My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 25 - Orang itu Adalah Aku


__ADS_3

Charlie kembali pulang ke apartemennya dengan perasaan kesalnya. Sedangkan Hansel masih duduk di depan bar dengan keadaan lemas. Wajahnya yang lebam penuh luka, napasnya yang tersengal-sengal karena dadanya terasa sesak. Sebelumnya, seorang pelayan menawari Hansel untuk dibawa ke rumah sakit. Namun, Hansel menolak dan memilih pergi meninggalkan bar tersebut.


Lama berpikir, Hansel memutuskan untuk pergi menemui Micheline. Hansel menghadang taxi yang lewat dan meminta supif taxi pergi sesuai alamat yang diminta olehnya.


Hansel memegangi perutnya yang terasa nyeri karena kuatnya pukulan Charlie. Sungguh, kekauatannya terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan Charlie. Charlie seperti seorang yang terlatih dan bisa tahu letak bagian-bagian yang bisa melumpuhkan lawan dengan sekali tebas. Tidak heran jika Ia merasa kalah oleh Charlie. Meski ia melawan pun, belum tentu akan menang melawan Charlie.


Hansel menyandarkan punggungnya, ia bergerak menacari posisi yang nyaman. Matanya perlahan terpejam, ia memikirkan masalahnya sepanjang perjalanan menuju rumah Mucheline. Ia bingung, harus mulai bicara darimana dan bagaimana cara menyampaikannya pada Micheline. Ia merasa sedikit ragu, utuk bisa mengatakan yang sebenarnya. Jika sampai Micheline kesal dan marah padanya, maka ia tidak akan punya kesempatan lagi untuk bisa dekat dengan Micheline.


"Apa yang harus aku katakan, ya? bagaimana cara menyampaikannya?" batin Hansel berpikir keras dengan mata yang masih tertutup.


*****


Supir taxi menghentikan laju mobil. Si supir menoleh ke belakang, dan memanggil Hansel. Namun, panggilannya tidak mendapatkan jawaban karena Hansel sedang melamun. Supir itu kembali memanggil Hansel beberapa kali, dan akhirnya berhasil membuat Hansel sadar dari lamunan.


"Tuan..."panggil si supir taxi.


"Ah, iya? maafkan saya, saya melamun. Apakah sudah sampai?" tanya Hansel melihat keluar kaca.


"Ya. Kita sudah sampai sekitar lima menit yang lalu," jawab si supir.


Hansel mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar taxi. Ia segera turum dan berjalan terhuyung mendekati pintu utama rumah Micheline. Dikeluarkannya ponselnya, ia menghubungi Micheline agar dibukakan pintu.


Panggilanya tidak dijawab Micheline. Tidak menyerah begitu saja, Hansel terus menerus menghubungi Micheline. Sampai akhirnya, panggilannya diterima oleh Micheline.


"Ya, Hans. Ada apa? maafkan aku, aku sedang ke kamar mandi tadi. Apa ada sesuatu?" tanya Micheline.


"Bisa keluar? a-aku di de-depan rumahmu. Tolong lebih cepat datang," kata Hansel yang langsung menyendarkan kepalanya ke dinding dekat pintu.


Kepalanya mulai pusing, pandangan matanya sedikit kabur dan berputar. Ia takut jika ia tidak bisa bertahan dan jatuh pingsan. Mendengar ucapan Hansel, Micheline segera mengakhiri panggilannya dan berlari keluar dari kamarnya, lalu menuju pintu utama. Dibukanya sedikit pintu rumahnya. Micheline dikejutkan oleh Hansel yang dengan penuh luka memar di wajah.


"Hansel," panggil Micheline.


Hansel tersenyum, "Kau datang," rintih Hansel memegang perutnya yang sakit.

__ADS_1


Micheline langsung mendekat dan memapah Hansel yang terlihat tidak baik-baik saja. Ingin sekali rasanya bertanya banyak hal pada Hansel. Namun niatannya diurungkan, karena ia ingin fokus dlu merawat luka-luka Hansel.


Dibawanya ke ruang tengah dekat dapur. Hansel di bantu Micheline untuk duduk di sofa. Ia dengan sigap berlari mengambil kotak obat yang disimpan di laci dapur, untuk mengobati Hansel. Micheline juga membawa kompres es untuk mengompres luka lebam di wajah Hansel.


Micheline duduk di samping Hansel, "Duduk senyamanmu saja. Aku akan obati," kata Micheline.


"Kau tidak bertanya kenapa aku seperti ini?" tanya Hansel menatap sedih pada Micheline.


"Penjelasannya nanti saja. Lukamu lebih penting," jawab Micheline mengabaikan pertanyaan Hansel, meski sebenarnya sangat penasaran.


Micheline mengompres wajah Hansel dengan es. Wajah yang dilihatnya tampan dan berseri-seri jadi babak belur. Bohong rasanya jika ia tidak khawatir, jika ia tidak merasa sedih dan penasaran tentang apa yang terjadi. Akan tetapi, pengobatan adalah yang utama perlu dilakukan saat itu.


"Tahan sebentar. Wajahmu perlu dikompres agar sedikit kempis lebamnya," kata Micheline perlahan-lahan menempelkan kompres di wajah Hansel.


Tidak hanya fokus pada wajah, Micheline juga melihat Hansel yang terus menyentuh perutnya seakan memberitahunya, jika bagian itu juga terluka. Micheline mempercepat mengompres wajah Hansel. Ia meletakan kompres kembali ketempatnya, ia dengan sigap membuka kancing kemeja bagian bawah Hansel. Ia melihat ada memar diperut Hansel, dibukanya lagi kancing sampai atas. di dada Hansel juga ada memar, di bahu juga.


"Apa-apaan ini? apa dia dikeroyok?" batin Micheline yang masih diam tidak berkomentar melihat luka dan memar di tubuh Hansel.


Hansel terus menatap Micheline, "Apa kau akan perhatian seperti ini jika tau kebenarannya, Eline?" tanya Hansel.


Hansel langsung diam. Ia mejamkan mata merasakan perih, sakit dan bingung. Pikirannya melayang entah kemana. Micheline menatap Hansel lekat, Rasa tidak teganya semakin besar.


Dengan hati-hati dan sabar Micheline mengobati Hansel, sampai semua bagian tubuh Hansel yang terluka terobati. Micheline meringkas obat dan memasukannya kembali ke kotak obat. Ia membawanya kembali ke dapur dan menyiapkan teh madu hangat untuk Hansel. Micheline membawa cangkir berisi teh madu dan meletakan di ataa meja di hadapan Hansel.


"Minumlah," pinta Micheline.


"Ya," jawab Hansel dengan suara lemah.


Micheline duduk bersandar di samping Hansel, "Kau sudah boleh bicara sekarang. Aku izinkan," kata Micheline.


"Bagaimana jika orang itu adalah aku?" kata Hansel tiba-tiba.


"Orang itu? apa? jelaskan dengan detail," sahut Micheline.

__ADS_1


"Orang yang membuatmu terkena masalah," jawab Hansel.


Micheline mengeryitkan dahi, "Bicara yang jelas, Hansel. Jangan membuatku berpikir," kata Micheline menegaskan.


"Aku ingin mengakui sesuatu," kata Hansel.


"Ya. Katakan," jawab Micheline penasaran.


"Sebenarnya..." Kata Hansel teridam sesaat, "Sebenarnya aku punya suatu tujuan saat masuk ke perusahaan," sambungnya yang langsung terdiam.


"Tujuan?" ulang Micheline mengernyitkan dahi, "Lalu, apa tujuanmu? apa sudah tercapai? tujuanmu bukankah ingin mencari pengalaman pekerjaan dan ingin sukses?" terang Micheline membenarkan ucapan Hansel saat dulu ditanya tentang tujuannya masuk ke perusahaan.


Hansel menggeleng," Bukan itu. Itu hanya alasan umum saja. Yang sebenarnya, aku harus memata-mataimu karena perintah seseorang. Kau tidak ingin menebak siapa yang menyuruhku?" tanya Hansel menatap Micheline.


Micheline menghela napas panjang, "Siapa orang yang menyuruhmu? banyak orang yang ingin menjatuhkanku. Apa... kau informan salah satu dari mereka?" jawab Hansel.


"Alfonzo..." kata Hansel langsung menyebut nama orang yang menyuruhnya.


"Apa?" sentak Micheline kaget.


"Ya, Eline. Pamanmu yang menyuruhku," jawab Hansel.


Micheline melebarkan mata, "Jadi... jangan katakan kaulah orang yang menyebarkan informasi selama ini. Kau juga yang membuatku berselisih dengan Frederick?" kata Micheline menatap tajam pada Hansel.


"Maafkan aku, Eline. Aku tidak punya pilihan," jelas Hansel.


Micheline langsung berdiri. Ia tidak mengerti harus bicara apa lagi. Ia marah, tetapi tidak bisa meluapkannya pada Hansel. Micheline mengepalkan tangannya erat, ia tidak menyangka jika selama ini ia sudah dibodohi.


"Jika sudah selesai minum tehmu. Kau bisa pulang, Hans. Aku tidak akan mengantarmu. Aku lelah dan ingin istirahat," kata Micheline yang berbalik dan ingin pergi meninggalkan Hansel.


Hansel meraih tangan Micheline, menariknya dalam pelukannya. Hansel menedekap erat Micheline. Ia tidak memperdulikan rasa sakit dan nyerinya lagi, ia hanya ingin mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Micheline.


"Maaf, Eline. Maafkan aku," bisik Hansel.

__ADS_1


Micheline ingin mendorong jauh tubuh Hansel darinya. Namun, ia tahu Hansel sedang tidak dalam keadaan baik. Ia hanya diam, tidak bergerak dan bersuara.


...*****...


__ADS_2