
Perhatian!
Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.
*****
Micheline*
Perasaanku semakin lama semakin tidak enak. Entah mengapa, seperti ada tekanan yang menekanku sampai aku sesak bernapas. Aku gelisah, cemas dan khawatir. Aku berbalik mengubah posisi tidurku. Karena posisi yang tidak nyaman, akhirnya aku bangun dan duduk. Baru saja aku duduk dan membenahi posisiku agar nyaman, aku mendengar pintu ruangan terbuka.
Siapa? pikirku bertanya-tanya. Aku melihat ke arah pintu, seorang perawat datang menghampiriku. Dahiku berkernyit, ada yang aneh dengan gelagat perawat itu. Aku tidak memanggil ataupun memerlukan sesuatu yang mengharuskan perawat untuk datang.
"Nona, waktunya minum obat." katanya.
Obat? obat sudah aku minum, obat apa lagi?
"Apa dokter yang menyuruh anda?" tanyaku memancingnya.
"Ya," jawabnya. Ia semakin dekat denganku, ia mengeluarkan butiran obat dari kemasan dan meletan di dalam piring kecil dekat gelas air minumku.
"Siapa dokter yang memintamu datang mengantar obat?" tanyaku lagi merasa semakin curiga.
"Dokter Richard," jawabnya.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Siapa Richard? dokter yang menanganiku bukan dia. Tidak salah lagi, perawat ini memanfaatkan penjagaanku yang lemah dan sengaja ingin mencelakaiku. Huh, pergerakanmu terbaca olehku. Kau kira aku semudah itu kau tipu?
Aku diam-diam berusaha melemaskan kakiku yang ada di dalam selimut. Aku bersiap menyerang di saat dia semakin dekat. Rasanya memang sakit, tidak hanya kaki, tanganku juga masih sakit jika kupaksakan bergerak bebas. Namun, jika aku tidak melawan. Aku akan dalam bahaya.
Benar saja, perawat yang datang itu langsung menyerangku dengan sebilah pisau yang entah datang dari mana. Aku melempar bantal ke arah mukanya sehingga ia menancapkan pisaunya ke ranjang pasien. dan aku menendang perutnya. Aku langsung turun dari ranjang pasien, aku dengan langkah terhuyung menghampiri perawat perempuan yang terpental setelah aku tendang tadi.
Dengan kasar kutarik rambutnya, "S*alan! kau ingin mencoba membunuhku, huh?" sentakku geram.
Ia masih melawan, ia mencoba menyerang kakiku yang sakit, membuatku terjatuh ke lantai. Aku sangat kesal, aku tidak bisa bergerak semauku karena luka-luka disekujur tubuhku. Ia pun langsung menaiki tubuhku dan berusaha menjulurkan tangan mencekikku.
Aahh... aku tidak punya banyak tenaga melawannya. Kondisiku sangat tidak memungkinkan untukku bisa melawannya. Si*l! benar-benar si*l!
Aku terus mengumpat karena kesal. Namun, aku masih tetap mempertahankan posisiku. Aku merasakan sakit di area perutku. Tubuhku sangat lemah, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi jika seperti ini. Tanpa sadar aku menangis, entah mengapa aku membenci tubuh yang lemah karena sakit ini. Aku berpikir, apakah ini akhir hidupku? apa aku harus meninggalkan semuanya dengan cara seperti ini?
Pada saat pikiranku lelah dan aku kehabisa tenaga, terbesit olehku untuk menyerah pada keadaan. Ini pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa tidak berdaya seperti ini. Tangan perempuan itu sudah menyentuh leherku, dan ia sudah mulai mengerahkan kekuatannya mencekikku.
Tidak lama, aku mendengar suara pintu dibuka. Aku dan perempuan gila yang menyerangku ini terkrjut. Ada seseorang yang berteriak, yang tidak lain adalah Hansel.
"Eline..." panggilnya.
Perempuan gila yang menyerangku itu disingkirkan oleh Charlie. Hansel menolongku, ia terlihat panik dan berteriak memanggil dokter.
__ADS_1
"Cepat panggil dokter!" serunya.
"Aku baik-baik saja," jawabku dengan suara melemah.
Hansel mengangkatku, menggendongku kembali keatas ranjang pasien. Ia melihat pisau yang menancap di ranjang pasien, lalu menatap perempuan yang tadi menyerangku.
"Siapa yang membayarmu?" tanyanya kasar, ia mengambil pisau itu dan mengarahkannya pada perempuan itu.
"Jawab, atau pisau ini akan menancap di kulitmu!" sentak Charlie yang geram.
Perempuan itu terdiam. Ia begitu rapat menutup mulutnya agar tidak bersuara. Aku mengatur napasku, sepertinya aku tahu, siapa orang yang menyuruhnya. Kemungkinan besar adalah Alfonzo, pamanku sendiri.
"Charlie..." aku memanggil Charlie.
"Ya," jawab Charlie.
"Ikat saja dia, dan tolong hubungi sekretaris Anne." kataku memerintah Charlie.
Jason membantu Charlie, "Biar aku yang ikat, Kak." katanya.
"Aku bantu," kata Keily.
Jesslyn menghampiriku dan menanyakan kabarku, "Kau tidak apa-apa? minumlah dulu," katanya memberikan segelas air putih.
Aku menerima dan meminum air dalam gelas samapi habis. Rasanya sangat menegangkan. Ini pertama kalinya aku merasa tidak bisa apa-apa seperti ini. Aku tidak berdaya sama sekali.
"Bukan salahmu. Memang sepertinya ada mata yang mengawasi. Kebetulan saja kalian pergi, dan kesempatan itu datang pada mereka. Aku baik-baik saja, tidak apa-apa. Kau tidak perlu minta maaf, Jesslyn." kataku.
Charlie mendekatiku, "Sudah terhubung..." katanya.
Aku mengangguk, "Aktifkan pengeras suara," pintaku.
Charlie mengangguk, ia segera menekan panel pengeras suara. Aku pun mulai bicara dan menyapa seseorang di ujung telepon itu. Seseorang yang mungkin aisng bagi semua orang, tetapi tidak denganku dan Charlie.
"Sekretaris Anne. Bisa kau sambungkan panggilanku padanya?" pintaku tanpa berbasa-basi lagi.
"Nona. Saat ini, Tuan sedang sibuk. Tidak bisa menerima panggilan," katanya.
"Hahaha..." Akupun tertawa, "Begitu ya? katakan, Induk dan anak ayam ada di dalam kandang. Jika Ingin mendapatkan keduanya, minta dia menghubungiku dan jangan membuat masalah dengan mengirim seseorang untuk mencelakaiku!" ucapku geram. Jujur saja aku sangat kesal.
Aku mendengar seseorang sedang berbicara dengan Anne. Seseorang itu bertanya pada Anne, siapa orang yang menghubunginya. Suara laki-laki yang tidak asing ditelingaku. Siapa lagi, jika bukan Luiso. Tangan kanan pamanku yang selalu patuh dan setia pada perintah paman.
"Ada kepentingan apa, Nona? Tuans sedang tidak bisa diganggu," katanya tiba-tiba.
"Lama tidak mendengar suara anda, Tuan Luiso. Bagaimana kabar anda? saya kira anda sangat baik-baik saja bernaung dibawah kaki Tuan Robert, ya?" tanyaku menyindir.
__ADS_1
"Ya. Seperti yang Nona tahu. Saya sangat baik," jawabnya tegas tanpa ragu.
Tidak heran dia adalah anj*ng gilanya Alfonzo. Ia tidak punya rasa takut pada siapapun termasuk pada Alfonzo sendiri.
"Aku tidak akan repot menghubungi tanpa tujuan, Tuan. Sampaikan pesanku yang sudah kusampaikan pada Nona Anne. Tidak ada penawaran untuk kedua kali," kataku, yang langsunh di jawab oleh sentakan dari Luiso.
"Beraninya anda mengancam, Nona. Apa anda sudah tidak segan lagi pada Tuan?" ucapnya.
"Hah, segan? aku? untuk apa? aku tidak akan pernah segan pada orang yang keji sepertinya. Dan ya, sampaikan pesan terakhirku ini. Jangan mencoba menggunakan trik rendahan dengan mengirim tikus padaku. Licik sekali, aku sedang tidak berdaya dan kalian mengirim orang menghabisiku. Aku tidak akan diam saja," kataku yang langsung menekan panel merah pada posel Charlie. Tanda panggilan telah berakhir.
"Apa-apan kau, kenapa menghubungi si ber*ngs*k itu?" tanya Charlie.
"Bagaimana lagi. Aku tidak akan diam sudah diancam seperti ini," jawabku.
"Apa... jangan -jangan, kejadian di rumah kosong ada hubungan dengan kejadian kali ini?" gumam Hansel mengernyitkan dahi, ia seperti sedang berpikir keras.
"Kejadian apa? rumah kosong? ada apa, Charlie, Hansel?" tanyaku bingung.
"Ada penyusup, semua tidak selamat. Kecuali Matteo yang terluka dan Pamanku yang menghilang tanpa jejak." kata Hansel.
"Tidak selamat?" gumamku. "Hah..." dengusku kesal.
Benar-benar pak tua gila yang licik. Ia bahkan langsung bergerak cepat tanpa dugaan seperti itu.
"Pamanmu pasti baik-baik saja jika memang ada di tangan pak tua licik itu. Bisa-bisanya aku lengah dan membiarkan hama masuk dalam kebunku," kataku.
Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Charlie.
Aku diam, aku berpikir sejenak. Kali ini aku harus benar-benar membuat pak tua itu gentar dan mundur dengan sendirinya. Bagaimanapun, aku masih memiliki kartu mati yang akan bisa membantuku menghadapai Alfonzo. Hingga saatnya tiba, hanya aku seorang yang tahu apa sesuatu yang kumiliki itu.
...*****...
**Yuk, follow ig author
ig: dea_anggie
Jangan lupa like setiap episodenya ya..
Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..
Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..
Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..
Terima kasih semuanya...
__ADS_1
Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..
Salam hangat dari author~~🙂**