
Setelah keluar dari ruangan dan bertemu Matteo juga Bella. Micheline langsung menemui Faello. Faello ditemani Charlie dan Hansel, mereka duduk di ruang tunggu. Melihat Micheline berjalan ke arahnya, Faello langsung berdiri dan menyambut Micheline.
"Michel..." sapa Faello.
"Hai, kau sudah datang rupanya." kata Micheline berbalik menyapa.
"Ya. Begitu aku datang, Sekretaris dan asistenmu langsung menyambutku. Jadi kami mengobrol," jawab Faello.
"Ah... ada yang ingin aku sampaikan padamu, Faello. Ini soal Adikmu dan iparmu," kata Micheline serius.
"Ada apa dengan mereka, Michel? bisa kau katakan apa yang ingin kau sampaikan itu?" tanya Faello penasaran.
"Aku telah menawarkan mereka menjadi orangku. Dan mereka pun menerimanya." jawab Micheline.
"Wah, aku tidak sangka akan ada hal seperti itu. Apa mereka tidak salah minum obat?" sahut Faello.
"Entahlah. Aku sudah menawarkan dan memberikan waktu berpikir, tetapi Matteo menolak dan memilih langsung menerima. Aku juga tidak bisa melarangnya. Aku hanya ingin bisa menjamin keselamatan Bella sebenarnya. Karena anak yang di kandungnya tidak berdosa seperti kita." jelas Micheline.
"Ah, soal itu. Aku sungguh minta maaf tidak menyelidikinya lebih rinci lagi. Sebagai gantinya kau bisa memintaku melakukan apa saja. Aku akan lakukan dengan senang hati," kata Faello. "Anggap ini sebagai permintaan maaf," imbuhnya.
Micheline diam sejenak lalu bicara, "Boleh aku minta dua hal?" tanya Micheline menatap Faello.
"Dua hal? katakan saja," jawab Faello.
"Bantu aku mengawasi Ergy Feliks untuk saat ini. Aku tidak bisa membiarkan Matteo bergerak karena masih cidera. Aku rasa, hanya kau satu-satunya orang yang bisa aku andalkan untuk ini. Kedua, bantu aku mengontrol keadaan Matteo dan Bella. Meski aku nantinya akan mengirim orangku ke sini untuk mengawasi keduanya. Itu kan hanya sekedar berjaga di liar ruangan. Aku ingin kau membangun kembali hubunganmu dengan Matteo. Aku tahu perasaanmu mungkin tidak akan nyaman, tetapi kau pernah bilang padaku jika Matteo adalah satu-satunya saudaramu. Jika kau menganggapnyan saudara, gunakan kesempatan ini untuk membangun kembali hubungan persaudaraan kalian yang retak. Cinta tidak harus memiliki, Faello. Aku yakin kau akan bertemu orang yang lebih lagi mencintaimu dibandingkan Bella. Kau paham maksudku? Sudah cukup kau menahan rasa sakit dalam hatimu. Sekarang saatnya kau melepaskan semuanya," ucap Micheline menyampaikan keinginannya dan mengungkapkan pikirannya.
Faello terkejut, ia tidak menyangka seorang Micheline bisa bicara seperti itu kepadanya. Sebenarnya Faello merasa tidak nyaman, tetapi setelah ia memikirkan apa yang dikatakan Micheline, ia jadi sadar. 'Cinta memang tidak harus memiliki', sebaliknya ia juga harus bisa melupakan Bella dan mengubur dalam-dalam perasaannya pada Bella.
"Maaf jika ucapanmu menyakitimu. Untuk permintaanku yang kedua, kau bisa abaikan. Aku bisa meminta bantuan perawat nanti," kata Micheline.
"Tidak. Aku yang akan merawat dan mengawasi keadaan mereka langsung. Kau benar, bagaimana pun mereka adalah adik dan adik iparku. Seperti yang kau katakan, 'cinta tidak harus memiliki', dan aku akan bahagia jika cintaku juga bahagia, kan? mungkin aku memang tidak lebih baik dari adikku. Terima kasih untuk nasihatmu," ucap Faello tersenyum tipis.
"Jadi... kau menerima kedua tawaranku?" tanya Micheline lagi memastikan.
"Ya. Soal Ergy itu hal mudah. Kau tenang saja," jawab Faello.
Micheline menghela napas panjang, "Baiklah. Sepertinya cukup itu saja yang ingin aku sampaikan. Jika ada apa-apa, kau bisa hubungi aku. Aku juga akan menghubungimu menanyakan kabar mereka. Jaga dirimu, aku harus segera pulang." pamit Micheline.
__ADS_1
"Ya. Sekali lagi terima kasih, Micheline. Sampai jumpa dan hati-hati," kata Faello.
Micheline mengangguk. Ia segera menatap Charlie dan Hansel lalu berbalik pergi. Tugasnya hari itu telah usai. Semua berjalan sesuai rencananya. Bahkan lebih dari yang diharapkannya. Yaitu bisa membuat Faello dan matteo kembali berdamai. Meski ia tidak tahu akhirnya akan seperti apa dan bagaimana ke depannya. Micheline yakin, jika berusaha maka akan ada hasil, meski itu hal kecil.
*****
Di parkiran. Micheline memerintahkan Hansel dan Charlie kembali. Begitu juga dengannya yang langsung pulang ke rumah.
"Ayo, kita pulang!" kata Micheline.
"Ya," jawab Charlie.
"Aku... apa boleh menumpang mobilmu?" tanya Hansel.
"Kenapa dengan mobil Charlie?" tanya Micheline dingin.
"Hm..." gumam Hansel, "Itu... aku ingin bersamamu dibandingkan dengannya." jawab Hansel.
"Kau bilang apa? kau tidak tahu cara berterima kasih, ya." sahut Charlie.
"Kenapa kau meledak?" tanya Hansel menatap Charlie.
Micheline memijat keningnya, "Cukup! bisa tidak kalian tidak meributkan hal kecil? jika seprti ini, tinggal saja mobilmu dan kita pulang bersama!" kata Micheline.
"Ditinggal? tidak, tidak, lebih baik aku pulang sendiri. Nikmati waktu bermesraan kalian. Sampai nanti," kata Charlie yang langsung berjalan pergi mendekati mobilnya.
Micheline menatap Hansel, "Apa maksudnya, 'waktu bermesraan'. Apa kau mengatakan sesuatu padanya?" tanya Micheline.
Hansel menggelengkan kepala, "Tidak. Aku tidak bicara apa-apa. Sungguh," jawab Hansel.
"Cepat naik!" perintah Micheline pada Hansel. Micheline membuka pintu mobilnya dan langsung naik ke dalam mobilnya. Begitu juga Hansel yang bergegas naik ke dalam mobil.
*****
Sepanjang perjalanan Micheline dan Hansel hanya saling diam. Hansel tidak berani banyak bicara karena ia tahu ia melakukan kesalahan hari itu. Ia tidak mendengarkan perintah sebagai seorang bawahan. Namun, sebagai seseorang yang peduli dan menyayangi Micheline, ia merasa dituntut harus pergi.
Hansel melirik Micheline, "Eline..." panggilnya lirih.
__ADS_1
"Hm," jawab Micheline menggumam.
"Apa kau masih marah padaku karena aku datang ke sini?" tanya Hansel.
"Kenapa kau tanyakan itu?" tanya Micheline tanpa mengalihkan pandangan.
"Aku takut kau marah. Aku tidak mau kau marah," jawab Hansel.
"Jika aku marah. Kau kan biasanya membujukku," kata Micheline.
Hansel menegrnyitkan dahi, "Apa itu juga berlaku untuk keadaan saat ini?" tanya Hansel.
"Hm... gimana, ya? mungkin iya bisa. Aku juga sedang butuh dibujuk." kata Micheline.
"Bisa tepikan mobilnya dan berhenti?" pinta Hansel.
"Ada apa? kau mau sesuatu?" tanya Micheline.
"Lakukan saja sesuai ucapanku. Kau akan tahu nanti," kata Hansel.
Micheline tidak mengerti apa maksud Hansel. Namun, ia dengan segera menepi dan menghentikan laju mobilnya. Micheline pun menatap Hansel, Hansel mengusap-usap matanya lalu menatap Micheline.
"Kau aneh sekali," kata Micheline.
"Bisa bantu meniup mataku? ada debu masuk ke dalam mataku," pinta Hansel.
Micheline mendekat, ia lalu meniup mata Hansel dengan tiupan yang lembut. Micheline mengusap bawah kelopak mata kedua mata Hansel.
"Apa sudah terasa nyaman?" tanya Micheline menatap Hansel.
Hansel hanya tersenyum sesaat kemudia ia langsung menahan tengkuk leher Micheline dan mencium mesra bibir Micheline. Micheline terkejut, ia tidak menyangka jika Hansel tiba-tiba saja menciumnya. Namun, ia merasakan sensasi nyaman dan menikmati ciumannya dengan Hansel. Micheline enggan melepas, ia pun membalas ciuman Hansel.
Puas berciuman mareka saling melepaskan pautan bibir mereka masing-masing. Mereka saling menatap lalu tersenyum. Micheline baru sadar, jika ia sudah dijebak oleh Hansel. Ia lengah sehingga bisa begitu mudah masuk dalam perangkat Hansel.
"Maafkan aku," ucap Hansel bersuara lembut.
"Tidak akan! kau menipuku lagi dan mengambil keuntungan dariku. Jangan harap terlepas dari hukumanan, Hans. Persiapkan dirimu baik-baik," jawab Micheline tersenyum lebar.
__ADS_1
Micheline tidak terlihat marah atau kesal, karena perasaanya tidak seburuk itu. Aneh memang, seharusnya ia merasa kesal karena sudah dijebak. Bukankah tindakan Hansel seperti memanfaatkan Micheline? seperti mengambil kesempatan di dalam kesempitan.
...*****...