saya, bukankah sudah cukup jelas?" jawabku.


"Apa anda ingin mengancam kami? bagaimana bisa ands seperti ini, Nona?" sahut seorang lain.


"Saya tidak menyangka, dibalik reputasi baik Anda sebagai CEO muda yang terkenal. Ada sesuatu yang mebgejutkan. Anda memiliki seseorng yang jinak sepeti anj*ng peliharaan." kata seseorang lain melirik ke arah Hansel dengan senyuman seakan mengejek.


Kesabaranku sudah habis. Aku langsung saja menyetujui permintaan mereka yang keras kepala seperti batu. Lihat saja, setelah ini aku pastikan kalian akan meraung-raung di bawah kakiku. Kenapa bisa? tentu saja bisa. Aku memiliki banyak kenalan, jaringanku tersebar luas. Menghancurkan lima perusahaan yang berskala kecil seperti mereka, bukan apa-apa untukku. Nikmati kehidupan kalian bagaikan di neraka, tikus-tikus.


Kekesalanku muluap. Aku membanting penaku kasar setelah menandatangani berkas dokumen yang terakhir. Aku meminta Charlie membagikannya pada kelima orang yang menggonggong di hadapanku. Aku melihat mereka tersenyum, setelah menerima berkas dokumen mereka kembali dari Charlie. Aku pun angkat suara, menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan.


"Hal pertama tersampaikan. Saya mengetujui permintaan anda sekalian. Kita tidak akan menjalin kerjasama lagi mulai detik ini sampai seterusnya. Ingat, saya bukan orang yang berbelas kasih pada siapapun. Dan, satu hal yang anda sekalian perlu tahu. Tuan-tuan yang terhormat. Seseorang yang anda sekalian sebut seperti 'anj*ng peliharaan' dia adalah calon suami saya." kataku dengan lantang.


Tentu saja semuanya terkejut, tanpa terkecuali Charlie dan Hansel. Jujur saja, aku pun terkejut. Aku tidak menyangka mulutku bisa melontarakan kata-kata itu dengan lancar.


"Apa maksud anda? dia..." kata salah satu staf yang langsung kusahuti.

__ADS_1


"Ya, dia. Hansel Feliks, adalah calon suami saya. Apa ada masalah? dia memang hanya asisten, apa salahnya dengan itu? tidak ada peraturan yang melarang hubungan atasan dan bawahan, kan?" sahutku membuat semuanya terdiam.


Aku sudah gila. Aku dengan senangnya mengatakan Hansel adalah calon suamiku. Aku melirik ke arahnya sekilas. Wajahnya tampak tegang, ia terdiam dan mematung di dekat pintu ruangan. Dia pasti juga terkejut. Biarlah, aku sengaja mengatakannya dengan lantang agar semuanya jelas mendengar. Terlebih lagi, tidak ada yang salah dengan ucapanku.


Aku mengangkat buket bunga mawar putih yang berukuran besar dari atas meja. Lalu membawanya bersamaku, aku berjalan mendekati Hansel yang berdiri mematung. Aku memberikan buket bunga yang kupeluk padanya. Dan melontarkan pertanyaan yang aku sendiripun tidak menyangka akan mengatakannya pada seorang laki-laki.


"Menikahlah denganku, Hans..." ucapku memberikan buket bunga dan menatapnya tajam.


"Maukah kau menikah denganku?" tanyaku lagi. Aku sangat gugup, mudah untuk dipikirkan, tetapi sulit untuk dilakukan.


Terlihat sekali ia terlejut, wajahnya merah dan berkeringat. Apa aku sudah salah bicara? apa ads masalah? kenapa Hansel hanya diam menatapku tanpa bicara? ia bahkan tidak menerima buket bunga pemberianku. Atau... jangan-jangan, ia...


Belum sampai pikiranku selesai menduga-duga, buket bunga di tangaku diterima Hansel. Dan ia menjawab apa yang kutanyakan padanya.


"Dengan senang hati," jawabnya tersenyum.


Aku terkejut, aku hampir saja mengira ia tidak mau menikah denganku. Tetapi pikiranku salah. Hansel memelukku, akupun membalas pelukannya. Aku senang sekali, senang karena aku bisa mendapatkan hati dan cinta laki-laki yang aku sayangi.


"Terima kasih, El. Dan selamat, kau berhasil membuat jantungku melompat-lompat," bisiknya di telingaku.


Aku tersenyum, "Aku mencintaimu..." ku bisikan kata-kata cinta untuknya. Meski aku bukan perempuan tipe romantis, aku cukup bangga bisa mengungkapkan perasaanku sampai sejauh ini.


Semua masalah selesai. Baik itu masalah tikus-tikus menyebalkan, juga masalah rumor. Berita perihal lamaranku tersebar luas. Dan semua memberiku ucapan selamat, termasuk Charlie. Laki-laki psikopat ini ada di hadapanku saat ini. Ia menatapku dan Hansel bergantian seakan ingin menerkam kami berdua.


"Bagaimana bisa seperti ini?" katanya tiba-tiba membuatku terkejut. Aku langsung saja mengerutkan dahiku.


"A, apa? apa yang kau maksud dengan, 'Bagaimana bisa seperti ini?" tanyaku sedikit kesal karena kaget.


"Aku tidak akan biarkan kalian menikah mendahuluiku!" serunya.


Aku melebarkan mata, begitu juga Hansel. Kami saling bertatap muka dan lalu tertawa keras. Aku hampir gila karena tingkah satu laki-laki gila di hadapanku ini. Jika aku tidak salah menebak, Charlie dan Jesslyn juga berencana menikah. Benar atau tidaknya, entahlah. aku pun juga tidak tahu.


"Memangnya kenapa? apa kau juga ingin menikah?" tanyaku.


Charlie merona seperti tomat yang masak, "Ya, Jesslyn... itu, dia..." Charlie Memenggal-menggal kata-katanya, membuatku penasaran.


"Dia, kenapa?" selaku.

__ADS_1


"Dia..." katanya lagi yang lalu mengusap tengkuknya, "Dia hamil, dan kami berencana menikah di akhir bulan ini." katanya. Membuatku kaget sekaligus bahagia.


"Benarkah? wah, selamat Charlie." kataku senang.


Charlie mengangguk pelan dengan malu-malu menjawab, "Ya, akan ku antar undangnnya nanti. Aku tidak membawanya karena terburu-buru tadi."


"Tidak apa-apa. Aku pasti akan datang ke pernikahamu dan Jesslyn." kataku.


"Ya, baiklah jika seperti itu. Aku harus kembali bekerja. Aku pergi dulu," katanya berpamitan, yang langsung pergi meninggalkan ruanganku.


Aku memalingkan wajah menatap Hansel. Entah mengapa aku melihatnya bersedih. Aku menggenggam tangannya dan bertanya kenapa ia memasang wajah sedih seperti itu.


"Kau kenapa? wajahmu terlihat sedih," tanyaku.


Hansel menggeleng, "Tidak apa-apa," jawabnya menyeka wajahnya kasar.


"Kau menangis?" tanyaku. Aku lanngsung mendekat ke wajahnya untuk memastikan. Dan matanya terlihat sembab. "Ada apa, Hans?" tanyaku panik. Aku takut ia kenapa-kenapa.


Hansel tiba-tiba saja memelukku, "Aku sedih mengingat anak kita yang sudah tiada. Jika tidak terjadi sesuatu, bukankah kita akan segera menggendongnya?" katanya dengan suara bergetar.


Aku kaget, ternyata mendengar kabar kehamilan Jesslyn membuatnya ingat akan janin di peruku yang telah gugur. Aku mengehela napas, sesungguhnya memang sulit. Aku pun terkadang masih memikirkannya meski sesekali. Tetapi itulah takdir, tidak akan ada yang tau akhirnya seperti apa. Manusia hanya bisa berencana, berharap semuanya berjalam sesuao kehendak. Jika takdir berbanding terbalik, kita yang memiliki kekuasaan sekalipun, tidaka akan bisa melawan dan merubah takdir.


...*****...


**Yuk, follow ig author


ig: dea_anggie


Jangan lupa like setiap episodenya ya..


Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..


Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..


Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..


Terima kasih semuanya...

__ADS_1


Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..


Salam hangat dari author~~🙂**


__ADS_2