
Keesokan harinya. Pagi harinya, Mucheline, Keily, dan J bersaudara sarapan bersama. Jesslyn dan Jason sudah terlihat tenang setelah kejadian sebelumnya. Micheline merasa lega, ia juga sudah memberskan sepenuhnya Calvin juga orang-orangnya. Calvin sudah pergi dari wilayah itu dan tidak akan pernah bisa mengganggu J bersaudar sekeluarga.
"Apa kalian sudah merasa tenang, Jason, Jesslyn? bagaimana keadaan kalian hari ini? aku berharap kalian sudah lebih baik," ucap Micheline.
Jesslyn dan Jason saling bertatapan, "Kami sudah merasa lebih baik, Nona. Terima kasih atas bantuan Anda," jawab Jason tersenyum pada Micheline.
"Terima kasih banyak sudah menolong saya, Nona. Maafkan saya karena telah mmebuat Anda dan Tuan Charlie khawatir juga terluka. Saya tidak tahu harus berkata apa lagi selain berterima kasih," ucap Jesslyn menundukan kepala.
"Tidak masalah, Jesslyn. Kita kan sudah kenal lama. Justru aku yang merasa bersalah jika semalam kau tidak bisa kami selamatkan. Untunlah, semua baik-baik saja. Kakek, Jason dan juga kau. Aku lega sekali sudah mengusir tikus itu dari wilayah ini," ungkap Micheline senang.
"Mesngusir tikus? Calvin?" tanya Jesslyn.
Micheline menganggukkan kepala, "iya, tikus jelek itu. Entah siapapun namanya aku tidak peduli. Semalam aku sudah meminta bantuan kepala wilayah, hanya ada dua pilihan untuknya. Tetap tinggal dan mendapatkan hukuman mati, atau melepaskan semuanya dan pergi demi melangsungkan hidup. Memang, ya. Manusia licik sepertinya langsung takut dan memilih pergi meninggalkan semuanya demi nyawanya. Padahal baru digertak."
Jesslyn tersenyum, "Entah, ini kabar baik atau buruk. Namun, saya sangat merasa lega, Nona."
"Apa maksudmu kabar buruk, Kak? dengan perginya si brengs*k itu, kita bisa hidup tenang."
"Jaga sikapmu, Jason. Kita sedang ada di meja makan. Jangan lontarkan perkataan yang kasar seperti itu," ucap Jesslyn merasa tidak enak pada Micheline dan Keily karena sikap Adiknya.
Jason menunduk, "Maaf, aku jadi emosi karena memikirkan kejadian semalam."
"Jangan terlalu keras pada Adikmu, Jesslyn. Tidak apa-apa. Aku pun ingin selalu memaki laki-laki sampah sepertinya. Jason tidak bersalah. Aku juga tidak keberatan," jawab Micheline tersenyum, "Oh... ayo makan. Setelah ini kita sama-sama pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Kakek kalian."
"Ayo makan," sahut Keily senang.
Micheline, Keily, Jesslyn dan Jason kembali makan. Mereka menyeselsaikan, menghabiskan sarapan yang tadi sempat tertunda karena mmebahas tentang kejadian di malam sebelumnya.
*****
Di rumah sakit. Kakek J bersaudara sudah bangun, dan disambut bahagia oleh Hansel dan Charlie. Hansel dan Charlie pun memperkenalkan diri masing-masing.
__ADS_1
"Hallo, Kakek... selamat pagi," sapa Hansel.
"Kakek merasa lebih baik?" tanya Charlie ramah, menolong Kakek J bersaudara untuk duduk bersandar bantal.
Kakek J bersaudara menganggukkan kepala, "Iya, terima kasih. Aku sudah merasa lebih baik, Kalian... apa kalian mengenalku? Kakek tua ini memiliki ingatan yang buruk."
Charlie duduk di samping Kakek, "Kami teman J bersaudara."
Kakek mengangguk lagi, "Oh... aku ingat. Saat itu ada yang tiba-tiba datang dan menghancurkan rumahku. Jason dipukuli karena melawan. Sedangkan Jesslyn dibawa entah ke mana. Aku tidak tahu apa-apa setelah itu karena aku kesulitan bernapas. Di mana cucu-cucuku? apa yang terjadi pada mereka?" tanya Kakek terlihat khawatir.
Charlie memegang tangan Kakek dan menenangkan Kakek, "Mereka baik-baik saja, Kek. Jason dan Jesslyn sudah mendapatkan perawatan. Kami berhasil menyelamatkan Jesslyn dari Calvin."
"Kakek tidak perlu khawatir. Pangeran berkuda putih sudah menyelamatkan putrinya," sahut Hansel.
"Pangeran berkuda putih?" ulang Kakek menatap Hansel, lalu menatap Charlie.
Charlie menatap Hansel, "Kau ini, benar-benar ingin mati, ya?" gumam Charlie melebarkan mata.
Charlie merasa malu dan menundukkan kepalanya, "Sial! aku akan benar-benar membunuhmu, Hans."
Kakek Jbersaudara akhirnya mengerti dan paham apa maksud perkataam Hansel. Kakek tersenyum dan menatap Charlie, Kakek menepuk bahu Charlie perlahan.
"Meski aku baru bertemu dengan kalian. Aku tahu kalian orang yang baik. Apa benar apa yang disampaikan temanmu? kau ingin dekat dengan Jesslyn cucuku?" tanya Kakek, "Angkat kepalamu dan tatap mataku, Nak."
Charlie menadahkan kepala dan menatap Kakek, "Itu... jika boleh. Aku bukan laki-laki sebaik yang Kakek pikirkan. Namum, aku akan mencoba menjadi yang terbaik bisa melindungi Jesslyn, Jason dan juga Kakek. Meski aku juga bukan laki-laki kaya raya, aku akan berusaha bekerja dengan lebih giat lagi untuk lebih membahagiakan kalian semua. Maafkan aku, Kek."
Kakek tertawa, "Wah-wah... aku bangga dengan kegigihanmu, Nak. Aku tidak pilih-pilih orang. Yang terpenting orang itu mau menerima semua cucuku dengan rendah hati dan mereka saling menyayangi. Itu saja sudah cukup untuk Kakek tua ini. Apa kalian sudah saling menyatakan perasaan?" tanya Kakek.
Wajah Charlie memerah, "I-itu... ka-kami... kami sudah..." kata Charlie gugup terbata-bata.
"Mereka sudah saling menyatakan perasaan dan mengikat janji, Kakek. Mungkin akan segera menikah," sela Hansel lagi.
__ADS_1
Charlie kaget langsung menatap Hansel, "Apa kau bilang? Dasar kau," kesal Cahrlie karena Hansel terus menerus menggodanya.
"Hohoho... begitu rupanya. Kakek tidak akan melarang jika itu memang jalan terbaik yang kalian pilih. Pesanku, jangan kau sakiti hati cucuku. Jesslyn memang terlihat lemah, tetapi aku tidak pernah sekalipun membuatnya menangis seumur hidupnya. Kau juga harus terus membuatnya tersenyum, kau bisa berjanji padaku?" ucap Kakek.
Charlie terkejut dan merasa terharu, "Te-tentu saja, Kek. Aku pasti akan membuat Jesslyn selalu bahagia. Aku berusaha dengan mempertaruhkan segalanya," jawab Charlie.
Kakek tersenyum, "Aku pegang janjimu."
Hasel tersenyum tipis. Ia merasa senang bisa membantu Charlie untuk lebih berani mengungkapkan isi hatinya pada Kakek. Meski bantuannya tidak seberapa, sejauh ini semuanya berjalan lancar. Setidaknya Kakek sudah menyalakan lampu hijau untuk hubungan Jesslyn dan Charlie.
"Senangnya. Kapan aku bisa mendapat lampu hijau juga, ya? kapan Micheline menerima perasaanku? apa aku harus menjadi laki-laki super seperti Charlie dulu baru bisa diakui sebagai laki-laki? Ahh.. sial! buat aku iri saja," batin Hansel menggerutu.
Pintu ruangan terbuka. Micheline, Keily dan J bersaudara sudah datang. Jesslyn langsung menyapa Kakeknya, ia berjalan sedikit cepat dengan menyeret kakinya untuk segera memeluk Kakeknya.
"Kakek..." seru Jesslyn memeluk Kakeknya sambil menangis.
"Kenapa menangis? Kakek tidak apa-apa. Kekasihmu sudah membantu Kakek," bisik Kakek mengusap punggung Jesslyn.
Jesslyn melepas pelukan, "Ke... kasih?" ucap Jesslyn menatap Charlie, "Apa Kakek tahu?" tanya Jesslyn menatap Kakeknya.
"Hal baik kenapa harus dirahasiakan?" jawab Kakek tersenyum.
"Apa? Kakak berkencan?" kaget Jason.
"Sudah kuduga. Ada bunga bertaburan rupanya," sahut Micheline.
"Yeah... aku punya Kakak ipar," girang Keily.
Charlie memperkenalkan Keily pada Kakek. Micheline juga memperkanalkan diri. Kakek merasa senang, ia melihat cucu-cucunya tersenyum bahagia. Kakek juga mendapat penjelasan dari Charlie dan Micheline tentang penyelamatan Jesslyn yang dibawa oleh Calvin. Kedunya menceritakan semuanya. Begitu juga Jesslyn yang menceritakan perlakuan kasar Calvin pada Kakeknya.
...*****...
__ADS_1