
Micheline dan Hansel selesai makan. ternyata hari sudah sore. Karena Micheline terus mengatakan ia baik-baik saja. Hansel akhirnya berpamitan pulang. Micheline mengucapkan terima kasih karena Hansel sudah mau merepotkan diri untuknya.
"Kenapa aku jadi tidak tenang seperti ini, ya? perasaan apa ini," gumam Micheline, saat ia berada di kamr tidurnya.
Kakinya melangkah mondar-mandir, pikirannya tidak fokus, hati tidak tenang dan terus menerus gelisah. Perasaan yang sudah lama tidak pernah dirasanya walaupun ia dalam keadaan sebahaya apapun. Rasa cemas, khawatir, dan gelisahnya tidak bisa disembunyikan lagi.
"Apa aku harus menemui mereka, ya?" gumamnya lagi.
Micheline memejamkan matanya lalu kembali membukanya, "Tidak-tidak. Aku kan sudah berjanji pada mereka untuk tidak terlihat mencolok. Ah... aku bisa mati mendadak kalau begini. Ayo Eline, berpikirlah..." gumam Micheline.
Micheline masih sibuk berpikir. Ia tidak ingin mengambil keputusan yang keliru. Keputusannya benar-benar di pikirkannya masak-masak.
*****
Charlie berpamitan pada Kakek, Jesslyn dan Jason. Ia dan Adiknya akan pergi kembali pulang. Charlie merasa berat meninggalkan Jesslyn sendirian, meski ada Jason dan beberapa orangnya yang diperintahkannya menjaga tempat tinggal Kakek dan J bersaudara
"Sering-seringlah datang, Nak."
"Tentu, Kakek. Aku dan Kakak akan sering datang mengunjungi Kakek," jawab Keily cepat.
"Kakek tidak perlu khawatir diganggu lagi. Ada yang akan menjaga Kakek juga cucu-cucu Kakek di sini. Aku akan sering datang meski tidak setiap hari," kata Charlie.
"Terima kasih banyak, hati-hati di perjalanan. Jesslyn, Jason, antarkan Charlie dan Keily."
"Ya, Kek."
"Ya," jawab Jesslyn.
"Kakak duluan saja. Aku masih mau ke kamar mandi dulu sebentar. Jason, ayo ikut aku sebentar. Aku juga ingin bicarakan sesuatu denganmu," ajak Keily merangkul lengan Jason dan pergieninggalkan ruangan.
Charlie dan Jesslyn juga pergi menunggalkan ruangan. Mereka berjalan perlahan menuju parkiran rumah sakit. Charlie terlihat malu-malu menggandeng tangan Jesslyn. Jesslyn terkejut saat merasakan tangan hangat menggenggam erat tangannya.
"Kakekmu pasti akan cepat pulih. Jangan banyak memikirkan hal yang tidak-tidak. Semua akan baik-baik saja," kata Charlie menghibur Jesslyn.
"Ya. Aku mengerti. Terima kasih sudah menemaniku seharian ini. Seharusnya kau pulang siang tadi, gara-gara aku menahanmu, kau harus pulang sampai sore begini. Maafkan aku," ucap Jesslyn.
Charlie menatap Jesslyn, "Bukan salahmu, sayang. Aku tidak keberatan meski harus pulang malam atau dini hari esok."
"Tidak apa-apa. Kau pasti sangat dibutuhkan Micheline di kantor. Kau tidak boleh mengabaikan pekejaanmu demiku," jawab Jesslyn merasa tidak enak.
Mereka sampai di parkiran. Charlie menarik tangan Jesslyn dan membawa Jesslyn masuk dalam mobil di bangku belakang. Jesslyn kaget, ia menatap Charlie.
"Ada apa? apa yang ingin kau lakukan? kenapa membawaku masuk ke dalam mobil?" tanya Jesslyn bingung.
__ADS_1
"Aku ingin menciummu," jawab Charlie.
"Lagi? bukankah tadi sudah cukup banyak kau menciumku?" jawab Jesslyn.
"Kau tidak suka aku cium?" tanya Charlie.
"Bu.. bukan seperti itu. Hanya saja aku malau," jawab Jesslyn dengan wajah memerah.
Charlie tersenyum, "Kau imut sekali. Bagaimana bisa aku tega meninggalkanmu di sini?" kata Charlie mengusap wajah Jesslyn.
Charlie mendekatakan wajahnya mencium mesra bibir Jesslyn. Dicicipnya terpian bibir atas dan bawah Jesslyn. Jesslyn yang hanyut, mengalungkan tangannya ke leher Charlie agar ciuman mereka semakin dalam.
*****
Sementara itu, di tempat lain. Tepatnya di tangga darurat, Keily juga memberikan ciuman peroisahannya pada Jason. Jason dengan senang hati menerima ciuman Keily yang memang ia harapkan.
Keily melepas ciuman, "Aku tidak mau berpisah denganmu," ucap Keily sedih.
"Aku juga," jawab Jason yang langsung mencium lembut bibir Keily.
Jason seperti tersihir, "Bagaimana bisa aku lepas darimu, Keily. Aku tidak akan tahan jika tidak melihat wajahmu," batin Jason.
"Ini sangat menyenangkan. Aku tidak ingin berhenti menciumu," batin Keily.
Jason mengangguk, "Tentu saja. Apa kau juga mau datang saat kau senggang? aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat nantinya." tanya balik Jason.
"Tentu saja. Meksi Kak Charlie bersamaku, aku akan tetap datang menemuimu. Karena aku menyukaimu," ucap Keily.
Jason tersenyum, "Aku juga menyukaimu. Sangat menyukaimu."
Jason lagi-lagi merangkul pinggang Keily dan menahan tengkuk leher Keily lalu mencium bibir Keily. Keily terkejut, ia tidak menyangka Jason lebih dominan darinya. Puas berciuman, Jason dan Keily segera pergi menuju parkiran. Keily dan Jason tidak ingin membuat Charlie dan Jesslyn berpikir macam-macam tentang keduanya.
*****
Hansel selesai mandi dan berganti pakaian. Ia menatap cermin di hadapannya. Ia menatap dirinya sendiri dengan tatapan mata yang tajam. Hansel merasa tidak tenang meninggalkan Micheline sendiri. Terlebih lagi Micheline sedang dalam keadaan yang tidak baik.
"Kenapa aku tidak tenang seperti ini, ya? sepertinya aku harus kembali dan memastikan semuanya baik-baik saja," gumam Hansel.
Hansel mengambil mantelnya dan pergi ke luar dari kamarnya. Ia langsung pergi dari apartemnnya menuju rumah Micheline untuk melihat keadaan Micheline.
*****
Micheline sedang bicara dengan seseorang di telepon. Ia menghela napas panjang saat berbincang dengan seseorang di ujung telepon.
__ADS_1
"Apa kau yakin semua akan baik-baik saja," kata seseorang di ujung telepon.
"Entahlah..." jawab Micheline bingung.
"Maaf sudah membuatku berada dalam posisi sulit, Eline. Mau bagaimana lagi," kata seseorang itu lagi.
"Aku hanya ingin memastikan jika kalian baik-baik saja. Tidak perlu cemaskan aku di sini. Aku pasti bisa melawannya," jawab Micheline.
"Jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu memaksakan diri. Jika kau tidak bisa melakukannya, kamilah yang akan melakukannya."
"Jangan khawatir. Aku tau apa yang harus aku lakukan," jawab Micheline lagi, "Aku tutup panggilannya, ya? kaga diri kalian baik-baik. Jika butuh sesuatu, katakan sama pada Rosella, dia akan membantu kalian."
"Aku mengerti."
Micheline menutup panggilannya. Meski sudah memastikan yang semestinya dipastikan. Hati Micheline masih belum merasa tenang sama sekali. Ia masih terbayang mimpi buruknya.
"Hatiku masih belum tenang, meski aku sudah memastikan keadaan mereka. Memastikan semuanya baik-baik saja," batin Micheline.
Saat pikirannya sedang kacau, Ponselnya tiba-tiba saja berdering. Ada panggilan dari Hansel. Micheline mengabaikan panggilan Hansel, tetapi Hansel tidak menyerah untuk menghubungi Micheline. Micheline merasa tidak enak hati mengabaikan Hansel, ia pun akhirnya menerima panggilan Hansel.
"Ya..." jawab Micheline.
"Buka pintunya, aku di depan pintu rumahmu."
"Apa?" tanya Micheline.
"Buka pintunya, Eline. Aku ingin bertemu denganmu," jawab Hansel.
"Ada apa? apa ada masalah. Pulanglah, aku sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa," jawab Micheline.
"Jangan seperti itu. Buka pintu atau aku buka paksa," ancam Hansel.
"Jangan macam-macam," sentak Micheline.
"Aku beri waktu lima menit. Jika tidak aku akan sungguh-sungguh mendobrak pintu rumahmu," kata Hansel.
"Hah..." hela napas Micheline, "Kau ingin membuatku marah, hah?" tanya Micheline.
"Terserah saja. Kau bisa marah, bisa juga menyiksaku semaumu. Buka dulu pintunya," pinta Hansel.
Micheline memutus panggilan Hansel dan langsung melempar ponselnya ke tempat tidur. Ia berjalan meninggalkan kamarnya untuk membukakan pintu Hansel.
...*****...
__ADS_1