
Charlie, Hansel, dan Micheline selesai rapat. Charlie kembali ke ruangannya, begitu juga Micheline. Micheline meminta Hansel membawa berkas dokumen yang tadi dibahas di pertemuan rapat ke ruangannya. Micheline ingin memeriksanya kembali.
"Sampai nanti, Bu CEO, Asisten Feliks." kata Charlie yang langsung berjalan menuju ruangannya.
"Ya. Sampai nanti, Pak Kepala Sekretaris," jawab Micheline tersenyum, "Hansel, bawakan berkas dokumen yang tadi kita bahas di pertemuan rapat ke ruanganku." kata Micheline.
"Baik, Bu CEO." jawab Hansel.
Hansel mengikuti Michelinr yang berjalan ke ruangannya. Hansel memperhatikan detai tubuh Micheline dari atas sampai bawah. Ia kurang suka jika Micheline mengenakan rok saat bekerja. Terlebih rok yang ketat dan hanya sebatas lutut, juga kemeja putih yang pas melekat di tubuh Micheline.
"Aku harus membawa baju gantinya jika seperti ini. Bagaimana bisa dia menujukan lekuk tubuhnya pada orang lain selain aku?" batin Hansel tidak senang, "Aku akan menghukummu Micheline Robert," imbuhnya.
Micheline membuka pintu ruang kerjanya dan masuj ke dalam. Hansel segera menyusul, Hansel menahan tangan Micheline dengan satu tangan dan tangannya yang memegang berkas dokumen segera menutup rapat pintu ruangan dan dikuncinya.
Micheline mengeryitkan dahi menatap Hansel, "Hans, kau..." kata-kata Micheline terpotong karena Hansel langsung mencium bibir Micheline dan mendorong Micheline bersandar dinding.
Berkas dokumen yang dibaw Hansel pun terjatuh, tetapi tidak dipedulikan oleh Hansel. Ia ingin memberikan hukuman pada Micheline yang membuat hatinya tidak senang.
Micheline melepas paksa ciuman Hansel, "Kau ini apa-apaan? ini di kantor," kata Micheline dengan nada setengah berbisik.
"Jadi, aku boleh melakukannya di luar kantor?" jawab Hansel.
"Kau ini kenapa? aneh sekali," kata Micheline tidak mengerti.
"Apa yang kau pakai ini? rok ketat dan pendek," kata Hansel menyusupkan tangannya ke dalam rok Micheline, "Kau ingin menunjukan lekuk tubuhmu pada laki-laki lain, huh? apa kau sebegitu tidak puas denganku, dan ingin mempunyai laki-laki lain?" gerutu Hansel.
Micheline melebarkan mata, "Apa? apa kau tahu arti ucapanmu, Tuan Feliks? apa kau sudah gila? bagaimana bisa kau bicara seperti itu, huh?" sentak Micheline kaget.
Hansel merebahkan kepalanya ke bahu Micheline, "Jangan pakai pakaian seperti ini lagi. Aku tidak suka. Rokmu, kemejamu. Aku tidak suka semuanya. Kau hanya boleh pakai rok yang panjangnya di bawah lutut juga kemeja yang agak longgar." ungkap Hanse, mengutarakan kemauannya.
Micheline tersenyum, "Ah... begitu rupanya. Ok, aku tidak akan lagi berpakaian seperti ini. Kau lucu sekali manja seperti ini," kata Micheline mengusap kepala Hansel.
"Hanya aku yang boleh melihat lekuk tubuhmu. Tidak, lebih tepatnya hanya aku pemilik tubuhmu." tegas Hansel.
__ADS_1
"Ya, ya, ya... aku milikmu," bisik Micheline.
Hansel menatap dalam mata Micheline, begitu juga Micheline yang membalas tatapan mata Hansel. Keduanya saling tersenyum satu sama lain. Detik berikutnya, bibir mereka saling menyatu. Micheline dan Hansel saling berciuman mesra.
Diangkatnya satu kaki Micheline membuat rok yang dikenakan Micheline menyingkap naik ke atas. Dengan leluasa tangan Hansel berkeliaran mengusap dan meraba paha Micheline. Membuat Micheline tidak nyaman.
"Umh..." erang Micheline saat merasakan sentuhan hangat dari tangan Hansel, "Hans..." panggil Micheline berbisik.
"Hm..." gumam Hansel menciumi leher Micheline. Lalu memindahkan tangannya menggrilya bagian atas tubuh Micheline.
"Apa yang kau lakukan, Hans. Jangan seperti ini," bisik Micheline dengan deru napas yang naik turun.
"Sebentar saja. Aku merindukan saat-saat seperti ini, El. Aku merindukanmu," bisik Hansel, mengigit dan menghisap lembut daun telinga Micheline.
"Umm... mmm..."
"Hans..."
Hansel tersenyum, kini ia yakin jika dengan sentuhannya bisa membuat Micheline terbuai. Ingin rasanya menggendong Micheline ke ruang istirahat dan bercinta di sana. Namun, ia tidak ingin membuat Micheline tidak bisa jalan dan bekerja karena kelelahan. Ia pun akhirnya mengakhiri aksinya.
"Maaf, aku lagi-lagi tidak bisa manahan diri. Tidak seharusnya aku seperti ini," kata Hansel.
Micheline mengusap lembut wajah Hansel, "Tinggallah di rumahku, Hans. Kita bisa tidur bersama, kan?" kata Micheline.
Hsnsel mengernyitkan dahi, "Apa kau yakin dengan ucapanmu?" tanya Hansel.
Micheline mengagguk, "Ya. Aku yakin." jawab Micheline. Micheline menatap Hansel yang setengah bingung, "Ada apa, Hans? setelah aku memberimu kesempatan dekat denganku, kau jadi bingung?" tanya Micheline.
"Bu-bukan seperti itu. Hanya saja, aku tidak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus senang atau tidak. Bisa saja kan kau hanya mmepermainkanku," jawab Hansel.
Micheline tertawa, "Hahaha..." Micheline memegang wajah Hansel dengan kedua tangannya, "Aku tidak pernah sekalipun mempermainkanmu atau siapa pun. Bagiku, mainan hanya ada di ruangan gelap dan pengap saja. Hanya di sana aku bisa bermain dengan mainanku," ucap Micheline penuh arti.
Hansel mengerti apa arti ucapan Micheline. Pasti yang di maksud sebagai 'mainan' adalah mereka yang menjadi penghuni ruangan gelap dan pengap. Namun, Hansel menjadi bingung akan satu hal. Micheline yang selalu perlahan menolaknya, tiba-tiba berinisiatif mengajaknya tinggal bersama.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" tanya Hansel tiba-tiba.
"Apa?" jawab Micheline tidak mengerti, "Apa maksudnya pertanyaanmu itu? tidak ada apa-apa, kan." jawab Micheline.
"Biasanya kau menolakku jika aku terlalu dekat dan kau selalu marah saat aku memaksamu. Sekarang kau seolah berubah. Kau bahkan mengajakku tinggal bersama. Ini bukan jebakan kau akan melemparku ke jurang, kan?" kata Hansel yang lagi-lagi berpikir buruk.
Micheline mengambil berkas dokumen yang dijatuhkan Hansel lalu berjalan menuju meja kerjanya. Ia tidak langsung menjawab ucapan Hansel. Micheline tidak menyalahkan pemikiran Hansel yang seperti itu. Karena aneh memang, ia yang ingin memberi batasan, sekarang ia juga yang merobohkan batasan tersebut.
Melihat Micheline yang diam, Hansel mendekati Micheline dan terus mendesak Micheline bicara. Hansel tidak ingin disanjung atau dijunjung tinggi lalu dihempaskan begitu saja. Selama ini ia sudah cukup mengalami penderitaan saat ia masih harus tinggal bersama Pamannya. Paman dan Bibinya selalu memuji dan membanggakan Hansel di depan banyak orang, tetapi akan bersikap berebeda jika di belakang. Lain di hati lain di mulut. Seperti itulah sikap dsn perlakuan Ergy sekeluarga pada Hansel.
"Katakan padaku alasanmu, Eline." desak Hansel.
"Tidak ada alasan khusus, Hans. Aku hany ingin memberimu kesempatan. Itu saja," jawab Micheline tenang.
"Hah..." lengkuh Hansel, "Maaf, aku yang terlalu banyak berpikir. Aku takut jika kau tiba-tiba membuangku setelah kau memberikan kebaikan berlebih padaku. Aku tidak mau kau lempar ke jalan dan kau abaikan nantinya." ungkap Hansel.
"Itu tidak akan pernah terjadi. Sesuai janjiku padamu. Aku tidak akan pernah mengingat kejadian kau mengkhianatiku. Aku hanya akan melihat ketulusan dan kesetiaanmu. Anggap saja, jika kita lebih dekat, aku lebih bisa mengawasimu. Jangan berpikir jauh akau akan membuangmu. Jika seperti yang kau pikirkan, bukankah sejak kejadian itu aku mengabaikanmu dan memecatmu? bahkan bisa saja aku menggantungmu di depan gerbang rumahku." jelas Micheline begitu mendetail.
Hansel melebarkan mata, "Benar juga. Jika bukan karena kebaikannya, aku pasti sudah dibuatnya tinggal nama. Sesaat aku lupa siapa sebenarnya perempuan di hadapanku. Karena kecantikan dan keanggunanya, aku tidak ingat jika dia juga adalah monster pembunuh yang kejam dan tak mengenal ampun." batin Hansel.
"Hansel..." panggil Micheline.
"I-iya..." jawab Hansel kaget.
"Jangan terlalu keras berpikir. Aku mengajakmu tinggal bersama bukan karena ada tujuan lain. Kau harus percaya kepadaku, seperti aku yang percaya kepadamu. Ok," ucap Micheline.
"Aku mengerti. Aku akan bicarakan dulu pada temanku. Bagaimana pun dia kan orang yang sudah menampungku selama ini. Aku juga sebenarnya berat jika harus meninggalkannya." jawab Hansel.
"Ah... aku hampir lupa. Soal temanmu, aku akan carikan tempat yang layak. Sampikan padanya untuk berkemas-kemas. Entah ini hanya firasat atau apa, aku tidak tenang jika kau jauh dariku, Hans. Terlebih jika ada yang mencari-carimu, sampai menemukanmu dan..." Micheline mengela napas panjang, "Intinya demi keamanan kalian saja. Aku sudah dapatkan tempatnya, hanya menunggu proses legalisasinya saja. Kau mengerti maksudku, kan?" jelas Micheline.
Sejujurnya Hansel tidak mengerti. Namun, ia merasa keputusan yang Micheline ambil ada benarnya. Terlebih ia sekarang sedang berseteru dengan Pamannya. Melihat sifat Pamannya yang begitu tamak, ia tidak yakin jika Pamannya akan hanya berdiam diri tanpa adanya perlawanan atau permainan licik. Semuanya kemungkinan akan terjadi. Jika Pamannya saja tega menghabisi nyawa Papanya yang berstatus saudara kandung, tidak menutup kemungkinan ia bisa menikamnyabyang hanya keponakan. Hal yang sama juga ada dalam benak Micheline. Maka dari itu Micheline menyarankan Hansel pindah ke tempatnya dan meminta teman se-apartemen Hansel pindah.
...*****...
__ADS_1