My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 61 - Pergerakan Micheline (1)


__ADS_3

Hansel kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaan. Micheline terus bergelut dengan pikirannya. Ia tidak tenang memikirkan perseteruan Hansel dengan Ergy. Setelah dengan jelas Micheline menyelidiki, ia sempat terkejut karena melihat hasil laporan yang ia terima. Kehidupan Hansel tidak jauh dari kehidupannya. Orang yang dekat dengannya adalah penyebab kematian anggota keluarganya dan itu menyisakan luka yang mendalam.


"Bagaimana bisa kami sama-sama memiliki Paman yang egois dan buta akan harta kekayaan. Ini benar-benar memuakkan," gumam Micheline memijat lembut pangkal hidungnya.


Ponsel Micheline berdering, "Siapa lagi ini?" ucapnya kesal menatap layar ponsel yang hanya menampilkan nomor pengguna.


Micheline diam sesaat lalu menerima panggilan tersebut, "Hallo..."


"Nona, ini saya. Marco."


"Oh, aku kira siapa. Nomormu tidak aku kenal," jawqb Micheline.


"Maaf Nona. Daya ponsel saya lemah dan ponsel saya tidak berfungsi. Saya menggunakan ponsel salah satu dari dua orang yang saya bawa. Saya ingin menyampaikan sesuatu pada Anda mengenai Ergy." kata Marco.


"Ya. Sampaikan," jawab Micheline.


Marco bercerita selama ia mengintai Ergy, ke mana pun Ergy pergi dan dengan siapa Ergy bertemu. Semua di ceritakan oleh Marco. Sampai Marco menceritakan jika Ergy bertemu dengan seseorang dan pergi ke tempat asing. Setelah di selidiki Ergy dan seseorang itu pergi ke rumah seseorang bernama Matteo Zeox.


Micheline melebarkan mata, "Maatteo Zeox?" sentak Micheline kaget.


"Ya. Nona. Sepertinya..." kata-kata Marco terhenti.


"Ya. Aku tau maksud dan tujuannya. Jika itu yang dia inginkan. Kau juga bisa kan membalikkan keadaan, Marco. Bawa Istri dan Anaknya kepadaku," kata Micheline.


"Baik, Nona. Saya akan segera melaksanakan perintah Anda."


"Berhati-hatilah," pesan Micheline.


"Baik. Saya akan akhiri panggilannya." pamit Marco yang langsung mengakhiri panggilan.


Micheline meletakam ponselnya, "S*alan! berani-beraninya menyewa pembunuh bayaran. Dasar pak tua licik!" geram Micheline mengepalkan kedua tangannya di atas meja.


Micheline berpikir keras, ia segera mengambil kembali ponselnya dan menghubungi Charlie. Meminta Charlie datang ke ruangannya. Setelah menghubungi Charlie, Micheline langsung memanggil Hansel untuk datang ke ruangannya juga.

__ADS_1


Tidak sampai lima menit, Charlie dan Hansel sudah duduk manis di sofa di ruang kerja Micheline. Keduanya bingung, karena tidak tahu hal apa yang ingin di sampaikan Micheline.


"Ada apa?" tanya Charlie dan Hansel hampir bersamaan.


Micheline duduk di sofa, "Ini berita buruk. Terutama untukmu, Hans. Hubungi temanmu dan minta sekarang juga pergi meninggalkan apartemen. Charlie, kirim orang untuk menjemput temann Hansel. Ergy berbahaya sekali, dia menyewa pasangan gila Matteo dan Bella untuk menghabisi Hansel." kata Micheline.


"Apa?" sentak Charlie kaget.


"Kau dapat memastikannya?" tanya Hansel tidak percaya.


"Aku sangat yakin. Saat pesta, aku diam-diam meminta Marco mengikuti pergerakana Ergy sampai ke kota asalnya. Tadi Marco menghubungi, Ergy dengan seseorang pergi kr rumah Matteo. Jika sampai seseorang mendatangi Matteo, permohonan mereka hanya satu, yaitu membunuh target. Sudah terbaca jelas situasinya saat ini, Ergy tidak bisa melawan dengan surat tuntutanmu dan kau menjadi sasaran empuknya." jelas Micheline.


"Apa Matteo tidak tahu siapa orang yang ada di belakang Hansel? berani-beraninya dia," kesal Charlie.


"Ini hanya pemikiranku saja. Aku rasa mereka tahu, tetapi mereka menganggap Hansel bukan seorang yang penting untukku. Bodoh sekali mereka," kata Micheline.


"Lalu apa rencanamu?" tanya Charlie.


"Hm..." gumam Micheline. "Bagaimana jika aku menemui Matteo dan Bella secara langsung. Aku rasa mereka pasti akan sangat terkejut sampai mengelurkan bola mata mereka." ucap Micheline tersenyum.


"Charlie benar. Aku tak akan biarkan kau mecelakakan dirimu sendiri." sahut Hansel.


"Kau mengkhawatirkanku? harusnya kau khawatir pada dirimu sendiri," jawab Micheline. "Aku tidak akan kenapa-kenapa. Mereka juga tidak akan berani mencelakaiku. Karena, aku tahu rahasia besar keduanya. Tenang saja, aku hanya ingin memberikan dua orang gila itu pelajaran." imbuh Micheline.


"Tetap saja itu berbahaya," kata Hansel.


"Itu benar. Sama saja seperti kau melempar dirimu sendiri untuk makanan a*jing gila." kata Charlie.


"Apa pun ucapan kalian, keinginanku hanya satu. Menghukum orang yang ikut campur dan mengusik orang-orangku. Aku tidak menolak kalian membantu, tetapi jika kalian menghalangi jalanku. Aku akan memathakan sepuluh jari tangan kalian saat ini juga." kata Micheline menekankan kata-katanya.


Suasana yang semula biasa-biasa saja berubah menjadi suram dan mencengkam. Micheline terlihat serius, tatapan matanya begitu tajam sampai membuat Charlie dan Hansel terdiam. Perasaan tertekan dialami keduanya. Charlie dan Hansel saling bertatapan, mereka sama-sama tidak tahu harus apa dan bagaimana.


"Saat ini yang terpenting bukanlah itu. Segera hubungi temanmu, Hans. Ini perintah. Dan kau segera kirim orangmu menjemput teman Hansel, Charlie. Segera laksanakan saat ini juga!" perintah Micheline.

__ADS_1


Hansel segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi Marc. Hansel meminta Marc segera berkemas dan menunggu di jemput seseorang yang di kirim Charlie. Di samping Hansel ada Charlie yang juga sibuk menghunungi salah satu bawahannya dan meminta menjemput Marc. Charlie langsung memberikan alamat pada bawahannya itu, meminta segera pergi saat itu juga.


"Sudah," kata Charlie.


"Aku juga sudah," kata Hansel.


Micheline menghela napas panjang, "Minta mereka segera melegalisasi kepemilikan apartemen, Charlie. Aku mau hari ini juga semua harus selesai." perintah Micheline lagi.


"Ya. Aku akan hubungi pihak pengelola. Harusnya sudah disiapkan sejak kemarin, kan. Kinerja mereka lambat sekali." kata Charlie segera menghubungi seseorang.


*****


Malam harinya. Sesuai permintaan Micheline, Marco dan seorang rekannya melancarkan aksi msnculik Istri dan Anak satu-satunya Ergy Feliks. Karena Ergy pergi sejak siang dan sudah dipastikan akan kembali tengah malam karena menghadiri sebuah pesta. Marco dan seorang rekannya langaung bergerak cepat. Mereka berdua menyelinap masuk dalam rumah Ergy, Marco berhasil melumpuhkan Ertha dengan mudah tanpa perlawanan dari Ertha. Seorang yang bersama Marco langsung mengikat tangan dan kaki Ertha juga menyumpal mulut Ertha. Ia langsung menutup kepala Ertha dengan kain hitam, membopong Ertha pergi.


"Ayo, cepat pergi!" perintah Marco dengan mengecilkan volume suara, ia melihat sekeliling rumah sebelum pergi meninggalkan rumah tersebut.


Dengan langkah cepat, Marco dan rekannya pergi membawa Ertha. Mereka bergegas mendekati mobil, seseorang yang membopong Ertha segera mendudukan Ertha di bangku mobil belakang.


"Target satu sudah diamankan. Selanjutnya kita harus berhasil membawa target kedua." kata Marco.


"Baik," jawab rekannya.


"Belum ada kabar?" tanya Marco menatap rekannya.


Rekannya merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel. Ia mendapat pesan dari seorang rekan yang lain. Yang sedang mengikuti Luky Feliks, Anak dari Ergy Feliks dan Ertha Feliks. Seorang yang emngurusi Luky memberikan kabar jika Luky sudah berhasil diamankan. Misi Marco dan rekan-rekannya sukses.


"Sudah. Target dua sedang tidak sadarkan diri karena mabuk saat minum dan langsung dibawa ke tempat kita."


"Ok, kita kembali dan langsung pergi dari kota ini. Kita harus segera membawa dua orang ini kepada Nona," kata Marco.


"Ya," jawab rekan Marco.


Dewi keberuntungan memang sedang berpihak pada Marco dan rekan-rekannya. Saat ingin menculik Ertha, keadaan rumah sepi karena pelayan sedang libur dan Ergy juga tidak ada. Pintu rumah Ertha tidak terkunci. Sedangkan Luky yang memang hobby mabuk-mabukan, sengaja diberi obat yang dicampur dengan minuman. Saat sudah tertidur, Luky dibawa pergi oleh rekan Marco. Malam itu juga, setelah menjemput rekannya dan Luky. Mereka semua langsung pergi untuk kembali ke kota asal mereka.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2